Anak saya yang pertama, Ektada Bennabi Mohamad (artinya: Meneladani Nabi Muhammad), biasa kami panggil Ben, seringkali diundang untuk menghadiri pesta ulang tahun teman-teman sekelasnya di sekolah.

Pagi ini, misalnya, dia diundang untuk menghadiri ultah teman sekelas yang tinggal tak terlalu jauh dari apartemen saya, kira-kira 1,5 km dari apartemen saya di kawasan Newton Centre.

Ben sekarang duduk di kelas empat SD di Bowen School, salah satu public school terbaik di negara bagian Massachusetts. Kalau anak saya belajar di sekolah terbaik bukan karena saya kaya dan punya duit banyak, tetapi karena saya tinggal di dekat sekolah itu. Di sini, dikenal semacam “zoning” atau pembagian wilayah. Setiap penduduk yang tinggal di dekat sekolah tertentu, maka dia berhak sekolah di sana. Jangan lupa, pendidikan pada tingkat SD, SMP dan SMA di Amerika adalah gratis, hingga ke makan siangnya (tentu jika anda berasal dari keluarga miskin).

Anak saya yang kedua, Ektada Bilhadi Mohamad (artinya: Meneladani Muhammadi, seorang pemberi petunjuk), biasa kami panggil Billy, juga mengalami hal serupa: kerap diundang ke pesta ulang tahun teman-temannya sekelas. Sepanjan tahun, undangan itu selalu kami teruma, entah via ruat, telpon langsung, atau email.

Apakah istimewanya diundang ke pesta ulang tahun? Bukankah pesta ulang tahun adalah hal biasa atau malah sepele? Bukankah itu adalah “bid’ah”, karena tidak pernah ada pada zaman Nabi? Bukankah itu bagian dari tradisi dan kebudayaan Barat?

Undangan semacam secara “psikologis” dan budaya sangat penting bagi saya sekeluarga. Undangan semacam itu menandakan bahwa masyarakat sekolah tempat anak-anak kami belajar menerima kami sebagai bagian dari mereka. Undangan itu menandakan bahwa terjadi proses “inklusi” atau penerimaan “orang asing”, bukan “eksklusi”. Tentu “menerima” di sini adalah secara simbolik. Tetapi, dalam kehidupan sosial, bukankah hal-hal yang simbolik sangat penting maknanya?

Tentu, pesta ulang tahunnya itu sendiri tidak terlalu istimewa. Sejauh yang saya alami selama ini, anak saya menghadiri ulang tahun yang dilaksanakan secara sangat sederhana; misalnya makan-makan pizza, main bersama, kadang pergi ke sebuah tempat jimnastik untuk bermain olah-raga, kadang nonton film kartun, kadang pergi ke tempat bermain bowling untuk anak-anak, atau baseball (olah raga yang menjadi ciri khas kebudayaan populer masyarakat Amerika). Kadang sekedar main bersama di “play-ground” yang biasa disediakan di komplek perumahan.

Mei yang lalu, saya adakan ulang tahun untuk anak saya yang pertama, Ben. Karena saya tak mempunyai uang yang cukup (maklum, mahasiswa), saya adakan saja pesta itu di halaman rumput yang luas di depan apartemen saya. Karena apartemen saya berada di puncak sebuah bukit kecil, dikelilingi pohon-pohon yang lebat, mirip sebuah hutan kecil, isteri saya, Ienas Tsuroiya, mengusulkan ide yang menurut saya sangat cemerlang: kenapa tak mengadakan permainan “mencari jejak”.

Saya undanglah beberapa teman mahasiswa Indonesia yang kuliah di MIT (Massachusetts Institute of Technology) dan Boston University untuk ikut membantu meng-handle permainan cari-jejak itu. Datanglah beberapa teman seperti Rezy Pradipta, salah satu siswa Indonesia yang pernah memenangkan Olimpiade Fisika dan sekarang kuliah di MIT, ada Yogi Koesanto yang juga mahasiswa MIT, dan Pur Wijiyanti, guru sebuah sekolah swasta di Jakarta yang sedang belajar di Boston University.

Idenya sederhana: ada sejumlah pertanyaan yang tertulis dalam secarik kertas yang disembunyikan di tempat-tempat tertentu dalam sebuah rute yang sudah kami tentukan. Tugas anak-anak adalah menemukan secarik kertas itu lalu menjawab pertanyaan yang ada di sana. Berdasarkan kecepatan dan ketepatan jawaban, kami menentukan skor masing-masing grup, lalu memberi “reward” kepada grup dengan skor tertinggi. Kami membagi anak-anak yang hadir ke dalam dua grup.

Sebagai cerminan dari rasa “nasionalisme kecil-kecilan”, saya selipkan pertanyaan sederhana: Di manakah letak Bali? Di Indonesia, India, Jepang atau Amerika? Saya senang karena dua grup menjawabnya dengan benar: INDONESIA! Sekedar informasi: tidak semua orang Amerika tahu bahwa Bali adala bagian dari Indonesia. Ada banyak yang beranggapan bahwa Bali adalah negara tersendiri yang letaknya entah di mana.

Usai cari-jejak, anak-anak kami suguhi pizza yang harganya sangat murah. Mereka menyantap pizza seraya bermain di halaman rumput yang luas di depan apartemen saya. Beberapa orang tua hadir dan menonton anak-anak mereka bermain, berkejar-kejaran, bermain bola, naik sepeda, berteriak, seolah dunia hanya milik mereka semata. Sungguh, mereka gembira sekali. Saya nyaris menitikkan air-mata.

Dan saya bersama isteri tentu juga gembira karena berhasil mengadakan pesta sederhana untuk anak saya. Ben, anak saya yang pertama itu, sangat puas dengan pesta sederhana itu, karena bisa bersosialisasi dengan anak-anak di sini.

Kehidupan sosial, di manapun, akan berjalan secara sehat jika dilaksanakan berdasarkan asas “inklusi”, yaitu menampung orang lain yang berbeda, bukan eksklusi, yaitu menampik atau malah menggusur orang lain yang kita anggap beda atau “sesat”.

Momen-momen seperti ulang tahun itu adalah momen “inklusi”, momen koeksistensi yang akan memperkuat “social fabric”, anyaman kehidupan sosial. Momen seperti itu juga akan memperkaya tekstur hubungan sosial dalam masyarakat.

Saya tak peduli pada mereka yang memandang praktek sosial seperti ulang tahun itu sebagai bid’ah atau budaya Barat yang “kafir”. Buat saya, yang penting adalah bagaimana anda bisa membangun kehidupan sosial yang berlandaskan pada asas inklusi, saling menghargai, bukan saling curiga, apalagi menyesatkan.

Bukankah kehidupan seperti itu jauh lebih sehat?