Catatan: Ini adalah puisi yang pernah saya tulis beberapa tahun lalu waktu masih kuliah di Boston. Saya bukan seorang penyair “profesional”. Ini hanya percobaan saja untuk menulis sesuatu yang “lain” saja.


Sejumlah Percobaan Dengan Komposisi

ia curiga, jangan-jangan tuhan hanya menciptakan beberapa butir aksara; lalu dari sana dunia terkembang, seperti layar si malin kundang.

adakah yang lebih menakjubkan ketimbang sebuah kitab suci? di sana, ribuan penafsir berdesak-desak di ruang kecil yang sesak, hendak menyusun kembali dunia yang retak.

seorang tukang kayu tua, keriput meruyak di seluruh tubuh, menatah huruf dari musim ke musim; ia rindu hingga ngilu, isterinya telah meninggal tiga tahun lalu; “aku ingin memahat isteriku, dari tulang rusukku yang telah renta”.

seperti sebuah dongeng tangkuban perahu, seluruh dusun itu hanyalah kisah rekaan dalam sebuah tembang; seorang juru-kisah keliling dari desa ke desa; menyanyikan tembang, membawa kisah rekaan; lalu terciptalah sebuah dusun di pucuk bukit; saat tuhan melaknat dusun itu, ia tumpas si tukang kisah; dusun itu seketika punah.

saat pelancong datang melawat, ia menyaksikan bebatuan rebah pada punggung bukit, seperti rumah-rumah eskimo yang menggigil; “ah,” ia berguman, “andai seorang pemahat mampir ke bukit ini”.

ia membayangkan diri ada di puncak bukit; api menyala di suatu kejauhan, lalu ia mendengar suara itu, “lepaslah kasutmu, sebutlah namaku dalam setiap madah yang engkau gubah, seberangkan para pemahat ke negeri kanaan”; ia menggigil ketakutan.

ia ragu, apakah ia mampu menyeberangi jasadnya sendiri.

sepanjang hari ia membolak-balik kitab tua itu, tiada lelah, tiada resah; ia menunggu penuh debar, kapan ia sampai pada halaman terakhir kitab kejadian; ia tiada tahu, kitab itu tak memiliki halaman; ia hanya membayangkan lembar-lembar kertas dalam pikiran.

sepanjang hari ia duduk di pojok taman, menyaksikan waktu meleleh pelan-pelan, seperti dalam lukisan dali[1]; ia cemas, “akankah tubuh meleleh seperti waktu?”

ia semula mengira bisa menggembalakan kalimat seperti kawanan ternak; kini, aksara seperti banjir bandang yang susah dikendalikan; seluruh kota terlanda, dan ia kebingungan mencari tempat suaka; ia tak sabar menunggu, kapan kapal tua itu segera tiba.

suatu pagi, ia bangun terperanjat – musim semi telah tiba; sekujur bukit berubah warna; waktu menguap menjadi embun, menetes pada pepucuk bakung; ia segera berlari dan berlari, mencari perempuan yang ia pahat kemaren pagi; saat mendaki bukit, ia mengaduh?rasa nyeri menusuk-nusuk; ia merasa, ada luka pada tulang rusuk.

kisah-kisah besar telah hancur berantakan; kini, para penyair hanya menulis tentang rasa kangen, tembikar yang mudah retak, dan embun pagi.

setelah banjir reda, orang-orang bekerja keras kembali, mengeja aksara, menamai kembali benda-benda, menyusun kisah besar yang tak pernah bisa terlaksana.

saat sabtu tiba, dan tuhan sedang rehat sejenak, terbetik kabar tentang pembunuhan di sebuah kota; “terkutuklah engkau kabil, engkau akan sengsara, dilanda sesal yang kekal”.

saat kalimat telah tumbuh lebat, terhampar di seluruh bukit ararat, ia bekerja keras tiap hari, mengenali serat-serat daun, meneliti urat-urat pohon, menelisik tekstur bunga, kadang ia harus menyesap nektar, atau mengerat akar; ia ingin menulis ulasan tentang kitab kejadian.

ia melihat seluruh tamasya di bukit itu seperti tenun kata-kata; setiap pagi, ia tergoda untuk menganyam aksara, hendak mencipta kembali bebukit baru.

seharian ia duduk di pinggir danau, tersesat dalam labirin kalimat.

tuhan menatap kebun itu dengan cermin terang, tembus pandang.

walau kalimat melanda seluruh kota, tak seorang pun menulis gitanyali.

pagi yang kuning hinggap di bukit, girang-gemirang seperti burung gereja; ia lalu menyanyikan pujian bagi daun-daun ilalang[2]; saat matahari tegak lurus dengan cakrawala, tubuhnya luruh jadi debu, dihembus angin ke seluruh penjuru; saat esok pagi tiba, ia telah menjadi burung bagi perempuan yang kesepian di kastil tua.

saat melihat peta, nafsunya kembali membara, ingin mengarung laut, mencecap gairah yang belum tuntas terlaksana.

ia menyanyi, hingga sunyi, hingga sepi, hingga lampus menjadi lotus.

musim semi menjelang, dan ia terkembang memenuh ruang?ia tak cemas pada debu, ia tak susut pada waktu, ia melumut pada batu.

penyair hanya dapat mendendang tentang daun, bunga, dan cemara yang tak pernah luruh; ia tak bisa engkau minta menyusun kembali dunia.

ia asyik bermain-main dengan kalimat, seperti kanak-kanak yang lupa waktu; ia tabah memoles kata seperti para pengrajin tembikar; ia menderita karena membawa beban makna yang begitu sukar.

ia menjadi hijau pada daun, ia menjadi putih pada awan, ia menjadi hitam pada gelap, ia menjadi sunyi pada waktu, ia menjadi kicau pada burung, ia menjadi makna pada kalimat, ia menjadi geram pada kesumat, ia menjadi nafas pada gairah yang laknat.

begitu memulai kalimat pertama dalam kitab suci, ia tak bisa lagi berhenti; o, rasul dan nabi, kalian telah mengawali penderitaan ini.

ia mendukung kalimat ke puncak bukit, lalu rontok kembali – tetapi ia tak pernah mau berhenti; betapa mencemaskan nasib para penafsir kitab suci.

menara telah memanggilmu, istirahatlah sejenak, kawanku; rebahkan punggungmu pada angin; kendarailah waktu, dan terbanglah ke pucuk pohon cedar itu.

pelukis bermain dengan warna; penyair bercengkerma dengan kata; sementara anak-anak tak pernah berhenti takjub pada benda-benda.

setelah genap setahun berkelana, ia rindu pada debu.

atas perintah sulaiman, suatu malam ia menyelinap ke kota seba, hendak mencuri sumsum kata.

seorang bijak tua lewat dusun itu, dan ia bertanya, “siapakah ia yang selalu engkau sebut dalam syairmu?”

ia adalah burung yang selalu bangun pada semburat matahari pagi, berkicau pada pucuk kenari, terbang jauh ke utara, melintasi salju siberia, dan tak pernah kembali – ia adalah tamu terhormat pada perjamuan si attar.[3]

ulil abshar-abdalla

newton centre, 4/5/07

[1] Lukisan Salvador Dali, The Persistence of Memory.

[2] Judul kumpulan puisi Walt Whitman, Leaves of Grass.

[3] Fariduddin Attar, Musyawarah Para Burung.