Saya lahir pada 11 Januari 1967 di sebuah kampung bernama Cebolek, sebuah desa yang terletak sekitar 30 km ke arah utara dari kota Pati. Bagi yang mengenal sejarah sastraw Jawa, nama desa saya ini diabadikan dalam sebuah serat (istilah Jawa untuk “treatise” dalam bahasa Inggris atau “risalah” dalam bahasa Arab) yang bernama Serat Cebolek. Serat itu mengisahkan tentang seorang kiai mistik pengikut teori wahdatul wujud (kesatuan wujud), yakni Kiai Mutamakkin. Pandangan kiai ini dianggap sebagai “gangguan” oleh penguasa resmi di Keraton Surakarta, yang dalam hal ini diwakili oleh Ketib Anom. Terjadilah pengadilan atas atas Kiai Mutamakkin yang juga dikenal sebagai Kiai Cebolek itu.
Saya adalah generasi kedelapan dari keturunan Kiai Mutamakkin (di desa saya biasa dikenal Mbah Mutamakkin), demikian menurut silsilah yang saya terima dari orang tua saya. Hampir seluruh kiai yang ada di desa saya (termasuk kakek saya dari pihak ibu) adalah keturunan dari Kiai Cebolek ini.
Saya lahir di sebuah lingkungan santri yang sangat tradisional sekali. Kakek saya, Kiai Muhammadun dari desa Pondohan, adalah seorang ‘alim yang meskipun secara keseluruhan pandangan-pandangan keagamaannya fleksibel tetapi juga dalam beberap hal kaku dan “keras”. Dia, misalnya, tidak memperbolehkan seorang perempuan untuk sekolah, mungkin berdasarkan fatwa yang diberikan oleh Ibn Hajar al-Haitami (w. 1566) yang termuat dalam bukunya, “Al-Fatawa al-Haditsiyyah”. Oleh karena itu, tidak ada satupun anak perempuan kakek saya itu yang masuk sekolah. Mereka dididik sendiri secara “partikelir” di rumah oleh kakek saya. Meski demikian, ayah saya (dia lama berguru dengan kakek saya itu) tidak setuju dengan fatwa ini dan lebih memilih menyekolahkan saudara-saudara perempuan saya. Ayah saya semula masih ragu-ragu, tetapi setelah didukung oleh ibu saya, dia akhirnya menjadi mantap pendapatnya. Semula dia, tentu, ragu berlawanan pendapat dengan gurunya sendiri yang sangat dihormati itu. Ibu berpandangan bahwa zaman sudah berubah, dan karena itu dia tak bisa lagi mengikuti pendapat kakek saya, meskipun pendapat itu didasarkan pada “fatwa” ulama yang dianggap sebagai otoritas penting dalam mazhab Syafi’i, yaitu Ibn Hajar al-Haitami. Ibu saya yang tak pernah sekolah itu ternyata berpikir secara kontekstual. Pengalaman kecil dalam keluarga ini mempunyai pengaruh yang mendalam pada diri saya dan membentuk cara saya dalam memahami Islam pada tahap-tahap selanjutnya.
Ayah saya mengelola sebuah pesantren, yaitu Mansajul ‘Ulum (Tempat Menganyam Ilmu). Ini bukan pesantren besar. Santrinya paling banyak adalah 30 orang, pernah mencapai 70, tetapi merosot lagi pada angka semula. Ayah saya memang dikenal keras dalam mendidik santri; tentu “keras” dalam pengertian positif. Dia mendedikasikan diri untuk pengajaran ilmu-ilmu Islam, dan dia tak pernah main-main dengan pekerjaannya itu. Oleh karena itu, dia menuntut ketekunan dan kerja keras dari santri dalam mempelajari ilmu. Karena sikapnya yang “keras” inilah banyak santri yang tak kerasan mondok di pesantren saya. Ayah saya mendidik saya dengan keras sekali. Meskipun kadang-kadang saya merasa bahwa kekerasan itu berlebihan, tetapi secara keseluruhan saya berterima kasih kepada orang-tua yang telah mendidik saya dengan cara yang sangat “spartan”, kadang militeristik. Salah satu didikan penting yang saya peroleh dari ayah adalah di bidang tata-bahasa Arab atau nahwu (nahw). Ayah saya dikenal sebagai seorang kiai yang memiliki keahlian lebih di bidang ini. Teks dasar yang saya pelajari dulu adalah berjenjang, mulai dari Jurumiyyah, ‘Imrithi, dan Alfiyyah. Itu adalah teks klasik standar yang dipelajari santri-santri di bidang tata-bahasa Arab. Bahasa Arab memiliki tata-bahasa yang rumitnya mungkin sama atau malah melebihi bahasa Latin. Didikan yang keras di bidang tata-bahasa Arab dari ayah saya ini meninggalkan bekas penting pada diri saya: yakni disiplin dalam berpikir dan cermat dalam memakai bahasa. Karena didikan itu pula saya memiliki kecintaan yang mendalam pada bahasa. Ayah saya sendiri adalah pecinta bahasa Arab dan menggubah ribuan syair ber-meter (al-syi’r al-mauzun) dalam bahasa itu, mengikuti cara-cara yang lazim dalam tradisi syair Arab klasik.
Semula tentu saya hanya mencintai bahasa Arab, sebab bahasa itulah yang pertama kali diajarkan secara sistematis dan “ilmiah” pada saya di pesantren. Tetapi kecintaan saya pada bahasa mulai berkembang luas. Saya kemudian mencintai bahasa Indonesia dan dengan minat yang tinggi membaca sejarah sastra Indonesia. Saya membaca untuk pertama kali Majalah Sastra Horison pada tahun 1984 saat saya masih duduk di kelas 2 Aliyah (setingkat SMU), bernama Mathali’ul Falah. Saya membaca majalah itu dengan perasaan yang penuh penghormatan, sebab majalah ini dianggap sebagai satu-satunya otoritas berwibawa dalam bidang sastra Indonesia. Saya kemudian juga mencintai bahasa Jawa. Saya gemar sekali membaca majalah Panjebar Semangat, Jaya Baya, Parikesit, Joko Lodhang, dll. Majalah-majalah itu mungkin sekarang sudah tak terbit lagi, kecuali Panjebar Semangat. Suatu saat saya bermimpi untuk menulis mengenai pentingnya pembaharuan Islam dalam bahasa Jawa, bahasa yang saya cintai itu.
(Saya akan menyambung “potret diri” ini lain kali). Saya sedang sibuk sekarang.
45 responses so far ↓
1 sahlul // Jan 6, 2008 at 10:05 pm
Wah, setelah hampir setahun, dikau menulis di blogmu lagi… dan ternyata, dikau ditunggu2 para penggemarmu yang juga ngeblog, mas.
Kira-kira, ini kira-kira lho, lima hari sebelum ulang tahunmu ini, kejutan apa yang akan engkau keluarkan untuk menyambut ulang tahunmu. Ini pasti seru, bukan?
2 dodo // Jan 7, 2008 at 10:02 pm
Assalamualaikium….
Mas Ulil mungkin saya salah satu dari sekian banyak “penggemar” tulisan-tulisan mas. Hampir smua buku yg mas tulis saya punya ( walaupun sebagian besar fotocopy an). Membaca tulisan mas sungguh membuka waawasan saya tentang Islam, memberikan pencerahan.Mas, jgn berhenti berkarya.Tlg info buku2 tentang islam liberal atau pemikiran tokoh2 islib lain agar bs menambah ilmu saya. Terima kasih
3 eddy al banjari // Jan 18, 2008 at 10:42 am
Mas Ulil, salam kenal kembali…, mudah2an masih ingat waktu ke Jepang dulu. Saya di NU-Nihon waktu itu, kebetulan bisa ketemu sampeyan dan naik kereta api….ampe nyasar segala..hehehe
4 Faqih // Jan 27, 2008 at 12:34 am
Apakabar mas? Selamat ya, sepertinya setelah mendekam di Amrik, tulisan2nya semakin menukik aja. Semoga diparingi panjang umur mas dan tetap memperjuangkan apa yang antum anggap benar.
Penggemar
5 wahyu widodo // Feb 6, 2008 at 11:05 am
kang kapan kembali ke indonesia, ojo lali sama NU-nya. ya
6 didik oseng // Feb 7, 2008 at 7:46 pm
Bung, salam kenal…
Saya mencari jejak Anda, Anda sering saya jumpai di majalah Hidup,… ketemu di google.
Anda juga termasuk dalam barisan filsuf Indonesia, Selamat!!!
Sebetulnya banyak yang akan saya diskusikan dengan Anda, …
Banyak tentang Islam dan perkembangannya.
Hendak dibawa ke mana Islam kita,
saat ini sudah jaman akhir, tapi Islam di sini masih seperti kemarin sore datang ke ibu pertiwi…
Sudah seharusnya Islam mencapai kejayaan, namun hingga kini tak juga muncul tanda-tandanya. …
7 nadhif // Feb 18, 2008 at 7:13 am
pak ulil,
smg Allah menerangi jalan hidup panjenengan, menjadikan yang benar tampak benar, dan memberi panjenengan kekuatan untuk mengikutinya. smg pula yang salah tampak salah, dan panjenengan diberikanNya kekuatan untuk menjauhinya. amien.
*tentu saja “benar” dan “salah” menurutNya, yg sama sekali tidak nisbi. salam manis.
8 Ridho // Feb 19, 2008 at 11:28 pm
anda hebat!!!, saya salut dengan anda.
9 M. Nova B. // Feb 23, 2008 at 2:50 am
Terus terang setelah saya membaca tulisan-tulisan Mas, saya semakin semangat belajar. Orientasi saya juga berubah 180 derajat. Dulu waktu mondok,saya begitu cinta dengan Bahasa Arab (mirip dengan cerita mas).Bahkan saking senangnya,saya mensakralkan Bahasa Arab. Bahwa tak ada bahasa yang paling harus dipelajari kecuali bahasa arab.Saya ketika itu begitu benci bahasa Inggris. Tak heran Nilai bahsa Inggrisku waktu itu jeblok. Sekarang, saya tertarik dengan bahsa Inggris. Bagi saya,perubahan itu bukan karena tatabahasanya, tapi lebih menyangkut ide-ide segar dimana ide-ide segar itu dituliskan. Saya melihat stok ide-ide segar dalam bahasa arab mulai berkurang.(Saya sedang sekolah di Universitas Al Azhar, Mesir)Sebaliknya ide-ide segar berbahasa Inggris semakin banyak. Karna itulah saya tertarik bahasa Inggris.
Saran:Buku-buku berbahasa Inggris yang keren. (keren,mas Ulil sudah tahu kan maksud saya)
10 Fashihullisan // Feb 28, 2008 at 10:09 am
Kang Ulil (Meski Gus tapi di pati kan enggak ada Gus, yang ada Kang, mungkin peninggalannya Mbah Muttamakin juga ini), saya juga tetangga sampeyan dari Pati.
Dari sisi historis, Pati memiliki pengalaman tentang potret perlawanan budaya pesisiran terhadap praktek budaya pedalaman yang cenderung feodal, monosentris, dogmatis dan bahkah kooptatif.
Saya merasa sangat bangga pada Kang Ulil, yang berani meneruskan hirroh keislaman yang demokratis sehingga tidak mudah dikooptasi oleh kekuasaan dan keserakahan.
Sebagai orang pati saya merasa sangat sedih ketika melihat mulai langkanya Kyai yang berani bersuara dan tidak mau di bawah bayang-bayang kekuasaan. Mungkin karakter ini sudah ikut dibawa oleh para Kyai yang kita hormati integritasnya yaitu seperti Mbah Kyai Madun (kakek Kang Ulil), Mbah Kyai Abdullah Salam (Paman Kyai Sahal). Dari beliau-beliaulah kita dapat berguru bahwa dalam keberagamaan memiliki integritas dan otonomi tersendiri yang tidak harus menjadi sub ordinat dari negara dan kekuasaan.
Maka saya sangat trenyuh pada cerita ketika Gus Dur (yang waktu itu presiden) mau sowan ke Mbah Dullah Salam, tetapi beliau menolaknya karena mengangap Gus Dur sebagai seorang presiden. Kekhawatiran Mbah Dullah cukup beralasan, karena hal itu akan menjadi preseden buruk ketika otoritas keulamaan di kooptasi oleh otoritas kekuasaan.
dari uraian itulah besar harapan kami pada Kang Ulil, untuk menjadi seorang Kyai masa depan yang mampu menegakkan integritas keilmuan dan keulamaan dengan berdiri tegak di belakang kepentingan kerakyatan dan keummatan, untuk selalu menjadi kekuatan penyeimbang dalam berhadapan dengan kekuasan yang cenderung dominan.
terima kasih kami sampaikan pada Kang Ulil, yang telah dan selalu memberikan penyegaran-penyegaran dalam jiwa dan pikiran kita semua.
“kebesaran Tuhan tidak akan menjadi kecil hanya dari pikiran-pikiran manusia”.
11 Noka // Mar 6, 2008 at 4:44 am
Saya hanya berdoa semoga NU punya semakin banyak orang-orang seperti sampeyan dan duduk di kepengurusan organisasi untuk membesarkannya dari dalam.
12 dirga // Mar 13, 2008 at 2:57 pm
ass.
terimakasih anda telah mencerahkan Islam dengan segala pemikiran yang ada.
13 Finally Woken // Apr 10, 2008 at 3:22 am
Mas Ulil, semoga tidak keberatan blog-nya saya list dalam Indonesian Expatriates Forum?
14 Wahyu Widodo // Apr 13, 2008 at 9:39 am
Asalamu alikum,Kang Yo opo kabare? email atau no HP yang bisa dihubungi biar diskusinya enak kang tlg dikasih tahu.suwun.wasalam
15 Fashihullisan // Apr 21, 2008 at 4:00 pm
Sekali lagi di Indonesia terjadi penghakiman pada kepercayaan seseorang. Hal itu dilihat dari penyesatan pada saudara kita Ahmadiyah. Mereka dianggab sesat sehingga dilarang hidup dan tinggal di Indonesia, bahkan Hak Asasi mereka untuk hidup pun mulai dilanggar dengan cara mengancam dan merusak fasilitas kehidupan mereka.
Itu semua dilakukan oleh orang-orang yang hafal dengan sangat jelas ayat Al-Qur’an: “Lakum dinukum waliyadiin”. Tapi sekali lagi dengan atas nama sok benar, dilakukan penghakiman dan penghancuran pada orang yang memiliki keyakinan berbeda. Tentu saja yang aneh adalah bila hal itu dilakukan oleh aparatus negara dan juga para orang yang mengaku dirinya Ulama’. Naudzu Billah. Dan ternyata mereka juga lupa apa yang disampaikan oleh Nabi: Buistu li utammima makarimal Ahklaq.
Kita betapa heran, ketika negara sudah menyepakati pemakaian model trias politica, yang berarti negara di topang oleh kekuasan legislatif, eksekutif dan yudikatif. Akan tetapi pada fatwa penyesatan Ahmadiya, justru Pemerintah lewat kejaksaan Agung tidak mematuhi asas trias politica karena menghukum jamaah ahmadiyah tanpa melalui proses peradilan. Maka apa salah ketika ini kita katakan sebagai sebuah anarki? Dan tindakan anarki ini, diikuti juga oleh saudara-saudara kita sambil meneriakkan kebesaran Allah, melakukan tindakan anarkis. Tentu sungguh aneh, bukan.
Penyesatan Ahmadiyah haruslah lewat suatu pengadilan, dengan proses-prosesnya, yang tentu saja mulai dari proses penuntutan, pembelaan sampai pengambilan keputusan. Tentu saja, kejaksaan harus menuntut Ahmadiyah melakukan kesesatan, lalu mengadirkan saksi yang menguatkan seperti dari MUI (karena MUI sebetulnya bukan lembaga Hukum dan lembaga Negara), kemudian diikuti oleh pembelaan dari teman-teman Ahmadiyah dan juga orang-orang yang membelanya. Kemudian Hakim dapat memutuskan apakah Ahmadiyah tetap Islam, atau sudah tidak dalam dikatakan berkategori Islam. Apabila hal ini dilakukan, meski terkesan formal, tetapi asas keadilan akan sedikit tercapai.
Proses sebagaimana yang saya sampaikan itu, tentu saja tidak boleh diikuti juga oleh fatwa, bahwa orang Ahmadiyah tidak boleh berkeyakinan Ahmadiyah lagi. Karena pada hakikatnya setiap manusia mempunyai persepsi dan tafsir tersendiri, akan Tuhan, ajaran Tuhan dan bahkan hal itu juga dijamin oleh Pancasila dan UUD 45. Maka kita tentu tidak dapat memaksa orang lain menyesuaikan keyakinan dengan keyakinan kita. Nabi dan para Rosul saja yang merupakan delegasi yang ditunjuk Tuhan saja tidak pernah melakukan hal itu. Apa kita merasa lebih benar dari Nabi dan Rosul?
16 dimas // Apr 26, 2008 at 12:33 pm
mas ulil, saya ragu anda beragama islam.
saya ingin lihat foto anda sedang sholat jum’at.
17 hendro // Apr 26, 2008 at 12:38 pm
agama islam itu bukan hasil interpretasi
agama islam itu ibadah yang syariatnya sudah jelas
bukan hasil renungan kyai
bukan hasil rapat NU
orang hasil didikan NU ko kayak gi\us dur semua yah?
Gak jelas-jelas semua, ujung-ujungnya kalau jadi pejabat pada korupsi.
jelas agamanya cuma di otak gak pernah ada di hati.
18 M. HIRZUDDIN // May 6, 2008 at 10:34 pm
Assalamu”alaikukm Wr. Wb.
mas Ulil saya salah satu penggemar anda, terutama karena pemikiran anda yang Liberal.
saya suka anda yang melihat realitas (islam) bukan dari kulit luar, instansi atau sebagainya.
mas sekedar mau tanya pendapat mas tentang kasus Ahmadiyah.
saya melihat ada dua ide besar dalam kasus ini dalam pensikapannya masing kelompok.
yang pertama: mereka yang Pro (walaupun tidak bisa di katakan sutuju) menilik kasus ini dari sudut pandangan mereka sebagai warga negara dan warga dunia. singkatnya pelarangan tersebut melanggar UUD kita, UU Ham Dunia. tapi bagi saya sendiri mas, saya tetap berpegang pada “La Ikroha Fi al-Din”
yang kedua: mereka yang kontra melihat kasus ini dari kaca mata Syari’at. bahwa syari’at Ahmadiyah sudah jauh melenceng dari yang bisa dikatagorikan islam. dan mereka juga mengklaim ini sebagai penistaan agama.
mas saya sangat tertarik dengan yang anda katakan sebagai “maqosid syariah” yaitu nilai universal yang terkandung dalam Islam…
saya ingin pendapat anda tentang kasus Ahmadiyah ini. terutama jika dikaitkan dengan “maqosid syariah” dan prinsip-prinsip kahidupan berbangsa dan bernegara.
terima kasih_____
Wassalamu’alaikum Wr. Wb
19 ahmad hamzah // May 19, 2008 at 12:18 pm
asalamualaikum wr.wb
semoga dengan menimba ilmu di negeri yg “penuh kekerasan” menjadikan Mas Ulil kembali kepada pemahaman islam yang lurus kembali
20 dayat kebumen // May 19, 2008 at 7:35 pm
hahahaha… kalo baca tulisan Mas Ulil, aku jadi ingat jaman masih hapalan Jurmiyah, ‘Imrithy dsb tiap malem di pondok, dan siangnya sekolah di ‘Aliyah… kebetulan begitu aku lulus dr ‘Aliyah langsung masuk FH UGM (ketemu Pak Fajrul Falaakh). Karena pikiranku dianggap paling ‘nyeleneh’, akhirnya aku disuruh pegang Divisi Pengkajian di mushola FH UGM. Disitulah otak pikiranku ikut “teracuni” oleh ide-ide Gus Dur, Cak Nur, Ahmad Wahib dsb… Ketika akhirnya aku baca tulisan Mas Ulil di Kompas di Musholla FH UGM (Menyegarkan Kembali Pemikiran Islam), aku langsung ketawa ngakak kencang banget… seperti baca pemikiran temen jaman masih di ‘Aliyah. hahahahaha… Yang laen pada dongkol, aku malah ketawa ngakak ngebaca tulisan itu… akhirnya aku undang orang-orang dari aktivis di Jogja ( Mas Jaddul Maula/LKIS, Hizbut Tahrir, PKS, Jama’ah Ahlul Bait Indonesia) untuk diskusi membahas pemikiran Mas Ulil tsb. Seru banget diskusinya… Generasi Muda NU Luar Pondok (DO dr Pondok) memang unik… liat aja anak2 PP Krapyak dan Nurul Ummah.. jadi inget masa kuliah dan mondok…
21 Fransiskus Nadeak // May 22, 2008 at 5:05 pm
Mas Ulil, tulisan-tulisanmu, sangat mencerahkan. Terus menulis, terus berkarya. Semoga Allah memberkati!
22 Adli Usuluddin // May 24, 2008 at 7:45 pm
Bung Ulil,
Ternyata darah Wahdatul wujud mengalir deras dalam diri Anda melalui Kiai Mutammakin. Saya mugkin bisa mengharap Anda akan terdorong untuk meneliti Ibn ‘Arabi seperti yang diusulkan Achmad Chojim dalam milis JIL. Kalau pemahaman ajaran Ibnu ‘Arabi mulai ada yang menyebarluaskan sepert penyebaran fundamentalisme, saya kira dunia Islam akan dapat berkembang dengan dinamis dan damai.
Saya mulai tertarik Ibnu ‘Arabi, cuma memang rada susah merubah paradigma berpikir untuk dapat memahami dengan baik. Mudah-mudahan dengan banyaknya pakar yang mengulas Ibnu ‘Arabi dalam komunitas milis atau pengajian di negeri kita ini, pemahaman akan lebih ter akselerasi. Dan pada akhirnya kita dapat lebih damai, tidak ada lagi tudingan penyesatan, karena toh semua adalah menuju Dia Yang Satu.
Salam dari Jakarta.
23 hans // Jun 11, 2008 at 1:45 pm
pendapat2 anda kadang2 bisa di terima tapi kadang2 gak bisa diterima saya kang ulil. jadi ikutan bingung nh
24 Made // Jun 11, 2008 at 3:02 pm
Saya non muslim. Prihatin rasanya melihat keseharian dunia Islam di muka bumi ini, khususnya Indonesia. Steven Covey menjelaskan bahwa segala seuatu berawal dari persepsi, dan persepsi dibentuk oleh berbagai latar belakang, salah satunya adalah pengajaran yang diterima seseorang.Bagi saya yang non muslim, pikiran-pikiran kebebasan yang di usung Kang Ulil dkk memberi arti khusus yang positif dalam memandang Islam yang sudah terlanjur jatuh ke dalam stigma negatif. Oleh karena itu, saya selalu tertarik dengan pandangan Kang Ulil dan senantiasa mengikuti tulisan-tulisannya. Agama dalam pengalaman dan pandangan saya pribadi telah sering menjadi lebih sebagai pemecah kesatuan kemanusiaan daripada sebagai perekat. Nah, di tangan orang-orang seperti Kang Ulil saya melihat ada harapan, bahwa Islam akan menjadi rahmat, bukan pembawa kiamat. Terus berjuang Kang, kebenaran akan mampu membela diri sendiri.
25 Erdosam // Jun 13, 2008 at 11:48 am
Salut we lah … !!
)
Bukan buat mas ulil-nya doang tapi yang ngasih komentarnya juga. (Seperti ane dong
26 Bhakti Hidayat // Jun 18, 2008 at 12:08 am
Ass wr wb, kang ulil cepat selesaikan studinya cepat pulang ke indonesia antarkan masyarakat ISLAM dan Indonesia kedalam kehidupan yang beradab menuju kemajuan adil makmur sejahtera gemah ripah lohjinawi, semoga Gusti Allah meridhoi dan merahmati kita semua. Amin. Wass wr wb.
27 rezi // Jun 21, 2008 at 9:21 am
nderek tepang mas, saya orang sumatera yang terdampar di jawa
dulunya saya lebih ke pluralis, mungkin karena HMI terus doktrinnya Cak Nur dll, tapi sekarang saya ingin seimbang dengan pengen banyak tahu juga tentang fundamentalis, mulai baca Eramuslim dll gitu, apa ada referensi lain tentang fundamentalis?
28 farikh // Jun 21, 2008 at 10:29 pm
mas ulil, kulo cah po, penggemar berat panjenengan. sejak membaca “membakar rumah tuhan” kula langsung jatuh cinta ma penjenengan. saya sangat sedih saat banyak yang menghujat antum. semoga mas ulil makin sukses dan sanggup menginspirasi para santri salaf macem saya untuk lebih inklusif. salam islib!!!
29 farikh ponorogo // Jun 21, 2008 at 10:32 pm
indonesia akan lebih baik dengan Islam Liberal dan kang Ulil sebagai Ra’is Akbarnya
30 Rahmat Hidayat Al Madawi // Jun 22, 2008 at 1:21 am
Ulil..Ketika Mendengar nama itu…Orang-Orang yang ingin menjaga kemurnian Aqidah Islamnya kan serentak mengucapkan La’natulloh ‘alaihi..Tanya Kenapa???
Yah..banyak pemikirannya yang nyeleneh..dan keluar dari dogma ajaran Islam yang memang sesuai dengan Firman Allah..:
“Alyauma akmaltu lakum diinakum….al ayah..”
Ulil..seseorang yang entah apa yang ada di kepalanya…sehingga Ia dengan sangat berani seperti itu???
Dan padahal Ia itu lahir dari kalangan pesantren…,,,
Tapi itulah jalan hidup yang sedang dijalani olehnya…Tapi Apakah Ia ingin mati Husnul Khotimah…Atau apakah memang Ia beranggapan kekal didunia ini….???
Udah ah…Capee..deeh…
Untuk Mas Ulil..Nikmati saja kehidupanmu yang sekarang ini..dan jangan pernah menyesal telah memilih JIL sebagai “Madzhab” hidupmu….
31 Ardy Widyarso // Jun 24, 2008 at 7:03 am
Bung Ulil
Teruskan upaya mencerahkan umat manusia !
Berfikir dan berbuat dengan visi universal adalah “trade mark” anda.
Saya mohon izin anda me LINK blog anda pada blogroll saya di: http://www.awidyarso.co.cc
Diberi izin atau tidak ….. saya tetep pasangkan.
Salam,
Ardy
32 bonari nabonenar // Jun 27, 2008 at 9:46 pm
majalah bahasa jawa yang masih ada sekarang; Jaya Baya, Panjebar Semangat, (keduanya terbit di Surabaya), Djaka Lodang (Jogja), Damar Jati (Jakarta). Selain itu ada media berbahasa Jawa yang memberi ruang/halaman untuk tulisan berbahasa JAwa: Suara Merdeka dengan Pringgitan-nya, dan Solo Pos dengan Jagad Jawa-nya. Demikian sekadar info. Terima kasih.
33 M. Aziz // Jun 30, 2008 at 12:44 pm
Mas Ulil, welcome back..
Biasanya saya jarang sependapat dengan Mas Ulil, kali ini ‘heran’ saya persis plek setuju dengan slogan Mas Ulil : Iman yang kuat tak akan takut pada keraguan. Iman yang dangkal dan dogmatis selalu was-was pada pertanyaan dan keragu-raguan.
Tul.. jangan dogmatis. Pakailah akal untuk membaca realita. Sip tenan..
BTW, akal nggak hanya sekedar membebek pada liberal lho, mas..
34 Obic Adnanie // Jul 1, 2008 at 10:00 pm
Kak Ulil yang dimuliakan Allah SWT dengan kecerdasan otaknya.
Sebelumnya saya hampir tidak bisa membedakan kata-kata pluralisme dengan sebuah nama besar Ulil Abshar Abdalla, karena keduanya persis seperti sisi koin yang tak dapat terpisah, anda telah benar-benar sukses dengan pendefinisian anda tentang Islam yang Rahmatan Lil Alamin, atau bahkan masalah gender yang tak pernah terpikirkan secara tepat seperti konteks pemikiran yang anda miliki.
Akan tetapi saya sedikit memiliki kekecewaan karena forum yang sangat menjadi lambang pemikiran mulia anda (www.islamlib.com) sedang mengalami kendala, sehingga saya merasa seperti kehilangan pandangan tentang indahnya pluralitas di mata Islam, saya sangat mengharapkan agar web tersebut terus Kak Ulil perjuangkan keberadaannya, karena JIL dan Kak Ulil lah yang benar-benar mampu memaparkan tentang makna-makna kesejukan Islam, Negara, dan Fungsi sosial.
Saya sangat ingin membawa dan menyuguhkan Islam searah dengan pemikiran Kak Ulil, akan tetapi saya mengalami kendala dan wadah yang layak untuk membentengi serta mendasari segenap pemikiran semenjak Web islamlib mengalami kendala, oleh karena itu saya sangat mengharapkan bimbingan langsung Kak Ulil melalui contac person 085295516764 atau e-mail : obic_adnanie@yahoo.co.id baik berupa informasi, saran maupun tulisan. Terimakasih.
Teruskan perjuanganmu, jangan sampai terhenti di tengah-tengah kegersangan Tho’if.
Penggemarmu,
Obic Adnanie
35 Obic adnanie // Jul 7, 2008 at 8:10 pm
Ass.Wr.Wb
Kak Ulil yang penuh dengan anugerh kecerdasan dari Allah SWT.
Kak, saya adalah salah satu dari ribuan bahkan jutaan penggemar tulisan dan prinsip-prinsip anda dalam endefinisikan agama Islam. Saya hanya ingin bertanya, bagaimana dengan kelanjutan Web yang anda bina selama ini (islamlib.com)? padahal web tersebut merupakan wadah terbaik untuk meneruskan segala perjuangan anda terhadap Islam. dan saya juga sangat ingin dekat dengan kakak, jika kak ulil sedang tidak sibuk tolong tengok saya melalui e-mail : obic_adnanie@yahoo.co.id, atau melalui dial 0852 95 51 67 64, karena saya sangat menginginkan saran dan dorongan dari kak ulil untuk ikut mendefinisikan Islam sebagai Rahmatan Lil-Alamin. Syukron.
Wass.Wr.Wb
Penggemar Beratmu
36 agustono prakoso // Jul 9, 2008 at 4:25 pm
Mas Ulil….salam kenal yach…disatu sisi saya melihat upaya anda untuk meyakini kebebasan beragama sebagai suatu yg perlu diapresiasi….namun disisi lain saya sangat menyayangkan dan sedih karena pemikiran ilmiah anda punya kecendrungan untuk melakukan dekonstruksi dan desakralisasi terhadap Al Qur’an …..sebagai muslim saya berharap semoga Allah SWT berikan petunjuk-Nya sesuai bacaan yg selalu kita baca saat sholat” ihdinash shiraathal mustaqiim” (tunjukilah kami ke jalan yang lurus)…..salam buat anda sekeluarga di Boston.
37 hisyam zamroni // Jul 13, 2008 at 11:18 pm
assalamu`alaikum.
salam untk kang ulil dan keluarga.
selamat kang.. sekarag sudah di negeri orang.. kalau belm cerdas ojo bali ya.. kalu hanya baru meniru-niru ilmune wong londo juga ojo bali ya.. kang ulil kalau pengin bali kudu wis membuktikan bahwa ilmu religi dan budaya bukan impor dari negara asing tapi dari cultur budaya bansa sendiri.
aku belum kagum dengan jenengan kalau jenengan pulang justru ahirnya asing dengan budaya jenenan sendiri. jenengan harus mampu mengkonrtruksi ulang budaya indonesia tanpa terpengaruh budaya asing. sekarang ini lucu lulusan luar negeri membawa ideologinya masing-masing. . yang lulusan amerika bawa ideologi amerika.. timur tengah, eropa, australia an lain-lain membawa ideolognya sendiri-sendiri. makanya indonesia carut marut begini..
nah jenengan pulang nantinya juga sama jangan asing di komnitas jenengan tapi jenengan harus melakukan grounded riset terhadap masyarakat bukan nyocok-nyocokno teori dengan masyarakat jenengan.
sekali lagi kalau belum cerdas jangan pulang dulu ya.. kalau belum ngerti bener budayamu jangan pulang dulu ya.. kalau belum tahu religimu ojo bali dulu ya..
kitab islam jawa seperti serat cebolek, kidung rumekso ing wengi dan lain-lain ora kala dengan bukunya orang-orang barat dan timur.. cuma jenengan asing denan bahasamu sendiri sehingga kitab-kitab klasik islam jawa yang penuh dengan relguisitas dan cultural justru kamu tidak paham. maka yen durung cerdas jangan bali disik yo..
cukp sakmene.. salam karo temen-temen sing ngangsu kaweruh di amrik dan lain-lain.
semoga sepulang dari dari amrik tidak malah bodoh dengan budayanya sendiri.
wassalamu`alaikum.
songko wong pulau terpencil karimunjawa jepara
hisyam zamroni
38 abdul // Jul 14, 2008 at 6:57 am
Dear Ulil,
Saya mau nanya, Tuhan itu ada gak sih, agama itu perlu gak sih, Mas ulil di dunia ini ada konsep “Benar dan salah” itu benar ga sih, kenapa harus ada kebenarana dan kesalahan, salah itu yang bagaimana dan yang benar itu yang bagaimana,Mas ulil kapan bikin kitab suci?
Mas ulil kalo jadi nabi dah siap lom?
39 agus salim ujung // Jul 24, 2008 at 4:10 pm
Cak Nur srng mengutip pesan Al-Quran, “janganlah seseorang menghina suatu kaum, krn yg memperolok-olok blm tentu lbh baik dr yg diperolok2″
Bagi saya Mas Ulil merupakan sosok pemikir muslim yang sll menarik dicermati telaahannya…salam kenal
40 boni // Aug 1, 2008 at 12:15 am
Mas Ulil ( lebih cocok Dik Ulil, karena saya lebih tua), tapi kalau soal pengetahuan saya jauh lebih muda.
Saya sangat senang dengan pemikiran anda, saya juga berpendapat bahwa orang harus selalu berpikir, tidak boleh mentah-mentah menerima kebenaran versi kitab suci. Kitab suci itu baik, tapi konteksnya jaman dulu, kuno!!! Kita dikaruniai otak untuk berpikir, tapi kalau hasil pemikiran tidak sama dengan kitab suci, kok dibilang sesat. Orang yang bilang kalau Mas Ulil sesat, dia sendirilah yang sesat. Termasuk MUI.
41 lovepassword // Aug 4, 2008 at 6:19 pm
Duh ternyata aku ketinggalan banget. Ulil Abshar Abdalla ternyata punya blog. Hi Hi hi….
Ada tempat bermain baru nih. La la la la ….
Pak guru, anak TK dapet mainan baru…..
La la la la la.
Tak intip dulu sambil malu-malu……
42 oktara // Aug 9, 2008 at 1:11 am
Akhirnya,Mas Ulil nulis lagi meskipun di blog.Posting yang sering ya mas.Dan juga kalau sempat nulis buku ya.
43 andri // Aug 13, 2008 at 4:18 am
ini dia blognya mas ulil,. salah satu pemikir islam yang sering menjadi korban “Character assassination” dari media massa kelompok puritan extrimis.
saya tidak memihak2 kelompok islam, hal yang baik saya masukin dalam hati, yang jelek dan merusak saya buang jauh-jauh2.
teruskan berkarya mas Ulil. Salam kenal.
44 Ibnu // Aug 18, 2008 at 10:46 am
Akhirnya di publis sekaligus diaktifkan juga Websitenya.
Makasih Mas Ulil atas saranaya.Cuma sayang belom mendapatkan respon lebih dari WI itu.
Salam rindu saja.
45 Lutfi // Aug 26, 2008 at 10:22 am
Mas Ulil Yth, antum telah menyia-nyiakan kecerdasan yang dianugerahi Allah. Kembalilah ke manhaj yang lurus, yaitu manhaj yang bersandar pada Al Qur’an dan As Sunnah berdasarkan pemahaman salafus shalih. Sungguh, kecerdasan antum bisa menjadikan antum ulama shalih besar sekelas Syaikh Albani jika antum tidak larut dengan kegelisahan di islam liberal.
Pintu hidayah Allah masih terbuka lebar untuk antum. Wassalam.
Leave a Comment