Hari ini, Kamis 19/6/2008, kota Boston benar-benar banjir warna hijau. Meminjam istilah yang terkenal di Indonesia, Boston menjadi “hijau royo-royo”. Tentu, hijaunya kota Boston tak ada kait-mengaitnya dengan pelaksanaan syariat Islam atau menangnya sebuah partai berasaskan Islam.

Boston menjadi hijau royo-royo karena hari ini, Kamis, 19/6/2008, warga kota itu merayakan kemenangan tim basket kebanggaan mereka, Celtics. Di mana-mana, orang-orang memakai kaos hijau, warna khas tim itu. Dalam game keenam final NBA pada 17 Juni lalu, Celtics menang atas tim LA Lakers dengan skor telak 131-92. Kemenangan Celtics melengkapi kemenangan Red Sox, tim baseball kota Boston, atas Colorado Rockies dalam final World Series pada bulan Oktober tahun lalu.

Tentu kemenangan dua tim itu akan menjadi sempurna jika saja dalam final Super Bowl tahun lalu, Patriots, tim football kota Boston, berhasil mengalahkan New York Giants. Sayang sekali, Pats, nama panggilan untuk tim Boston itu, kalah dari Giants. Jika saja Patriots menang, maka lengkaplah julukan Boston sebagai “The Capital of Champ”, kota juara.

Setelah jam sekolah selesai pada pukul 12 siang (hari ini adalah hari terakhir sekolah anak-anak untuk tahun ini, sehingga mereka bubar agak awal), saya langsung mengajak mereka (tentu bersama isteri saya, Ienas Tsuroiya) ke pusat kota untuk melihat parade kemenangan Celtics. Sayang sekali, saat kami sampai di sana, parade sudah selesai. Meski demikian, massa fanatik pendukung Celtics masih berkerumun di berbagai sudut kota. Warna hijau tumpah ruah di mana-mana.

Di sebuah sudut Boston Common (taman kota yang menjadi jantung kota Boston, semacam Central Park di New York), saya melihat tiga gadis remaja memakai jilbab, salah satu di antaranya memakai kaos seragam Celtics warna hijau dengan nomor punggung 5. Di atas angka itu, terdapat kata “GARNETT”. Kevin Garnett adalah pemain depan andalan Celtics yang pada pertandingan akhir kemaren melawan LA Lakers mencetak point tertinggi bersama Ray Allen dan Paul Pierce.

Bagi saya, seorang gadis berjilbab, memakai kaos tim basket Amerika, dan berdesak-desak di antara massa yang merayakan kemenangan tim basket sebuah kota di Amerika, tentu pemandangan yang sangat menarik. Saya buru-buru mengeluarkan kamera. Saya menjepret mereka dari belakang, dan sengaja nomor punggung dan nama GARNETT saya “close-up”. Saya ingin merekam dan mengabadikan pemandangan yang menarik itu.

Isteri saya tiba-tiba usul: kenapa tak minta foto bareng bersama mereka. Isteri saya mendekati mereka dan minta izin untuk foto bareng. Mereka ternyata senang, mungkin karena melihat isteri saya memakai jilbab. Mereka mungkin merasa mendapat seorang “teman sesama pemakai jilbab” di tengah-tengah massa yang tak berjilbab. Mereka, mungkin, merasa menemukan keintiman di tengah-tengah massa yang “tak berwajah”.

Selesai saya jepret, isteri tanya nama mereka, terutama gadis yang memakai kaos Celtics itu. Sungguh suatu kebetulan, nama gadis itu sama dengan nama isteri saya: INES. Dia tanya, anda dari mana. Isteri saya bilang: dari Indonesia. Mereka berbinar-binar. Lalu, isteri saya bertanya balik, anda dari mana. Mereka ternyata berasa dari Mesir.

Gadis berjilbab dengan jeans ketat dan kaos Celtics itu, di mata saya, mewakili suatu gelombang baru anak-anak muda Islam yang sekarang tinggal di Amerika. Mereka adalah bagian dari masyarakat Amerika. Mereka menghayati kultur populer yang ada di Amerika, salah satunya adalah kultur olah raga. Tetapi, seraya dengan itu, mereka tetap menjaga salah satu identitas keislaman, yaitu jilbab. Meskipun di mata saya jilbab bukan satu-satunya pakaian yang “Islami”, tetapi di mata banyak masyarakat Islam, termasuk di Amerika, jilbab jelas mempunyai kedudukan yang istimewa di antara pelbagai jenis pakaian yang lain. Di mata mereka, jilbab tetap dipandang sebagai cerminan dari identitas keislaman yang membedakan mereka dari masyarakat yang lain.

Menjadi seorang wanita Muslimah tentu tak berarti mengisolir diri dari masyarakat sekitar dengan menutup seluruh tubuh dengan pakaian tradisional ala masyarakat Afghanistan seperti Burqa. Menjadi Muslimah yang baik bisa terlaksana dengan jilbab, plus jeans, dan kaos yang melambangkan kebudayaan populer masyarakat Amerika. Dengan kata lain, jilbab bukanlah halangan bagi wanita Muslimah untuk melakukan asimilasi dalam kebudayaan lokal. Jilbab bisa bersandingan secara damai dengan ekspresi kultural masyarakat setempat.

Saya sungguh senang melihat pemandangan gadis berjilbab, dengan celana jeans dan kaos Celtics di tengah-tengah kota Boston itu. Itulah lambang “koeksistensi” antara Islam dan budaya lokal, antara keislaman dan keamerikaan. Keislaman dan keamerikaan bisa saling berdialog, membaur, saling memperkaya.

Kaum Islam fundamentalis di mana-mana mengira bahwa menjadi Muslim sama saja dengan menyingkirkan budaya lokal yang dianggap sebagai mengotori kemurnian Islam. Mereka menganjurkan umat Islam untuk menegakkan “dinding isolasi” yang tebal antara Islam dan non-Islam melalui konsep “al-wala’ wa al-bara’”, loyalitas dan dis-loyalitas, konsep yang dipopulerkan oleh Ibn Taymiyah itu.

Yang menggelikan adalah bahwa kaum Islam fundamentalis itu menganjurkan kembali kepada Islam yang “murni” dengan cara mengadopsi simbol-simbol kearaban. Mereka mengira bahwa memelihara jenggot, memakai jubah putih dan sorban, menutup seluruh tubuh perempuan rapat-rapat (sehingga perempuan mirip sebuah rumah siput yang berjalan beringsut-ingsut) adalah identik dengan Islam yang murni. Mereka tak sadar, bahwa itu semua adalah budaya Arab yang tak harus identik dengan Islam itu sendiri.

Kaum Islam fundamentalis tak sadar bahwa menjadi Muslimah yang baik bisa diterjemahkan melalui penutup kepala (tudung), celana jeans, dan T-Shirt yang melambangkan sebuah kebudayaan populer di masyarakat modern.

Gadis Mesir dengan kaos Celtics di tengah kerumunan massa di tengah kota Boston itu menandakan bahwa jilbab bisa menjadi sarana untuk asimilasi, bukanlah isolasi.