Potret diri

Saya lahir pada 11 Januari 1967 di sebuah kampung bernama Cebolek, sebuah desa yang terletak sekitar 30 km ke arah utara dari kota Pati. Bagi yang mengenal sejarah sastraw Jawa, nama desa saya ini diabadikan dalam sebuah serat (istilah Jawa untuk “treatise” dalam bahasa Inggris atau “risalah” dalam bahasa Arab) yang bernama Serat Cebolek. Serat itu mengisahkan tentang seorang kiai mistik pengikut teori wahdatul wujud (kesatuan wujud), yakni Kiai Mutamakkin. Pandangan kiai ini dianggap sebagai “gangguan” oleh penguasa resmi di Keraton Surakarta, yang dalam hal ini diwakili oleh Ketib Anom. Terjadilah pengadilan atas atas Kiai Mutamakkin yang juga dikenal sebagai Kiai Cebolek itu.

Saya adalah generasi kedelapan dari keturunan Kiai Mutamakkin (di desa saya biasa dikenal Mbah Mutamakkin), demikian menurut silsilah yang saya terima dari orang tua saya. Hampir seluruh kiai yang ada di desa saya (termasuk kakek saya dari pihak ibu) adalah keturunan dari Kiai Cebolek ini.

Saya lahir di sebuah lingkungan santri yang sangat tradisional sekali. Kakek saya, Kiai Muhammadun dari desa Pondohan, adalah seorang ‘alim yang meskipun secara keseluruhan pandangan-pandangan keagamaannya fleksibel tetapi juga dalam beberap hal kaku dan “keras”. Dia, misalnya, tidak memperbolehkan seorang perempuan untuk sekolah, mungkin berdasarkan fatwa yang diberikan oleh Ibn Hajar al-Haitami (w. 1566) yang termuat dalam bukunya, “Al-Fatawa al-Haditsiyyah”. Oleh karena itu, tidak ada satupun anak perempuan kakek saya itu yang masuk sekolah. Mereka dididik sendiri secara “partikelir” di rumah oleh kakek saya. Meski demikian, ayah saya (dia lama berguru dengan kakek saya itu) tidak setuju dengan fatwa ini dan lebih memilih menyekolahkan saudara-saudara perempuan saya. Ayah saya semula masih ragu-ragu, tetapi setelah didukung oleh ibu saya, dia akhirnya menjadi mantap pendapatnya. Semula dia, tentu, ragu berlawanan pendapat dengan gurunya sendiri yang sangat dihormati itu. Ibu berpandangan bahwa zaman sudah berubah, dan karena itu dia tak bisa lagi mengikuti pendapat kakek saya, meskipun pendapat itu didasarkan pada “fatwa” ulama yang dianggap sebagai otoritas penting dalam mazhab Syafi’i, yaitu Ibn Hajar al-Haitami. Ibu saya yang tak pernah sekolah itu ternyata berpikir secara kontekstual. Pengalaman kecil dalam keluarga ini mempunyai pengaruh yang mendalam pada diri saya dan membentuk cara saya dalam memahami Islam pada tahap-tahap selanjutnya.

Ayah saya mengelola sebuah pesantren, yaitu Mansajul ‘Ulum (Tempat Menganyam Ilmu). Ini bukan pesantren besar. Santrinya paling banyak adalah 30 orang, pernah mencapai 70, tetapi merosot lagi pada angka semula. Ayah saya memang dikenal keras dalam mendidik santri; tentu “keras” dalam pengertian positif. Dia mendedikasikan diri untuk pengajaran ilmu-ilmu Islam, dan dia tak pernah main-main dengan pekerjaannya itu. Oleh karena itu, dia menuntut ketekunan dan kerja keras dari santri dalam mempelajari ilmu. Karena sikapnya yang “keras” inilah banyak santri yang tak kerasan mondok di pesantren saya. Ayah saya mendidik saya dengan keras sekali. Meskipun kadang-kadang saya merasa bahwa kekerasan itu berlebihan, tetapi secara keseluruhan saya berterima kasih kepada orang-tua yang telah mendidik saya dengan cara yang sangat “spartan”, kadang militeristik. Salah satu didikan penting yang saya peroleh dari ayah adalah di bidang tata-bahasa Arab atau nahwu (nahw). Ayah saya dikenal sebagai seorang kiai yang memiliki keahlian lebih di bidang ini. Teks dasar yang saya pelajari dulu adalah berjenjang, mulai dari Jurumiyyah, ‘Imrithi, dan Alfiyyah. Itu adalah teks klasik standar yang dipelajari santri-santri di bidang tata-bahasa Arab. Bahasa Arab memiliki tata-bahasa yang rumitnya mungkin sama atau malah melebihi bahasa Latin. Didikan yang keras di bidang tata-bahasa Arab dari ayah saya ini meninggalkan bekas penting pada diri saya: yakni disiplin dalam berpikir dan cermat dalam memakai bahasa. Karena didikan itu pula saya memiliki kecintaan yang mendalam pada bahasa. Ayah saya sendiri adalah pecinta bahasa Arab dan menggubah ribuan syair ber-meter (al-syi’r al-mauzun) dalam bahasa itu, mengikuti cara-cara yang lazim dalam tradisi syair Arab klasik.

Semula tentu saya hanya mencintai bahasa Arab, sebab bahasa itulah yang pertama kali diajarkan secara sistematis dan “ilmiah” pada saya di pesantren. Tetapi kecintaan saya pada bahasa mulai berkembang luas. Saya kemudian mencintai bahasa Indonesia dan dengan minat yang tinggi membaca sejarah sastra Indonesia. Saya membaca untuk pertama kali Majalah Sastra Horison pada tahun 1984 saat saya masih duduk di kelas 2 Aliyah (setingkat SMU), bernama Mathali’ul Falah. Saya membaca majalah itu dengan perasaan yang penuh penghormatan, sebab majalah ini dianggap sebagai satu-satunya otoritas berwibawa dalam bidang sastra Indonesia. Saya kemudian juga mencintai bahasa Jawa. Saya gemar sekali membaca majalah Panjebar Semangat, Jaya Baya, Parikesit, Joko Lodhang, dll. Majalah-majalah itu mungkin sekarang sudah tak terbit lagi, kecuali Panjebar Semangat. Suatu saat saya bermimpi untuk menulis mengenai pentingnya pembaharuan Islam dalam bahasa Jawa, bahasa yang saya cintai itu.

(Saya akan menyambung “potret diri” ini lain kali). Saya sedang sibuk sekarang.

69 comments

  1. Akmaludin says:

    Asal Nyeleneh… sy jg bisa!

  2. Kecerdasan yang tidak diikuti keimanan kepada Allah SWT, akan menjadikan kecerdasan manusia itu sebagai Tuhan yang baru dan membuat hukum berdasarkan hawa nafsu manusia yang akibatnya menisbikan/membuat segala sesuatu menjadi relatif dan jelas akhirnya manusia akan bingung sendiri dan merusak kehidupan di dunia, kecuali kecerdasan yang dibingkai oleh aturan/hukum dari sang Khalik/Sang Pencipta manusia yaitu “Allah SWT” (Al Quran dan As Sunnah) sehingga tidak akan sesat dan menyesatkan, karena memang manusia membutuhkan petunjuk dari Allah SWT untuk beribadah agar selamat dunia dan akhirat. …….Maha benar Allah SWT dengan segala firman-Nya.

  3. Tani says:

    Salam kenal,

    Mas Ulil, kalau saya ingin berbagi pemikiran dengan mengirimkan desertasi saya apakah Anda tertarik? Sangat berkaitan dengan issue2 pencarian Anda selama ini. Kalau tertarik silakan email ke saya ke Orang.Tani@gmail.com.

    Salam,
    Tani

  4. Hammas says:

    Selamat memperjuangkan Islam Rahmatan lil Alamin. Jutaan bahkan milyar an orang ada di belakangmu. Islam Moderat dan Islam Liberal siap memback up perjuanganmu. Hanya satu target kita,yaitu MENSADARKAN ISLAM FUNDAMENTALIS. Karena selama ini mereka bukan memperjuangkan dienul Islam tapi nafsu Islam. Selamat berjuang. Allahu akbar 3x. Allahumma shalli ala Muhammad 1x.

  5. gotholoco says:

    kutipan:

    Serat itu mengisahkan tentang seorang kiai mistik pengikut teori wahdatul wujud (kesatuan wujud), yakni Kiai Mutamakkin. Pandangan kiai ini dianggap sebagai “gangguan” oleh penguasa resmi di Keraton Surakarta, yang dalam hal ini diwakili oleh Ketib Anom.

    ——————

    Apakah Mas Ulil juga “pengikut” wahdatul wujud ?

  6. hanzolah says:

    salam kenal bang ulil, saya tertarik dengan pemikiran2 anda

  7. aji says:

    tungu aja di akherat

  8. Abu Zeydan says:

    Semogan anda mendapat Hidayah Allah…..
    Jgn bangga dengan ilmu-ilmu anda skrg ini, siapa tau istidroj…

  9. buddie says:

    Semoga Allah memberikan petunujk da HidayaNya kepada anda, Semoga Allah tidak Melaknat anda dengan pemikiran sesat anda, cepatlah bertobat sebelum nyawa anda dicabut Allah

  10. asiah says:

    Salam…

    Seperti bandul jam, semua yang tertolak ke titik ekstrim akan menghasilkan gerak balik ekstrim pula. Kesimpulan antara saya (hampir mencapai kesimpulan akhir), arus pemikiran liberal ikhwan adalah ekstrimitas bentuk lain. Dan islam mengajarkan keseimbangan dan pertengahan. Tesis saya tentang Ibn ‘Arabi dan disertasi saya tentang Ibn ‘Arabi, kesimpulan akhir saya Ibn ‘Arabi adalah orang yang berjuang mati-matian meyakini dan menyebarkan misi keseimbangan (mizan). Banyak orang berperang dengan saudaranya sendiri demi untuk berbuat baik pada ‘orang’ lain. Bagaimana kita bisa berdamai dengan orang lain kalau dengan hati dan dengan ‘dalam’ diri kita sendiri kita tidak bisa berdamai.
    Maaf ini keterpancingan saya yang pertama dan terakhir.

  11. jowomuslim says:

    mendengar kata “ulil” ….jadi ingat waktu kecil.. lihat acara tv anak-anak asuhan kak seto… Ulil (Ulat kecil) biar kecil, tapi lucu. ponakanku yang kecil paling seneng ama ulil. kalo pamannya ya dengan ulil yang ga kecil……
    lahap terus hijaunya daun-daun pengetahuan dan pencarian… terus ngenthung (kepompong) terus pecah jadi kupu-2 yang indah mewarnai dunia ini..
    salam …….

  12. Adriati Wiryawan says:

    Salam Ulil,…selamat ya anda sampai bisa kuliah di Harvard yang gaung kredibilitasnya gak diragukan lagi itu tapi setelah saya lihat profil-profil orang Indonesia yang mendapat kesempatan belajar disitu saya jadi melihat bahwa ternata orang-orang yang berkesempatan belajar disitu orang-orang yang mengurung pemikiran yang sejalur dengan pemikiran Amerika Serikat bukan murni karena kualitas intelektualnya, ini berdasarkan pengalaman saya pribadi selama berinteraksi dengan mahasiswa Indonesia di Boston….maka bila anda ingin masuk universita bergengsi Amerika jadilah penyambung lidah US di Indonesia :)

  13. kangtopa says:

    salam kenal gus ulil, bagimanapun juga aku harus manggil sampean gus karena jelek jelek gini aku kan pernah nyantri di pesantrennya mertua sampean, abah mustofa bisri, meskipun cuma sebentar, hehe….gus aku mau nanya kapn balik ke indonesia lagi, terakir aku lihat gus ulil kira2 setaun yang lalu waktu kongkow bareng GUSDUR di utan kayu. matur nuwus gus.

  14. ARMANMAULANA says:

    ulil = orang kampung yang silau dengan peradaban Barat modern

  15. rizal says:

    comment #63=another ignorant comment from ignorant person

    i wanna put your link on my blogroll, thanks!!

  16. irma14 says:

    Salam kenal dari Makassar…
    Salut ma pemikiran Mas ulil………
    Keep Fight Mas..

    jayalah indonesiaku

  17. olih solihin says:

    saya sempat kontra dengan mas Ulil, tapi setelah dipejari, ternyata saya jadi mengangguminya. Kapan ya..kita bisa bertemu di darat mas???

  18. ulil albab el-mifta says:

    Assalamu’alaikum pak ulil,…(harusnya panggil dik ulil, he,he…)
    pak gemana kabarnya..? smoga anda sklg dalam lindunganNYA amin….
    pak, saya sangat bangga dengan anda ternyata cucu ke delapan mbah surgi ahmad mutamakkin ada yang berani seperti anda…terus kan perjuangan anda…saya ingat waktu saya nyantri di kajen (meskipun sebentar)dan sering melihat diskusi anda di masjid kajen selepas jamaah dhuhur bersama gus in,kak obet,kang kholis sedan yg skrg di PKS,dan banyak lainya..pak ulil sudah kelihatan tegas dan berani.
    smoga sukses buat pak ulil dan keluarga.salam buat iben dan adiknya

    salam,

  19. kang topa says:

    ulil = orang kampung yang silau dengan peradaban Barat modern(hehehe… kebalik kali…….)

Leave a Reply