Archive for the ‘Lain-lain’ category

Turki, German: Unite against racism

June 26th, 2008

Sodara-sodara,
Walau Turki kalah dalam semifinal Euro 2008 beberapa jam yang lalu, tetapi tim “pinggiran” ini telah menampilkan permainan yang mengesankan, jauh lebih baik ketimbang saat mereka melawan Kroasia. Jerman bermain hebat, dan layak menang.

Tetapi, hal yang menarik perhatian saya adalah semboyan dalam pertandingan semifinal itu: UNITE AGAINST RACISM (Bersatulah Melawan Rasisme).

Saya terharu dengan tema pertandingan yang dipilih oleh panitia. Sebelum pertandingan dimulai, kapten kedua tim juga membacakan semacam pernyataan tentang komitmen untuk melawan rasisme (tentu dan terutama di bumi Eropa). Baliho besar dengan semboyan itu dipajang di kiri-kanan dua kesebelasan saat mereka ber-pose untuk foto bersama menjelang pertandingan dimulai.

Sementara itu, di pinggir lapangan, dipasang sejumlah poster dengan tulisan yang sama. Walhasil, pertandingan itu didedikasikan untuk untuk melawan rasisme.

Di Jerman, kita tahu, rasisme dan perasaan benci terhadap para imigran pendatang (xenofobia), terutama orang-orang Turki, marak pada beberapa tahun terakhir ini. Dengan cerdik sekali, panitia Euro 2008 memilih pertandingan semifinal yang bersejarah itu untuk kampanye melawan rasisme.

Rasisme masih bertebaran di sekitar kita, kerapkali tanpa kita sadari. Kadang masuk-menyusup ke bawah selimut kita, menyelundup ke dalam mimpi kita, serta membentuk ketidaksadaran kita.

Salut untuk Euro!
Salut untuk Turki!
Salut untuk Jerman!

Selamat Datang!

March 27th, 2007

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Selamat datang di blog saya. Ruangan ini saya niatkan sebagai semacam “catatan harian pemikiran”. Selama ini saya menulis sejumlah surat dalam milis Islam liberal. Saya kira surat-surat itu akan bermanfaat jika saya bagi dengan publik luas melalui ruangan ini, sebab apa yang saya tulisa di sana bukanlah sesuatu yang sifatnya pribadi, tetapi menyangkut persoalan yang selama ini sudah kerap diperbincangkan oleh publik luas. Sebagian surat-surat itu diterbiktkan oleh Penerbit Nalar pada tahun ini (2007) dengan judul Menyegarkan Kembali Pemikiran Islam. Selain berisi surat-surat yang selama ini saya tulis untuk milis Islam liberal, buku itu juga memuat sebuah tulisan panjang tentang bagaimana saya mendekati dan memahami Islam.

Sebagian besar bahan-bahan yang termuat di sini berkaitan dengan tema-tema keislaman. Tetapi masalah yang menjadi bahan pemikiran saya tentu tidak terbatas di sana. Saya mempunyai minat yang luas sekali di banyak bidang, meskipun tema Islam berada di titik pusat perhatian saya. Secara pribadi, saya meminati bidang-bidang seperti filsafat, teori-teori politik modern, pemikiran ekonomi, sosiologi (terutama sosiologi agama), sastra, mistik, film, musik, dll. Oleh karena itu, tidak mustahil renungan-renungan yang termuat di ruangan ini suatu saat akan berkaitan dengan tema-tema itu.

Sebelum saya mengakhiri pengantar ini, satu perlu saya katakan di sini. Sekarang ini, ratusan ribu blog bersliweran di ruang maya. Teknologi internet telah memungkinkan terjadinya “revolusi” yang luar biasa pada banyak bidang. Internet telah melahirkan sejumlah “revolusi” kecil-kecilan seperti blog, YouTube, google, dsb. Revolusi internet membawa dampak yang sangat penting, yaitu demokratisasi di bidang informasi. Sudah tentu yang bisa menikmati revolusi ini hanya orang-orang yang memiliki komputer atau mereka yang mempunyai “surplus” keuangan untuk pergi ke warnet (warung internet). Tetapi ini tidak mengurangi dahsyatnya dampak dampak yang ditimbulkan oleh penemuan yang monumental ini. Saya kira kita perlu memberikan apresiasi pada otak-otak brilian yang telah menemukan teknologi ini. Sekali lagi ini memperlihatkan bahwa akal manusia, jika diberikan kebebasan, akan menghasilkan manfaat yang besar bagi kemanusiaan. Oleh karena itu, saya sangat heran pada orang-orang, terutama di kalangan agama (termasuk, terutama, Islam) dan non-agama (seperti di dalam rezim-rezim otoriter dan totaliter) yang mencurigai akal begitu rupa sehingga segala daya upaya dilakukan untuk membatasi kal. Akal dicurigai sebagai sumber “musibah” bagi masyarakat dan mengandung potensi untuk mengacau “moral publik”. Meskipun akal mengandung sisi gelap dalam dirinya, tetapi kecurigaan yang berlebihan pada akal adalah sama sekali tidak pada tempatnya.

Saat ini, negeri-negeri yang maju dari sudut sains dan teknologi adalah negeri-negeri yang memberikan kebebasan yang memadai pada akal manusia; negeri-negeri yang mampu menciptakan lembaga untuk merawat kebebasan itu. Oleh karena itu, salah satu penemuan penting dalam era modern adalah diakuinya kebebasan berpendapat sebagai hak dasar manusia. Di masa lampau, Islam memberikan kontribusi yang penting untuk kebebasan berpendapat ini. Tetapi praktek-praktek di sejumlah masyarakat Muslim di era modern ini memperlihatkan bahwa di sana terdapat defisit kebebasan yang agak mengenaskan. Banyak sarjana Muslim yang mengalami persekusi dan hinaan karena berpikir tidak sesuai dengan “ortodoksi” agama. Banyak sekte yang secara fisik mengalami ancaman karena dianggap menimbulkan gangguan pada ketertiban dan ketenteraman masyarakat.

Tak heran jika keadaan ini membuat negeri-negeri Muslim menjadi tertinggal dari sudut kemajuan sains dan teknologi. Tentu sebab-sebab kemunduran itu sangat kompleks dan kita tak bisa mereduksikannya pada satu-dua sebab. Tetapi defisit kebebasan di dunia Islam pantas disebut dalam daftar alasan-alasan kemunduran umat Islam di bidang sains dan teknologi.

Sekali lagi, saya ingin memberikan apresiasi pada otak-otak brilian yang telah menemukan teknologi yang telah memungkinkan terjadinya demokratisasi informasi ini.

Wassalam.