Saya selama ini bergaul dengan bahasa Inggris sebagai “bahasa kuliah”, yakni sebagai bahasa untuk alat artikulasi gagasan-gagasan yang kerapkali bersifat abstrak. Semula, saya mengira, bahasa Inggris “kuliahan” ini sudah paling hebat dan paling tinggi derajatnya; saya semua mengira bahwa bahasa Inggris buku yang “akademis” itu sudah “sundul” atau menyentuh “langit ketujuh”.

Saya juga semula mengira bahwa bahasa Inggris buku adalah “superior” ketimbang dialek yang dipakai dalam percakapan sehari-hari; lebih superior daripada bahasa Inggris yang dipakai dalam majalah-majalah atau bacaan populer yang “ngepop”.

Mungkin mentalitas seperti ini berasal dari “mind-set” yang terbentuk dalam diri saya saat belajar bertahun-tahun di pesantren. Karena terbiasa mempelajari bahasa Arab sebagaimana dipakai dalam kitab-kitab kanon klasik yang sering disebut dengan “Kitab Kuning” (disebut demikian karena warna kertasnya memang kuning, agar tak menyilaukan mata), saya beranggapan bahwa bahasa dalam buku adalah yang paling baik.

Di kalangan pesantren, muncul semacam pandangan bahwa bahasa Arab seperti yang mereka baca dalam kitab-kitab kuning itu adalah bahasa Arab yang paling berkualitas tinggi, bahasa fushha. Itulah bahasa standar yang mestinya menjadi “kriteria” untuk menilai bentuk-bentuk pengucapan yang lain.

Bahasa Arab “pasaran” (sering disebut dengan “lahjah” atau “al-lughah al-darijah”) sebagaimana dipakai dalam pergaulan sehari-hari, dianggap oleh para santri sebagai “bahasa rendahan” yang tak memenuhi standar “bahasa buku” yang baku. Begitu juga bahasa Arab seperti dipakai dalam koran, majalah, atau bacaan-bacaan modern, oleh para santri dipandang dengan “mata-terpicing”.

Mind-set ini yang terbawa saat saya belajar bahasa Inggris. Bahasa Inggris buku-kuliahanlah yang semula saya anggap sebagai bentuk yang paling baik dan bermutu.

Perubahan terjadi saat saya menyadari bahwa bahasa Inggris buku itu lama-lama membosankan, apalagi buku-buku yang berisi gagasan-gagasan filsafat yang abstrak. Selama ini, wilayah bacaan saya memang berkisar pada buku-buku semacam itu.

Saat berbicara dengan orang-orang penutur Inggris asli, saya merasakan bahwa kosa-kata yang saya kuasai sangat “bookish”, alias terasa kebuku-bukuan. Saat saya ingin menulis suatu esei yang tidak berkenaan dengan tugas perkuliahan, saya juga merasa bahwa bahasa Inggris saya kaku.

Mulailah saya sadar, bahwa bahasa Inggris buku hanyalah salah satu “genre” atau jenis-jenis yang ada. Bahasa Inggris buku bukanlah satu-satunya bentuk pemakaian bahasa itu. Ada banyak jenis yang bertebaran di luar sana yang layak dijelajahi.

Mulailah saya melakukan semacam “petualangan” untuk mengenali berbagai ragam pemakaian bahasa Inggris. Dari penjelajahan ini, saya mulai sadar bahwa seseorang yang kompeten untuk ber-bahasa Inggris saat menulis topik tentang sejarah teologi Islam, misalnya, belum tentu dia memiliki kompetensi serupa saat menulis tentang keindahan sebuah taman kota.

Untuk menulis sesuatu tentang keindahan taman kota, anda butuh kosa-kata, idiom, dan ekspresi yang berbeda sama sekali dengan saat anda menulis tentang teologi, filsafat, atau hukum.

Begitu pula, jika anda bisa memahami dengan baik buku-buku tentang filsafat dalam bahasa Inggris, belum tentu anda bisa memahami dengan baik buku-buku tentang masakan atau novel, atau buku-buku travelog yang berisi catatan perjalanan.

Inilah kesan saya setelah sejenak menjelajah: buku-buku tentang tema-tema “non-kuliahan” itu lebih lincah, bergairah, dan girang-gemirang. Kosa katanya juga lebih beragam, lebih kongkret dan “visual”. Dalam buku-buku filsafat, banyak kosa-kata yang semula memiliki pengertian yang “empiris” dan kongkret, tiba-tiba kehilangan darah dan “nafsu”, menjadi kering-kerontang karena diperas-tuntas oleh sebuah proses kejam yang namanya “abstraksi” atau penajridan.

Dunia gagasan memang kadang berlaku seperti sebuah vampir yang menyesap habis darah bahasa! Pada titik itu, anda harus kembali ke dunia sehari-hari, di mana anda akan menjumpai bahasa yang menari riang-gembira, tanpa dosa, seperti ronggeng di sebuah dukuh yang diceritakan oleh Ahmad Tohari itu. Ya, Dukuh Paruk!

Saat saya mulai menjelajahi bahasa Inggris non-kuliahan, saya seperti anak-anak yang baru mengenal bahasa. Saya teriak, “This is the real English, this is what I want!”

Saat naik pesawat, misalnya, saya senang sekali membuka-buka majalah yang biasa disediakan di sana, berisi catatan perjalanan, laporan tentang tempat-tempat turisme yang indah, atau sebuah masakan “eksotis” yang berasal dari sebuah sudut dunia yang tak pernah kita ketahui. Dengan membaca bahasa Inggris dalam majalah seperti itu, saya menemukan kosa-kata baru yang digunakan dalam konteks kehidupan kongkret yang berbagai-bagai itu.

Saya senang sekali membacai novel, terutama novel-novel yang bercerita tentang dunia remaja masyarakat Amerika. Saya mempunyai tesis: sumur bahasa adalah anak-anak remaja belasan tahun (teenagers)! Mereka lah pencipta bahasa yang tanpa dosa, tak peduli dengan sejibun aturan yang kompleks yang di-fatwa-kan oleh Dewan Bahasa itu.

Bacalah novel laris manis karangan Curtis Sittenfeld berjudul “Prep” yang berkisah tentang dunia anak-anak under-grad, anak-anak sophomore, alias mahasiswa-mahasiswi tahun pertama.

Saya juga suka membacai majalah-majalah tentang dunia kuliner. Semua orang butuh makan, tetapi percayalah, anda pasti tak cukup menguasai “diskursus” atau cara bercakap-cakap tentang dunia makanan dan masakan, bahkan dalam bahasa Indonesia sekalipun. Banyak orang yang berpikiran bahwa makanan ya memang untuk disantap, bukan untuk dibicarakan, di-wacana-kan. Makanan adalah dunia kongkret, dunia pra-diskursus!

No, anda keliru. Setiap bagian dalam kehidupan manusia bisa dipercakapkan dengan indah sekali, termasuk dunia makanan dan masakan. Dunia itu juga memiliki kosa-katanya sendiri, idiom-nya sendiri, ekspresinya sendiri, bahkan wisdom dan filosofinya sendiri.

Baru-baru ini, isteri saya (namanya IENAS TSUROIYA; kita, tanpa sadar, sering menggunakan kata “isteri saya” tanpa menyebut namanya, seolah isteri kita adalah orang-asing tanpa nama) menunjukkan sebuah blog tentang masak-memasak yang dimiliki oleh seorang “foodblogger” dari Indonesia, Riana “Pennylane” Ambarsari.

Dia mengelola blog masak-memasak dalam bahasa Inggris yang sungguh menawan, [](http://pennylanekitchen.blogsome.com/)[_"Pennylane Kitchen”_](http://pennylanekitchen.blogsome.com/). Meskipun saya bukan seorang pecinta masak-memasak, tetapi saya sungguh senang sekali membaca blog-nya.

Alasannya sederhana: saya belajar banyak dari sana tentang jenis bahasa Inggris yang dipakai dalam dunia kuliner. Saya sungguh kagum pada Riana: bahasa Inggrisnya lincah, indah, penuh “selera”; ia membicarakan dunia masak-memasak bukan semata-mata sebagai masalah dapur, tetapi juga dalam konteks yang lebih luas, yaitu kegiatan manusia sebagai makhluk yang beradab!

Jika anda meraih skor TOEFL yang paling tinggi, maka itu bukan berarti anda sudah menguasai bahasa Inggris dengan hebat. Itu barulah pertanda bahwa anda masuk dalam beranda bahasa Inggris. Untuk mengetahui kekayaan bahasa itu, anda harus masuk ke dalam rumahnya, mengeksplorasi seluruh kamar-kamarnya, bahkan kalau perlu hingga ke kamar mandi dan toiletnya.

Setiap bahasa selalu mempunyai dimensi yang kaya seperti itu. Sekali lagi, bahasa buku hanyalah salah satu jenis saja dari keseluruhan bahasa yang sangat kompleks dan kaya; kebetulan bukan jenis atau varietas yang terbaik.