SAAT teman saya Achmad Munjid dari Philadelphia berkunjung ke rumah saya di Boston tempo hari, saya bilang kepada dia, “Saya terpukau dengan sosialisme, tetapi sebatas sebagai eksperimen kecil dalam wilayah komunitas. Jika eksperimen itu diangkat ke wilayah negara, saya tak sepakat”.

Kelemahan sistem-sistem yang ideal dan nyaris “relijius” adalah bahwa mereka tak memandang keterbatasan manusia pada umumnya. Jika sistem ideal itu dicobakan pada ruang yang terbatas seperti dalam kasus Kibbutz di Israel, misalnya, tak masalah. Saya bahkan bermimpi kelak bisa mendirikan komunitas sosialis seperti itu. Siapa yang tak ingin hidup dalam masyarakat kecil yang intim, saling menolong, peduli, tak serakah, dan saling meringankan beban dalam kesusahan.

Tetapi jika sistem ideal itu dibawa kepada wilayah yang lebih luas sebagai proyek negara, maka sistem seperti itu, menurut saya, sudah pasti gagal. Alasannya sederhana: sistem yang ideal seperti itu menuntut manusia dengan kualitas tinggi.

Karena itu tak heran, salah satu proyek penting dalam sistem-sistem yang ideal seperti itu adalah “mencetak manusia baru” secara besar-besaran sebagai agenda politik. Karena proyek semacam ini harus dikontrol secara ketat, dan yang memiliki kekuatan kontrol yang efektif adalah negara, ujung dari sistem seperti ini adalah fasisme dan otoritarianisme.

Contoh terakhir dari sistem semacam itu, selain sosialisme Uni Soviet, adalah Iran paska revolusi Ayatullah Khomeini.

Dengan kata lain, sistem-sistem ideal-utopianistik itu mensyaratkan suatu kondisi yang susah dipenuhi oleh manusia pada umumnya, yaitu adanya manusia super yang sadar ideologi, berkemauan keras, mengabaikan sama sekali kepentingan pribadi, mau berjuang untuk kepentingan yang lebih besar, mau berkorban tanpa syarat, dst.

Dalam dunia nyata, manusia seperti itu susah dicari. Kita harus jujur mengakui, bahwa dalam kehidupan sehari-hari yang kita lihat pada umumnya adalah manusia-manusia modioker yang “selfish”, manusia yang mengejar kepentingannya sendiri.

Saya tak skeptis pada manusia, tetapi itulah kenyataan yang kita lihat. Sekali lagi, saya berbicara mengenai manusia pada umumnya, bukan manusia khusus yang menjadi kader partai sosialis, jamaah pengajian, atau ordo sebuah kelompok mistik.

Jika kita lihat kelompok-kelompok seperti FPI atau Hizbut Tahrir dan kita telaah gagasan mereka dengan cermat, mereka sebetulnya menginginkan manusia yang saleh, taat pada Tuhan, tak pernah melakukan tindakan maksiat (dosa dalam istilah Islam), dsb. Mereka ingin menciptakan masyarakat etis seperti dalam sebuah pesantren di mana tindakan semua orang terkontrol, dan moralitas mengikuti pakem yang sudah pasti. Manusia, dalam visi seperti itu, mau dicetak kembali menjadi seroang saleh, menjadi sejenis malaikat.

Saya tak keberatan dengan visi seperti itu. Tentu semua orang menghendaki agar manusia menjadi saleh. Hanya saja, saya menyetujui visi semacam itu jika diterapkan secara terbatas pada eksperimen kecil, misalnya pesantren, atau komunitas saleh yang sangat terbatas. Jika anda mendirikan sebuah komunitas bermoral yang saleh menurut visi yang anda kehendaki, silahkan saja. Ajaklah orang-orang yang setuju dengan visi itu untuk bergabung.

Tetapi jika anda ingin memperluas proyek itu kepada wilayah negara, maka anda harus siap-siap diuji dan dikritik oleh publik. Apa yang anda katakan sebagai “standar moral”, belum tentu dianggap demikian oleh orang lain. Tak peduli, apakah yang anda sebut sebagai standar moral itu berasal dari wahyu Tuhan, misalnya. Dalam wilayah publik, bahkan “Tuhan” pun harus diuji.

Uji publik semacam ini memang tidak menyenangkan buat beberapa kelompok yang membawa visi absolutis-utopianistik. Mereka percaya bahwa apa yang mereka pikirkan adalah benar, dan karena itu orang lain harus dipaksa mengikutinya. Inilah yang kita lihat pada proyek sosialisme, dan belakangan pada proyek Islamisme seperti dalam kasus Iran di bawah Khomeini, atau Islamisme seperti dicita-citakan oleh sebagian gerakan Islam modern saat ini.

Proyek-proyek semacam ini berbahaya, karena ujungnya adalah fasisme dan otoritarianisme. Sumber fasisme semacam ini bukan saja agama, tetapi bisa juga ideologi sekuler.

PILIHAN yang terbaik, buat saya, pada akhirnya adalah demokrasi. Memang, sistem ini membuat beberapa orang yang memiliki “utopia” tertentu tak sabar dan gregetan. Dalam sistem seperti ini, orang-orang medioker yang tak kompeten, bahkan dekaden secara moral, bisa mau ke depan dan menguasai panggung politik.

Demokrasi memang tak memuaskan bagi manusia-manusia super yang mempunyai rencana-rencana besar yang serba gigantis. Demokrasi kerapkali menjadi gelanggang bagi manusia biasa yang “selfish”, dengan kemampuan yang pas-pasan.

Kepada manusia-manusia khusus dengan utopia besar itu, saya katakan: buatlah eksperimen kecil dalam bentuk gerakan sosial; bujuklah orang-orang untuk mengikuti anda. Tetapi jangan sekali-kali memakai negara untuk memaksakan “utopia” anda kepada semua orang. Tidak semua orang siap menjadi “manusia khusus” yang sempurna. Begitu negara dipakai untuk menegakkan utopia itu, maka percayalah, anda telah memuluskan jalan setapak menuju fasisme yang mengerikan.

Dengan mengatakan ini semua, bukan berarti saya anti “cita-cita” dan transformasi besar. Menurut saya, dalam masyarakat demokrasi, transformasi lebih tepat dilakukan pelan-pelan dari bawah melalui masyarakat. Jika publik menerima, boleh saja transformasi itu diperluas menjadi proyek negara. Tetapi jangan memaksa.

Walau masih centang-perenang di sana-sini, saya sudah mulai melihat buah positif dari kultur demokrasi yang mulai tertanam dan tumbuh di masyarakat kita.

Lihatlah, dengan keterbukaan sekarang ini, masyarakat mulai berani melakukan eksperimen yang menarik di banyak bidang. Dalam dunia sastra, misalnya, saya tak menduga muncul penulis debutan seperti Andrea Hirata yang menulis “Laskar Pelangi” yang laris manis seperti kacang dan tahu itu. Ratusan novel sekarang bermuculan seperti cendawan di tangan anak-anak muda.

Dengan terbukanya politik kepartaian sekarang, kita mulai melihat sejumlah politisi muda yang cukup berbakat di sejumlah partai, sesuatu yang tak pernah kita lihat sebelumnya saat sistem kepartaian dikontrol penuh oleh pemerintah.

Saya sungguh senang dengan kemunculan partai Islam seperti PKS, misalnya. Meskipun saya sering mengkritik visi partai ini yang saya anggap menyembunyikan “ideologi politik Islam” di balik label-label yang bersifat umum, saya harus mengakui dengan jujur bahwa hanya dengan partai seperti inilah kelompok “Islamis” diuji dalam gelanggang publik. Ketimbang memojokkan mereka, lebih baik kita menampung mereka dalam gelanggang resmi sehingga tak mengembangkan “politik pasar gelap” yang kadang berbahaya.

Memang konstelasi sosial dan politik kita menjadi kelihatan kacau dan centang-perenang saat ini, persis seperti lalu-lintas di Jakarta. Tetapi, in the end of the day, saya harus jujur mengakui bahwa: our country is on the right track!

Banyak kekurangan di sana-sini, tetapi itu tentu bisa disempurnakan. Asal kita sabar mengikuti jalan demokrasi yang lambat seperti siput itu, dan tak buru-buru mengharap “ratu adil” yang bisa meledakkan dentuman besar untuk membuat perubahan-perubahan kolosal sekaligus, saya optimis, Indonesia akan semakin baik dan mendekati keadaan yang kita cita-citakan.

Sekali lagi, kalau anda mau membuat dentuman besar dan melakukan perubahan kolosal, buatlah pada skala terbatas, dalam sebuah komunitas kecil. Jangan buru-buru memakai negara untuk melaksanakan cita-cita besar itu.

Sebab, kita menghadapi manusia-umum, bukan manusia-khusus yang hebat![]