Berada di negeri asing dan jauh dari tanah air bukanlah hal yang menyenangkan. Apalagi jika kita sendirian, tak mempunyai seorang isteri atau keluarga, alias masih “jomblo”. Seorang kawan saya yang sedang belajar di Emory University, Atlanta, Georgia, mengeluh luar biasa karena tak ada teman-teman dari Indonesia yang ia kenal di kawasan itu, sementara ia belum sempat membawa keluarganya ke Amerika.

Cobaan paling berat yang menjadi “litmus test” pertama adalah kangen masakan tanah-air. Inilah rasa nasionalisme yang paling cepat bereaksi setiap kita berada jauh dari tanah-air dalam waktu yang agak lama. Katakan saja “nasionalisme nasi”. Sebelum makan nasi, umumnya orang Indonesia belum menyebut dirinya “makan”, padahal dia sudah makan segala bentuk makanan.

Kalau anda berada di luar negeri, sendirian, sementara itu selama sebulan anda tak pernah merasakan nasi, maka saya jamin hidup anda akan “sengsara”, “miserable”. Bayangkan, dalam situasi seperti itu, anda diundang ke sebuah pertemuan yang diadakan oleh komunitas Indonesia, dan anda kemudian bisa melihat kembali nasi, pecel, tempe, tahu, lalapan, sambal terasi, dan sebagainya – dalam momen seperti itu, anda akan merasakan kegembiraan yang sulit digambarkan bahkan oleh seorang pelukis yang paling handal sekalipun. Ada akan mengalami “ekstasi” karena berjumpa kembali dengan hal-hal sederhana dari tanah air, tetapi menjadi tidak sederhana saat anda jauh dari sana.

Biasanya komunitas Indonesia yang tinggal di luar negeri membuat paguyuban dan mengadakan pertemuan rutin, entah setiap bulan, atau dua bulan, tergantung kelonggaran waktu yang dipunyai oleh para anggotanya. Pertemuan itu bisa hanya untuk tujuan temu kangen biasa, bisa untuk berdiskusi mengenai keadaan di tanah air, tetapi yang paling lazim adalah untuk belajar mengaji (ini memakai bahasa Islam), atau untuk tujuan “religius”.

Menjamurlah paguyuban pengajian di sejumlah negeri Barat (Eropa, Amerika, Kanada, Australia, dan New Zealand). Di kawasan Boston, kota tempat saya tinggal sekarang, berdiri pula paguyuban yang sama dengan nama “IQRA BOSTON”. Peguyuban ini bertemu setiap bulan, biasanya bergantian di masing-masing rumah para anggota, tentu mereka yang memiliki rumah cukup besar sehingga bisa menampung seluruh mereka yang hadir. Anggota yang tinggal di apartemen kecil seperti saya jelas tak memenuhi syarat untuk menjadi tuan rumah paguyuban ini.

Jika hadir penuh, pengajian Iqra memiliki jamaah sekitar 40 orang. Tak cukup banyak, tetapi cukup untuk disebut sebagai sebuah “paguyuban”.

Fungsi paguyuban ini memang secara resmi adalah untuk kumpul-kumpul dan melaksanakan kegiatan keagamaan. Tetapi ada fungsi penting yang jarang disadari: yaitu wahana untuk menikmati masakan Indonesia. Dalam pertemuan-pertemuan semacam ini, biasanya para isteri akan “berlomba” menampilkan karya-karya kuliner terbaik. Tentu yang memasak bukan hanya isteri, bisa juga bapak-bapak. Saya senang sekali menghadiri pertemuan ini, antara lain untuk menikmati pelbagai ragam masakan yang enak dari tanah air. Kalau dikonversi ke dolar, tentu masakan semacam ini bisa sangat mahal harganya, dan belum tentu ada disediakan di restoran biasa.

Tujuh bulan pertama saya tinggal di Boston tiga tahun lalu, dan keluarga belum bergabung dengan saya, pertemuan Iqra selalu saya tunggu-tunggu, dan, demi Tuhan, saya tak pernah absen. Bukan karena saya rajin ingin belajar Islam, sebab saya sudah hampir setiap hari menggeluti mata-pelajaran Islam di kampus; motivasi saya adalah nasionalisme kecil-kecilan, yaitu menikmati masakan Indonesia.

Oleh karena itu, Ari Perdana, teman saya dari CSIS, waktu masih kuliah di Kennedy School di Harvard University dua tahun yang lalu, sering bergurau: kita datang ke acara Iqra adalah untuk makan-makan; pengajian hanyalah sambilan saja. Seperti saya, Ari juga “Iqra goer” yang nyaris tak pernah absen. Jangan-jangan motivasi dia sama “duniawiah”-nya dengan saya.

Saya beruntung tinggal di kota Boston, karena di sini banyak terdapat masyarakat Indonesia. Mereka umumnya adalah mahasiwa, tetapi sebagian ada yang sudah menjadi warga negara AS, atau permanent resident yang bekerja. Teman-teman yang tinggal di negara bagian lain yang jarang dihuni oleh komunitas Indonesia tentu agak sedikit “sengsara”, terutama dilihat dari sudut pandang “nasionalisme nasi”.

Selain paguyuban Iqra yang beranggotakan orang-orang Indonesia yang Muslim, di Boston juga ada paguyuban lain yang lebih “cair”, yaitu Permias (Persatuan mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat). Menurut saya, kedua paguyuban ini memiliki karakter yang nyaris sama: pada intinya adalah untuk melepas nafas “nasionalisme sederhana” dengan cara menikmati kembali masakan Indonesia, selain bertemu dengan teman-teman dari tanah air.

Biasanya pertemuan dalam paguyuban ini mendadak menjadi “istimewa” jika ada seorang teman dari tanah air yang sedang berkunjung ke Amerika. Tak peduli siapa orang itu, biasanya dia akan “didaulat” menjadi “penceramah tiban” untuk berbagi berita dan warta dari tanah air.

Dalam pengajian Iqra bulan lalu (508) yang diadakan di rumah Sukidi, seorang kader Muhammadiyah yang sekarang belajar di Harvard University, hadir Ifdhal Kasim, Ketua Komnas HAM. Ifdhal saya bawa “impromptu” ke rumah Sukidi untuk menghadiri paguyuban pengajian itu. Dia bicara sebentar di sana mengenai masalah Ahmadiyah di Indonesia. Saat itu, Ifdhal sedang menghadiri sebuah seminar yang diadakan oleh Law School di Harvard University.

Agama sebetulnya memiliki fungsi yang sangat penting di luar masalah sorga-neraka, iman-kafir, ajaran benar-salah, dosa, sesat, dan doktrin-doktrin yang lain. Agama bukan sekedar masalah ibadah atau ritus. Agama bukan sekedar mengenai apa yang secara mengerikan sering disebut oleh para teolog sebagai “the ultimate concern”. Tentu, semua itu adalah “ingredient” atau bahan mentah yang penting dalam setiap komposisi agama.

Tetapi ada fungsi lain yang jauh lebih kasat mata, tetapi kerap diabaikan oleh para pemeluk agama itu sendiri, yaitu fungsi sosial. Tanpa disadari oleh penganutnya sendiri, agama sebetulnya adalah salah satu sarana yang dipakai oleh manusia untuk melaksanakan “hidup bebrayan”, hidup bersama orang lain. Rumah manusia adalah masyarakat. Agar tahan lama, sudah tentu “masyarakat” haruslah dirawat agar anyamannya tidak kendor. Para ahli sosiologi menyebutnya sebagai “social cohesion”, kerekatan sosial. Agama adalah salah satu alat yang dapat mencapai tujuan itu.

Seorang profesor sosiologi yang pernah mengajar di Boston University, Hanna Papanek, bercerita kepada saya suatu hari: Saya adalah seorang ateis, tetapi saya menghadiri kebaktian di gereja setiap minggu, karena saya senang dengan komunitas mereka. Hanna Papanek adalah seorang perempuan Yahudi asal Jerman yang datang dari latar belakang keluarga yang akrab dengan tradisi Marksisme yang ateistis. Sejak beberapa tahun lalu, dia menjadi anggota dari gereja Unitarian Universalist (UU). Dia tetaplah seorang ateis hingga saat ini. Masuk gereja bukan berarti dia melakukan “konversi” ke dalama agama Kristen (meskipun oleh banyak umat Kristen, gereja UU tidak dianggap lagi sebagai bagian dari kekristenan karena terlalu “terbuka” kepada tradisi-tradisi lain). Tetapi dia dengan sukarela menghadiri kebaktian di sana karena ingin merasakan keintiman sosial dalam sebuah rumah bernama “masyarakat”.

Bagi orang-orang seperti Papanek ini, agama lebih tampil sebagai “aparatus sosial” yang bermanfaat untuk menjaga kerekatan masyarakat. Sebagai seorang sosiolog, dia tentu menyadari fungsi itu dengan baik. Bagi saya, fungsi ini tak kalah penting dibanding dengan fungsi-fungsi lain, misalnya fungsi agama sebagai “the way” atau jalan “satu-satunya” menuju kepada keselamatan. Tekanan yang berlebihan yang kita dengar dari elit-elit agama terhadap “the discourse of salvation” dalam agama, menurut saya, justru agak kurang positif. Wacana keselamatan itulah, antara lain, yang menimbulkan praktek penyesatan selama ini. Jika didekati melulu secara doktrinal dan teologis, agama cenderung (tidak selalu) memecah-belah.

Dengan melihat agama sebagai salah satu sarana “bebrayan” atau “social cohesion”, kita bisa mengapresiasi aspek lain dari agama yang selama ini terlupakan. Dengan kata lain, makan-makan dalam acara pengajian seperti Iqra Boston itu bukanlah hal sepele. Secara sosiologis, momen makan-makan-sambil-pengajian itu mengandung elemen yang sangat krusial dalam proses “sosialisasi” atau “memasyarakat”.

Boleh jadi, jika didekati secara sosial dari sudut fungsinya sebagai “lem” yang merekatkan masyarakat, agama bisa lebih menjadi alat integrasi.

Mereka yang skeptis pada agama, dan menganggap bahwa ajaran dan doktrin agama adalah “non-sense” atau “bullshit”, jelas tak bisa mengabaikan fungsi sosial-nya sebagai lem perekat. Percaya atau tak percaya Tuhan, anda tetap butuh sebuah rumah, yaitu “masyarakat”. Jika rumah itu bubrah, akan terjadi dislokasi sosial dengan dampak negatif yang sangat luas dan bercabang-cabang.