KEGIATAN yang selalu saya usahakan untuk saya lakukan secara rutin selama sekolah di Boston ini adalah lari. Ini adalah olah raga murah yang tak membutuhkan modal apapun kecuali kemauan saja, selain, tentu, beberapa dolar untuk membeli sepatu olah raga.

Hari Sabtu kemaren (308), saya lari dan mencetak rekor baru yang sungguh menyenangkan buat saya. Biasanya, saya hanya lari selama 30 menit. Setiap lari, saya berusaha memperbaiki rekor saya sendiri. Sejak lama, saya ingin bisa lari secara konstan selama satu jam. Rekor itu, akhirnya, saya capai kemaren.

Saya juga menempuh rute baru yang tak pernah saya telusuri selama ini. Saya mulai dari jalan yang dekat dengan rumah saya di kawasan Newton Centre, yaitu Beacon St, lalu belok ke Washington St, untuk kemudian masuk ke jalan utama Commonwealth St, jalan panjang yang tembus ke Universitas Boston. Total jarak yang saya tempuh kira-kira 6,5 mil, sekitar 10 km.

Ini jelas bukan jarak yang panjang, apalagi untuk pelari yang profesional. Tetapi, ini jarak yang sudah sangat jauh untuk ukuran saya. Saya juga menempuhnya dengan lari yang tak terlalu kencang. Saya memang tak “ngoyo” untuk lari cepat. Buat saya, yang penting adalah lari konstan untuk menguji ketahanan.

Saat di Jakarta dulu, saya jarang lari di tempat terbuka, karena susah mencari tempat di dekat perumahan saya yang nyaman untuk lari dan bebas dari polusi udara karena asap kendaraan bermotor. Kalau hendak lari, biasanya saya pergi ke fitness centre yang berjarak kira-kira 3 km dari perumahan saya; di sana saya lari secara “artifisial” dengan sebuah alat yang disebut thread milll. Lari di medan terbuka tentu beda sekali dengan lari secara artifisial dengan sebuah alat. Selain gratis, lari di tempat terbuka membuat kita merasa “bersatu” dengan alam sekitar; membuat kita merasa sebagai manusia.

Kota Boston, terutama di daerah Newton Centre di mana saya tinggal, adalah surga untuk mereka yang senang “jogging”, lari, jalan kaki atau bersepeda. Trotoarnya lumayan lebar sehingga nyaman untuk lari. Secara umum bahkan bisa dikatakan, Boston adalah sorga untuk siapa saja yang ingin melakukan kegiatan olah-raga dengan gratis.

Fasilitas oleh raga disediakan secara gratis oleh pemerintah kota dengan melimpah ruah. Di mana-mana saya lihat hamparan rumput dan lapangan terbuka untuk berbagai jenis olah-raga: base-ball, soft-ball (dua jenis olah raga paling populer untuk masyarakat Amerika), basket ball, tenis, dan sepak bola. Biasanya di sekitar lapangan itu dibangun “playground”, lapangan tempat bermain untuk anak-anak.

Ini kontras dengan kota-kota di Indonesia yang secara umum nyaris mengabaikan sama sekali fasilitas umum yang bisa digunakan oleh masyarakat untuk melaksanakan kegiatan olah-raga secara gratis.

Di kawasan tempat saya tinggal, ada beberapa danau kecil atau “dam” (reservoir). Salah satunya adalah tempat yang dikenal dengan Reservoir di kawasan Brookline, persis di samping universitas Katolik terkenal di kota Boston, yaitu Boston College.

Di sekeliling dam itu, dibangun “track” yang nyaman untuk lari. Jika kita mengelilingi dam itu, kita sama saja dengan menempuh jarak kira-kira 2,5 mil. Ini adalah kawasan yang sangat enak untuk jogging, lari, atau sekedar jalan kaki atau bersepeda. Daerahnya sangat indah; di beberapa bagian, dikelilingi oleh hutan kecil. Setiap hari, mulai pagi hingga malam, selalu saja ada orang yang lari atau jalan kaki di sana. Tetapi karena jaraknya agak jauh dari rumah, saya jarang lari di sana.

SAAT lari, kadang-kadang saya menjumpai sejumlah kejadian yang menarik perhatian saya. Sabtu kemaren itu, ada beberapa kajadian yang menarik saat saya lari; tentu saja menarik dalam pandangan saya, dan belum tentu kejadian yang sama menarik bagi orang-orang lain.

Saat saya menyusuri Jalan Beacon, beberapa meter setelah melewati kota kecil Waban, saya bertemu dengan seorang lelaki setengah baya yang sedang menyiangi taman di depan rumah. Saat saya lewat, dia teriak, “How are you there!” Tentu saya tak kenal dia, dan dia juga tak kenal saya. Tetapi sapaan bersahabat itu mengagetkan saya yang saat itu sedang konsentrasi untuk lari. Dengan sedikit agak gugup dan tentu ngos-ngosan, saya teriak balik, “Good. How are you sir!

Kehangatan seperti ini beberapa kali saya alami waktu berpasan dengani orang-orang yang entah berangkat kerja atau pulang kerja di kota Newton. Saat menuju ke stasiun kereta di dekat rumah dan berangkat ke kampus, misalnya, saya kerap menerima sapaan dari orang-orang yang tak saya kenal, “Hi, how are you”, atau “Good morning”.

Saya tahu, kehangatan semacam ini mungkin sudah tak ada di tengah-tengah kota besar seperti New York, Chicago, Los Angeles, atau Boston sendiri. Saya beruntung tinggal di kota kecil di luar kota Boston di mana kehangatan ala kampung Jawa ini masih bertahan hingga sekarang. Setiap menerima kehangatan seperti itu, saya selalu ingat orang-orang di kampung saya di daerah Pati. Setiap berpapasan dengan orang, saya selalu disapa atau menyapa, “Bade tindak pundi, Mas, Bu” (Mau kemana, Mas, Bu?).

Saat belok ke Jalan Commonwealth, saya sudah mulai agak kecapekan. Saya berhenti lari, dan hanya jalan kaki biasa. Nafas saya masih ngos-ngosan, badan saya basah kuyup oleh keringat. Seorang perempuan lari menyalip saya, dan sekonyong-konyong menoleh lalu menyapa, “Hi, are you ok? Wanna run with me?” Tentu saja ajakan untuk lari itu saya tolak, sebab saya baru saja menyelesaikan lari panjang. “No, thank you. I just finished running,” jawab saya.

Jalan Commonwealth adalah salah satu kawasan yang juga sangat nyaman untuk lari, terutama pada bagian yang berada di sepanjang kota Newton. Sejajar dengan jalan ini, ada taman rumput dengan pohon-pohon yang rindang. Di rumput inilah biasanya orang-orang lari. Karena hari itu adalah hari Sabtu, banyak orang yang lari di sepanjang Jalan Commonwealth itu.

WAKTU menerima sapaan perempuan itu, saya tak memikirkan apapun. Saya masih sibuk mengatur nafas saya yang masih sedikit ngos-ngosan. Setelah nafas mulai agak reda, sambil terus berjalan, saya mulai melakukan refleksi kecil.

Selama ini, kaum Islamis di mana-mana memiliki agenda yang hampir seragam, terutama yang berkaitan dengan tubuh perempuan. Mereka hendak menegakkan peraturan Islam yang berkenaan dengan pakaian perempuan. Mereka menganjurkan agar perempuan memakai jilbab, kalau bisa malah menutup seluruh tubuh, termasuk wajah mereka. Saat di Jakarta dulu, saya bahkan kerap menjumpai sejumlah perempuan yang memakai cadar.

Di mata kaum Islamis, tubuh perempuan dipandang sebagai sumber rangsangan bagi syahwat laki-laki. Karena itu, tubuh perempuan harus ditutup rapat-rapat agar syhawat laki-laki itu tidak meledak tak terkendali. Seorang imam dari Australia membuat heboh April 2007 lalu. Sebagaimana diberitakan oleh koran The Sidney Morning Herald, Sheik Taj el-Din al-Hilaly, nama imam yang berasal dari Mesir itu, mengatakan bahwa seorang perempuan yang memakai pakaian minim sama saja dengan daging yang tak tertutup.

Sindiran imam itu tentu jelas maksudnya: daging yang tak ditutup sudah tentu akan mengundang lalat. Siapa yang dimaksud dengan lalat di sini, tentu anda sudah tahu sendiri. Akibat pernyataan yang kontroversial itu, sang imam dipecat dari jabatannya sebagai mufti oleh AFIC (The Australian Federation of Islamic Councils).

Pandangan imam tersebut sebetulnya sangat khas pada semua kelompok Islam konservatif, dan tidak terbatas pada kelompok Islamis. Dalam pandangan ini, tubuh perempuan dianggap sebagai sumber “ketidakstabilan sosial”, karena dapat merangsang libido laki-laki. Jalan terbaik untuk membendung ancaman ini adalah dengan cara menyungkup tubuh perempuan serapat mungkin.

Oleh karena itu, di mana-mana, saat kaum Islam memenangkan kekuasaan politik, langkah pertama yang selalu mereka lakukan adalah memaksa perempuan memakai jilbab, membatasi gerak perempuan di ruang publik, menerapkan segregasi antara perempuan dan laki-laki, dsb. Semua itu berawal dari alasan yang sederhana: tubuh perempuan yang dipandang sebagai –meminjam istilah yang dikenal dalam literatur fikih Islam klasik– “matsar al-fitnah, sumber munculnya fitnah. Yang dimaksud dengan “fitnah” di sini adalah kekacauan sosial karena syahwat laki-laki yang tak terkontrol.

Dalam “note” yang lalu, saya menganjurkan agar kita, sebagai umat Islam, memakai pendekatan kritis dalam memahami perintah agama. Menggunakan akal sehat adalah bagian dari perintah Islam itu sendiri sebagaimana ditunjukkan dalam banyak ayat Quran. Islam menghendaki agar kita menjalankan perintah agama bukan dengan cara “taklid buta”, kebiasaan yang menjadi ciri masyarakat jahilyyah pra-Islam yang dikritik oleh Quran. Umat Islam sudah seharusnya menjalankan ajaran agama secara kritis. (Silahkan membaca kembali “note” saya yang berjudul “Menjadi Muslim dengan perspektif liberal”)

Pertanyaan kritis yang bisa diajukan di sini adalah: benarkah tubuh perempuan adalah sumber fitnah dan kekacauan sosial?

Di sini saya ingin kembali kepada “insiden” kecil yang saya alami saat lari di Jalan Commonwealth itu. Di sana, saya melihat banyak perempuan yang lari dengan memakai baju olah raga sebagaimana layaknya dipakai oleh semua orang yang lari: kaos tipis dan celana pendek. Sudah tentu tanpa penutup kepala yang sangat tak praktis untuk dipakai saat lari.

Saat orang-orang, terutama kaum laki-laki, melihat perempuan lari dengan baju “minim” itu, apakah mereka lalu melakukan tindakan yang tak sopan, misalnya melakukan pelecehan seksual atas perempuan itu? Sepanjang pengalaman saya lari selama ini di kota Boston, saya tak pernah menjumpai seorang perempuan yang diganggu karena lari dengan baju minim. Tak pernah sekalipun saya melihat seorang laki-laki mengganggu mereka, entah dengan suitan yang menggoda, kata-kata kotor, apalagi pelecehan seksual secara langsung. Semua orang bertindak dengan sopan, menghormati hak lain untuk berolah-raga secara wajar.

Dengan kata lain, tak ada kekacauan sosial apapun di sana karena tubuh perempuan yang tak tertutup dengan rapat.

Saya tentu tak melarang seorang perempuan untuk memakai jilbab. Isteri saya memakai jilbab hingga sekarang. Saya menghormati pilihan masing-masing orang, entah untuk memakai atau tak memakai jilbab. Saya menentang kebijakan pemerintah Perancis yang melarang murid-murid sekolah negeri untuk memakai jilbab. Di mata saya, kebijakan semacam itu sangat tak masuk akal. Tetapi saya juga menentang kebijakan sejumlah peraturan daerah di Indonesia yang memaksa murid-murid sekolah negeri untuk memakai jilbab, termasuk murid-murid non-Muslim sebagainana berlaku di beberapa daerah di Sumatera Barat.

Yang saya kritik adalah asumsi kalangan Islam fundamentalis yang menganggap bahwa tubuh perempuan menjadi sumber kekacauan sosial sehingga harus ditutup dengan rapat. Pandangan kaum fundamentalis ini melecehkan kaum laki-laki dan perempuan sekaligus. Mereka beranggapan, seolah-olah laki-laki adalah binatang buas yang begitu melihat perempuan tak menutup seluruh tubuhnya dengan rapat akan menerkam dan hendak bercinta dengannya, persis seperti perangai ayam jago yang begitu melihat ayam betina langsung mengejar dan bersetubuh dengannya “on the spot”.

Pandangan ini mengandaikan bahwa laki-laki adalah binatang seks yang seluruh hidupnya dikuasai oleh nafsu birahi. Tanpa disadari oleh kaum fundamentalis sendiri, pandangan mereka ini persis dengan teori Sigmund Freud yang selalu menjadi sasaran kritik kaum Islamis selama ini.

Pandangan ini juga sekaligus melecehkan permempuan sebab menempatkan mereka semata-mata ssebagai “tubuh molek” yang selalu menebarkan gairah seksual. Perempuan sama sekali tak dipandang sebagai manusia, sebagai subyek yang mempunyai martabat.

Yang menarik adalah justifikasi yang dikemuakakn oleh kaum fundamentalis ini: dengan memaksa perempuan memakai jilbab dan menutup seluruh tubuhnya, mereka meng-kleim ingin mengangkat martabat perempuan. Pandangan semacam ini jelas merendahkan kaum perempuan, sebab mengandaikan bahwa seorang perempuan yang tak menutup tubuhnya dengan jilbab bukan perempuan yang terhormat.

Perempuan yang terhormat dan bermartabat, dalam pandangan kaum fundamentalis, hanyalah perempuan yang memakai jilbab. Seorang perempuan yang memiliki pendidikan yang baik serta kemampun yang tinggi dalam berbagai bidang pekerjaan, tetap saja dianggap tak terhormat oleh kalangan fundamentalis jika tak menutup tubuh mereka dengan jilbab.

Saya ingin mengatakan kepada kaum fundamentalis itu: martabat perempuan ditegakkan bukan semata-mata dengan secarik kain yang menutup kepala dan tubuh mereka. Martabat perempuan ditegakkan karena mereka bisa menikmati hak-hak mereka yang wajar sebagai manusia dan warga negara; bisa menikmati kesempatan yang luas untuk aktualisasi diri; mendapatkan pendidikan yang cukup; mendapatkan perlindungan hukum yang memadai sehingga tak rentan terhadap kekerasan dari pihak laki-laki, dsb.

Apa gunanya perempuan dipaksa menutup seluruh tubuhnya, sementara hak-hak mereka sebagai manusia dan warga negara dipreteli satu per satu sebagaimana praktek luas yang kita lihat di dunia Islam saat ini? Memaksa perempuan untuk menutup seluruh tubuh seraya membatasi hak-hak mereka sebagai manusia, bukanlah cara yang tepat untuk mengangkat martabat perempuan. Alih-alih mengangkat martabat mereka, cara seperti itu justru merendahkan kehormatan mereka sebagai manusia.

Kecurigaan kaum Islam fundamentalis terhadap tubuh perempuan ini kadang bergerak terlalu jauh sehingga mengesankan sebuah “paranoia”. Karena maraknya Islam konservatif di kota-kota besar Indonesia saat ini, saya mulai melihat praktek yang agak janggal, yaitu laki-laki menolak berjabat tangan dengan perempuan yang bukan muhrim (kerabat dekat), seolah-olah perempuan adalah makhluk “najis” yang menjadi ancaman atas laki-laki sehingga tak boleh dijabat tangannya.

Memang benar, ada sebuah hadis yang menjadi landasan kaum konservatif untuk melarang laki-laki untuk berjabat tangan dengan perempuan. Sekali lagi, kita sudah seharusnya menjalankan ajaran agama dengan akal sehat yang kritis, bukan “menurut” saja tanpa sebuah alasan yang masuk akal. Taruhlah bahwa Nabi memang benar-benar melarang praktek jabat tangan semacam itu, kita pantas bertanya: Apa sebab-sebab larangan itu, dalam konteks sosial seperti apa larangan itu muncul, apakah larangan itu berlaku secara universal sepanjang zaman, dsb.?

Kaum Islam fundamentalis biasanya ketakutan atas pertanyaan-pertanyaan semacam ini, sebab mereka khawatir Islam akan hancur jika umat Islam memakai pendekatan kritis dalam memahami agama merekai. Mereka selalu mengatakan: jika ajaran agama dipersoalkan dasar-dasar rasionalnya, lalu apa yang tersisa dari agama? Ketakutan semacam ini sekali lagi membenarkan fakta selama ini bahwa kaum fundamentalis memang menghendaki agar kita menjalankan ajaran agama secara taklid buta saja.

Agama, di mata mereka, harus dilindungi dari bahaya rasio. Menurut mereka, rasio manusia hanya boleh digunakan sebatas membenarkan ajaran yang sudah ada, tetapi tak boleh dipakai untuk menafsirkan ulang ajaran itu. Dengan kata lain, rasio hanya dipakai sebatas untuk menjustifikasi “status quo”, bukan mengubahnya.

Islam sebagaimana saya pahami bukanlah agama yang dirundung rasa takut dan was-was terhadap rasio manusia semacam itu. Konon, Nabi sendiri pernah membuat sebuah statemen yang menarik, “al-din huwa al-‘aql, la dina li man la ‘aqla lahu, agama adalah akal; tak ada agama bagi orang yang tak memiliki akal. Seorang Muslim, dalam pandangan fikih klasik, dianggap sebagai subyek moral yang layak menerima perintah dan larangan agama setelah ia mencapai usia akil balig.

Dengan kata lain, seseorang layak menjalankan ajaran agama setelah ia memiliki kemampun intelektual untuk berpikir dengan akal sehat, sehingga keputusannya untuk menjalankan perintah agama bukan karena meniru-niru tradisi yang sudah ada, tetapi karena kesadaran dan keinsafan yang mendalam. Inilah agama Islam yang saya pahami: agama yang tak melawan rasio, tetapi justru menjadikannya sebagai landasan paling penting dalam menjalankan perintah agama.

TANPA saya sadari, sapaan perempuan yang lari di Jalan Commonwealth itu “merangsang” saya untuk berpikir keras tentang banyak hal yang berkaitan dengan Islam. Pertanyaan-pertanyaan di atas itu terus berkecamuk dalam benak saya, sementara saya terus jalan kaki menyusuri jalan pulang ke rumah.

Lari, ternyata, bukan saja menyehatkan saya secara jasmaniah, tetapi juga merangsang rohani saya untuk berpikir.[]