Pengantar:

Surat berikut ini saya tulis untuk seorang kawan dalam milis Islam Liberal. Setelah saya mengirim artikel Mona Eltahawy “Shame and Sexual Harassment in Egypt” ke milis itu, muncul diskusi yang hangat. Ada pro dan kontra di sana, lagi-lagi soal jilbab. Dalam konteks diskusi itu, saya menulis tanggapan berikut ini.

Buat beberapa teman, mungkin masalah jilbab ini sepele, dan karena itu tak layak didiskusikan. Ada masalah umat dan kebangsaan lain yang juah lebih layak dibicarakan. Saya tak sepakat dengan sinisme seperti itu. Peran agama begitu sentral dalam masyarakat Indonesia. Diskusi yang mencoba melakukan evaluasi ulang atas doktrin yang sudah diaggap mapan dalam masyarakat, sangat penting. Dampaknya tidak hanya terbatas pada reinterpretasi doktrin yang sifatnya sempit, tetapi juga pada sektor-sektor sosial dan politik yang lain.

Saya menambahkan beberapa hal dalam “note” ini, sehingga bentuk akhirnya tidak sama dengan surat yang saya tulis dalam milis Islam Liberal.

Karena surat saya ini menyangkut isu yang menjadi perdebatan publik selama ini, maka saya muat dalam halaman “note” ini, mungkin bermanfaat bagi yang lain.


Bung Erwin, Pertama, boleh saja anda sinis, tetapi harap anda memakai bahasa yang baik dan sopan. Bung Ioanes Rakhmat ini adalah profesor teologi yang sangat sabar, dan tak pernah menulis dengan cara yang keras. Komentar anda saya anggap sedikit kurang sopan, dan kurang layak diarahkan kepada yang bersangkutan.

Kita bisa saja berbeda pendapat, tetapi perbedaan dan diskusi sebaiknya dilaksanakan dengan cara yang argumentatif dan dengan cara yang sopan.

Kedua, anggapan bahwa kaum liberal menghancurkan Islam, tentu itu anggapan yang harus diuji. Apakah betul demikian. Pandangan kaum liberal memang mengancam kalangan Islam yang berpandangan konservatif. Tetapi mengatakan bahwa pandangan liberal akan menghancurkan agama, menurut saya berlebihan.

Kalangan liberal memang cenderung meragukan penafsiran atas Kitab Suci yang dilakukan oleh kalangan konservatif; penafsiran yang selama ini sudah dianggap mapan dan merupakan bagian dari ortodoksi. Tentu mereka, termasuk saya sendiri, memiliki alasan-alasan yang kuat untuk meragukan itu. Saya sebagai seorang Muslim liberal percaya bahwa penafsiran harus terus-menerus berubah karena keadaan sosial terus berkembang. Kitab Suci harus terus ditafsirkan, jika ada beberapa hal di dalamnya yang tidak lagi sesuai dengan pekembangan zaman.

Menafsirkan kembali Kitab Suci sesuai dengan perkembangan zaman tidak bisa dianggap sebagai meninggalkan sama sekali Kitab Suci. Setiap Kitab Suci selalu membuka diri dan terbuka pada penafsiran yang berbeda-beda, dan penafsiran itu selalu berkembang sesuai dengan perkembangan zaman.

Saya tak setuju dengan kalangan yang mengatakan bahwa sebagai Muslim atau Kristen, anda hanya punya dua pilihan, percaya dan ikut apa yang dikatakan oleh Quran dan Bibel, atau membuang sama sekali kitab itu.

Pandangan semacam itu menurut saya terlalu hitam putih. Ada “jalan ketiga”, yaitu mengikuti Kitab Suci secara kontekstual dan memakai akal sehat. Kalau ada hal-hal dalam Kitab Suci yang sudah tidak cocok dengan perkembangan zaman, tentu sudah seharusnya kita tafsirkan kembali.

Sekali lagi, menafsirkan kembali tidak sama dengan membuang Kitab Suci.

Contoh: ajaran memakai jilbab buat kaum perempuan sebagaimana tertuang dalam Quran, menurut saya, harus ditafsirkan kembali. Saya sendiri berpandangan bahwa jilbab adalah pakaian Arab. Tetapi oleh Qur’an, dengan sedikit modifikasi, pakaian itu dianggap telah memenuhi etika pakaian yang Islami.

Saya katakan “dengan sedikit modifikasi”, karena pakaian ala Arab itu dikritik oleh Quran sebab masih memperlihatkan belahan (jayb; juyub) di bagian dada. Belahan itu diperintahkan oleh Quran untuk ditutup, supaya perempuan terhindar dari gangguan laki-laki (dzalika adna an yu’rafna fa la yu’dzaina).

Dalam tafsiran saya, jilbab diajarkan oleh Islam dengan tujuan pokok: yaitu menghindarkan perempuan dari ‘social harassment’, pelecehan sosial. Jadi, dalam bacaan saya, yang paling penting bukan pakaian itu sendiri, tetapi bagaimana melindungi perempuan dari pelecehan. Apa gunanya tubuh perempuan ditutup rapat-rapat seperti ‘pocong’, jika ia tetap saja menjadi obyek pelecehan laki-laki, seperti kasus yang dialami oleh Mona Eltahawy itu?

Saya berpandangan, ketimbang semata-mata membatasi diri pada soal jenis pakaian apa yang harus dikenakan oleh perempuan, yang lebih penting didiskusikan adalah bagaimana melindungi mereka dengan instrumen hukum. Pakaian, menurut saya, adalah masalah sekunder, tidak terlalu penting. Masalah pakaian adalah bagian dari kebebasan pribadi yang harus dilindungi. Asal seseorang (tidak hanya perempuan) berpakaian yang sopan menurut adat dan kebiasaan masyarakat bersangkutan, buat saya sudah cukup.

Inti pakaian adalah menjaga martabat tubuh dengan alat penutup yang memenuhi standar kepantasan yang berlaku pada masyarakat bersangkutan. Etika paling mendasar dalam berpakaian adalah ‘modesty’, kepantasan.

Jilbab bukan satu-satunya pakaian yang boleh disebut sebagai Islami. Dalam pandangan saya, ada banyak jenis pakaian yang memenuhi standar Islam. Seorang perempuan yang memakai baju ala Melayu dengan kepala terbuka, menurut saya sudah berpakaian secara Islami, sebab ia cukup sopan dalam standar adat dan norma sosial masyarakat Melayu.

Begitu juga seorang perempuan Jawa yang memaki baju seperti yang kita lihat pada ibu-ibu Jawa di pedesaan (contoh paling bagus adalah pakaian yang dikenakan oleh Waljinah, seorang penyanyi keroncong terkenal), menurut saya sudah berpakaian secara Islami, sebab ia sudah memenuhi standar pakaian yang terhormat dalam etika masyarakat Jawa. Perempuan di Jawa dengan pakaian seperti itu sudah melindungi dirinya dari “godaan” oleh laki-laki.

Catatan: pakaian yang pantas dan Islami tak harus menutup seluruh tubuh. Pakaian Melayu atau Jawa yang tanpa penutup kepala, buat saya, sudah cukup Islami. Kerudung ala ibu-ibu Jawa yang longgar dan masih memperlihatkan rambut (contoh yang bagus adalah kerudung yang dipakai oleh Yeni Wahid, puteri Gus Dur) sudah cukup Islami, dalam pandangan saya, meskipun tidak menutup seluruh rambut dan kepala.

Pertanyaannya: kalau sudah berpakian secara terhormat, tetapi perempuan masih digoda oleh laki-laki, apa yang harus kita lakukan? Di sinilah pentingnya instrumen hukum untuk melindungi perempuan dari ‘sexual harassment’.

Harus kita akui, dalam Islam sama sekali tidak ada hukum yang jelas berkenaan dengan laki-laki yang melakukan ‘colak-colek’ terhadap perempuan, alias pelecehan seksual. Sementara perempuan diwajibkan untuk berpakaian secara sopan supaya aman dari gangguan laki-laki, di pihak lain jika laki-laki melakukan gangguan seksual tak ada hukum yang mengancam mereka secara langsung.

Ini, dalam bacaan saya, sama sekali tak adil. Kenapa perempuan yang harus menanggung beban sosial agar menghindarkan laki-laki dari syahwat seksual mereka yang mengancam itu? Kenapa laki-laki tidak ikut menanggung beban itu? Kenapa hanya perempuan yang “di-udak-udak” ? Kenapa hukum yang berlaku untuk laki-laki lebih lunak?

Memang dalam Quran ada perintah agar laki-laki menutup mata (yaghuddu min absharihim) supaya tak melihat perempuan, dengan demikian mereka tak tergoda. Yang menjadi pertanyaan: jika laki-laki tak menutup mata, apa hukuman bagi mereka? Dalam hukum Islam, sama sekali tak ada hukuman untuk itu. Paling jauh hanya dikatakan, lelaki bersangkutan telah berdosa karena melihat perempuan yang tidak muhrim. Selain dosa, apa hukuman untuk laki-laki itu? Tidak ada!

Dengan kata lain, hukum Islam, dalam kasus regulasi pakaian ini, menurut saya, tidak adil dalam konteks saat ini. Oleh karena itu, kita harus melakukan tafsiran ulang.

Anda mungkin akan bertanya: dengan demikian, apakah Quran mengandung hukum yang tidak adil?

Jawaban yang paling masuk akal, menurut saya sebagai seorang Muslim: tidak. Quran jelas meletakkan norma keadilan dalam kedudukan yang sangat tinggi, begitu rupa sehingga setiap hari Jumat, khatib selalu menutup khutbahnya dengan sebuah ayat dalam Quran mengenai keadilan (inna l-Laha ya’murukum bi al-‘adli wa al-ihsan). Tetapi pelaksanaan norma keadilan jelas terus berubah dari waktu ke waktu. Dalam standar zaman Nabi, solusi jilbab untuk perempuan mungkin sudah adil, tetapi dalam kaca mata kita sekarang, solusi itu mengandung banyak problem. Setiap Kitab Suci selalu mengandung elemen-elemen historis dan kontekstual dalam dirinya, dan Quran tidak terkecualikan dari hal itu.

Ini sama saja dengan ajaran tentang poligami. Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa poligami adalah tak adil bagi perempuan. Solusi poligami (yaitu mengawini hingga empat perempuan) adalah solusi temporer yang sangat relevan dan tepat untuk konteks zaman Nabi; konteks di mana, pada saat itu, dalam masyarakat Arab berlaku praktek perkawinan yang begitu ‘permisif’ – seorang laki-laki bisa mengawini perempuan secara tak terbatas. Ini jelas praktek yang sangat tak manusiawi, tak adil.

Solusi yang ditawarkan Islam pada saat itu memang sama sekali tidak radikal dan revolusioner, yakni dengan menghapuskan sama sekali praktek poligami. Solusi yang radikal semacam itu boleh jadi dianggap kurang tepat untuk konteks masyarakat Arab pada zaman itu. Ketimbang menempuh solusi yang revolusioner, Islam mengajukan solusi lain yang lebih gradualistik, bertahap.

Solusi poligami boleh jadi tepat untuk zaman itu, tetapi jelas, menurut saya (anda tentu boleh berbeda pendapat), solusi itu sama sekali tak adil sekarang ini.

Hukum selalu berevolusi, termasuk hukum dalam Quran. Menurut saya, ini sama sekali tak bisa dihindarkan. Saya menghormati mereka yang berpandangan bahwa hukum yang tertuang dalam Kitab Suci berlaku sepanjang zaman. Silahkan saja jika ada orang yang percaya seperti itu.

Dalam pandangan sarjana Islam sendiri sudah dikenal perbedaan yang sangat ‘realistis’ antara ayat-ayat yang ‘muhkamat’ dan ‘mutasyabihat’. Ayat muhmakat artinya ayat yang pengertiannya sudah jelas, sama sekali tak mengandung ambiguitas dalam dirinya, sehingga tak bisa di-othak-athik lagi, sementara ayat-ayat mutasyabihat adalah ayat yang mengandung ambiguitas dan, karena itu, pelbagai penafsiran.

Saya sepakat dengan pembagian seperti itu, tetapi masih ada masalah yang serius di sana yang harus didiskusikan kembali. Menurut saya, ayat-ayat muhmakat pun masih terbuka pada penafsiran baru jika konteks historisnya berubah.

Contoh yang paling bagus adalah ayat tentang jilbab itu. Beberapa sarjana Islam mengatakan bahwa ayat ini jelas memerintahkan perempuan untuk memakai jilbab, meskipun ada perbedaan tentang bagian-bagian mana dari tubuh perempuan yang harus ditutup dan mana yang boleh terbuka. Dengan demikian, ayat ini masuk kategori ayat muhkamah.

Sebagaimana saya ulas di atas, ayat ini terkait dengan konteks historis di tanah Arab. Ayat itu memang ‘muhkamah’, tetapi dia justru harus ditafsirkan ulang karena keadaan yang berubah.

Lagi pula, harus saya tambahkan bahwa ayat yang disebut muhkam oleh seorang ulama atau sarjana Islam, belum tentu dianggap muhkam oleh ulama atau sarjana Islam yang lain. Dilema ini sudah dikemukakan sejak lama oleh seorang penafsir dan teolog Islam terkemuka, Fakhruddin al-Razi, dalam tafsirnya yang terkenal, Mafatih al-Ghaib. Al-Razi hidup pada abad 12 M.

Dengan cermat sekali, al-Razi mengemukakan suatu observasi yang menarik. Menurut dia, ada kecenderungan bahwa setiap sekte dalam Islam cenderung mengatakan bahwa ayat-ayat yang sesuai dengan doktrin mereka, akan mereka anggap sebagai muhkam (pasti dan ‘fixed’ pengertiannya), begitu juga sekte-sekte yang lain. Sementara itu, ayat yang tak sesuai dengan doktrin mereka, akan cenderung mereka anggap ‘mutasyabihah’ (ambigu). Dengan demikian, batasan antara ayat muhkamat dan mutasyabihat sendiri juga tidak ‘muhkam’ atau pasti.

Sekali lagi, cara pandang yang hitam putih dalam agama, menurut saya, tak selalu tepat. Dalam melihat soal kedudukan Quran dan hubungannya dengan keadaan sosial yang terus berkembang, penafsiran kembali tidak bisa dihindarkan. Dan itu bukan berarti meninggalkan Quran, sebagaimana secara sembrono dituduhkan oleh kalangan konservatif.

Kata-kata anda bahwa seorang “liberal” kok masih menyebut diri sebagai Muslim, apa tidak kontradiksi, adalah pandangan yang, mohon maaf, terlalu sempit. Masalah agama tidak sesederhana seperti itu. Saya menghormati anda jika betul anda berpandangan seperti itu, tetapi saya mempunyai pandangan lain.

Dalam pandangan saya, seseorang bisa menjadi Muslim dengan banyak jalan; dengan jalan yang konservatif, jalan moderat, dan jalan liberal dan progresif. Anda tentu bisa mengatakan bahwa jalan untuk menjadi Muslim hanya satu, yaitu jalan sebagaimana diajarkan oleh Nabi dan sahabat-sahabat sesudahnya yang disebut sebagai generasi salaf.

Tetapi, sebagaimana anda ketahui sendiri, jalan yang diajarkan Nabi itu tertuang dalam teks, dan setiap teks selalu terkait dengan konteks, selalu terbuka pada banyak penafsiran. Para sarjana Islam memang telah meletakkan dasar-dasar dan aturan bagaimana menafsirkan teks itu.

Tetapi aturan itu sendiri jelas merupakan hasil ijtihad dan usaha mereka sebagai manusia yang relatif. Saya sendiri mempunyai banyak kritik atas metode dan aturan-aturan penafsiran yang dirumuskan oleh sarjana Islam klasik atau modern yang biasanya termuat dalam karya-karya ushul al-fiqh (Islamic legal theory). Meskipun sebagai warisan intelektual, karya-karya itu layak kita hargai, dan saya sendiri banyak belajar dari sana.

Tetapi, penafsiran dan aturan-aturannya bisa terus berkembang dan berubah, sesuai dengan perkembanagn kematangan manusia sebagai makhluk yang berpikir. Manusia adalah makhluk organis yang berpikir, bukan ‘mineral’ yang mati dan statis.

Kawan-kawan Muslim yang datang dari latar-belakang ilmu-ilmu eksakta, biasanya cenderung menyamakan agama dengan rumus-rumus yang pasti seperti dalam matematika atau gejala fisika. Mereka misalnya berkata bahwa Tuhan sudah menetapkan aturan dan hukum, baik untuk dunia fisik atau dunia manusia. Sebagaimana hukum-hukum Tuhan yang berlaku pada dunia fisik berlaku pasti (air dipanaskan akan mendidih, misalnya), maka hukum-hukum Tuhan yang berlaku untuk manusia juga bersifat pasti, dan karena itu tak boleh dibantah.

Cara berpikir seperti ini sama sekali tak tepat, menurut saya. Manusia memiliki kehendak, sementara benda-benda fisik sama sekali tidak. Manusia diciptakan oleh Tuhan dengan akal dan kehendak yang bebas. Jika manusia memakai akal untuk menafsirkan hukum-hukum Tuhan yang berlaku untuk manusia, itu sudah merupakan konsekwensi yang logis.

Bukankah perubahan sosial juga bagian dari hukum Tuhan juga? Bukankah menafsirkan ayat-ayat Tuhan dalam Kitab Suci agar sesuai dengan perubahan itu merupakan konsekwensi logis?

Tentu sebagai manusia kita harus menyadari keterbatasan kita sebagai makhluk yang relatif. Saya tak mengatakan bahwa penafsiran saya adalah yang paling tepat. Saya hanya berusaha memahami keislaman saya dalam konteks yang selalu berubah. Jika orang lain menuduh saya kafir atau sesat karena pemahaman itu, silahkan saja. Asal hak saya untuk berpendapat dan menyuarakan pikiran saya tetap dilindungi, buat saya perbedaan seperti itu tidak masalah.

Kalau ada golongan dalam Islam (misalnya Hizbut Tahrir) mau menegakkan sistem politik yang hanya memberi kebebasan kepada orang yang menyuarakan tafsiran yang mereka anggap benar saja, sementara mau memberangus suara-suara kalangan yang mereka tak setujui karena dianggap sesat, maka gerakan seperti itu harus dilawan. Inilah, maaf, fasisme atas nama Islam yang berbahaya, karena hendak memberangus kebebasan berpendapat.

Semoga tulisan saya ini bermanfaat dan mustahak.[]