Saya baru saja menonton “debat” di kanal TVOne mengenai SKB Ahmadiyah antara Abdul Moqsit dan Usman Hamid di satu kubu versus Mahendra Datta dan Adnin Armas di kubu yang lain. Kubu pertama sebut saja “pembela Ahmadiyah”, kubu kedua “penentang Ahmadiyah”. Saya menonton debat itu di Youtube (Terima kasih pada Youtube yang telah memungkinkan saya untuk menonton acara ini).

Salah satu masalah yang muncul dalam debat itu, lagi-lagi, adalah masalah penghinaan agama. Ahmadiyah dianggap menghina agama Islam karena beranggapan bahwa ada nabi “baru” setelah Nabi Muhammad. Ahmadiyah juga dianggap melakukan “kekerasan” yang jauh lebih berbahaya ketimbang kekerasan fisik yang dilakukan oleh FPI dalam tragedi Monas.

Sangat menyedihkan sekali bahwa di masyarakat Islam terus dikembangkan paham bahwa perbedaan tafsir bisa dianggap sebagai penghinaan atas agama. Paham ini dalam jangka panjang akan mempersempit ruang diskusi dalam masyarakat Islam. Masyarakat akan dihantui kekhawatiran “mengina agama” karena mengajukan tafsir yang berbeda dengan umumnya pandangan umat.

Perbedaan interpretasi tidak bisa menjadi alasan untuk menuduh kelompok lain menghina suatu agama. Jika alasan ini diterima, maka akan terjadi kekacauan dalam umat agama, sebab masing-masing sekte dalam setiap agama selalu punya daftar “kelompok sesat”-nya masing-masing, juga daftar ajaran dan tafsir yang dianggap menyimpang dari ajaran yang dianggap “benar”. Jika menyimpang dari tafsir resmi bisa dianggap menghina agama bersangkutan, maka betapa banyaknya tindakan penghinaan atas agama. Jika penghinaan atas agama karena perbedaan tafsir bisa dihakimi oleh pengadilan, maka ha ini akan membiarkan negara untuk mencampuri urusan akidah dan kepercayaan warga negara.

Kita semua tahu bahwa Ahmadiyah hanya mengajukan interpretasi yang berbeda saja tentang konsep kenabian dalam Islam. Seluruh keyakian mereka sama dengan sekte-sekte lain dalam Islam. Mereka beribadah dan menjalankan ritual yang sama dengan golongan Islam yang lain. Mungkin saja dalam Ahmadiyah ada sikap-sikap eksklusif yang memandang kelompok di luar Ahmadiyah sebagai “sesat”. Kalau sikap semacam ini benar-benar ada dalam Ahmadiyah, maka tugas para “pemikir” di jamaah itu untuk melakukan kritik atas eksklusivisme semacam itu. Tetapi adanya sikap semacam itu tidak bisa menjadi alasan bagi kelompok lain untuk membubarkan Ahmadiyah.

Dalam debat itu, Adnin Armas, anggota Majlis Tarjih Muhammadiyah, membaca suatu kutipan dari Tazkirah, kitab yang dipercayai sebagai kumpulan ucapan Mirza Ghulam Ahmad, di mana di sana ditegaskan bahwa barangsiapa tidak mempercayai “wahyu” yang datang pada Ghulam Ahmad, dia adalah kafir. Kalau benar ada penegasan ini dalam kitab itu, maka saya tentu tak sepakat, dan pihak Ahmadiyah harus melakukan penafsiran yang “liberal” atas kutipan itu.

Taruhlah kutipan itu memang benar-benar ada di kitab tersebut, bukankah sikap saling mengkafirkan sudah ada dari sejak dulu dalam hampir semua sekte dalam Islam? Ini bukan sikap yang khas dalam Ahmadiyah. Sikap saling mengkafirkan ini harus dikritik terus karena hanya menimbulkan kekacauan dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat. Ajaran tentang “takfir” sudah seharusnya pelan-pelan ditinggalkan, digantikan dengan sikap yang terbuka untuk melakukan dialog dan menerima perbedaan tanpa penghakiman.

Masa depan agama-agama di Indonesia akan sangat suram sekali jika sikap saling menyesatkan dan mengkafirkan serta saling menuduh “menghina agama” karena perbedaan tafsir itu terus berkembang.

Ada hal yang menarik dalam acara debat itu. Kelompok “Islam fundamentalis” yang hadir sebagai penonton dalam debat itu cenderung “rusuh”, teriak-teriak “Allahu Akbar”, dsb. Ini adalah indikasi yang kasat mata bahwa kelompkpok ini memang cenderung bertindak kasar dan kekerasan jika ada kesempatan. Perangai kelompok Islam fundamentalis selalu sama di mana-mana, yaitu “violent”. Dalam sebuah diskusi yang saya ikuti dengan kelompok-kelompok “fundamentalis” saya melihat corak audiens yang serupa. Sama sekali tak kelihatan mereka mengerti “adab diskusi”.

Mereka memang tak merasa perlu terikat dengan “adab diskusi”, apalagi terhadap kelompok yang mereka anggap sesat dan “kafir”. Bukankah mereka selalu, selama ini, gembar-gembor mengutip ayat yang terkenal itu, “asyidda’u ‘ala al-kuffar ruhama’u bainahum”, orang-orang beriman berlaku “keras” kepada orang kafir dan saling mengasihi antar mereka. Ayat ini menjadi pembenar bagi mereka untuk bersikap “rusuh” dan “tak beradab” terhadap lawan-lawan diskusi mereka.

Barangsiapa pernah mendengarkan tabligh akbar, ceramah atau khutbah kelompok-kelompok fundamentalis itu, akan tahu bagaimana “ajaran kekerasan” sudah ditanamkan dalam setiap acara keagamaan yang mereka adakan. Sosialisasi “doktrin kekerasan” berjalan terus tanpa henti. Tak heran jika mereka dengan mudah melakukan kekerasan.

Yang mengherankan adalah kelompok seperti didukung oleh beberapa tokoh Islam yang terdidik yang mestinya mengerti bahaya kekerasan yang selalu akan muncul dari kelompok-kelompok yang oleh Buya Syafii Maarif disebut sebagai “preman berjubah” ini.