Archive for the ‘Cerita Ringan’ category

Puasa hari pertama di Boston

September 2nd, 2008

PUASA di Boston tahun ini membawa sebuah kejutan yang tak pernah saya duga dan sekaligus sangat mengharukan.

Beberapa hari sebelum puasa mulai pada Senin lalu 1/9, saya mengirim undangan buka puasa hari pertama untuk merayakan dimulainya bulan Ramadan. Undangan itu saya kirim ke teman-teman dekat saya yang tinggal di apartemen yang sama.

Saya adalah satu-satunya keluarga Indonesia, dan sekaligus satu-satunya keluarga Muslim di apartemen itu. Selebihnya adalah keluarga Kristen dengan pelbagai denominasinya. Sebagian besar yang tinggal di sana adalah keluarga Amerika, tetapi ada juga satu keluarga Korea dan seorang profesor bujangan asal Zimbabwe.

Suasana kekeluargaan di gedung apartemen saya itu sangat kuat sekali. Secara informal, saya kerap “ngobrol” dengan mereka mengenai isu-isu agama. Karena tahu saya seorang Muslim, mereka tertarik belajar pelbagai aspek tentang ajaran Islam dari saya.

Kurt Walker, seorang Amerika kulit putih yang tinggal persis di samping apartemen saya, tertarik untuk belajar banyak hal mengenai Islam. Dia adalah mahasiswa teologi dan calon pendeta. Beberapa waktu lalu, dia diminta untuk memberikan ceramah dalam sebuah pertemuan tahunan para pendeta di Vermont. Dia diminta untuk berbicara mengenai konsep keadilan dalam Kristen dan Islam. Selama mempersiapkan ceramah itu, dia banyak sekali diskusi dan “ngobrol” dengan saya.

Minat Kurt yang besar pada Islam bermula dari obrolan santai dengan saya. Semester musim semi tahun ini dia mengambil sebuah mata kuliah tentang Islam yang diampu oleh Dr. Fareed Essack, seorang sarjana Muslim yang cukup terkenal dari Afrika Selatan.

Minat Kurt terhadap Islam bukan dilandasi oleh “motif apologetis”, yakni mempelajari agama lain untuk mencari kelemahan-kelemahan di sana dan pada gilirannya melakukan “serangan mematikan” atas agama itu seperti selama ini dilakukan oleh kaum apologetis baik di pihak Kristen atau Islam. Dia seorang Kristen yang sangat saleh, tetapi dia dengan sungguh-sungguh ingin belajar mengenai tradisi agama lain dengan simpati yang jujur.

Pada Kurt, saya menemukan teman dialog yang sangat menyenangkan. Saya belajar banyak hal tentang Kristen, terutama mengenai tradisi kaum Kristen puritan di kawasan negara bagian Massachusetts. Saat ngobrol dengan Kurt, kadang-kadang teman-teman lain yang tinggal di gedung yang sama ikut bergabung.

Saya kirimkan undangan buka puasa hari pertama itu kepada empat teman satu apartemen yang saya anggap paling dekat dengan saya.

Ienas Tsuroiya, isteri saya, dengan penuh semangat menyiapkan masakan untuk buka hari itu. Dia menyiapkan nasi uduk, ayam goreng, kerupuk bawang, sambal terasi, puding, dan sandwich. Makanan yang terakhir ini terpaksi disiapkan oleh isteri saya sebagai semacam “exit plan” kalau-kalau teman-teman bule itu tak menyukai nasi uduk.

HARI pertama bulan puasa kali ini mengejutkan karena beberapa jam menjelang “bedug buka” (tentu di Boston tak ada bedug; tetapi bedug selalu hadir secara “mental” dalam benak saya), Kurt memberi tahu saya bahwa dia ikut puasa hari itu. Ha?!

Saya sungguh terperanjat, sebab saya tak pernah berharap dia bertindak hingga “sejauh” itu. Dia bilang, dia ingin menunjukkan solidaritas pada saya sebagai satu-satunya orang Muslim di gedung apartemen itu. Dia juga ingin merasakan bagaimana “penderitaan” seorang yang sedang berpuasa. “I want to know how it feels like to be a Muslim,” kata dia.

Ada anekdot kecil yang diceritakan oleh Kurt selama dia puasa pada hari itu. Dia mengatakan dengan terus terang kepada keluarganya bahwa hari itu dia ingin menghormati seorang tetangganya yang Muslim (yakni keluarga saya) dan ikut puasa. Dia juga memberi tahu kedua anak kembarnya yang masih berumur 6 tahun tentang apa itu puasa dan apa maknanya bagi seorang Muslim.

Yang lucu, beberapa kali kedua anaknya itu menggoda dia dengan memamerkan makanan-makanan kesukaannya selama dia berpuasa hari itu. Saya tertawa mendengar anekdot itu.

Tahun ini, bulan puasa jatuh di ujung musim panas, sehingga waktu siang lebih panjang ketimbang malam. Waktu Imsak masuk pukul 4:37 am dan Subuh 4:47 am. Sementara itu matahari terbenam pada pukul 7:22 pm. Dengan demikian, total waktu puasa selama satu hari hampir 16 jam, jauh lebih panjang dari waktu puasa di Indonesia.

Dua tahun mendatang, sudah pasti bulan puasa akan jatuh persis di tengah-tengah musim panas, sekitar bulan Juni-Juli. Sebagaimana kita tahu, waktu siang pada musim panas jauh lebih panjang. Pada puncak musim panas, waktu Subuh masuk kira-kira pukul 3:30 am, dan Maghrib nyaris mendekati pukul 8:30 pm. Bisa dibayangkan betapa beratnya melaksanakan ibadah puasa pada musim panas di negeri-negeri empat musim seperti Amerika.

Teman-teman Amerika terheran-heran bagaimana kami bisa menahan makan dan minum sepanjang itu. Saya bilang pada mereka, dengan latihan sejak kecil, puasa menjadi sama sekali tak berat. Setelah menjajal sendiri puasa selama satu hari, Kurt, teman saya itu, menjadi tahu betapa ritual puasa tak mudah dilaksanakan oleh umat Islam, apalagi di tengah-tengah masyarakat yang sebagian besar bukan Muslim seperti Amerika.

KEKHAWATIRAN isteri saya bahwa jangan-jangan orang bule tak menyukai nasi uduk meleset sama sekali. Seluruh masakan yang dihidangkan oleh Ienas, isteri saya, ludes sama sekali. Saat menyantap nasi uduk, anak perempuan Kurt berkata, “Dad, the rice is yummy, I like it.” Tentu isteri saya senang bukan main karena masakannya mendapatkan sambutan positif dari lidah orang bule.

Malam itu, isteri saya menyediakan piring yang khas dan sudah tentu jarang dilihat oleh orang Amerika. Yaitu piring rotan dengan alas daun pisang yang dipotong begitu rupa sehingga berbentuk bundar. Sekedar catatan: daun pisang tidak mudah didapat di kota Boston. Di kampung dulu, ibu saya tinggal mengambilnya dari kebun di belakang rumah. Tetapi di Boston, daun pisang adalah benda berharga.

Makan nasi uduk, ayam bakar, sambal terasi dan kerupuk dengan piring rotan beralaskan daun pisang — tentu ini pengalaman eksotik bagi orang “bule”. Malam itu kami menyantap makanan sambil duduk melingkar di sekitar api unggun kecil yang disiapkan oleh isteri Kurt. Karena hari cerah, saya sengaja mengadakan buka puasa di ruang terbuka di hamalam rumput yang ada di depan apartemen.

Seraya menyantap makanan kami berdiskusi tentang apa saja, termasuk tentang “filosofi puasa” sebagaimana dipahami oleh umat Islam. Sekitar pukul 10 malam, kami bubaran dan masuk ke apartemen masing-masing.

Saya menonton pertandingan tennis Piala US Open sebentar, lalu membaca “The Prophet and the Messiah: An Arab Christian’s Perpsective on Islam and Christianity” karangan Chawkat Moucarry. Tak berapa lama, saya jatuh tertidur karena kelelahan.

Saya bangun kembali beberapa jam menjelang waktu sahur untuk melaksanakan salat tarawih. Saya memang orang NU, tetapi selama ini saya selalu salat tarawih versi Muhammadiyah, yaitu sebelas raka’at, bukan dua puluh tiga.

Hari itu sangat mengesankan buat saya, terutama karena simpati teman saya yang beragama Kristen itu. Pelajaran yang saya petik dari sana: membangun jalan dialog dengan agama lain sangat mungkin asal kita mau membuka diri dan tidak mengembangkan mentalitas “serba curiga” pada agama lain itu.[]

Kejadian-kejadian kecil saat lari di Boston

August 31st, 2008

KEGIATAN yang selalu saya usahakan untuk saya lakukan secara rutin selama sekolah di Boston ini adalah lari. Ini adalah olah raga murah yang tak membutuhkan modal apapun kecuali kemauan saja, selain, tentu, beberapa dolar untuk membeli sepatu olah raga.

Hari Sabtu kemaren (30/8), saya lari dan mencetak rekor baru yang sungguh menyenangkan buat saya. Biasanya, saya hanya lari selama 30 menit. Setiap lari, saya berusaha memperbaiki rekor saya sendiri. Sejak lama, saya ingin bisa lari secara konstan selama satu jam. Rekor itu, akhirnya, saya capai kemaren.

Saya juga menempuh rute baru yang tak pernah saya telusuri selama ini. Saya mulai dari jalan yang dekat dengan rumah saya di kawasan Newton Centre, yaitu Beacon St, lalu belok ke Washington St, untuk kemudian masuk ke jalan utama Commonwealth St, jalan panjang yang tembus ke Universitas Boston. Total jarak yang saya tempuh kira-kira 6,5 mil, sekitar 10 km.

Ini jelas bukan jarak yang panjang, apalagi untuk pelari yang profesional. Tetapi, ini jarak yang sudah sangat jauh untuk ukuran saya. Saya juga menempuhnya dengan lari yang tak terlalu kencang. Saya memang tak “ngoyo” untuk lari cepat. Buat saya, yang penting adalah lari konstan untuk menguji ketahanan.

Saat di Jakarta dulu, saya jarang lari di tempat terbuka, karena susah mencari tempat di dekat perumahan saya yang nyaman untuk lari dan bebas dari polusi udara karena asap kendaraan bermotor. Kalau hendak lari, biasanya saya pergi ke fitness centre yang berjarak kira-kira 3 km dari perumahan saya; di sana saya lari secara “artifisial” dengan sebuah alat yang disebut thread milll. Lari di medan terbuka tentu beda sekali dengan lari secara artifisial dengan sebuah alat. Selain gratis, lari di tempat terbuka membuat kita merasa “bersatu” dengan alam sekitar; membuat kita merasa sebagai manusia.

Kota Boston, terutama di daerah Newton Centre di mana saya tinggal, adalah surga untuk mereka yang senang “jogging”, lari, jalan kaki atau bersepeda. Trotoarnya lumayan lebar sehingga nyaman untuk lari. Secara umum bahkan bisa dikatakan, Boston adalah sorga untuk siapa saja yang ingin melakukan kegiatan olah-raga dengan gratis.

Fasilitas oleh raga disediakan secara gratis oleh pemerintah kota dengan melimpah ruah. Di mana-mana saya lihat hamparan rumput dan lapangan terbuka untuk berbagai jenis olah-raga: base-ball, soft-ball (dua jenis olah raga paling populer untuk masyarakat Amerika), basket ball, tenis, dan sepak bola. Biasanya di sekitar lapangan itu dibangun “playground“, lapangan tempat bermain untuk anak-anak.

Ini kontras dengan kota-kota di Indonesia yang secara umum nyaris mengabaikan sama sekali fasilitas umum yang bisa digunakan oleh masyarakat untuk melaksanakan kegiatan olah-raga secara gratis.

Di kawasan tempat saya tinggal, ada beberapa danau kecil atau “dam” (reservoir). Salah satunya adalah tempat yang dikenal dengan Reservoir di kawasan Brookline, persis di samping universitas Katolik terkenal di kota Boston, yaitu Boston College.

Di sekeliling dam itu, dibangun “track” yang nyaman untuk lari. Jika kita mengelilingi dam itu, kita sama saja dengan menempuh jarak kira-kira 2,5 mil. Ini adalah kawasan yang sangat enak untuk jogging, lari, atau sekedar jalan kaki atau bersepeda. Daerahnya sangat indah; di beberapa bagian, dikelilingi oleh hutan kecil. Setiap hari, mulai pagi hingga malam, selalu saja ada orang yang lari atau jalan kaki di sana. Tetapi karena jaraknya agak jauh dari rumah, saya jarang lari di sana.

SAAT lari, kadang-kadang saya menjumpai sejumlah kejadian yang menarik perhatian saya. Sabtu kemaren itu, ada beberapa kajadian yang menarik saat saya lari; tentu saja menarik dalam pandangan saya, dan belum tentu kejadian yang sama menarik bagi orang-orang lain.

Saat saya menyusuri Jalan Beacon, beberapa meter setelah melewati kota kecil Waban, saya bertemu dengan seorang lelaki setengah baya yang sedang menyiangi taman di depan rumah. Saat saya lewat, dia teriak, “How are you there!” Tentu saya tak kenal dia, dan dia juga tak kenal saya. Tetapi sapaan bersahabat itu mengagetkan saya yang saat itu sedang konsentrasi untuk lari. Dengan sedikit agak gugup dan tentu ngos-ngosan, saya teriak balik, “Good. How are you sir!

Kehangatan seperti ini beberapa kali saya alami waktu berpasan dengani orang-orang yang entah berangkat kerja atau pulang kerja di kota Newton. Saat menuju ke stasiun kereta di dekat rumah dan berangkat ke kampus, misalnya, saya kerap menerima sapaan dari orang-orang yang tak saya kenal, “Hi, how are you“, atau “Good morning“.

Saya tahu, kehangatan semacam ini mungkin sudah tak ada di tengah-tengah kota besar seperti New York, Chicago, Los Angeles, atau Boston sendiri. Saya beruntung tinggal di kota kecil di luar kota Boston di mana kehangatan ala kampung Jawa ini masih bertahan hingga sekarang. Setiap menerima kehangatan seperti itu, saya selalu ingat orang-orang di kampung saya di daerah Pati. Setiap berpapasan dengan orang, saya selalu disapa atau menyapa, “Bade tindak pundi, Mas, Bu” (Mau kemana, Mas, Bu?).

Saat belok ke Jalan Commonwealth, saya sudah mulai agak kecapekan. Saya berhenti lari, dan hanya jalan kaki biasa. Nafas saya masih ngos-ngosan, badan saya basah kuyup oleh keringat. Seorang perempuan lari menyalip saya, dan sekonyong-konyong menoleh lalu menyapa, “Hi, are you ok? Wanna run with me?” Tentu saja ajakan untuk lari itu saya tolak, sebab saya baru saja menyelesaikan lari panjang. “No, thank you. I just finished running,” jawab saya.

Jalan Commonwealth adalah salah satu kawasan yang juga sangat nyaman untuk lari, terutama pada bagian yang berada di sepanjang kota Newton. Sejajar dengan jalan ini, ada taman rumput dengan pohon-pohon yang rindang. Di rumput inilah biasanya orang-orang lari. Karena hari itu adalah hari Sabtu, banyak orang yang lari di sepanjang Jalan Commonwealth itu.

WAKTU menerima sapaan perempuan itu, saya tak memikirkan apapun. Saya masih sibuk mengatur nafas saya yang masih sedikit ngos-ngosan. Setelah nafas mulai agak reda, sambil terus berjalan, saya mulai melakukan refleksi kecil.

Selama ini, kaum Islamis di mana-mana memiliki agenda yang hampir seragam, terutama yang berkaitan dengan tubuh perempuan. Mereka hendak menegakkan peraturan Islam yang berkenaan dengan pakaian perempuan. Mereka menganjurkan agar perempuan memakai jilbab, kalau bisa malah menutup seluruh tubuh, termasuk wajah mereka. Saat di Jakarta dulu, saya bahkan kerap menjumpai sejumlah perempuan yang memakai cadar.

Di mata kaum Islamis, tubuh perempuan dipandang sebagai sumber rangsangan bagi syahwat laki-laki. Karena itu, tubuh perempuan harus ditutup rapat-rapat agar syhawat laki-laki itu tidak meledak tak terkendali. Seorang imam dari Australia membuat heboh April 2007 lalu. Sebagaimana diberitakan oleh koran The Sidney Morning Herald, Sheik Taj el-Din al-Hilaly, nama imam yang berasal dari Mesir itu, mengatakan bahwa seorang perempuan yang memakai pakaian minim sama saja dengan daging yang tak tertutup.

Sindiran imam itu tentu jelas maksudnya: daging yang tak ditutup sudah tentu akan mengundang lalat. Siapa yang dimaksud dengan lalat di sini, tentu anda sudah tahu sendiri. Akibat pernyataan yang kontroversial itu, sang imam dipecat dari jabatannya sebagai mufti oleh AFIC (The Australian Federation of Islamic Councils).

Pandangan imam tersebut sebetulnya sangat khas pada semua kelompok Islam konservatif, dan tidak terbatas pada kelompok Islamis. Dalam pandangan ini, tubuh perempuan dianggap sebagai sumber “ketidakstabilan sosial”, karena dapat merangsang libido laki-laki. Jalan terbaik untuk membendung ancaman ini adalah dengan cara menyungkup tubuh perempuan serapat mungkin.

Oleh karena itu, di mana-mana, saat kaum Islam memenangkan kekuasaan politik, langkah pertama yang selalu mereka lakukan adalah memaksa perempuan memakai jilbab, membatasi gerak perempuan di ruang publik, menerapkan segregasi antara perempuan dan laki-laki, dsb. Semua itu berawal dari alasan yang sederhana: tubuh perempuan yang dipandang sebagai –meminjam istilah yang dikenal dalam literatur fikih Islam klasik– “matsar al-fitnah, sumber munculnya fitnah. Yang dimaksud dengan “fitnah” di sini adalah kekacauan sosial karena syahwat laki-laki yang tak terkontrol.

Dalam “note” yang lalu, saya menganjurkan agar kita, sebagai umat Islam, memakai pendekatan kritis dalam memahami perintah agama. Menggunakan akal sehat adalah bagian dari perintah Islam itu sendiri sebagaimana ditunjukkan dalam banyak ayat Quran. Islam menghendaki agar kita menjalankan perintah agama bukan dengan cara “taklid buta”, kebiasaan yang menjadi ciri masyarakat jahilyyah pra-Islam yang dikritik oleh Quran. Umat Islam sudah seharusnya menjalankan ajaran agama secara kritis. (Silahkan membaca kembali “note” saya yang berjudul “Menjadi Muslim dengan perspektif liberal“)

Pertanyaan kritis yang bisa diajukan di sini adalah: benarkah tubuh perempuan adalah sumber fitnah dan kekacauan sosial?

Di sini saya ingin kembali kepada “insiden” kecil yang saya alami saat lari di Jalan Commonwealth itu. Di sana, saya melihat banyak perempuan yang lari dengan memakai baju olah raga sebagaimana layaknya dipakai oleh semua orang yang lari: kaos tipis dan celana pendek. Sudah tentu tanpa penutup kepala yang sangat tak praktis untuk dipakai saat lari.

Saat orang-orang, terutama kaum laki-laki, melihat perempuan lari dengan baju “minim” itu, apakah mereka lalu melakukan tindakan yang tak sopan, misalnya melakukan pelecehan seksual atas perempuan itu? Sepanjang pengalaman saya lari selama ini di kota Boston, saya tak pernah menjumpai seorang perempuan yang diganggu karena lari dengan baju minim. Tak pernah sekalipun saya melihat seorang laki-laki mengganggu mereka, entah dengan suitan yang menggoda, kata-kata kotor, apalagi pelecehan seksual secara langsung. Semua orang bertindak dengan sopan, menghormati hak lain untuk berolah-raga secara wajar.

Dengan kata lain, tak ada kekacauan sosial apapun di sana karena tubuh perempuan yang tak tertutup dengan rapat.

Saya tentu tak melarang seorang perempuan untuk memakai jilbab. Isteri saya memakai jilbab hingga sekarang. Saya menghormati pilihan masing-masing orang, entah untuk memakai atau tak memakai jilbab. Saya menentang kebijakan pemerintah Perancis yang melarang murid-murid sekolah negeri untuk memakai jilbab. Di mata saya, kebijakan semacam itu sangat tak masuk akal. Tetapi saya juga menentang kebijakan sejumlah peraturan daerah di Indonesia yang memaksa murid-murid sekolah negeri untuk memakai jilbab, termasuk murid-murid non-Muslim sebagainana berlaku di beberapa daerah di Sumatera Barat.

Yang saya kritik adalah asumsi kalangan Islam fundamentalis yang menganggap bahwa tubuh perempuan menjadi sumber kekacauan sosial sehingga harus ditutup dengan rapat. Pandangan kaum fundamentalis ini melecehkan kaum laki-laki dan perempuan sekaligus. Mereka beranggapan, seolah-olah laki-laki adalah binatang buas yang begitu melihat perempuan tak menutup seluruh tubuhnya dengan rapat akan menerkam dan hendak bercinta dengannya, persis seperti perangai ayam jago yang begitu melihat ayam betina langsung mengejar dan bersetubuh dengannya “on the spot“.

Pandangan ini mengandaikan bahwa laki-laki adalah binatang seks yang seluruh hidupnya dikuasai oleh nafsu birahi. Tanpa disadari oleh kaum fundamentalis sendiri, pandangan mereka ini persis dengan teori Sigmund Freud yang selalu menjadi sasaran kritik kaum Islamis selama ini.

Pandangan ini juga sekaligus melecehkan permempuan sebab menempatkan mereka semata-mata ssebagai “tubuh molek” yang selalu menebarkan gairah seksual. Perempuan sama sekali tak dipandang sebagai manusia, sebagai subyek yang mempunyai martabat.

Yang menarik adalah justifikasi yang dikemuakakn oleh kaum fundamentalis ini: dengan memaksa perempuan memakai jilbab dan menutup seluruh tubuhnya, mereka meng-kleim ingin mengangkat martabat perempuan. Pandangan semacam ini jelas merendahkan kaum perempuan, sebab mengandaikan bahwa seorang perempuan yang tak menutup tubuhnya dengan jilbab bukan perempuan yang terhormat.

Perempuan yang terhormat dan bermartabat, dalam pandangan kaum fundamentalis, hanyalah perempuan yang memakai jilbab. Seorang perempuan yang memiliki pendidikan yang baik serta kemampun yang tinggi dalam berbagai bidang pekerjaan, tetap saja dianggap tak terhormat oleh kalangan fundamentalis jika tak menutup tubuh mereka dengan jilbab.

Saya ingin mengatakan kepada kaum fundamentalis itu: martabat perempuan ditegakkan bukan semata-mata dengan secarik kain yang menutup kepala dan tubuh mereka. Martabat perempuan ditegakkan karena mereka bisa menikmati hak-hak mereka yang wajar sebagai manusia dan warga negara; bisa menikmati kesempatan yang luas untuk aktualisasi diri; mendapatkan pendidikan yang cukup; mendapatkan perlindungan hukum yang memadai sehingga tak rentan terhadap kekerasan dari pihak laki-laki, dsb.

Apa gunanya perempuan dipaksa menutup seluruh tubuhnya, sementara hak-hak mereka sebagai manusia dan warga negara dipreteli satu per satu sebagaimana praktek luas yang kita lihat di dunia Islam saat ini? Memaksa perempuan untuk menutup seluruh tubuh seraya membatasi hak-hak mereka sebagai manusia, bukanlah cara yang tepat untuk mengangkat martabat perempuan. Alih-alih mengangkat martabat mereka, cara seperti itu justru merendahkan kehormatan mereka sebagai manusia.

Kecurigaan kaum Islam fundamentalis terhadap tubuh perempuan ini kadang bergerak terlalu jauh sehingga mengesankan sebuah “paranoia”. Karena maraknya Islam konservatif di kota-kota besar Indonesia saat ini, saya mulai melihat praktek yang agak janggal, yaitu laki-laki menolak berjabat tangan dengan perempuan yang bukan muhrim (kerabat dekat), seolah-olah perempuan adalah makhluk “najis” yang menjadi ancaman atas laki-laki sehingga tak boleh dijabat tangannya.

Memang benar, ada sebuah hadis yang menjadi landasan kaum konservatif untuk melarang laki-laki untuk berjabat tangan dengan perempuan. Sekali lagi, kita sudah seharusnya menjalankan ajaran agama dengan akal sehat yang kritis, bukan “menurut” saja tanpa sebuah alasan yang masuk akal. Taruhlah bahwa Nabi memang benar-benar melarang praktek jabat tangan semacam itu, kita pantas bertanya: Apa sebab-sebab larangan itu, dalam konteks sosial seperti apa larangan itu muncul, apakah larangan itu berlaku secara universal sepanjang zaman, dsb.?

Kaum Islam fundamentalis biasanya ketakutan atas pertanyaan-pertanyaan semacam ini, sebab mereka khawatir Islam akan hancur jika umat Islam memakai pendekatan kritis dalam memahami agama merekai. Mereka selalu mengatakan: jika ajaran agama dipersoalkan dasar-dasar rasionalnya, lalu apa yang tersisa dari agama? Ketakutan semacam ini sekali lagi membenarkan fakta selama ini bahwa kaum fundamentalis memang menghendaki agar kita menjalankan ajaran agama secara taklid buta saja.

Agama, di mata mereka, harus dilindungi dari bahaya rasio. Menurut mereka, rasio manusia hanya boleh digunakan sebatas membenarkan ajaran yang sudah ada, tetapi tak boleh dipakai untuk menafsirkan ulang ajaran itu. Dengan kata lain, rasio hanya dipakai sebatas untuk menjustifikasi “status quo”, bukan mengubahnya.

Islam sebagaimana saya pahami bukanlah agama yang dirundung rasa takut dan was-was terhadap rasio manusia semacam itu. Konon, Nabi sendiri pernah membuat sebuah statemen yang menarik, “al-din huwa al-’aql, la dina li man la ‘aqla lahu, agama adalah akal; tak ada agama bagi orang yang tak memiliki akal. Seorang Muslim, dalam pandangan fikih klasik, dianggap sebagai subyek moral yang layak menerima perintah dan larangan agama setelah ia mencapai usia akil balig.

Dengan kata lain, seseorang layak menjalankan ajaran agama setelah ia memiliki kemampun intelektual untuk berpikir dengan akal sehat, sehingga keputusannya untuk menjalankan perintah agama bukan karena meniru-niru tradisi yang sudah ada, tetapi karena kesadaran dan keinsafan yang mendalam. Inilah agama Islam yang saya pahami: agama yang tak melawan rasio, tetapi justru menjadikannya sebagai landasan paling penting dalam menjalankan perintah agama.

TANPA saya sadari, sapaan perempuan yang lari di Jalan Commonwealth itu “merangsang” saya untuk berpikir keras tentang banyak hal yang berkaitan dengan Islam. Pertanyaan-pertanyaan di atas itu terus berkecamuk dalam benak saya, sementara saya terus jalan kaki menyusuri jalan pulang ke rumah.

Lari, ternyata, bukan saja menyehatkan saya secara jasmaniah, tetapi juga merangsang rohani saya untuk berpikir.[]

Beberapa pengalaman salat Jumat di Jakarta

August 23rd, 2008

WAKTU masih di Jakarta, saya sering melaksanakan salat Jumat di Masjid Sunda Kelapa karena dekat dengan kantor Freedom Institute. Saya senang sekali Jumatan di sana bukan karena itu adalah masjid kelas menengah di kawasan Menteng. Tetapi karena ada “pemandangan sosial” yang menarik sekali di sana.

Seluruh halaman masjid hingga ke jalan-jalan menjadi “pasar tiban” yang menjual dagangan apa saja, mulai dari peci, celana dalam, kaos oblong, minyak za’faran dan misik, sarung plekat, VCD dan DVD bajakan hingga (percaya atau tidak) dealer mobil yang memajang mobil terbaru di pinggir jalan. Saya pernah melihat mobil Suzuki van (saya sudah lupa nama seri atau modelnya) di-”display” di pinggir jalan, persis di depan pintu masuk utama masjid, berjejeran dengan penjual mie pangsit dan tahu goreng. Pemandangan seperti ini mungkin tak akan kita jumpai di seluruh dunia kecuali di Indonesia, itupun mungkin hanya ada di Masjid Sunda Kelapa.

Salah satu barang dagangan yang dijual di sana adalah buku-buku populer yang isinya kalau tidak berbau mistik ya penuh “sensasi”. Di sana, misalnya, dijual mulai dari buku horoskop, resep masak, kamus John M. Echols dan M. Shadily terbitan Gramedia yang tentu dibajak, hingga ke buku-buku karangan Hartono A. Jaiz dan Irena Handono atau Harun Yahya. Ceramah-ceramah Irena Handono yang di-VCD/DVD-kan juga dijual dengan murah meriah dan “laris manis”. Saya kerap memborong “benda-benda sensasi” itu untuk dokumentasi pribadi.

Inilah pasar rakyat yang sebenarnya. Mulai dari rakyat kecil hingga rakyat Menteng. Yang datang ke masjid itu bukan hanya masyarakat kecil, supir taksi, bajaj, atau para satpam yang menjadi penjaga rumah-rumah mewah di sekitar masjid, tetapi juga orang-orang kaya dan para pegawai kantor pemerintah yang ada di sekitar kawasan itu, terutama kantor Bappenas yang letaknya persis di samping Masjid Sunda Kelapa.

Persebaran “klenik” yang sudah diislamkan (seperti diwakili oleh majalah Hidayah, misalnya) atau buku-buku kaum “radikal” seperti karangan Hartono Jaiz atau Imam Samudra, dimungkinkan oleh pasar seperti ini. Buku-buku Ahmad Deedat yang berisi “serangan” atas agama dan kepercayaan Kristen juga tersebar luas melalui jaringan “pasar rakyat” seperti ini.

Saya selalu memilih salat di halaman luar masjid, selain karena “isis” atau “breezy“, juga karena saya ingin melihat perilaku pedagang saat khutbah berlangsung atau salat sudah dimulai.

Walaupun sang muazzin sudah mengingatkan bahwa selama khutbah berlangsung seluruh kegiatan “duniawi” harus dihentikan, tetapi peringatan itu berlalu saja, tanpa ada yang menghiraukan. Transaksi jual beli tetap saja menggelinding mulus selama khutbah berlangsung walau pedagang biasanya melakukannya dengan agak sedikit malu-malu.

Yang menarik adalah saat qamat (panggilan yang menandai akan dimulainya salat) sudah dikumandangkan dan salat Jumat segera dimulai. Beberapa pedagang memang ikut salat, tetapi beberapa hanya duduk bersila di samping barang dagangan mereka, seperti orang linglung karena mendapat kabar sedih. Sambil mendengarkan bacaan imam (di masjid Sunda Kelapa, imam salatnya lumayan bagus dari segi tilawah atau bacaan Qur’an-nya), saya mencuri pandang melihat pedagang yang hanya diam tak ikut salat itu. Saya tersenyum sendiri.

Momen yang saya suka adalah waktu “tahiyyat” akhir pada rakaat kedua: keadaan hening sekali karena semua orang diam — kadang-kadang disela suara mobil atau bajaj yang lewat di sekitar Jl. Banyumas. Sunyi senyap berlangsung sekitar dua tiga menit. Begitu imam mengucapkan salam tanda salat usai, langsung suara gemuruh muncul lagi. Pedagang langsung teriak-teriak kembali menawarkan barang dagangan mereka.

Salah satu keuntungan salat di halaman depan masjid adalah saya tak diharuskan harus duduk lama-lama untuk membaca “wirid” panjang. Doa sebentar, saya langsung berlalu. Sebab kalau tidak, sudah pasti saya akan “diinjak-injak” oleh jamaah yang bubar dan kembali ke kantor mereka masing-masing.

Seperti jamaah yang lain, saya juga tertarik untuk berhenti sebentar melihat dagangan yang digelar di lapak-lapak depan masjid. Lapak yang paling sering ramai dikerubuti jamaah adalah yang menjual peci putih atau peci hitam “anti air” (tampaknya bukan “buwatan” Gresik).

Termasuk yang ramai adalah lapak yang menjual celana dalam, celana panjang, baju, handuk, atau sabuk. Juga lapak yang menjual VCD/DVD bajakan. Di sana, anda akan menjumpai segala macam jenis rekaman bajakan, mulai dari lagu-lagu pop, nasyid Islami, tilawah, tata-cara salat, lagu Bimbo, hingga ke ceramah Ahmad Deedat, Irena Handono atau seri kritik atas teori evolusi atau keajaiban semesta yang diproduksi oleh Harun Yahya.

Di sela-sela jamaah yang berhamburan keluar masjid itu, tentu selalu akan kita lihat pemandangan yang khas pada semua masjd di Jakarta, yaitu orang-orang yang mencari sekedar derma dari jamaah, atau panitia pembangunan masjid atau musalla yang mengedarkan proposal permintaan dana.

Pasar tiban semacam ini kita jumpai pula di sejumlah masjid-masjid di Jakarta, seperti Masjid Istiqlal, masjid besar di Pasar Tanah Abang (saya lupa namanya), masjid Al-A’raf di dalam toko buku Walisongo di Kwitang, masjid Arif Rahman Hakim di lingkungan kampus UI Salemba, dll. Tampkanya pasar tiban di depan masjid yang mendadak muncul saat menjelang salat Jumat ini makin menyebar ke sejumlah tempat di Jakarta dan kota-kota lain.

Buat saya yang datang dari kampung, pemandangan semacam itu agak sedikit aneh. Di mata kaum santri NU di kampung-kampung Jawa, masjid harus bersih dari unsur transaksi duniawi. Saat di pesantren dulu, saya pernah mempelajari kitab fikih yang terkenal di pesantren, yaitu Fath al-Mu’in karangan seorang ulama dari Malabar, India, yaitu Syekh Zainuddin al-Malibari. Dalam kitab itu, ada pembahasan panjang lebar tentang boleh tidaknya berjualan di dalam atau sekitar masjid.

Tetapi, lama-lama, pemandangan “duniawi” menjelang salat Jumat di masjid-masjid Jakarta itu menarik perhatian saya. Lama-lama, saya menyukai pemandangan itu. Salat Jum’at bukan sekedar peristiwa ibadah, tetapi juga peristiwa sosial yang melibatkan aspek-aspek non-ritual.

Tetapi pemandangan yang paling “dramatis” memang hanya saya lihat di masjid Sunda Kelapa, sebab hanya di sana saya jumpai dealer mobil yang ikut berjualan, berdesak-desakan di antara penjual mie pangsit, peci, songkok dan pedagang buku-buku bajakan.

Yang “ukhrawi” campur baur dengan yang “duniawi”, bukan dalam sebuah adonan yang “integratif” , tetapi dalam bentuk “montase” yang saling tak kongruen dan kacau-balau.

Saat salat Jumat di Boston di masjid kampus yang sebetulnya bukan merupakan masjid, hanya ruang yang dipinjam sementara untuk menjadi masjid, saya rindu pada suasana “kacau-balau” di depan Masjid Sunda Kelapa itu. Selain suasana “unik” itu, isi khutbah Jumat di masjid tersebut lumayan baik dan cerdas, meskipun kadang-kadang ada isi yang kurang saya setujui.

TIDAK semua pengalaman salat Jumat di Jakarta menyenangkan dan menarik. Kalau saya tak ada waktu untuk jalan ke Masjid Sunda Kelapa, biasanya saya pergi untuk salat Jumat di masjid yang lebih dekat lagi ke kantor Freedom Institute, yaitu di gedung parkiran milik Hotel Nikko di Jl. Thamrin. Jelas itu bukan masjid permanen, tetapi lantai parkiran yang disulap secara mendadak menjadi “masjid tiban”.

Umumnya isi khutbah yang hadir di “masjid tiban” itu tak terlalu menarik. Saya selalu datang menjelang salat dimulai, agar tak “tersiksa” mendengar khutbah yang membosankan. Kalau pun saya datang agak awal dan sempat mendengar khutbah, biasanya saya akan langsung “ngantuk”. Beberapa orang di samping kiri-kanan saya juga sama: mereka “theklak-thekluk” karena mengantuk. Saya duga, mereka tak terlalu terpikat oleh isi khutbah.

Kejadian yang menjengkelkan pernah pula saya alami di masjid tiban di belakang Hotel Nikko itu. Saya datang agak awal dan sempat mendengar isi khutbah sejak dari awal. Di luar dugaan, isi khutbah yang disampaikan, dalam pandangan saya, sangat provokatif, menyerang agama lain, menganjurkan kebencian kepada orang-orang yang berbeda agama.

Saya tak kuat mendengar khutbah yang “ngacau” itu, dan nyaris saya angkat tangan untuk protes. Tetapi, saya putuskan untuk tak melakukan tindakan yang tentu akan mengundang perhatian banyak orang itu. Jalan tengah saya ambil: saya walk out dari masjid itu dan balik ke kantor, sambil menggerutu di jalan. Saya ganti salat Jumat dengan salat zuhur biasa. Buat saya, tak ada gunanya melaksanakan salat Jumat yang justru sarat dengan “provokasi” semacam itu.

Kata “jum’at” adalah kata Arab yang secara harafiah berarti “berkumpul”, atau kongregasi. Bisa juga kata itu kita maknai sebagai berkumpul untuk rekonsiliasi. Tujuan salat Jumat antara lain adalah untuk menyediakan arena mingguan bagi umat Islam guna meneguhkan komitmen mereka terhadap solidaritas keumatan, bukan untuk memprovokasi dan memecah belah umat. Buat saya, salat Jumat yang menjadi ajang provokasi untuk menyerang agama lain atau sekte lain dalam Islam yang berbeda paham, sudah kehilangan “raison d’etre” atau alasan keberadaannya.

PENGALAMAN yang lucu terjadi di perumahan saya di kawasan Jatikramat, Bekasi. Suatu ketika, saat kantor libur, saya pergi untuk salat Jum’at di masjid yang terletak tak terlalu jauh di luar lingkungan perumahan saya. Sang khatib dengan menggebu membahas tentang aliran-aliran sesat dalam Islam. Islam liberal tak luput dari pembahasan sang khatib. Dengan penuh semangat dia mengkritik pemikiran Islam liberal, menyebut nama saya beberapa kali dengan perasaan “kebencian” yang sama sekali tak tersembunyikan.

Sang khatib tentu tak tahu kalau saya ada di antara jamaah yang hadir saat itu. Saya memutuskan untuk tetap duduk saja mengikuti khutbah dia hingga selesai. Saya hanya geli saja dalam hati. Karena masjid itu ada di luar perumahan saya, jarang di antara jama’ah yang mengenali saya.

Suatu hari, saya mendapat sms dari Rizal Sukma, teman saya yang menjadi salah satu direktur di CSIS. Dia mengirim pesan tentang kejengkelan dia yang baru saja menghadiri salat Jumat di (kalau tak salah ingat) kawasan Palmerah, Jakarta Selatan. Isi ceramah itu penuh dengan provokasi. Sang khatib menyebut dan mengkritik Islam liberal dan tentunya juga menyinggung nama saya.

Dalam pesan itu, Rizal bercanda, “Kalau saja saya tak takut sandal hilang, sudah pasti saya akan maju ke muka dan memprotes sang khatib”.

Yang menarik adalah pengalaman salat Jumat di kawasan Utan Kayu, di dekat kantor Jaringan Islam Liberal (JIL). Kalau kebetulan saya berada di kantor itu, saya biasanya pergi ke masjid Al-Taqwa yang ada persis di samping jembatan sungai kecil di Jl. Utan Kayu. Saya selalu merasa aman melaksanakan salat Jumat di sini karena tak pernah saya menjumpai khatib yang “menggebu-gebu” dengan ceramah yang provokatif. Ini adalah masjid tradisional khas Betawi. Tema-tema yang dibicarakan oleh khatib biasanya sebatas “kesalehan individual” yang menyejukkan.

Walaupun secara fisik masjid ini tidak terlalu mewah, dan sangat bising karena persis berada di pinggir jalan Utan Kayu yang lalu-lintasnya lumayan padat, serta dilengkapi dengan sistem pengeras suara yang sama sekali tak nyaman di telinga, tetapi saya tak merasa “terancam” saat salat Jumat di sana. Sebab, khatibnya bisa dijamin tak melakukan “provokasi”.

Hingga sekarang, saya belum menemukan masjid yang isi-isi ceramahnya sesuai dengan pandangan Islam liberal yang saya anut, masjid yang “cerdas” dan menyejukkan. Saya berpikir, mungkin suatu saat jamaah Islam liberal harus membuat masjid sendiri yang dapat menampung ceramah-ceramah dan khutbah yang cerdas dan menyejukkan.

Atau, boleh jadi, memang diperlukan pendidikan dan “training” yang lebih baik bagi para khatib. Memang ada kecenderungan di banyak negara-negara Islam di mana masjid menjadi ajang kaum Muslim konservatif atau fundamentalis untuk melancarkan “kampanye kebencian” melawan tokoh atau pemikir Muslim yang mereka anggap “sesat”. Sebagian jamaah boleh jadi akan dengan mudah terpengaruh oleh provokasi semacam itu. Kasus Dr. Nasr Hamid Abu Zayd di Mesir adalah contoh yang baik.

Kita semua tentu mengharap, masjid menjadi arena untuk membangun rekonsiliasi umat, bukan untuk memecah belah dengan cara menyebarkan provokasi yang “membakar” emosi umat.[]

Kaligrafi, keyboard, dan pudarnya “penmanship”

August 4th, 2008

Esei pendek ini adalah kenangan dan sekaligus penghormatan untuk guru saya, Ustaz Ahmad Zikri…

IA sudah cukup sepuh, kulitnya keriput, dan uban mulai meruyak di seluruh kepalanya yang selalu ia tutup dengan sebuah peci lusuh. Tetapi ia bukanlah orang tua yang rapuh. Setiap pagi, ia mengayuh sepeda, menempuh jarak dua kilo, menuju ke sebuah madrasah ibitidaiyah (sekolah dasar agama) tempat saya sekolah.

Walau keriput, ia memiliki tubuh yang masih tampak atletis. Tangannya cukup kekar. Detil-detil anatomis pada wajahnya sudah saya lupa, tetapi, yang jelas, ia bukan seseorang dengan muka yang menakutkan. Ia memiliki wajah yang tak membuat siapapun yang memandangnya merasa terancam.

Setiap masuk kelas, ia menjadi hiburan bagi kami murid-murid yang duduk di kelas satu, dua, dan tiga. Ia selalu datang dengan wajah yang ramah, gemar melucu, dan kadang-kadang juga mendongeng.

Di zaman ketika TV masih merupakan kemewahan yang sulit dijangkau, sementara buku tidak terlalu banyak tersedia, dan radio hanya menjadi benda mewah milik orang-orang yang cukup kaya untuk sebuah desa miskin tempat saya tinggal, momen ketika seorang guru mendongeng adalah momen yang nyaris ‘redemptive’ — saat yang mengandung potensi penebusan, apapun anda memaknai istilah berbau Kristen itu.

Ia mengajarkan dua hal di madrasah tempat saya sekolah dulu: tajwid, yakni ilmu yang berkenaan dengan teknik mengucapkan huruf-huruf Arab secara tepat, dan kaligrafi Arab atau khat.

Saat itu, saya duduk di kelas satu madrasah ibtidaiyah, setara dengan kelas satu SD. Umur saya sekitar enam tahun. Keterampilan menulis khat Arab yang indah bukan hal yang mudah untuk dikuasai. Menengok secara retrospektif masa itu, saya membayangkan diri seperti seorang anak kecil di daratan Cina yang dipaksa untuk melakukan latihan gimnastik yang keras.

Tetapi, guru saya tidak mengajarkan kaligrafi dengan disiplin yang keras; sebaliknya dengan cara yang cukup rileks, bahkan kadang-kadang lucu, karena diselingi dengan lelucon-lelucon ala anak kecil yang membuat kami tertawa terpingkal-pingkal. Apa yang ia katakan ketika itu sehingga kami tertawa, saya sudah lupa sama sekali.

Ala kulli hal (artinya: apapun), saya dan murid-murid lain belajar kaligrafi Arab dengan suka cita. “It’s just fun,” kata orang Amerika.

Waktu saya sekolah di madrasah pada pertengahan dekade 70an, pengaruh huruf Latin atau Roman belum sekuat saat ini, terutama di kalangan para santri seperti saya. Huruf Roman dan Arab masih memiliki kedudukan yang setara. Orang-orang tua kami, terutama yang terdidik dalam sistem pesantren, masih memakai huruf Arab pegon dalam surat-menyurat.

Sementara itu, pelajaran di sekolah yang memakai aksara Arab masih cukup banyak. Dengan kata lain, aksara Arab saat itu masih menjadi bagian dari nafas kehidupan sehari-hari, bukan semata-mata huruf yang dibaca, tanpa dipakai dalam praktek penulisan sehari-hari, seperti keadaan yang kita lihat saat ini. Dengan kata lain, aksara Arab masih merupakan ‘the living alphabet’.

Oleh karena itu, belajar menulis huruf Arab yang baik masih merupakan kebanggaan. Mereka yang memiliki keterampilan itu akan mendapat kedudukan yang khusus di masyarakat.

Bukan hanya itu; kemampuan menulis Arab secara baik bahkan bisa membawa dampak keuangan yang cukup menjanjikan. Beberapa penerbit yang khusus mencetak kitab-kitab berbahasa Jawa dengan huruf Arab pegon, seperti Penerbit Menara Kudus, membutuhkan para ‘khattat’ atau kaligrafer yang baik.

Salah seorang khattat yang merajai dunia kaligrafi saat saya kecil dulu adalah seseorang yang tak pernah saya kenal sosoknya hingga saat ini kecuali kecuali melalui otograf yang ia bubuhkan pada setiap judul buku yang ia tulis, yaitu Abdul Razak. Tulisan dia selalu menjadi semacam model bagi saya yang masih belajar saat itu.

Tetapi, khat guru saya itu tak kalah indah dengan khat milik Abdul Razak. Sayang sekali, ia tak beruntung mendapatkan kesempatan untuk ‘menjual’ ketrampilannya itu ke sebuah penerbit besar seperti Menara Kudus. Hingga wafat, ia hidup hanya dengan gaji mengajar di sekolah kampung yang sangat tak berarti, serta mengurus kebun di sekitar rumah yang tak seberapa luas. Ia sangat miskin; rumahnya sama sekali tak indah, sebuah gubug sederhana yang terbuat dari bambu dengan atap ijuk — kontras dengan huruf-huruf Arab indah yang selalu ia torehkan setiap hari di papan tulis di hadapan kami.

Setiap ia menuliskan aksara Arab di papan tulis, saya selalu memperhatikan gerak tangannya yang meliak-liuk dengan gaya yang sangat khas. Yang menakjubkan, ia memiliki cara menulis tertentu yang membuat kami selalu tertawa.

Misalnya, saat menulis huruf nun atau waw di akhir kalimat, ia akan membuatnya begitu rupa sehingga tampak panjang sekali, bahkan nyaris ‘komikal’, namun tetap simetris dan indah. Pada momen itulah, gelak-tawa kami sebagai seorang anak-anak langsung pecah berantakan. Kebiasaannya menulis huruf di bagian akhir kalimat yang tampak komikal itu selalu kami tiru saat ia sudah meninggalkan kelas. Anak-anak akan berebut ke papan tulis, menyambar kapur yang tersisa, dan menirukan gaya komis yang diperagakan oleh sang guru itu.

Saya sungguh kagum pada guru itu. Ia jelas tak pernah belajar pedagogi modern; tetapi ia memiliki metode mengajar yang sangat efektif. Seluruh teman sekelas saya dengan derajat yang berbeda-beda mencintai kaligrafi dan huruf Arab, berkat teknik mengajar ‘alamiah’ yang dimiliki oleh guru tersebut.

Selama tiga tahu, saya belajar menulis aksara Arab dengan indah pada guru itu. Ia, dengan caranya yang khas dan sama sekali tak ‘meneror’, menanamkan kecintaan pada diri saya terhadap huruf dan kaligrafi Arab.

Nama guru itu adalah Ustaz Ahmad Zikri. Saya dan teman-teman sekelas kerap memanggilnya Pak Zikri.

Ia sudah wafat beberapa tahun lalu. Hingga saat ini, saya masih sering iseng menulis huruf Arab indah untuk kebutuhan diri sendiri. Setiap menggoreskan aksara Arab, saya selalu mengenang Ustaz Zikri. Bagi saya, menuliskan kaligrafi Arab adalah semacam proses penebusan terhadap masa lampau yang sudah hilang.

Menulis, dengan kata lain, adalah mengenang, tetapi juga sekaligus menebus.

TERUS-terang, frekwensi saya menulis aksara Arab sudah makin jarang sejak sepuluh tahun terakhir ini. Saat menulis aksara Arab pun, saya sudah mulai jarang menuliskannya secara manual; saya mulai memakai komputer untuk menulis aksara Arab. Mesin tampaknya telah menggantikan keterampilan tangan.

Bukan hanya aksara Arab; bahkan frekwensi saya menulis huruf Latin secara manual pun makin merosot tajam. Dua puluh tahun yang lalu, saya bisa menulis surat berlembar-lembar kepada seorang kawan dengan tulisan tangan.

Saat kuliah di Jakarta, saya selalu secara rutin menulis surat secara manual kepada ayah saya di kampung dengan aksara Arab, entah dalam bahasa Jawa krama inggil (ini yang kerap saya lakukan) atau, kadang-kadang, bahasa Arab. Saya bisa menulis surat hingga tiga halaman folio kepada ayah saya. Ia tampak senang sekali membaca laporan perkembangan studi saya melalui surat itu.

Kebiasaan itu, saat ini, sudah nyaris saya tinggalkan. Sekarang, nyaris semua surat yang saya tulis berbentuk surat elektronik atau email. Medium penulisannya bukan lagi pena, tetapi sebuah mesin bernama komputer. Hasilnya memang rapi, tetapi jari-jari saya sudah mulai kehilangan keterampilan untuk menulis tangan sebagaimana saya lakukan pada masa-masa lampau.

Pelan-pelan saya mulai kehilangan tradisi ‘penmanship’ atau menulis secara manual. Pudarnya ‘penmansnhsip’ ini mungkin sudah menjadi gejala sosial yang terjadi secara luas. Kontak manusia modern dengan huruf, tampaknya, bukan lagi bersifat langsung dan ‘alamiah’ melalui keterampilan tangan, sebaliknya melalui mediasi sebuah alat bernama komputer.

Di madrasah dulu, saya bukan hanya diajari menulis huruf Arab yang indah, tetapi juga huruf Latin. Teknik menulis kursif gaya teks Proklamasi itu masih saya pelajari waktu kecil, memakai sebuah buku khusus dengan garis-garis yang saling berdekatan, persis seperti buku notasi musik.

Saya tidak tahu, apakah keterampilan itu masih diajarkan hingga sekarang. Saya duga, keterampilan itu sudah mulai ditinggalkan, karena dianggap tidak praktis lagi. Anak-anak sekarang mungkin sudah tak mengenal lagi model huruf kursif yang biasa dipakai oleh generasi tua sebelum tahun 70an.

Hingga sekarang, saya masih mengagumi gaya menulis yang waktu saya kecil dulu disebut dengan ‘menulis huruf gandeng’. Jika bertemu dengan orang tua yang masih bisa menulis dengan gaya lama itu, saya selalu memperhatikannya dengan cermat. Melihat tulisan seperti itu, saya seperti kembali ke masa lampau.

Zaman telah berubah, dan mesin makin merangsek, merampas beberapa keterampilan manual yang pernah kita miliki dulu. Adakah manusia kehilangan sesuatu saat keterampilan itu hilang, termasuk keterampilan menulis tangan?[]

Catatan: Huruf Arab pegon adalah huruf Arab dengan sistem tertentu untuk menuliskan kitab-kitab yang memakai bahasa Jawa atau Melayu. Huruf ini masih dipakai di kalangan pesantren tradisional di Jawa hingga sekarang. Di lingkungan kebudayaan Melayu, huruf ini masih dipakai di Aceh dan Malaysia.

Syamsul Ma’arif al-Kubra dan kosmologi Islam klasik

July 28th, 2008

ISENG-iseng, saya menemukan situs menarik, yaitu Scribd yang memuat buku-buku on-line gratis. Di sana, secara tak sengaja, saya menemukan sebuah buku yang menarik, yaitu Syamsul Ma’arif al-Kubra karangan Syekh Ahmad Ali al-Buni. Waktu saya masih di pesantren dulu, ini semacam “buku suci” dengan aura yang sangat misterius.

Persepsi populer di kalangan pesantren saya dulu, buku ini adalah semacam “primbon” yang berisi ilmu “kanuragan” atau ilmu sakti-mandraguna. Memang ada banyak pembahasan dalam buku itu yang menyangkut ilmu kesaktian. Tetapi, itu bukan satu-satunya isi buku tersebut.

Sekedar catatan ringan saja: oleh pemerintah Arab Saudi, buku ini masuk dalam daftar buku cekal, karena dianggap mengandung unsur syirik. Pemerintah Saudi bisa saja bisa mencekal buku ini saat dibawa oleh seseorang lewat bandara. Tetapi, bagaimana pencekalan itu bisa diterapkan saat buku tersebut sekarang beredar lewat internet? Dengan kata lain, ideologi “cekal” menjadi susah ditegakkan di zaman teknologi internet sekarang.

Buku ini sebetulnya menarik bagi mereka yang ingin mempelajari kosmologi Islam klasik yang banyak dipengaruhi oleh filsafat Pythagoras. Salah satu pembahasan utama buku ini adalah mengenai ciri-ciri semua huruf dan “khasiat spiritual” yang ada di baliknya. Ini merupakan ilmu rahasia yang dalam masa klasik Islam pun dipelajari secara sembunyi-sembunyi.

Dalam kosmologi itu, setiap huruf abjad berhubungan dengan planet atau obyek astronomis tertentu di alam raya. Huruf bukan semacam “pananda” (signifier) yang arbitrer dan melayang-layang bebas tanpa makna orisinal tertentu, sebagaimana kita kenal dalam filsafat strukturalisme. Huruf juga bukan seperti mantra yang tak memuat beban makna apapun, seperti pernah didakwahkan oleh Penyair Sutardji Calzoum Bahri melalui manifestonya yang terkenal itu.

Dalam kosmologi Islam seperti tampak dalam buku Syekh al-Buni ini, huruf (juga angka) memiliki hubungan “misterius” yang sifatnya niscaya dengan dunia “atas” (al-’alam al-’ulwi). Tak ada yang sifatnya arbitrer dalam kehidupan ini, termasuk kode-kode bahasa yang mewakili gagasan.

Bab pertama buku ini, misalnya, berbicara tentang huruf-huruf alfabet dan rahasia serta makna yang tersimpan di dalamnya (fi al-huruf al-mu’jamah wa ma fiha min al-asrar wa al-idhmarat). Dunia dan alam raya, dalam pandangan Syekh al-Buni, adalah semacam “universum” yang saling terkait satu dengan yang lain.

Ada dunia atas (al-’alam al-’ulwi) dan dunia bawah (al-’alam al-sufli). Dunia atas, dalam istilah dia, men-supply dunia bawah, wa inna al-’alam al-’ulwi yumiddu al-’alam al-sufli. Huruf-huruf adalah representasi dari dunia atas. Memahami rahasia huruf dan angka akan membawa seseorang untuk memahami “alam lain”. Bandingkan hal ini dengan gagasan Bonaventura, seorang teolog dan santo dari Abad 13, sebagaimana tergambar dalam risalah dia yang terkenal, Itinerarium Mentis ad Deum, yakni perjalanan akal atau jiwa menuju Tuhan.

Dengan menguasai rahasia huruf dan angka, seseorang bisa memanipulasi dunia yang tak tampak. Sekilas, ada semacam hubungan yang sifatnya instrumental antara manusia dengan dunia spritual, antara dunia bawah dan dunia atas. Ini mengingatkan kita pada pengamatan Malinowski tentang “magic” sebagai bentuk lain dari “science” dalam masyarakat primitif: keduanya sebagai cara manusia untuk “mengatasi” alam yang tampak di permukaan sebagai “ketidakteraturan” (chaos) yang mencekam.

Ada sejumlah observasi yang menarik yang dikemukakan oleh al-Buni mengenai karakter huruf. Misalnya, menurut dia, ada dua jenis huruf. Huruf yang ditulis dari kanan ke kiri; itulah huruf bangsa Arab. Kedua, huruf yang ditulis dari dari kiri ke kanan, yaitu huruf atau abjad bangsa Yunani, Romawi dan Koptik.

Huruf yang ditulis dari kanan ke kiri mempunyai karakter khusus, yaitu ditulis secara kursif (muttashilah); waktu saya masih kecil, sering disebut dengan huruf gandeng. Ini kita lihat dalam kasus huruf Arab. Sementara itu huruf yang ditulis dari kiri ke kanan, bersifat non-kursif alias terputus-putus.

Pengamatan ini, walau cermat, tentu mengandung banyak kelemahan. Sebagaimana kita tahu, abjad Latin yang ditulis dari kiri ke kanan bisa juga ditulis secara kursif. Semantara itu, tak semua huruf yang ditulis dari kanan ke kiri bersifat kursif seperti abjad Arab. Abjad Hebrew atau bahasa Yahudi ditulis dengan cara yang sama dengan abjad Arab, yaitu dari kanan ke kiri, tetapi ia tidak bersifat kursif.

Menurut Syekh al-Buni, jumlah huruf (maksudnya tentu huruf Arab) adalah 28, plus satu huruf lain, yaitu “lam alif“. Jika yang terakhir itu dimasukkan, maka jumlah keseluruhan adalah 29 huruf. Jumlah ini paralel dengan posisi rembulan terhadap matahari dalam waktu sebulan (al-manazil al-qamariyyah). Sebagaimana kita tahu, jumlah hari dalam kalender Hijriyah yang memakai sistem lunar adalah 29 hari, bukan 30 atau 31 hari seperti dalam kalender Gregorian yang memakai sistem solar.

Di sini, kita bisa melihat dengan baik sekali bagaimana hubungan antara huruf dengan sistem astronomis. Sekali lagi, huruf bukan kode arbitrer. Ia memiliki hubungan ontologis yang sifatnya “alamiah” dan niscaya dengan fenomena alam raya.

Ilmu yang termuat dalam buku ini bukanlah ilmu biasa, tetapi ilmu spesial yang hanya layak diketahui oleh kalangan tertentu. Al-Buni membuat semacam “pagar” tertentu agar buku ini tidak jatuh pada tangan yang tak tepat atau orang yang tak kompeten. Tak heran, buku ini, waktu saya di pesantren dulu, memiliki aura mistis yang membuatnya “angker”.

Dalam pembukaan buku ini, misalnya, Syekh al-Buni dengan tegas membuat semacam “disclaimer” berikut ini: haram bagi siapa saja yang mendapatkan naskah buku saya ini untuk memberi tahu kepada orang yang tak siap untuk menerima dan memahami isinya, atau menceritakan isi buku itu di tempat yang kurang layak.

Dalam tradisi Islam klasik, tampaknya terdapat suatu pandangan bahwa ada ilmu-ilmu tertentu yang harus disembunyikan dan hanya layak diberikan kepada orang-orang tertentu yang sudah memenuhi syarat tertentu. Pandangan semacam ini saya kira tidak hanya khas Islam, tapi juga ada pada beberapa masyarakat tradisional yang lain. Saya ingin menyebut hal ini sebagai “kosmologi mistis-feodal“.

Aura “kesucian” buku ini juga ditandai dengan beberapa hal lain. Dalam halaman yang sama, misalnya, Syekh Ali al-Buni mengatakan bahwa siapapun tak boleh “menyentuh “bukunya ini kecuali dalam keadaan suci (wa la tamussahu illa wa anta thahirun). Ilmu yang termuat dalam buku ini bukan ilmu normal, tetapi ilmu yang sangat khusus, dan karena itu harus diperlakukan secara khusus pula.

Yang menarik adalah Syekh al-Buni memakai isitilah “menyentuh”. Bagaimana istilah itu harus dipahami dalam konteks dunia digital? Teks buku al-Buni itu sekarang sudah berubah dalam bentuk file PDF yang melayang-layang secara bebas di dunia virtual. Apakah anda harus bersuci dulu saat mau membuka komputer untuk meng-akses data buku tersebut?

Penemuan mesin cetak Guttenberg dan teknologi digital saat ini telah mengubah konsep masyarakat tentang buku dan teks. Secara umum telah terjadi semacam “sekularisasi teks” melalui demokratisasi akses kepada buku. Aura kemisteriusan sebuh buku menjadi hilang sama sekali. Apakah ini bagian dari “hilangnya pesona dunia” (disenchantment of the world) seperti pernah disebut oleh Weber itu?

Kosomologi seperti tergambar dalam buku ini mungkin sudah tak dikenal lagi oleh kalangan santri atau umat Islam pada umumnya saat ini. Mereka tentu akan menganggap buku ini sebagai semacam “klenik” atau “superstition“. Kosmologi Kopernikan atau Newtonian lebih menarik bagi umat Islam sekarang. Dalam konteks kosmologi modern ini, buku seperti Syamsul Ma’arif al-Kubra sudah kelihatan aneh.[]

Mengenang kembali kisah-kisah Karl May

July 23rd, 2008

Kisah-kisah petualangan yang digubah oleh Karl May (1842-1912) tampaknya perlu kita baca kembali sekarang, pada saat dunia kita dipenuhi oleh tokoh-tokoh “jahat” semacam Bush, Saddam dan Osamah. Pujangga Jerman yang telah melahirkan tokoh Winnetou itu, menggubah kisah-kisah perjalanan yang mengilhami jutaan remaja dan orang dewasa si seluruh dunia. Ilham yang terbit dari kisah-kisah Karl May sangat sederhana: persahabatan, keberanian, kejujuran, petualangan, dan–ini mungkin aspek yang layak kita angkat sekarang–perjumpaan antarbudaya.

Salah satu tokoh Karl May yang memikat hati saya adalah Winnetou, seorang anak kepala salah satu suku Indian, Apache. Persahabatan Winnetou dengan seorang pemuda Jerman, juga seorang Kristen yang taat, yaitu Old Shutterhand, sangat memikat hati. Juga persahabatan antara Old Shuterhand dengan seorang yang disebut “westman,” seorang kulit putih dari daerah Wild West bernama Sam Hawkens (Sam Si Elang, istilah ini mungkin sengaja digunakan Karl May untuk merujuk kepada Amerika yang dikenal dengan sebutan Paman Sam ). Inilah kisah yang tidak semata-mata berbicara tentang dua manusia yang menjalin persahabatan hingga akhir hayat, tetapi juga kisah tentang perjumpaan budaya, dan bagaimana sikap-sikap yang tepat harus dikembangkan dalam perjumpaan semacam itu.

Yang memikat dari kisah-kisah Karl May memang satu hal: karya-karyanya berbicara tentang bangsa-bangsa yang ada di luar Eropa, tentang orang-orang dari luar lingkungan kebudayaan Eropa, tentang masyarakat yang berasal dari kawasan “lain”. Ringkasnya: tentang “the other”, “al akhar”, yang lain, sebuah istilah yang mungkin bisa disamakan dengan istilah orang pesantren, “minhum” (sebagai lawan dari “minna”). Sudah tentu, kisah-kisah itu dikarang oleh orang Eropa, dan menempatkan orang Eropa pada posisi “luhur” yang memandang budaya-budaya lain dari suatu ketinggian. Tetapi, saya kira, Karl May, pujangga yang hidup pada abad 19, mempunyai sikap yang lain dari rata-rata orang Barat pada zamannya.

Karl May memberontak terhadap sikap orang Eropa yang angkuh dan tinggi hati terhadap bangsa-bangsa lain. Dia menyindir bangsa kulit putih yang datang ke benua Amerika, memasang senyum manis, dan mengajarkan cinta kasih Kristiani, tetapi setelah itu merampas tanah-tanah orang Indian. Karl May menulis sebuah kisah yang menyentuh hati dalam trilogi Winnetou (Dalam edisi Jermannya: Winnetou der rote Gentleman, Winnetou si Pemuda Merah). Dalam pengantar kisah itu, dia meratapi bangsa Indian (“bangsa kulit merah”, dalam istilah Karl May) yang pelan-pelan punah dari muka bumi oleh keserakahan “bangsa muka pucat” (istilah Karl May untuk orang kulit putih). Nasib mereka, oleh Karl May, diserupakan dengan bangsa Turki, bangsa besar yang pelan-pelan merosot dan susut oleh ekspansi bangsa Eropa. Perumpaan itu boleh jadi agak sedikit meleset, karena bangsa Indian benar-benar punah dan kehilangan segala-galanya, sementara bangsa Turki, meski kehilangan reputasinya sebagai imperium besar, tetap ada sebagai bangsa dan mempunyai batas-batas negara yang sah. Sekurang-kurangnya bangsa Turki masih mempunyai penulis novel yang hebat, Ohran Pamuk, dan pemain bola yang lihai, Hakan Sukur.

Membaca Winnetou kembali, kita diingatkan oleh Karl May kepada suatu periode yang penting dalam sejarah Amerika, yaitu periode antara abad 18-19 (bahkan juga abad 20), saat bangsa-bangsa dari daratan Eropa mulai mengungsi dari benua “lama” (yaitu benua Eropa) untuk mencari kehidupan baru yang penuh dengan pengharapan dan janji-janji. Pada periode itulah, bangsa-bangsa Eropa berdatangan, membawa Bibel, dan dengan begitu juga membawa semacam keyakinan yang sedikit “sombong” bahwa mereka dilahirkan lebih unggul dari bangsa Indian yang tidak mempunyai Tuhan seperti digambarkan dalam Bibel. Bangsa Indian adalah bangsa yang rendah, dan karena itu layak ditaklukkan. Sebetulnya hal itu agak sedikit aneh. Bangsa Eropa yang mengungsi ke Amerika itu, mula-mula pindah ke sana memang untuk menghindari keadaan kelam yang ada di Eropa, yaitu perang agama yang berlangsung selama tiga puluh tahun. Mereka sudah bosan mengalami penderitaan hanya karena iman mereka berbeda versi dengan iman orang Kristen yang lain. Mereka ingin mencari hidup yang aman dan damai. Tetapi, ketika mereka pindah ke Amerika, mereka memandang bangsa Indian dengan pandangan yang merendahkan, persis karena bangsa Indian itu tidak mempunyai Tuhan seperti orang kulit putih.

Saya kadang-kadang berpikir bahwa kesombongan Amerika sekarang ini terhadap bangsa-bangsa lain adalah sisa-sisa yang belum musnah dari kesombongan kaum imigran awal yang yakin bahwa apa yang mereka peluk sebagai kebenaran adalah sesuatu yang mutlak, sementara apa yang dipercayai oleh orang lain adalah salah, karena itu rendah, dan karena itu boleh ditaklukkan. Saya membayangkan bahwa di mata Bush sekarang ini, Saddam dan bangsa-bangsa lain yang ia renteng dalam “poros kejahatan” (axis of evil), adalah seperti bangsa Indian yang rendah “secara moral dan teologis” di mata bangsa Eropa, seperti Winnetou di mata teman-teman Old Shutterhand yang berkulit putih itu.

Karl May, seorang kulit putih, dan bagian dari peradaban Barat yang “angkuh” itu, memberontak dan menentang keangkuhan bangsanya sendiri. Dalam kisah lain, Und Friede auf Erden! (terbit tahun 1904, dan baru terbut edisi Indonesianya tahun lalu [2003], Dan Damai di Bumi!), Karl May mengkritik telak sikap angkuh para misionaris Kristen yang memandang rendah bangsa-bangas Timur yang mempunyai Tuhan dan agama lain. Tuan Waller, dalam kisah itu, seorang misionaris dari Amerika, dipermalukan oleh Karl May ketika berdebat dengan seorang pedagang Cina, Tuan Fu.

Karl May, dalam hal ini, persis seperti Multatuli yang melahirkan kisah pemberontakan, Max Havelaar. Sebagaimana May, Multatuli memberontak terhadap keangkuhan bangsa Belanda atas bangsa pribumi. Karl May dan Multatuli adalah semacam “conscience” atau mata hati yang masih jernih di tengah-tengah suatu pemerintahan dan birokrasi yang congkak. Di Amerika , Eropa dan Asia, dan seluruh dunia, spirit Karl May itu masih terus bergema. Protes atas kesombongan pemerintah Bush sekarang ini muncul lebih keras justru dari tengah-tengah bangsa itu sendiri.

Apakah “roh” Winnetou bangkit kembali? Apakah “Tuan Waller” akhirnya bisa sadar bahwa suatu bangsa tidak bisa hidup sendirian sebagai bangsa yang merasa unggul di atas yang lain-lain? Apakah Tuan Bush akhirnya bisa sadar: bahwa dunia yang unipolar itu berbahaya, bahwa unilateralisme akhirnya mencederai norma-norma bertetangga antar bangsa-bangsa?[] Ulil Abshar-Abdalla

Catatan: Ini adalah artikel lama yang saya tulis pada 2003 untuk harian Duta Masyarakat yang terbit di Jawa Timur. Saya muat kembali di sini untuk mengingatkan kita tentang kisah-kisah Karl May yang masih layak dibaca hingga sekarang.

Catatan sederhana tentang bahasa Inggris

July 11th, 2008

Saya selama ini bergaul dengan bahasa Inggris sebagai “bahasa kuliah”, yakni sebagai bahasa untuk alat artikulasi gagasan-gagasan yang kerapkali bersifat abstrak. Semula, saya mengira, bahasa Inggris “kuliahan” ini sudah paling hebat dan paling tinggi derajatnya; saya semua mengira bahwa bahasa Inggris buku yang “akademis” itu sudah “sundul” atau menyentuh “langit ketujuh”.

Saya juga semula mengira bahwa bahasa Inggris buku adalah “superior” ketimbang dialek yang dipakai dalam percakapan sehari-hari; lebih superior daripada bahasa Inggris yang dipakai dalam majalah-majalah atau bacaan populer yang “ngepop”.

Mungkin mentalitas seperti ini berasal dari “mind-set” yang terbentuk dalam diri saya saat belajar bertahun-tahun di pesantren. Karena terbiasa mempelajari bahasa Arab sebagaimana dipakai dalam kitab-kitab kanon klasik yang sering disebut dengan “Kitab Kuning” (disebut demikian karena warna kertasnya memang kuning, agar tak menyilaukan mata), saya beranggapan bahwa bahasa dalam buku adalah yang paling baik.

Di kalangan pesantren, muncul semacam pandangan bahwa bahasa Arab seperti yang mereka baca dalam kitab-kitab kuning itu adalah bahasa Arab yang paling berkualitas tinggi, bahasa fushha. Itulah bahasa standar yang mestinya menjadi “kriteria” untuk menilai bentuk-bentuk pengucapan yang lain.

Bahasa Arab “pasaran” (sering disebut dengan “lahjah” atau “al-lughah al-darijah”) sebagaimana dipakai dalam pergaulan sehari-hari, dianggap oleh para santri sebagai “bahasa rendahan” yang tak memenuhi standar “bahasa buku” yang baku. Begitu juga bahasa Arab seperti dipakai dalam koran, majalah, atau bacaan-bacaan modern, oleh para santri dipandang dengan “mata-terpicing”.

Mind-set ini yang terbawa saat saya belajar bahasa Inggris. Bahasa Inggris buku-kuliahanlah yang semula saya anggap sebagai bentuk yang paling baik dan bermutu.

Perubahan terjadi saat saya menyadari bahwa bahasa Inggris buku itu lama-lama membosankan, apalagi buku-buku yang berisi gagasan-gagasan filsafat yang abstrak. Selama ini, wilayah bacaan saya memang berkisar pada buku-buku semacam itu.

Saat berbicara dengan orang-orang penutur Inggris asli, saya merasakan bahwa kosa-kata yang saya kuasai sangat “bookish”, alias terasa kebuku-bukuan. Saat saya ingin menulis suatu esei yang tidak berkenaan dengan tugas perkuliahan, saya juga merasa bahwa bahasa Inggris saya kaku.

Mulailah saya sadar, bahwa bahasa Inggris buku hanyalah salah satu “genre” atau jenis-jenis yang ada. Bahasa Inggris buku bukanlah satu-satunya bentuk pemakaian bahasa itu. Ada banyak jenis yang bertebaran di luar sana yang layak dijelajahi.

Mulailah saya melakukan semacam “petualangan” untuk mengenali berbagai ragam pemakaian bahasa Inggris. Dari penjelajahan ini, saya mulai sadar bahwa seseorang yang kompeten untuk ber-bahasa Inggris saat menulis topik tentang sejarah teologi Islam, misalnya, belum tentu dia memiliki kompetensi serupa saat menulis tentang keindahan sebuah taman kota.

Untuk menulis sesuatu tentang keindahan taman kota, anda butuh kosa-kata, idiom, dan ekspresi yang berbeda sama sekali dengan saat anda menulis tentang teologi, filsafat, atau hukum.

Begitu pula, jika anda bisa memahami dengan baik buku-buku tentang filsafat dalam bahasa Inggris, belum tentu anda bisa memahami dengan baik buku-buku tentang masakan atau novel, atau buku-buku travelog yang berisi catatan perjalanan.

Inilah kesan saya setelah sejenak menjelajah: buku-buku tentang tema-tema “non-kuliahan” itu lebih lincah, bergairah, dan girang-gemirang. Kosa katanya juga lebih beragam, lebih kongkret dan “visual”. Dalam buku-buku filsafat, banyak kosa-kata yang semula memiliki pengertian yang “empiris” dan kongkret, tiba-tiba kehilangan darah dan “nafsu”, menjadi kering-kerontang karena diperas-tuntas oleh sebuah proses kejam yang namanya “abstraksi” atau penajridan.

Dunia gagasan memang kadang berlaku seperti sebuah vampir yang menyesap habis darah bahasa! Pada titik itu, anda harus kembali ke dunia sehari-hari, di mana anda akan menjumpai bahasa yang menari riang-gembira, tanpa dosa, seperti ronggeng di sebuah dukuh yang diceritakan oleh Ahmad Tohari itu. Ya, Dukuh Paruk!

Saat saya mulai menjelajahi bahasa Inggris non-kuliahan, saya seperti anak-anak yang baru mengenal bahasa. Saya teriak, “This is the real English, this is what I want!”

Saat naik pesawat, misalnya, saya senang sekali membuka-buka majalah yang biasa disediakan di sana, berisi catatan perjalanan, laporan tentang tempat-tempat turisme yang indah, atau sebuah masakan “eksotis” yang berasal dari sebuah sudut dunia yang tak pernah kita ketahui. Dengan membaca bahasa Inggris dalam majalah seperti itu, saya menemukan kosa-kata baru yang digunakan dalam konteks kehidupan kongkret yang berbagai-bagai itu.

Saya senang sekali membacai novel, terutama novel-novel yang bercerita tentang dunia remaja masyarakat Amerika. Saya mempunyai tesis: sumur bahasa adalah anak-anak remaja belasan tahun (teenagers)! Mereka lah pencipta bahasa yang tanpa dosa, tak peduli dengan sejibun aturan yang kompleks yang di-fatwa-kan oleh Dewan Bahasa itu.

Bacalah novel laris manis karangan Curtis Sittenfeld berjudul “Prep” yang berkisah tentang dunia anak-anak under-grad, anak-anak sophomore, alias mahasiswa-mahasiswi tahun pertama.

Saya juga suka membacai majalah-majalah tentang dunia kuliner. Semua orang butuh makan, tetapi percayalah, anda pasti tak cukup menguasai “diskursus” atau cara bercakap-cakap tentang dunia makanan dan masakan, bahkan dalam bahasa Indonesia sekalipun. Banyak orang yang berpikiran bahwa makanan ya memang untuk disantap, bukan untuk dibicarakan, di-wacana-kan. Makanan adalah dunia kongkret, dunia pra-diskursus!

No, anda keliru. Setiap bagian dalam kehidupan manusia bisa dipercakapkan dengan indah sekali, termasuk dunia makanan dan masakan. Dunia itu juga memiliki kosa-katanya sendiri, idiom-nya sendiri, ekspresinya sendiri, bahkan wisdom dan filosofinya sendiri.

Baru-baru ini, isteri saya (namanya IENAS TSUROIYA; kita, tanpa sadar, sering menggunakan kata “isteri saya” tanpa menyebut namanya, seolah isteri kita adalah orang-asing tanpa nama) menunjukkan sebuah blog tentang masak-memasak yang dimiliki oleh seorang “foodblogger” dari Indonesia, Riana “Pennylane” Ambarsari.

Dia mengelola blog masak-memasak dalam bahasa Inggris yang sungguh menawan, “Pennylane Kitchen”. Meskipun saya bukan seorang pecinta masak-memasak, tetapi saya sungguh senang sekali membaca blog-nya.

Alasannya sederhana: saya belajar banyak dari sana tentang jenis bahasa Inggris yang dipakai dalam dunia kuliner. Saya sungguh kagum pada Riana: bahasa Inggrisnya lincah, indah, penuh “selera”; ia membicarakan dunia masak-memasak bukan semata-mata sebagai masalah dapur, tetapi juga dalam konteks yang lebih luas, yaitu kegiatan manusia sebagai makhluk yang beradab!

Jika anda meraih skor TOEFL yang paling tinggi, maka itu bukan berarti anda sudah menguasai bahasa Inggris dengan hebat. Itu barulah pertanda bahwa anda masuk dalam beranda bahasa Inggris. Untuk mengetahui kekayaan bahasa itu, anda harus masuk ke dalam rumahnya, mengeksplorasi seluruh kamar-kamarnya, bahkan kalau perlu hingga ke kamar mandi dan toiletnya.

Setiap bahasa selalu mempunyai dimensi yang kaya seperti itu. Sekali lagi, bahasa buku hanyalah salah satu jenis saja dari keseluruhan bahasa yang sangat kompleks dan kaya; kebetulan bukan jenis atau varietas yang terbaik.

Menyantap Masakan Indonesia — Sambil “Ngaji”

June 22nd, 2008

Berada di negeri asing dan jauh dari tanah air bukanlah hal yang menyenangkan. Apalagi jika kita sendirian, tak mempunyai seorang isteri atau keluarga, alias masih “jomblo”. Seorang kawan saya yang sedang belajar di Emory University, Atlanta, Georgia, mengeluh luar biasa karena tak ada teman-teman dari Indonesia yang ia kenal di kawasan itu, sementara ia belum sempat membawa keluarganya ke Amerika.

Cobaan paling berat yang menjadi “litmus test” pertama adalah kangen masakan tanah-air. Inilah rasa nasionalisme yang paling cepat bereaksi setiap kita berada jauh dari tanah-air dalam waktu yang agak lama. Katakan saja “nasionalisme nasi”. Sebelum makan nasi, umumnya orang Indonesia belum menyebut dirinya “makan”, padahal dia sudah makan segala bentuk makanan.

Kalau anda berada di luar negeri, sendirian, sementara itu selama sebulan anda tak pernah merasakan nasi, maka saya jamin hidup anda akan “sengsara”, “miserable”. Bayangkan, dalam situasi seperti itu, anda diundang ke sebuah pertemuan yang diadakan oleh komunitas Indonesia, dan anda kemudian bisa melihat kembali nasi, pecel, tempe, tahu, lalapan, sambal terasi, dan sebagainya — dalam momen seperti itu, anda akan merasakan kegembiraan yang sulit digambarkan bahkan oleh seorang pelukis yang paling handal sekalipun. Ada akan mengalami “ekstasi” karena berjumpa kembali dengan hal-hal sederhana dari tanah air, tetapi menjadi tidak sederhana saat anda jauh dari sana.

Biasanya komunitas Indonesia yang tinggal di luar negeri membuat paguyuban dan mengadakan pertemuan rutin, entah setiap bulan, atau dua bulan, tergantung kelonggaran waktu yang dipunyai oleh para anggotanya. Pertemuan itu bisa hanya untuk tujuan temu kangen biasa, bisa untuk berdiskusi mengenai keadaan di tanah air, tetapi yang paling lazim adalah untuk belajar mengaji (ini memakai bahasa Islam), atau untuk tujuan “religius”.

Menjamurlah paguyuban pengajian di sejumlah negeri Barat (Eropa, Amerika, Kanada, Australia, dan New Zealand). Di kawasan Boston, kota tempat saya tinggal sekarang, berdiri pula paguyuban yang sama dengan nama “IQRA BOSTON”. Peguyuban ini bertemu setiap bulan, biasanya bergantian di masing-masing rumah para anggota, tentu mereka yang memiliki rumah cukup besar sehingga bisa menampung seluruh mereka yang hadir. Anggota yang tinggal di apartemen kecil seperti saya jelas tak memenuhi syarat untuk menjadi tuan rumah paguyuban ini.

Jika hadir penuh, pengajian Iqra memiliki jamaah sekitar 40 orang. Tak cukup banyak, tetapi cukup untuk disebut sebagai sebuah “paguyuban”.

Fungsi paguyuban ini memang secara resmi adalah untuk kumpul-kumpul dan melaksanakan kegiatan keagamaan. Tetapi ada fungsi penting yang jarang disadari: yaitu wahana untuk menikmati masakan Indonesia. Dalam pertemuan-pertemuan semacam ini, biasanya para isteri akan “berlomba” menampilkan karya-karya kuliner terbaik. Tentu yang memasak bukan hanya isteri, bisa juga bapak-bapak. Saya senang sekali menghadiri pertemuan ini, antara lain untuk menikmati pelbagai ragam masakan yang enak dari tanah air. Kalau dikonversi ke dolar, tentu masakan semacam ini bisa sangat mahal harganya, dan belum tentu ada disediakan di restoran biasa.

Tujuh bulan pertama saya tinggal di Boston tiga tahun lalu, dan keluarga belum bergabung dengan saya, pertemuan Iqra selalu saya tunggu-tunggu, dan, demi Tuhan, saya tak pernah absen. Bukan karena saya rajin ingin belajar Islam, sebab saya sudah hampir setiap hari menggeluti mata-pelajaran Islam di kampus; motivasi saya adalah nasionalisme kecil-kecilan, yaitu menikmati masakan Indonesia.

Oleh karena itu, Ari Perdana, teman saya dari CSIS, waktu masih kuliah di Kennedy School di Harvard University dua tahun yang lalu, sering bergurau: kita datang ke acara Iqra adalah untuk makan-makan; pengajian hanyalah sambilan saja. Seperti saya, Ari juga “Iqra goer” yang nyaris tak pernah absen. Jangan-jangan motivasi dia sama “duniawiah”-nya dengan saya.

Saya beruntung tinggal di kota Boston, karena di sini banyak terdapat masyarakat Indonesia. Mereka umumnya adalah mahasiwa, tetapi sebagian ada yang sudah menjadi warga negara AS, atau permanent resident yang bekerja. Teman-teman yang tinggal di negara bagian lain yang jarang dihuni oleh komunitas Indonesia tentu agak sedikit “sengsara”, terutama dilihat dari sudut pandang “nasionalisme nasi”.

Selain paguyuban Iqra yang beranggotakan orang-orang Indonesia yang Muslim, di Boston juga ada paguyuban lain yang lebih “cair”, yaitu Permias (Persatuan mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat). Menurut saya, kedua paguyuban ini memiliki karakter yang nyaris sama: pada intinya adalah untuk melepas nafas “nasionalisme sederhana” dengan cara menikmati kembali masakan Indonesia, selain bertemu dengan teman-teman dari tanah air.

Biasanya pertemuan dalam paguyuban ini mendadak menjadi “istimewa” jika ada seorang teman dari tanah air yang sedang berkunjung ke Amerika. Tak peduli siapa orang itu, biasanya dia akan “didaulat” menjadi “penceramah tiban” untuk berbagi berita dan warta dari tanah air.

Dalam pengajian Iqra bulan lalu (5/08) yang diadakan di rumah Sukidi, seorang kader Muhammadiyah yang sekarang belajar di Harvard University, hadir Ifdhal Kasim, Ketua Komnas HAM. Ifdhal saya bawa “impromptu” ke rumah Sukidi untuk menghadiri paguyuban pengajian itu. Dia bicara sebentar di sana mengenai masalah Ahmadiyah di Indonesia. Saat itu, Ifdhal sedang menghadiri sebuah seminar yang diadakan oleh Law School di Harvard University.

Agama sebetulnya memiliki fungsi yang sangat penting di luar masalah sorga-neraka, iman-kafir, ajaran benar-salah, dosa, sesat, dan doktrin-doktrin yang lain. Agama bukan sekedar masalah ibadah atau ritus. Agama bukan sekedar mengenai apa yang secara mengerikan sering disebut oleh para teolog sebagai “the ultimate concern“. Tentu, semua itu adalah “ingredient” atau bahan mentah yang penting dalam setiap komposisi agama.

Tetapi ada fungsi lain yang jauh lebih kasat mata, tetapi kerap diabaikan oleh para pemeluk agama itu sendiri, yaitu fungsi sosial. Tanpa disadari oleh penganutnya sendiri, agama sebetulnya adalah salah satu sarana yang dipakai oleh manusia untuk melaksanakan “hidup bebrayan”, hidup bersama orang lain. Rumah manusia adalah masyarakat. Agar tahan lama, sudah tentu “masyarakat” haruslah dirawat agar anyamannya tidak kendor. Para ahli sosiologi menyebutnya sebagai “social cohesion“, kerekatan sosial. Agama adalah salah satu alat yang dapat mencapai tujuan itu.

Seorang profesor sosiologi yang pernah mengajar di Boston University, Hanna Papanek, bercerita kepada saya suatu hari: Saya adalah seorang ateis, tetapi saya menghadiri kebaktian di gereja setiap minggu, karena saya senang dengan komunitas mereka. Hanna Papanek adalah seorang perempuan Yahudi asal Jerman yang datang dari latar belakang keluarga yang akrab dengan tradisi Marksisme yang ateistis. Sejak beberapa tahun lalu, dia menjadi anggota dari gereja Unitarian Universalist (UU). Dia tetaplah seorang ateis hingga saat ini. Masuk gereja bukan berarti dia melakukan “konversi” ke dalama agama Kristen (meskipun oleh banyak umat Kristen, gereja UU tidak dianggap lagi sebagai bagian dari kekristenan karena terlalu “terbuka” kepada tradisi-tradisi lain). Tetapi dia dengan sukarela menghadiri kebaktian di sana karena ingin merasakan keintiman sosial dalam sebuah rumah bernama “masyarakat”.

Bagi orang-orang seperti Papanek ini, agama lebih tampil sebagai “aparatus sosial” yang bermanfaat untuk menjaga kerekatan masyarakat. Sebagai seorang sosiolog, dia tentu menyadari fungsi itu dengan baik. Bagi saya, fungsi ini tak kalah penting dibanding dengan fungsi-fungsi lain, misalnya fungsi agama sebagai “the way” atau jalan “satu-satunya” menuju kepada keselamatan. Tekanan yang berlebihan yang kita dengar dari elit-elit agama terhadap “the discourse of salvation” dalam agama, menurut saya, justru agak kurang positif. Wacana keselamatan itulah, antara lain, yang menimbulkan praktek penyesatan selama ini. Jika didekati melulu secara doktrinal dan teologis, agama cenderung (tidak selalu) memecah-belah.

Dengan melihat agama sebagai salah satu sarana “bebrayan” atau “social cohesion“, kita bisa mengapresiasi aspek lain dari agama yang selama ini terlupakan. Dengan kata lain, makan-makan dalam acara pengajian seperti Iqra Boston itu bukanlah hal sepele. Secara sosiologis, momen makan-makan-sambil-pengajian itu mengandung elemen yang sangat krusial dalam proses “sosialisasi” atau “memasyarakat”.

Boleh jadi, jika didekati secara sosial dari sudut fungsinya sebagai “lem” yang merekatkan masyarakat, agama bisa lebih menjadi alat integrasi.

Mereka yang skeptis pada agama, dan menganggap bahwa ajaran dan doktrin agama adalah “non-sense” atau “bullshit“, jelas tak bisa mengabaikan fungsi sosial-nya sebagai lem perekat. Percaya atau tak percaya Tuhan, anda tetap butuh sebuah rumah, yaitu “masyarakat”. Jika rumah itu bubrah, akan terjadi dislokasi sosial dengan dampak negatif yang sangat luas dan bercabang-cabang.

Memakai Jilbab di Amerika

June 21st, 2008

Sebulan yang lalu, isteri saya baru saja mendapatkan izin kerja, working permit. Setelah itu, dia langsung sibuk melayangkan lamaran ke beberapa tempat, antara lain warung kopi Starbuck, warung waralaba yang mempunyai jaringan global itu.

Saat interview beberapa hari yang lalu, isteri saya bertanya kepada pihak manajer warung itu: apakah ada masalah jika dia memakai jilbab? Pihak manajer mengatakan: tak ada masalah.Kami malah senang menerima pekerja dari berbagai latar-belakang budaya, kata dia.

Tetangga apartemen kami, seorang pendeta berkulit hitam, baru saja menyelesaikan program Master of Divinity (MDiv) dan akan segera keluar meninggalkan apartemen. Resident Representative atau kepala apartemen tempat saya tinggal bernisiatif mengadakan pesta perpisahan. Acara itu berlangsung tadi malam: kami, warga apartemen, berkumpul di halaman rumput yang cukup luas di depan apartemen saya, untuk melakukan barbeque atau bakar-bakar daging.

Saat ngobrol, terlontar sebuah komentar yang menarik mengenai isteri dari seorang perempuan tetangga apartemen. Dia seorang kulit putih yang berasal dari pantai timur, California.

Perempuan itu bilang bahwa dia senang dengan isteri saya yang berjilbab, karena terbuka, selalu bergaul, dan tak pernah merasa “terisolir”.

Selama tiga tahun tinggal di Amerika di kawasan negara bagian Massachusetts, kami sekeluarga, terutama isteri saya, tak pernah mengalami sesuatu yang tak menyenangkan, katakanlah semacam “harassment“. Isteri saya memiliki sejumlah teman dekat, antara lain seorang perempuan “bule” yang datang dari latar belakang tradisi Quaker (sekte Kristen yang dikenal karena sikap toleran), seorang perempuan Yahudi yang berasal dari Israel, seorang perempuan Katolik yang berasal dari Venezuela dan bersuamikan seorang lelaki asal Libanon, dan seorang perempuan dari Jepang (yang sekarang sudah “mudik” ke negerinya).

Mereka senang sekali bergaul dengan isteri. Mereka sadar bahwa seorang Muslim tak boleh makan daging babi. Dalam setiap kesempatan makan-makan di mana isteri saya diundang, mereka selalu ingin memastikan bahwa makanan yang dihidangkan tak mengandung daging babi.

Suatu hari, saya menerima telpon dari teman isteri saya yang “bule” itu, menanyakan tentang sejumlah hari raya dalam Islam. Saat itu kebetulan sedang menjelang hari raya Idul Adha. Dia bertanya, apa makna hari raya itu. Saya terangkan sekedarnya. Dia kemudian bertanya, apa yang seharusnya dikatakan kepada seorang Muslim saat merayakan hari raya Idul Adha. Dia ingin mengirimkan ucapan kartu selamat kepada keluarga saya berkenaan dengan hari-hari raya Islam.

Saya sendiri kebingungan menjawab pertanyaan dia. Sebab, selama ini memang tak ada ucapan khusus yang seharusnya dikatakan orang lain kepada umat Islam saat Idul Adha. Saya bilang kepada dia, “Just say, Happy Holiday of Sacrifice”. Beberapa hari kemudian, kami menerima kartu ucapan selamat dari perempuan bule itu, “Happy Holiday of Sacrifice”. Saya sungguh terharu.

Sepengetahuan saya, tak ada masalah yang serius dengan praktek jilbab di Amerika. Tentu ada beberapa insiden di sejumlah tempat, terutama setelah peristiwa 9/11. Tetapi secara umum, dalam penilaian saya, tak ada persekusi atau “diskriminasi” atas perempuan yang berjilbab di Amerika. Sekurang-kurangnya itulah yang dialami oleh isteri saya selama ini.

Beberapa waktu lalu, isteri saya sempat menonton pertandingan baseball di stadium milik Red Sox, tim baseball kebanggaan Boston, di kawasan Fenway. Dia mungkin satu-satunya perempuan berjilbab yang ada di tengah lautan penonton saat itu. Itulah kesempatan pertama isteri saya menonton pertandingan baseball. Selama pertandingan berlangsung, isteri saya malah sibuk “jeprat-jepret”. Tindakan isteri saya itu menarik perhatian seorang penonton, “Baru pertama kali menonton ya?”

Isteri, dengan tersenyum tersipu-sipu, bilang, “Ya.”

Banyak teman Indonesia yang memiliki isteri berjilbab di kawasan Boston ini. Sejauh pengetahuan saya, tak ada pengalaman buruk yang mereka alami tinggal di kota Boston ini. Kesan saya, masyarakat Amerika di kawasan negara bagian Massachusetts ini cukup toleran (bahkan toleran sekali) terhadap keragaman ekspresi agama.

Di Universitas Harvard tempat saya belajar saat ini bahkan ada kebijakan baru yang sungguh “mencengangkan” buat saya, yaitu disediakannya jam khusus untuk perempuan Muslimah yang ingin memakai gedung jimnastik. Biasanya, mahasiswi yang beragama Islam, terutama yang berjilbab, kurang merasa “sreg” untuk olah-raga bersama kaum laki-laki. Demi menghargai “keyakinan kaum Muslim”, pihak kampus mengambil kebijakan untuk menyediakan waktu khusus bagi perempuan Muslimah yang ingin melakukan “exercise”. Apakah mungkin universitas Islam melakukan hal seperti ini?

Umat Islam di Amerika nyaris memiliki kebebasan yang penuh untuk melaksanakan ajaran agama mereka. Umat Islam dari seluruh sekte dan aliran bisa berkembang dan dipraktekkan dengan bebas di negeri “sekuler” yang kerap dikutuk oleh sebagian umat Islam itu.

Selama ini, sebagian kalangan Islam memiliki pandangan yang keliru bahwa sistem sekuler memusuhi agama. Pandangan semacam ini jelas keliru, terutama dalam konteks Amerika. Sistem sekuler mencoba menegakkan prinsip di mana negara tidak mencampuri urusan keyakinan dan praktek keagamaan penduduknya. Semua orang diberikan kebebasan untuk melaksanakan keyakinan asal tak mengganggu umat yang lain.

Di bawah sistem inilah umat Islam di Amerika memiliki kebebasan penuh untuk berdakwah dan menjalankan keyakinan mereka secara leluasa.

Ben, Billy dan Pesta Ulang Tahun di Amerika

June 20th, 2008

Anak saya yang pertama, Ektada Bennabi Mohamad (artinya: Meneladani Nabi Muhammad), biasa kami panggil Ben, seringkali diundang untuk menghadiri pesta ulang tahun teman-teman sekelasnya di sekolah.

Pagi ini, misalnya, dia diundang untuk menghadiri ultah teman sekelas yang tinggal tak terlalu jauh dari apartemen saya, kira-kira 1,5 km dari apartemen saya di kawasan Newton Centre.

Ben sekarang duduk di kelas empat SD di Bowen School, salah satu public school terbaik di negara bagian Massachusetts. Kalau anak saya belajar di sekolah terbaik bukan karena saya kaya dan punya duit banyak, tetapi karena saya tinggal di dekat sekolah itu. Di sini, dikenal semacam “zoning” atau pembagian wilayah. Setiap penduduk yang tinggal di dekat sekolah tertentu, maka dia berhak sekolah di sana. Jangan lupa, pendidikan pada tingkat SD, SMP dan SMA di Amerika adalah gratis, hingga ke makan siangnya (tentu jika anda berasal dari keluarga miskin).

Anak saya yang kedua, Ektada Bilhadi Mohamad (artinya: Meneladani Muhammadi, seorang pemberi petunjuk), biasa kami panggil Billy, juga mengalami hal serupa: kerap diundang ke pesta ulang tahun teman-temannya sekelas. Sepanjan tahun, undangan itu selalu kami teruma, entah via ruat, telpon langsung, atau email.

Apakah istimewanya diundang ke pesta ulang tahun? Bukankah pesta ulang tahun adalah hal biasa atau malah sepele? Bukankah itu adalah “bid’ah”, karena tidak pernah ada pada zaman Nabi? Bukankah itu bagian dari tradisi dan kebudayaan Barat?

Undangan semacam secara “psikologis” dan budaya sangat penting bagi saya sekeluarga. Undangan semacam itu menandakan bahwa masyarakat sekolah tempat anak-anak kami belajar menerima kami sebagai bagian dari mereka. Undangan itu menandakan bahwa terjadi proses “inklusi” atau penerimaan “orang asing”, bukan “eksklusi”. Tentu “menerima” di sini adalah secara simbolik. Tetapi, dalam kehidupan sosial, bukankah hal-hal yang simbolik sangat penting maknanya?

Tentu, pesta ulang tahunnya itu sendiri tidak terlalu istimewa. Sejauh yang saya alami selama ini, anak saya menghadiri ulang tahun yang dilaksanakan secara sangat sederhana; misalnya makan-makan pizza, main bersama, kadang pergi ke sebuah tempat jimnastik untuk bermain olah-raga, kadang nonton film kartun, kadang pergi ke tempat bermain bowling untuk anak-anak, atau baseball (olah raga yang menjadi ciri khas kebudayaan populer masyarakat Amerika). Kadang sekedar main bersama di “play-ground” yang biasa disediakan di komplek perumahan.

Mei yang lalu, saya adakan ulang tahun untuk anak saya yang pertama, Ben. Karena saya tak mempunyai uang yang cukup (maklum, mahasiswa), saya adakan saja pesta itu di halaman rumput yang luas di depan apartemen saya. Karena apartemen saya berada di puncak sebuah bukit kecil, dikelilingi pohon-pohon yang lebat, mirip sebuah hutan kecil, isteri saya, Ienas Tsuroiya, mengusulkan ide yang menurut saya sangat cemerlang: kenapa tak mengadakan permainan “mencari jejak”.

Saya undanglah beberapa teman mahasiswa Indonesia yang kuliah di MIT (Massachusetts Institute of Technology) dan Boston University untuk ikut membantu meng-handle permainan cari-jejak itu. Datanglah beberapa teman seperti Rezy Pradipta, salah satu siswa Indonesia yang pernah memenangkan Olimpiade Fisika dan sekarang kuliah di MIT, ada Yogi Koesanto yang juga mahasiswa MIT, dan Pur Wijiyanti, guru sebuah sekolah swasta di Jakarta yang sedang belajar di Boston University.

Idenya sederhana: ada sejumlah pertanyaan yang tertulis dalam secarik kertas yang disembunyikan di tempat-tempat tertentu dalam sebuah rute yang sudah kami tentukan. Tugas anak-anak adalah menemukan secarik kertas itu lalu menjawab pertanyaan yang ada di sana. Berdasarkan kecepatan dan ketepatan jawaban, kami menentukan skor masing-masing grup, lalu memberi “reward” kepada grup dengan skor tertinggi. Kami membagi anak-anak yang hadir ke dalam dua grup.

Sebagai cerminan dari rasa “nasionalisme kecil-kecilan”, saya selipkan pertanyaan sederhana: Di manakah letak Bali? Di Indonesia, India, Jepang atau Amerika? Saya senang karena dua grup menjawabnya dengan benar: INDONESIA! Sekedar informasi: tidak semua orang Amerika tahu bahwa Bali adala bagian dari Indonesia. Ada banyak yang beranggapan bahwa Bali adalah negara tersendiri yang letaknya entah di mana.

Usai cari-jejak, anak-anak kami suguhi pizza yang harganya sangat murah. Mereka menyantap pizza seraya bermain di halaman rumput yang luas di depan apartemen saya. Beberapa orang tua hadir dan menonton anak-anak mereka bermain, berkejar-kejaran, bermain bola, naik sepeda, berteriak, seolah dunia hanya milik mereka semata. Sungguh, mereka gembira sekali. Saya nyaris menitikkan air-mata.

Dan saya bersama isteri tentu juga gembira karena berhasil mengadakan pesta sederhana untuk anak saya. Ben, anak saya yang pertama itu, sangat puas dengan pesta sederhana itu, karena bisa bersosialisasi dengan anak-anak di sini.

Kehidupan sosial, di manapun, akan berjalan secara sehat jika dilaksanakan berdasarkan asas “inklusi”, yaitu menampung orang lain yang berbeda, bukan eksklusi, yaitu menampik atau malah menggusur orang lain yang kita anggap beda atau “sesat”.

Momen-momen seperti ulang tahun itu adalah momen “inklusi”, momen koeksistensi yang akan memperkuat “social fabric”, anyaman kehidupan sosial. Momen seperti itu juga akan memperkaya tekstur hubungan sosial dalam masyarakat.

Saya tak peduli pada mereka yang memandang praktek sosial seperti ulang tahun itu sebagai bid’ah atau budaya Barat yang “kafir”. Buat saya, yang penting adalah bagaimana anda bisa membangun kehidupan sosial yang berlandaskan pada asas inklusi, saling menghargai, bukan saling curiga, apalagi menyesatkan.

Bukankah kehidupan seperti itu jauh lebih sehat?