Bertty, Apa yang ditulis oleh Andre Vitchek itu sudah menjadi keresahan saya sejak lama. Jakarta memang kota besar, tetapi “besar” hanya secara fisik saja. Di dalamnya kita tak menemukan sejumlah syarat dalam sebuah kota modern yang manusiawi. Hal-hal kecil yang kelihatannya sepele tetapi vital untuk menjadikan sebuah kota sebagai kota yang “manusiawi”, tidak kita jumpai di Jakarta. Contoh kecil yang disebut oleh Andre adalah “promenade” atau trotoar lebar untuk pejalan kaki.

Pengalaman yang menyenangkan di sebuah kota adalah saat anda bisa nyaman jalan kaki. Trotoar di Jakarta, sebagaimana anda lihat sendiri, sangat tidak “beradab”, sempit, kerapkali kotor, dan lebih celaka lagi sering diserobot oleh pedagang kaki lima atau para pengendara sepeda motor. Trotoar di Jakarta juga sama sekali tak bersahabat pada orang-orang “disabled”, misalnya mereka yang jalan dengan memakai kursi roda. Di kota-kota modern yang lebih “beradab”, trotoar dibangun sedemikian rupa sehingga memudahkan kaum “disabled” untuk menikmati mobilitas yang wajar sebagaimana orang normal yang lain.

Taman kota juga merupakan masalah besar di Jakarta. Kita tak memiliki sebuah taman yang terawat dengan baik dan bisa dinikmati oleh masyarakat secara gratis. Semua lahan di Jakarta diserobot untuk membangun pasar atau mall. Tak salah jika Vitchek menyebut Jakarta sebagai kota yang “brutally and determinately ‘pro-market’ — profit-driven and openly indifferent to the plight of a majority of its citizens who are poor”, kota yang gila-gilaan mengejar untung, tak peduli dengan nasib warganya yang buntung.

Kalau kita berjalan di sepanjang jalan Thamrin hingga Sudirman, kita tak menemukan tempat-tempat untuk duduk-duduk yang enak di ruang terbuka; kita juga tak menemukan trotoar yang luas sehingga nyaman untuk berjalan kaki. Karana trotoar di Jakarta sangat tak nyaman untuk jalan, akibatnya penduduk Jakarta menjadi malas untuk jalan kaki. Ini salah satu kebiasaan sosial yang menjengkelkan buat saya di Jakarta: yakni, orang malas jalan kaki, bahkan untuk menempuh sebuah jarak yang pendek. Orang-orang lebih suka memakai jasa ojek, bahkan untuk jarak yang hanya satu kilo atau bahkan kurang.

Saya tinggal di sebuah perumahan di Bekasi. Dari rumah ke gerbang depan perumahan, saya hanya menempuh jarak sekitar 700 m. Untuk jarak yang sependek itu, orang-orang di perumahan saya yang tak punya mobil pribadi sering memakai jasa ojek. Saya bertanya dalam hati: kenapa tak jalan kaki, padahal lingkungan perumahan sangat nyaman untuk jalan kaki. Jika naik ojek pada waktu tengah siang, bisa dimaklumi, karena terik matahari. Tetapi, pada waktu pagi, sore atau malam pun, saya tetap saja melihat tetangga-tetangga saya naik ojek, jarang jalan kaki. Tampaknya “kebiasaan sosial” masyarakat Jakarta memang cenderung tak menyukai jalan kaki.

Anda bisa bayangkan sendiri, berapa banyak penyakit yang muncul karena jarang jalan kaki. Saya bisa memaklumi, kenapa masyarakat Jakarta enggan jalan kaki. Sebab, tata-kota memang tak bersahabat dengan pejalan kaki. Mungkin ini yang menjelaskan kenapa di Jakarta banyak bertebaran pusat-pusat pijat. Karena jarang jalan kaki, maka orang menjadi pegal-pegal, dan tentu butuh pijat. Bersyukurlah para pengelola tempat pijat karena buruknya fasilitas publik ini!

Yang sungguh mengherankan buat saya adalah langkanya museum yang dikelola dengan baik. Museum bukan hanya menjadi tempat untuk belajar tentang masa lampau, tetapi juga alternatif “wisata” yang murah dan menyenangkan.

Wisata yang murah yang selalu menyenangkan buat anak-anak saya di kota Boston ini adalah berkunjung ke museum. Segala rupa museum ada di kota ini, mulai dari yang harus bayar mahal hingga yang gratis. Bahkan hingga ke “county” atau kota kabupaten pun, kita jumpai museum. Saya sekeluarga tinggal di kota kecil bernama Newton Centre. Di kota ini terdapat Newton History Museum yang memperagakan bagaimana kehidupan para pendatang (settlers) di kawasan New England pada masa lampau.

Perpustakaan publik adalah merupakan salah satu ciri kota modern yang beradab. Di Jakarta, sekali lagi, kita tak menemukan perpustakaan publik yang cukup nyaman untuk tempat membaca bagi masyarakat. Sekarang ini, “perpustakaan publik” pindah ke toko-toko buku. Yang menjadi sasaran adalah toko-toko buku besar seperti Gramedia.

Saat masih bujangan dulu, saya tinggal di sebuah rumah kontrakan di kawasan Jl. Tegalan, Matraman, dekat dengan toko buku Gramedia yang besar sekali di Matraman. Setiap ada waktu kosong, saya selalu pergi ke sana, melewatkan waktu berjam-jam untuk membaca. Saya menamatkan beberapa buku di toko itu. Orang-orang lain nampaknya berbuat hal yang serupa. Ini tentu akhirnya menjengkelkan bagi pemilik Gramedia. Akhirnya, banyak buku yang dibungkus plastik, sehingga tak lecek karena dibaca oleh banyak orang. Masyarakat butuh membaca, dan karena pemerintah kota tak menyediakan tempat membaca yang nyaman, mereka mencari sendiri tempat untuk itu. Ke mana lagi kalau bukan ke toko buku.

Hanya saja, sikap pemilik dan petugas toko buku seperti Gramedia juga patut disayangkan. Mereka tampaknya kurang bersahabat pada konsumen yang datang ke Gramedia hanya sekedar untuk baca-baca. Di kawasan kampus Universitas Harvard tempat saya belajar sekarang, ada dua toko buku besar yang menjadi “land-mark” kawasan Harvard Square, yaitu Harvard Book Store yang berdiri sejak 1932 (bayangkan, sejak sebelum Indonesia merdeka hingga sekarang!) dan toko buku Coop.

Yang layak saya ceritakan adalah toko buku kedua, yaitu Coop. Toko buku ini terletak di sebuah gedung besar persis di seberang gerbang masuk ke Universitas Harvard. Di lantai dua, ada sebuah cafe yang nyaman untuk baca. Orang boleh datang, dan duduk-duduk seharian di sana hanya untuk baca buku. Tak ada buku yang dibungkus dengan plastik. Begitu juga majalah bisa dibaca dengan bebas. Saya berharap toko buku yang kaya seperti Gramedia bisa berbuat seperti itu. Sebetulnya konsep toko buku seperti ini sudah pernah dicoba oleh dua tuku buku, yaitu QB dan Aksara yang ada di kawasan Kemang. Toko buku QB kurang berhasil sehingga semua “out-let”-nya hampir tutup kecuali satu yang terletak di kawasan Kemang. Sementara itu, toko buku Aksara memang di-design begitu rupa sehingga tidak nyaman buat para pembaca dari kelas menengah ke bawah.

Menurut saya, pemilik toko buku Gramedia pantas men-design ulang bisnisnya sehingga toko bukunya lebih bersahabat dengan para pembaca dari kalangan menengah ke bawah. Mestinya, tugas menyediakan perpustakaan publik yang baik memang ada pada pemerintah kota. Tetapi karena birokrat kita belum terlalu menyadari pentingnya aspek ini, maka tak ada salahnya jika sektor swasta seperti Gramedia itu mengisi kekosongan tersebut. Hitung-hitung ini merupakan bagian dari “corporate social responsibility” (CSR) yang ramai dibicarakan beberapa waktu lalu itu.

Setiap saya pergi ke Singapura, pemandangan pertama yang langsung menyerbu mata saya adalah pohon yang hijau dan rindang di mana-mana. Singapura yang lahannya kecil itu bisa menyediakan beberapa “spot” di tengah kota di mana orang bisa menikmati taman yang indah dan pohon yang rindang. Saya melihat, tak ada niat yang sungguh-sungguh pada pemerintah daerah Jakarta untuk membuatnya kota yang hijau dan rindang. Yang menyedihkan, gejala seperti ini terjadi di kota-kota lain di seluruh Indonesia. Gejala Jakarta yang nyaris “anti-pohon” itu kita lihat juga di kota-kota besar lain di Indonesia seperi Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Makasar, dan Medan. Hunian di Jakarta yang masih rindang dan hijau hanya di kawasan Menteng. Selebihnya, kita menyaksikan Jakarta yang nyaris seperti padang pasir.

Kesenian adalah salah satu unsur yang paling penting dalam kehidupan sebuah kota. Satu-satunya pusat kesenian yang cukup besar di Jakarta adalah Taman Ismail Marzuki yang saat ini sudah tertinggal jauh dari segi fasilitas dibanding dengan negeri-negeri tetangga seperti Singapura. yang saat ini memiliki pusat keseian bertaraf internasional, yaitu Esplanade. Tentu kita butuh bukan hanya pusat-pusat kesenian yang mahal semacam itu. Pusat-pusat kesenian yang murah dan bisa diakses oleh masyarakat luas juga sangat diperlukan.

Di kota Newton Centre tempat saya tinggal ini, perpustakaan publik sekaligus berfungsi sebagai pusat kesenian bagi masyarakat sekitar. Setiap akhir pekan, saya berusaha menyempatkan diri ke sana untuk menikmati sejumlah pertunjukan kesenian yang gratis, mulai dari pameran lukisan oleh seniman-seniman lokal, resital piano, pertunjukan berbagai jenis musik, sampai pembacaan cerita untuk anak-anak. Saat mengantar anak-anak saya untuk mengikuti acara pembacaan cerita itu, saya berpikir: masyarakat kita di Indonesia sangat akrab dengan tradisi dongeng. Di manakah anak-anak kita bisa menikmati kembali dongeng itu? Adakah bupati atau gubernur kita yang memperhatikan masalah sepele tetapi vital dalam membangun sebuah kota yang beradab ini?

Kota yang nyaman juga harus memenuhi syarat pokok, yaitu keamanan. Sebagaimana kita tahu, masalah premanisme di Jakarta begitu serius sekali. Kita akan tahu mengenai hal ini kalau kita berada di kawasan bisnis seperti Glodok, Senen, Mangga Dua dan lain-lain. Masalah ini memang tidak sederhana. Beberapa kota di Amerika masih bergelut dengan masalah premanisme ini hingga sekarang, dan beberapa belum berhasil. Pemerintah (dan tentu masyarakat juga harus terlibat memikirkan hal ini) sudah seharusnya mengatasi masalah ini dengan sungguh-sungguh. Yang saya sebut “premanisme” di sini mencakup dua hal sekaligus, baik “premanisme sekuler” atau “premanisme berjubah” yang memakai baju agama. Kedua jenis premanisme itu mengancam citra kota Jakarta sebagai kota yang beradab.

Saya memiliki kesan bahwa selama orang-orang datang ke Jakarta hanya untuk mencari uang dan uang dan uang. Mereka kurang memikirkan bagaimana kota tempat mereka tinggal menjadi sebuah kota yang manusiawi. Tantangan menjadikan kota Jakarta sebagai kota yang modern dan manusiawi bukan saja terletak pada pemerintah daerah, tetapi lebih-lebih lagi pada masyarakat sipil. Masyarakat juga perlu mengubah mindset mereka tentang Jakarta sebagai kota “sapi perahan” saja, menjadi kota untuk tempat tinggal yang manusiawi.

Saya memang geram sekali melihat kota saya yang kacau-macau itu![]