SALAH satu tradisi yang dikembangkan oleh Jaringan Islam Liberal (JIL) selama bulan Ramadan adalah menyelenggarakan diskusi publik dengan tema pokok, yaitu mengkaji khazanah intelektual Islam klasik. Diskusi itu mencakup pelbagai ragam khazanah Islam: fikih, tasawwuf, teologi, filsafat, dll.

Tradisi ini sudah berkembang selama empat tahun dan mendapat sambutan yang cukup positif dari khalayak ramai, terutama anak-anak muda. Pada bulan puasa kali ini, JIL hendak mendiskusikan salah satu “genre” penting dalam fikih Islam, yaitu fiqh al-siyasah atau fikih politik.

Kali ini, JIL akan menyelenggarakan tiga seri diskusi mengenai tema tersebut. Seri diskusi pertama akan mengkaji karya Imam al-Mawardi (w. 1059 M), seorang sarjana fikih dari mazhab Syafii, berjudul “Al-Ahkam al-Sulthaniyyah”. Diskui ini akan diselenggarakan pada Kamis 4 September 2008.

Seri kedua akan mendiskusikan karya seorang sarjana Islam dari mazhab Hanbali, Ibn Taymiyah (w. 1329 M), berjudul “al-Siyasah al-Syar’iyyah”. Diskusi untuk karya ini akan diselenggarakan pada 9 September 2008.

Seri terakhir akan mendiskusikan karya yang sangat kontroversial sejak pertama kali terbit hingga saat ini, yakni buku karangan seorang ulama dari Mesir, Ali Abd al-Raziq (w. 1966 M) berjudul “Al-Islam wa Ushul al-Hukm”. Seri ini akan diselenggarakan pada 16 September 2008.

Selama ini, JIL kerap disalahpahami sebagai kelompok yang hendak memutus sama sekali tradisi intelektual Islam klasik. JIL dianggap hendak menghancurkan tradisi itu sama sekali tanpa membuka kemungkinan sedikitpun untuk belajar dari sana.

Anggapan ini sama sekali tak tepat. Hampir sebagian besar aktivis Muslim yang mendirikan JIL mempunyai latar pendidikan pesantren, dan sangat akrab dengan tradisi Islam klasik sebagaimana dikembangkan di lembaga itu.

Saya sendiri, sebagai salah satu pendiri JIL, tumbuh dalam tradisi pesantren. Sejak usia dini, saya telah akrab dengan dan mengkaji hampir seluruh karya-karya standar dalam bidang fikih mazhab Syafii, selain karya-karya lain di bidang tafsir, hadis, tasawwuf, nahwu/sharaf (tata bahasa Arab), balaghah, ‘arudl (prosodi atau ilmu tentang tata cara menggubah puisi Arab), falak (astronomi), dll.

Latar pendidikan semacam ini juga dialami oleh teman-teman saya yang lain yang aktif dalam JIL. Sebagian teman-teman yang aktif di JIL pernah menempuh pendidikan tinggi di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.

Jika ada perbedaan pokok antara teman-teman JIL dengan kalangan Islam yang lain, maka hal itu terletak dalam sikap yang mereka kembangkan terhadap tradisi Islam klasik tersebut.

Sikap kami adalah tidak mengabaikan sama sekali khazanah intelektual Islam klasik, tetapi juga tidak menganggapnya sebagai “benda suci” yang tak boleh diutak-utik. Banyak pandangan yang dikemukakan oleh sarjana Islam di masa lampau yang masih tetap relevan dengan keadaan sekarang; tetapi tak sedikit pula yang sudah kehilangan relevansi sama sekali sehingga kami tak segan-segan untuk menafsirkannya kembali.

Dengan kata lain, sikap yang dikembangkan oleh JIL adalah hendak membaca kembali tradisi intelektual Islam klasik secara kritis. Jika kami mengkaji kembali pemikiran Al-Mawardi, Ibn Taymiyah, Ibn Rushd, al-Ghazali, dll., maka bukan berarti kami hendak menerima gagasan mereka apa adanya, tanpa kritik atau interpretasi ulang.

Setiap generasi memiliki tantangannya masing-masing, dan ia akan dituntut untuk merumuskan jawaban sesuai dengan tantangan itu.

Sekarang, umat Islam hidup dalam konteks sejarah yang sudah berbeda dengan generasi al-Mawardi, dan kerena itu tantangan yang dihadapinya sudah sama sekali berbeda. Mengutip pendapat al-Mawardi tanpa memperhatikan konteks sejarah dan tantangan yang berbeda itu sama saja dengan terjatuh pada anakronisme sejarah.

Tentu warisan intelektual Islam dari generasi masa lampau penting untuk dijadikan sebagai sumber ilham guna merumuskan jawaban untuk tantangan yang dihadapi umat saat ini. Tetapi warisan itu tak boleh dianggap sebagai hal yang sakral sehingga harus disungkup rapat-rapat agar kedap dari segala bentuk kritik.

SEBAGIAN kalangan dalam Islam ada yang beranggapan bahwa sarjana Islam di masa lampau telah mencapai suatu “maqam” atau tingkat kecanggihan intelektual yang sangat tinggi yang sulit ditandingi oleh generasi sekarang.

Ulama masa lampau juga telah menulis apa saja yang dibutuhkan oleh umat Islam berkenaan dengan ajaran Islam. Tugas umat Islam sekarang hanya sekedar melaksanakan apa yang sudah ditulis oleh mereka itu. Sebuah ungkapan terkenal menggambarkan sikap hormat pada masa lampau secara berlebihan ini: “ma taraka al-awa’ilu li al-awakhiri syai’an” (generasi lampau tak meninggalkan ruang sedikitpun bagi generasi belakangan).

Jika ada seseorang yang berani mengkritik pendapat ulama masa lampau, orang bersangkutan akan didamprat dengan sebuah argumen yang sangat khas, “Emangnya siapa kamu kok berani mengkritik pendapat ulama klasik? Apakah kamu memiliki ilmu yang setara dengan mereka?

Sikap semacam ini, menurut saya, sama sekali tidak tepat. Sikap seperti ini, dalam bentuk yang ekstrem, akan terjatuh pada “pengkultusan” ulama masa lampau, seolah-olah pendapat mereka begitu sucinya sehingga tak boleh dikritik atau ditafsirkan ulang.

Masalah yang dihadapi oleh umat Islam saat ini begitu banyak dan kompleks, dan karena itu menantang generasi sekarang untuk merumuskan jawaban baru yang sama sekali berbeda. Terlalu banyak masalah yang dihadapi oleh umat Islam saat ini yang tak akan kita temukan solusinya dalam karya-karya ulama masa lampau.

Contoh sederhana adalah bentuk negara nasional modern yang menempatkan semua warga negara dalam kedudukan yang sama, tanpa memandang perbedaan agama, suku, atau latar-belakang budaya. Ini adalah fenomena baru yang tak pernah ada presedennya dalam praktek bernegara pada masa lampau, sejak zaman Nabi hingga runtuhnya kekhilafahan Usmaniah pada abad 20.

Konsep “warga negara” dan “kewarganegaraan” (muwathana, citizenship) sebagaimana kita kenal dalam konteks negara modern saat ini, misalnya, tak pernah kita temukan presedennya dalam praktek bernegara di masa lampau, baik dalam seharah Islam atau sejarah bangsa-bangsa lain.

Tentu saja, karya-karya mengenai fiqh politik yang ditulis oleh sarjana Islam klasik seperti al-Mawardi, al-Baqillani, al-Haramain, Ibn Taymiyah, dll. bisa dijadikan sebagai sumber ilham untuk merumuskan jawaban atas tantangan baru yang dihadapi oleh umat Islam saat ini.

Tetapi, secara umum, seluruh karya sarjana klasik itu ditulis dalam konteks sejarah yang berbeda sehingga tidak semua yang mereka tulis masih relevan dengan keadaan sekarang.

YANG berminat untuk mendalami teori politik Islam klasik, buku yang ditulis oleh Patricia Crone berjudul “Medieval Islamic Political Thought” (2004) sangat bermanfaat sebagai bahan bacaan pembanding. Ini adalah karya kesarjanaan yang, sejuah saya tahu, paling komprehensif yang ditulis oleh sarjana Barat mengenai tema ini.

Selain karya Crone, ada karya lain yang juga layak dibaca, yaitu buku karangan Ann K. Lambton, “State and Governenment in Medieval Islam” (1981). Dua buku ini akan membantu pembaca modern untuk memahami secara baik lanskap pemikiran sarjana Islam kasik di bidang fikih politik.

Jika anda hendak membaca karya yang ditulis oleh sarjana Muslim modern mengenai tema ini, buku karangan Muhammad Salim al-‘Awwa berjudul “Fi al-Nizam al-Siyasi li al-Daula wal-Islamiyyah”, tentu layak dibaca.

Saya sarankan anda membaca edisi terakhir dari buku karangan al-‘Awwa itu (terbit pada 2008). Dalam edisi terakhir itu, al-‘Awwa menambahkan banyak data baru yang sangat menarik mengenai perkembangan mutakhir di bidang teori negara Islam.

Jika anda tertarik dengan tema ini, silahkan datang ke “pengajian” yang diadakan oleh JIL selama bulan puasa ini.[]