Tentang situs Faithfreedom: Surat kepada seorang teman

[Catatan: "Note" ini saya tulis untuk seorang kawan di Facebook yang menulis surat pribadi ke saya tentang kegundahannya karena membaca sejumlah bahan-bahan dalam situs Faithfreedom. Semoga catatan ini bermanfaat untuk teman-teman yang lain].

SECARA pribadi, saya kerapkali menerima email-email yang isinya menyerang Islam dan bahan-bahannya, antara lain, diambil dari situs yang terkenal, “Faithfreedom”. Situs ini dikelola oleh seorang ex-Muslim bernama Ali Sina.

Menurut saya, Ali Sina, dalam beberapa hal, sama persis dengan Hj. Irena Handono, seorang yang konon mantan biarawati dan kemudian masuk Islam. Keduanya sama-sama meninggalkan agama yang mereka peluk, Islam dalam kasus Ali Sina dan Katolik dalam kasus Irena. Keduanya sama-sama menjelek-jelakkan “bekas agama” yang pernah mereka peluk. Perbedaannya, Ali Sina keluar dari Islam untuk kemudian menjadi agnostik, alias tak memeluk agama lain. Sementara, Irena meninggalkan Katolik untuk memeluk agama lain, yaitu Islam.

Sikap kedua orang ini sama sekali kurang saya sepakati. Saya tentu menghormati sikap seseorang yang pada tahap tertentu dalam hidupnya merasa tidak puas pada agama “warisan” yang ia peroleh dari keluarganya untuk kemudian meninggalkannya sama sekali; entah meninggalkan agama itu untuk memeluk agama baru yang lain, atau meninggalkan agama sama sekali. Itu adalah bagian dari kebebasan agama yang harus kita hormati pada masing-masing orang. Tetapi menjelek-jelekkan agama yang pernah anda peluk, tentu tak etis, sama tak etisnya dengan anda pindah kerja dari sebuah kantor ke kantor lain, seraya menjelek-jelekkan kantor sebelumnya.

Saya termasuk orang yang tak suka pada semangat di balik situs faithfreedom. Situs ini, menurut saya, secara tersembunyi ingin “menyerang Islam” dengan tujuan untuk mempromosikan agama Kristen, walaupun hal ini dilakukan secara tidak terang-terangan. Cara seperti ini sama dengan yang dilakukan oleh kelompok Islam apologetik atau fundamentalis yang juga gemar menyerang dan mencari segala kejelekan agama lain, terutama Kristen, seraya ingin mempromosikan Islam sebagai agama terbaik.

Kalau anda mencari kejelekan agama, maka anda dengan mudah bisa menjumpainya. Semua agama mengandung kelemahannya masing-masing. Saya tak pernah setuju dengan siapapun yang mengatakan bahwa agama yang ia peluk adalah terbaik secara mutlak. Menurut saya, pandangan seperti itu tidak tepat. Kalau kita mau jujur, ada banyak kelemahan dalam semua agama: Yahudi, Kristen, Islam, Hindu, Budha, Konghucu, Taoisme, Zen, Sikh, Jain, Zoroastrianisme, dll. Tetapi setiap agama juga memiliki kelebihannya masing-masing. Saya menyukai metafor dalam dunia tasawwuf atau mistik: kebenaran adalah seperti cermin yang retak; masing-masing agama memungut secuil dari pecahan cermin itu.

Kalau pengelola situs faithfreedom ingin menunjukkan kelemahan Islam, antara lain melalui orang-orang eks-Muslim, dan sekaligus secara sembunyi-sembunyi ingin menunjukkan bahwa Kristen adalah terbaik, maka mereka jelas salah sekali. Kita bisa menemukan kelemahan yang sama dalam Kristen. Kritik yang keras pada sejumlah kelemahan Kristen sudah terlalu banyak ditulis oleh sejumlah kalangan, mulai dari para filosof, saintis, sampai orang-orang biasa, bahkan kalangan “dalam” Kristen sendiri.

Sekali lagi, kalau anda mau mencari kelemahan suatu agama, anda akan dengan mudah bisa melakukannya. Sebagian orang Kristen mungkin saja gembira sekali membaca bahan-bahan dalam situs faithfreedom itu, sebab bisa dipakai sebagai alat menyerang agama Islam. Begitu juga orang Islam akan gembira membaca serangan-serangan terhadap agama Kristen yang ditulis oleh para sarjana Barat misalnya. Banyak kalangan penulis Muslim yang gemar sekali mengutip sejumlah kritik terhadap agama Kristen yang dilakukan oleh sarjana Barat yang sebagian juga seorang Kristeb. Mereka seolah-olah hendak berkata, “Lihat saja, orang Kristen saja mengakui kelemahan agama itu.

Kalau kita mau memahami agama secara baik, maka cara seperti itu tidak terlalu banyak gunanya. Yang timbul dari sana hanya saling cerca dan ejek. Yang ingin saya kembangkan pada kalangan Islam adalah kesadaran positif bahwa masing-masing pihak harus sadar akan kelemahan dan kelebihannya masing-masing. Sikap semacam ini juga relevan dikembangkan dalam semua agama.

BAGAIMANA kita menanggapi kritik-kritik terhadap Islam seperti dilakukan oleh orang-orang semacam Ali Sina yang tulisan-tulisannya banyak dimuat dalam situs faithfreedom itu?

Walaupun saya tidak sepakat dengan semangat di balik situs faithfreedom, saya kadang-kadang membaca secara sekilas beberapa artikel yang ditulis oleh Ali Sina dan kawan-kawan. Kritik-kritik mereka terhadap Islam, dalam banyak hal, bermanfaat, terutama untuk mengimbangi sejumlah kleim kalangan Islam yang kadang-kadang agak “kebablasan”.

Kenapa saya tidak sepakat dengan semangat situs itu? Sebab situs itu mengajak umat Islam untuk keluar dari Islam dengan alasan bahwa Islam adalah agama yang sangat jahat dan buruk sekali. Sekali lagi saya katakan bahwa kalau kita mencari keburukan setiap agama, tentu saja ada saja celah-celahnya. Kita semua tahu, semua agama yang ada sekarang ini, lahir dari zaman pra-modern. Tidak mengherankan jika agama-agama yang ada itu mengandung banyak “kelemahan” dilihat dari sudut pandang kesadaran modern.

Tetapi jika kaca-mata seperti itu yang kita pakai, maka kita harus mengatakan bahwa sebaiknya semua orang harus meninggalkan semua agama, sebab pada semua agama itu akan kita jumpai banyak cacat dan kelemahan dilihat dari sudut pandang sensitifitas modern. Tentu saja, seseorang boleh saja mengambil kesimpulan seperti itu dan mengajak agar semua orang menjauhi agama. Di Barat saat ini sedang marak kecenderungan yang disebut “new atheism” yang memandang semua agama adalah jahat dan jelek. Para penggagas gerakan ini mengkritik semua agama tanpa pandang bulu, terutama Yahudi, Kristen dan Islam. Semua kejelekan agama dibongkar habis.

Contoh yang sangat baik adalah fakta tentang Nabi Muhammad yang mengawini Aisyah pada umur 9 tahun. Meskipun ada kalangan Islam apologetik yang mengingkari fakta itu, tetapi sumber-sumber Islam sendiri jelas mengakui kebenaran fakta tersebut. Apakah dengan demikian Nabi bisa kita sebut melakukan kejahatan pedofilia?

Dalam standar modern, jelas tindakan Nabi seperti itu bisa tampak janggal dan tak masuk akal. Bagaimana mungkin seorang nabi melakukan tindakan seperti itu?

Saya sebagai seorang Muslim akan mencoba menafsirkan fakta itu sebagai berikut. Saya berpandangan sejak awal bahwa tidak semua tindakan Nabi tepat untuk ditiru “mentah-mentah” dalam konteks sekarang, sebab kesadaran manusia terus berkembang, dan karena itu kesadaran mereka mengenai “yang baik” dan “yang buruk” juga ikut berubah. Pada zaman Nabi, praktek menikahi gadis di bawah umur boleh jadi tidak dianggap sebagai sesuatu yang buruk dan tak pantas. Tetapi, zaman berubah, dan kita sekarang memandang tindakan seperti itu sudah tak pantas lagi ditiru secara harafiah.

Tetapi juga tidak seluruhnya tepat menghakimi Nabi berdasarkan standar modern. Sebab, jika hal itu kita lakukan, maka semua agama bisa kita anggap mengandung cacat. Itu adalah sejenis anakronisme.

Situs faithfreedom menurut saya seperti seorang yang menulis biografi seseorang, tetapi dengan semata-mata menyorot aspek keburukan orang itu, tanpa menyinggung sedikitpun kebaikan orang tersebut. Membaca bahan-bahan dalam faithfreedom memberi kesan bahwa Islam seolah-olah agama yang seluruhnya buruk dan tak menyumbangkan kebaikan apapun pada peradaban manusia.

Anda bisa melakukan hal yang sama seperti ditempuh oleh situs faithfreedom itu kepada semua agama. Anda bisa saja menulis sebuah buku khusus untuk mengorek-ngorek kesalahan Kristen, Yahudi, Budha, Hindu, dst. Anda bisa menulis buku seperti itu dan mengesankan bahwa agama-agama itu sama sekali tak mengandung kebaikan apapun, bahwa agama-agama itu seluruhnya jelek.

Sekali lagi, cara seperti ini sama sekali tidak tepat dan hanya akan menimbulkan sikap fobia, rasialisme, dan kebencian antar golongan.

Dengan mengatakan itu semua, bukan berarti saya ingin agar kita semua diam tak usah mengkritik agama apapun. Sikap terakhir ini juga tak tepat. Inilah sikap yang dalam konteks Amerika sekarang sering disebut sebagai “political correctness” atau “religious correctness“. Menurut saya, setiap agama bisa dikritik dan seharusnya memang dikritik secara terus-menerus. Tetapi kritik di sini bukan dengan tujuan untuk mencari kejelekan semata-mata pada agama itu. Kritik di sini kita butuhkan untuk menyadarkan bahwa dalam agama yang kita peluk terdapat aspek-aspek yang lemah dan kita harus awas terhadap aspek itu agar tidak “lupa daratan”.

Saya selama ini melakukan kritik terhadap sejumlah doktrin dan penafsiran dalam agama Islam, tetapi saya tidak kehilangan iman dan kepercayaan pada agama saya.

Kekeliruan umat bergama selama ini adalah membayangkan bahwa agama haruslah sempurna seluruhnya dan tak mengandung cacat. Manakala ada pihak lain menunjukkan kelemahan agama itu, maka orang bersangkutan marah bukan main dan berusaha menolak sekeras-kerasnya adanya kelemahan itu. Ini sikap apologetik yang menurut saya tidak sehat.

Saya tidak pernah mempunyai bayangan seperti itu. Saya tidak membayangkan bahwa Islam harus seluruhnya sempurna dan tanpa cacat. Sebagai agama yang lahir pada zaman pra-modern, tentu Islam memiliki beberapa ajaran yang tak seluruhnya tepat dengan zaman sekarang. Oleh karena itu Islam harus ditafsirkan terus-menerus. Kritik terhadap sejumlah ajaran dalam Islam harus ditanggapi secara positif agar kita terus mencari rumusan yang tepat dengan konteks yang terus berubah.

Selama ini, saya sering mendapat email dan tanggapan yang dikirim secara pribadi ke saya. Banyak yang bertanya: kalau Sdr. Ulil mengkritik sejumlah doktrin dan ajaran dalam Islam, kenapa anda tidak pindah agama saja? Buat apa mengikuti sebuah agama yang anda anggap mengandung kelemahan? Kenapa tidak mencari agama yang lain saja?

Tanggapan saya?

Kalaupun saya pindah ke agama lain, situasi serupa akan saya hadapi juga. Setiap agama mengandung kelemahan, selain, tentu, kelebihan masing-masing. Kalau saya meninggalkan Islam dan memeliuk agama lain, saya akan memeluk agama yang akan memiliki kelemahan serupa.

Sikap yang terbaik, menurut saya, adalah bahwa setiap orang loyal pada agamanya masing-masing, mencoba memaksimalkan kebaikan-kebaikan yang ada pada masing-masing agama itu untuk membangun dunia yang lebih baik, seraya awas dan sadar pada kelemahan-kelemahan yang ada.

Saya tahu bahwa setiap umat beragama akan menganggap agamanya sebagai yang terbaik. Tak ada yang salah dalam sikap semacam itu, asal dalam proporsi yang wajar. Sikap seperti itu menunjukkan bahwa yang bersangkutan mempunyai kecintaan yang mendalam pada agama yang dipeluknya itu.

Setiap orang tua tentu bisa dimaklumi jika beranggapan bahwa anaknya adalah anak terbaik, anak yang menakjubkan. Asal sikap semacam ini terjaga dalam “dosis” yang wajar, menurut saya sehat saja. Sudah seharusnya kita masing-masing sunguh-sungguh pada agama yang kita peluk, loyal pada agama itu, memperdalam komitmen kita padanya. Tetapi, kita juga tak boleh berlebihan. Kita harus jangan lupa bahwa agama yang kita cintai itu boleh jadi tidak sesempurna yang kita bayangkan. Oleh karena itu, kita harus membuka diri pada kritik.

Inilah sikap keislaman yang saya anut selama ini. Semoga surat saya ini bermanfaat.[]

About Ulil Abshar-Abdalla

Iman yang kuat tak akan takut pada keraguan. Iman yang dangkal dan dogmatis selalu was-was pada pertanyaan dan keragu-raguan.
This entry was posted in Artikel lepas. Bookmark the permalink.

53 Responses to Tentang situs Faithfreedom: Surat kepada seorang teman

  1. sulaeman suparman says:

    Setuju sekali dengan konsep berfikir dan bersikap seperti Sdr. Ulil. Agama memang mempunyai dua sisi yang niscaya. Sebagai sebuah keyakinan, kebenaran Islam akan tertancap kuat dalam batin pemeluknya, tanpa rasa takut. Sebagai organized religion, Islam penuh carut-marut yang digoreskan oleh pemeluknya. Ini proses yang sangat alami, gejala yang sama saya yakin terjadi pula pada agama lain. So kalau begitu … Marilah kita nikmati dan syukuri keyakinan ke-islaman kita, seraya mewujudkan kesyukuran atas nikmat tersebut dengan membersihkan Islam dari carut-marut yang dibuat pemeluknya, sebagai bentuk tanggung jawab moral untuk turut menjaga kemurnian misi Islam, yang sebenarnya mudah dikenali kalau kita mengamatinya dengan mengambil jarak antara Islam sebagai keyakinan dan Islam sebagai organized religion. Kemudian, akan akan kita jumpai kenyataan “betapa indah dan damainya hidup ini”. Salam!

  2. diky abdul jabbar says:

    gue sih setuju-setuju saja sama mas ulil deh, soalnya klo gak setuju
    guae gak punya alasan dan pengetahuan luas mas, he he he…
    salam

  3. bendoh says:

    Disaat seorang yang liberal mengatakan bahwa tdak ada sesuatu yang absolout, sesungguhnya dia sedang membunuh tuhan, karena pernyataannya yang mengatakan tidak ada sesuatu yang absolutely adalah termasuk absolute.

  4. kang topa says:

    sesungguhnya dia sedang membunuh tuhan
    WOW. TERLALU JAUH KANG…BENDOH.

  5. islam indie says:

    mas Ulil..

    di tiga tahun pertama saya jadi mualaf, saya sempat mengeluh pada ibu saya yang kristen. atas boikot ekonomi darinya dsbnya sampai kesulitan saya beradaptasi di komunitas muslim tempat saya berada. rasanya ingin deh berhenti.. mundur atau murtad?

    e, ibu saya malah melarangnya mas..
    katanya gini..
    - capai dulu kebenaran yang ingin di cari. jangan setengah-setengah. setengah jalan hanya akan melahirkan kebencian dan orang lainpun hanya akan memanfaatkan..

    saya sempat kaget, bukankah seharusnya beliau bahagia jika saya kembali kepada agamanya? ternyata tidak tuh. beliau tidak kenal kata murtad, jadi bukan itu yang ditakutinya.
    beliau hanya takut jika saya hidup dalam kebencian…

    maka hari ini, saya tidak pernah bisa membenci keduanya.. baik agama saya sebelumnya, maupun agama saya kini, yang penuh polemik ini.. :)

    saya setuju dengan tulisan mas Ulil..

  6. aljirbani says:

    tulisan diatas tidak menunjukkan perubahan sedikitpun dari sikap penulisnya, tetap begitu dari dulu alias mandeq…
    saya mengomentari sedikit tentang tulisannya, yakni MURTADIN bd bgt dgn MUALLAF. titik

  7. irma14 says:

    SiiP… ManTaaF Mas Guru ulil…….

  8. Abi says:

    Kalau bagi mas Ulil semua agama tidak ada yang sempurna atau free from error, kenapa mas tidak jadi atheis aja atau paling tidak tidak memeluk agama apapun? Harap di jawab mas Ulil, karena keingin tahuan :)

  9. alan says:

    @aljirbani : “tulisan diatas tidak menunjukkan perubahan sedikitpun dari sikap penulisnya, tetap begitu dari dulu alias mandeq…
    saya mengomentari sedikit tentang tulisannya, yakni MURTADIN bd bgt dgn MUALLAF. titik”

    Pemikiran seperti inilah yang membuat ali sina dkk berjuang sekuat tenaga agar kaum muslimin keluar dari islam. anda mengatakan pemikiran sdr.ulil ini mandeq. tolong saudara utarakan alasannya supaya jangan terkesan “tabrak lari” agar kami semua yang membaca disini dapat mengerti apa yang anda maksudkan dengan mandeq???

    sejujurnya saya sangat bangga sekali dengan pemikiran islam seperti sdr.ulil dan rekan2 di JIL. karena selalu konsisten berusaha “membenahi” islam dari dalam. tidak seperti Ali sina yang banyak di sayangi orang karenaa membenci agama Islam.. salut bang ulil..

    NB* saya sudah lama baca postingan ini tapi barusan mau komentarin :)

  10. Zen says:

    Bisa tunjukkan kelemahan Agama Islam?

  11. bagyo says:

    mas saya penggemar anda pengen bgt belajar kpd anda,walaupun latar belakang keluarga saya islam fundamentalis…

  12. cah udik says:

    menurut saya inti dari agama itu adalah keyakinan (iman), jadi gimana mo beragama jika kita tidak yakin klo agama yang kita anut adalah benar secara mutlaq (absolute), meskipun mungkin ada ajaran yang belum dipahami kebenarannya oleh manusia sekali pun dan ini sering dianggap suatu kesalahan bagi pihak lain, oleh karena itu bagi penganutnya hal tersebut harus dipahami dengan keyakinan (iman) atas kebenarannya, dan hal itu lah yang seharusnya dijadikan sebagai alasan untuk tidak menyalahkan agama lain, karena mungkin oleh penganut agama lain tersebut hal tersebut diyakini suatu kebenaran sampai hati nuraninya menemukan suatu titik kesadaran yang hakiki akan kebenaran yang seharusnya diyakini sampai akhir hayatnya…

  13. takada says:

    assalaamu’alaikum wr.wb
    Saya setuju sama mas ulil dengan “tidak menjelek-jelekan”,tentunya,baik kpada agama yang pernah dianut atau kepada agama lain.karena dalam ajaran agama kita -islam- hal itu memang dilarang.tetapi tidak setuju dengan pendapat mas ulil yang menyatakan:”Saya tak pernah setuju dengan siapapun yang mengatakan bahwa agama yang ia peluk adalah terbaik secara mutlak. Menurut saya, pandangan seperti itu tidak tepat”.Pertanyaanya adalah : kenapa mas Ulil memeluk agama ISLAM?.Jika memang demikian bagaimana dengan ayat yang menyatakan “sesungguhnya agama (yang diterima) disisi ALLAH adalah ISLAM”,apakah ini tidak merupakan pernyataan secara tegas (langsung ataupun tidak ; menurut saya langsung) menunjukan bahwa agama yang kita (saya dan anda ; mas ulil) peluk adalah yang secara MUTLAK adalah yang TERBAIK.Mungkin mas ulil akan berkata “itu kan menurut kita umat ISLAM,menurut pemeluk agama lain tidak begitu?”.Saya tegaskan disini BUKAN MENURUT KITA,tetapi MENURUT ALLAH S.W.T,karena yang mengeluarkan ayat tersebut bukan KITA tetapi ALLAH S.W.T.Sehingga menurut hemat saya mas ulil terkesan bingung atau tidak BERANI mngungkapkan kemantapanya dalam memeluk/membela agama ISLAM (menilik pernyataan mas ulil diatas).Dan seandainya ini banyak diikuti oleh saudara-saudara kita seagama,akan sangat berbahaya dalam semangat dan keteguhan dalam membela agamanya ( ISLAM ).Sehingga pandangan mereka bisa berbelok kepada pandangan ” semua agama baik,semua agama sama”Semua agama baik karena mengajarkan kebaikan tentunya kita paham akan hal itu,tetapi semua agama tidaklah sama.terima kasih mas Ulil barangkali ada banyak salah atas diri saya,mohon maaf yang sebesar2nya.

    wassalaamual’aikum wr.wb

  14. Allah is kebajikan says:

    bila boleh saya komen sidikit,
    jika anda menafsirkan hingga detik anda menulis artikel ini,bahwa anda sebutkan islam memiliki kelemahan..berarti ada yang diperlu diriview ulang akan pemahaman ke-islaman anda.sudah jelas dalam surat 3:5, “telah kusempurnakan”
    .ini adalah statemen dari tuhan alam semesta.Apakah jika Tuhan alam semesta bilang telah sempurna,lalu akal manusia yang merupakan hasil ciptaannnya, mengingkari? dan mengatakan islam “punya kelemahan”?

    satu lagi,islam bukanlah agama,tapi jalan hidup bagi manusia yang ingin selamat(aslama) dunia dan akherat.

  15. widz_kunx says:

    @Aljirbani : picik

    titik

  16. herry says:

    Islam adalah rahmat bagi sekalian alam, semoga ulasan mas ulil bagian dari itu

  17. pakfa says:

    Bung Ulil,

    Saya tertarik dengan pernyataan Anda
    “…Setiap agama mengandung kelemahan…”

    Mohon jangan buka Al-Quran atau sumber apapun, mari kita ingat-ingat saja detail QS. Al-Maidah Ayat 3.

    Kalau tidak ingat detail berarti ada disfungsi dalam sistem memori di otak kita. Menarik bukan?

    Syukron

  18. pandu says:

    halo mas ulil, menarik sekali tulisan mas dan saya selalu menjadi pengagum mas ulil. tulisan ini cukup mencerahkan saya atas pandangan mas ulil. satu saja saya ingin bertanya: kenapa mas ulil tetap memilih beragama kalau mas menganggap semua agama ada kelemahannya? kenapa tidak menjadi agnostic saja (yaitu mempercayai Tuhan tapi tidak melalui agama formal)?

    ada seorang anonim yang berkata “I’ve got nothing against god, it’s his fan club I can’t stand” yang bagi saya cukup tepat buat saya.

    jadi inti pernyataan saya, dengan segala pengetahuan mas ulil, apa yang tetap membuat mas ulil tetap memilih islam?

    terima kasih

  19. adidarr says:

    Saya sama sekali tidak terganggu dg situs tsb. Saya hanya merasa sangat terganggu jika saya tidak menjalankan ajaran agama yg saya anut dg sebenar-benarnya. Agama menurut saya sangat sempurna, sebaliknya saya dan bung Ulil sama sekali tidak sempurna.

  20. Zaman says:

    saya jg setuju dengan pendapat mas ulil..tentang situs“Faithfreedom”. bahwa sengketa antar agama itu akan menjadi sumber bencana untuk kebanyakan orang….tetapi dlm hal berfikir modern tdk perlu lepas dr persoalan pokok agama (agama islam) krn kita yakin bahwa org tua kita bahkan kita sendiri menjadi baik adalah faktor patuh pada agama, mungkin yang pantas sebagai ummat Nabi Muhammad SAW bagaiman saat ini berfikir agar islam tetap “ya`lu wala yu`alaih” bukan agar org islam berfikir macam2 hingga meleyepkan islam itu sendiri, bagaimanapun org berfikiran maju tidak mungkin bisa untuk menunda mati..oleh sebab itu kelemahan ini patut untuk di abdikan dan tunduk kepada Allah SWT, mohon maaf bila sy tdk setujuh terhadap pendapat mas ulil tentang ” agama (Islam) mengandung byk kelemahan” dan “bahwa tidak semua tindakan Nabi tepat untuk ditiru” padahal yang menjdi berometernya adalah ketidak mampuan memahami dan melaksanakan ajaran agama bukan pada kelmahan dan tindakan Nabi, shgg disini perlu untuk memberikan pemahaman tentang agama (islam) kepada setiap individu ummat muslim secara utuh (Kaffah), bukan untuk di ajak berfikir yang haya pada batas pemikiran islam sementara telah byak meninggalkan ajaran islam yang lain. jadi berfikir boleh tp ngomong hati-hati, “salamtul insan bi hifdhil lisan. syukron

  21. Asutaru says:

    Menurut saya tulisan Mas Ulil baik sekali dan seimbang tidak berat sebelah. Mas Ulil tidak perlu kuatir akan situs faithfreedom itu karena tipikal situs web semacam ini isinya dangkal karena berangkat bukan dari kajian yang mendalam, oleh karena situs faithfreedom itu bagi saya tidak menarik sama sekali untuk dibaca apalagi dibahas. Hal ini serupa halnya dengan CNN di acara Amanpour yang membahas Son of Hamas, karena memang buku Son of Hamas tersebut dangkal ketika dianalisis dengan ilmu yang dalam langsung saja kredibilitas tulisannya hilang.

    Orang-orang Indonesia sudah cerdas-cerdas kok ga perlu digurui macem2 hehehehe biar mereka belajar membandingkan.

  22. abufatah says:

    tahun 2001 Islam liberal di indonesia yg dikomandoi sdr Ulil ( Tokoh JIL ) , mengusung pemahaman pluralisme , menganggap semua agama itu sama , semua menuju keselamatan dan tdk boleh memandang agama oranglain dg agama yg kita peluk.

    yg dikembangkan dlm islam liberal adalah sikap yg memandang semua agama sbg jalan2 yg sejajar.

    QS.Ali-Imran:19 # Sesungguhnya agama yg diridhai disisi Allah hanyalah #

    QS. Ali-imran : 85 # Barang siapa mencari agama selain agama islam , maka sekali-kali tdklah akan diterima ( agama itu ) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang2 yg merugi #

    Diriwayatkan dr abu hurairah dr Rosulullah shallallahu Alaihi wa Salam
    bahwa beliau bersabda # Demi dzat yg jiwa muhammad ada di tanganNya , tdklah seseorang dr umat ini yg mendengar ( Agama )ku , baik dia itu seorang yahudi maupun nasrani kemudian dia meninggal dan belum beriman dg apa yg aku diutus dgnya , kecuali dia termasuk penghuni neraka # HR Muslim

    Saudara2ku hati-hati ……
    Sdr Ulil dg JIL nya yg tlah menganggap semua agama sama , 7annya sama , semua mengajarkan kebaukan , semua masuk surga , adalah pemahaman yg keblinger.

    Sdr Ulil berani menentang Alquran dan sunnah Rosul

    Sdrku Ulil bertobatlah sebelum ajal menjemput , sudah ratusan mungkin ribuan umat islam yg telah samoeyan jerumuskan ke tempat yg plg nista.

    Sdr2ku … berpegangteguhlah dg tuntunan yg sesuai syariat , jgn gampang meng Amin kan pemikiran2 yg nyleneh.

  23. Nugraha says:

    Mas, sejauh saya membaca dan mengikuti mas ulil di twitter, saya pecaya dan kurang lebih setuju dengan menggunakan akal sehat. Betul, bahwa kita tidak secara serta merta mengaplikasikan apa yang telah Rasulullah lakukan tanpa mengadaptasikan dengan kondisi dan keadaan saat, kerena tentulah berbeda jaman berbeda kebutuhan. Saya tidak mengatakan bahwa islam tidak applicable jika diimplementasikan jaman sekarang. Contoh, (seperti dalam surat mas ini), Rasulullah yang menikahi Aisyah pada umur 9 tahun, tentunya tidak begitu “menarik” untuk dilakukan dewasa ini. Saya tidak mengatakan bahwa Rasulullah salah. Saya hanya mengira bahwa apa yang Rasul lakukan pada waktu itu, semacam ‘prediksi’ bahwa di suatu masa hal itu mungkin saja terjadi. Pernikahan adalah jalan terbaik daripada perzinahan. Saya masih belum mengerti, kekurangan yang ada pada Islam seperti yang mas ulil jelaskan. Kelemahan seperti apa maksudnya? Jika hal-hal yang perlu penafsiran lebih mendalam, seperti diskusi mas ulil mengenai Babi di twitter, saya tidak memandangnya sebagai sebuah kelemahan. Jika yang disebut kelemahan adalah hal-hal yang membutuhkan ‘penyesuaian’ sesuai dengan jaman sekarang, saya tidak memandang itu sebagai kelemahan. Islam memungkinkan kita untuk melakukan pencarian dan penggalian lebih dalam. Dalil, saya setuju, bahwa tidak semuanya mesti ditelan mentah-mentah, karena islam yang saya percaya berlaku dari sejak diturunkan Tuhan sampai akhir dunia. Jadi yang seperti apa kelemahan itu? Mohon diskusinya. Terima kasih.

  24. nando says:

    kalo menyamakan hj Irene H dgn Ali Sina pengelola FF jelas jauh sekali, sosok ali sina bagai hantu sedang sosok hj Irene H jelas ada wujud orangnya ini baru masalah wujud belum masalah yg lebih mendalam.

  25. wiki says:

    nice mas ulil, tp drpd kata kritik mgkn kata penafsiran lbh enak didgr mas. setuju saya, kalo kita perlu menafsirkan secara terus menerus seiring perkembangan zaman tanpa meninggalkan prinsip2 dasar agama yg kita anut.

  26. zenno says:

    Sulit memang jika orang-orang masih menganggap agama (Islam) sebagai tempat kita tidak lagi menggunakan anugerah yang Allah beri pada kita, yakni akal.
    Hey, kita diberi akal. Jika kita berhenti berpikir, lantas apa gunanya akal yg diberi pada kita?
    Janganlah kita berhenti berpikir dan menyerah pada dogma2 serampangan yang diartikan begitu saja oleh banyak golongan yang merasa benar. terus berpikir dan belajar, dan membaca.
    Siapa kita sih menyebut2 orang lain kafir?
    Belajarlah, jangan sombong.

  27. bud says:

    mantapp mas Ulil!

  28. KGPA. Arif says:

    Kemutlakan tidak selamanya dalam pandangan manusia masih begitu relatif .. justru yang harus difahami bahwa hidup ini penuh perbedaan dan beda adalah rahmat bila kita menyikapi perbedaan tersebut denganpenuh kedewasaan. Thumb buat sampeyan Mas Ulil … semoga NU tetap maju dan menjadi rahmat bagi semua golongan :-)

  29. Halo mas ulil sy pnya koment nih.dlm almukminun 52~54 “sesungguhy (agama tauhid) ini,adalah agama kamu semua,agama yg satu),dan akulah tuhan mu,maka bertakwalah,kemudian mereka(pengikut rasul)menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan.tiap2 golongan merasa bangga dengan apa yg ada pada sisi mereka,maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu

  30. iftirar says:

    Mau nanya, Mas Ulil kenapa memilih Islam sebagai agamanya?

  31. Kitpeks says:

    “Tetapi, kita juga tak boleh berlebihan. Kita harus jangan lupa bahwa agama yang kita cintai itu boleh jadi tidak sesempurna yang kita bayangkan.”

    kalo boleh saya ikut berdiskusi dan bertanya. Apakah mas Ulil mengakui bahwa agama itu tidak sempurna? Dan siapa yang berhak menentukan apa yg di sebut dengan “berlebihan” karena mungkin berlebihan buat saya tidak berlebihan buat para Taliban atau sebaliknya. Trims.

  32. wong cilik says:

    apapun yang manusia katakan, setahu saya agama islam satu-satunya agama yang “disyahkan” dan “disempurnakan” oleh Yang Memberikan agama itu… kalo sebagai orang yang mengaku beragama islam tapi menganggap islam tidak sempurna, sebenarnya yang bodoh orang itu apa TUHANnya?

  33. Maruv says:

    Surat di atas benar-benar saya sepakati. Namun maaf, ada sedikit hal yang menarik saya untuk bertanya, bagaimana dengan ayat “alyauma akmaltu lakum diinakum” dengan pernyataan di atas bahwa tiap agama tidak sepenuhnya sempurna termasuk Islam? Bukankah telah disebutkan secara jelas bahwa “pada hari ini telah Kusempurnakan bagimu agamamu”?

    Mohon penjelasannya, Mas Ulil.

  34. leila says:

    Mas Ulil, buat saya bicara agama, kita harus bedakan 2 hal, tataran aqidah dan fiqih. Pada tataran aqidah, tidak ada agama yg terbaik atau lebih baik. cuma ada benar dan tidak benar (sori klo terlalu terus terang). Aneh dunk, pada umat yahudi, tuhan bilang dirinya bersama tuhan2 (yahudi) yg lain. pada umat nasrani, tuhan bilang aku 3 bersama anak dan roh kudus, pada umat muslim, aku ini maha esa… kok ya tuhan plintat plintut kaya gitu…
    apakah tuhan yg ngaco atau manusia yg mengacaukan pesan Dia yg sesungguhnya??

    thats why surat Al Ikhlas adalah bentuk koreksi tuhan dan gugatannya atas kekeliruan pandangan umat2 sebelumnya ttg Dirinya.
    so, klo suatu hari umat muslim mulai bilang Allah itu dua, tiga, empat… saya super yakin, Allah akan nurunin nabi baru buat koreksi ajaran tauhidnya.

    kesempurnaan? itu hanya milik Allah.
    yet saya tetap yakin islam agama yg sempurna. yg kurang adalah : pemahaman umat dari sisi fiqih/syariah. dan itu hal yg wajar sebab manusia punya tingkat ilmu yg beda2. And that’s what make this life so dynamic and alive! seperti maunya tuhan :)

    buat sodaraku yg beda keyakinan, saya selalu menghargai pilihan kalian. dan tidak punya nyali buat meremehkan. percayalah! :)

  35. masmo says:

    @ islam indie terima kasih atas sharing pengalamannya soal ibunda Anda… memberi saya pencerahan

  36. dimas setyo says:

    Kalau menurutku yg awam ini:
    1. Saya yakin seyakin-yakinnya ada satu agama yang sempurna. Yang gak sempurna adalah pemeluknya.
    2. Setiap orang harus: mengilmui, mengamalkan, dan mendakwahkan, dan tetap belajar terus-menerus.
    3. Setiap orang harus mengakui kesempurnaan agamanya kalau gak mengakui maka akan mudah terombang ambing oleh agama lain.
    4. Mungkin saat ini ada yang merasa agamanya gak sempurna bisa disebabkan beberapa hal: dia belum tau ilmunya (hikmahnya) atau memang agamanya tidak sempurna, atau pola pikirnya, atau hawa nafsunya yang berdasarkan kondisi sempit lingkungannya.

  37. namakuyuli says:

    “kebenaran adalah seperti cermin yang retak; masing-masing agama memungut secuil dari pecahan cermin itu”

    kenapa harus memungut yang retak kalau ada yang utuh..

    karena islam sudah utuh

  38. Yudo says:

    Itulah sebabnya banyak yang berpikiran agama adalah ciptaan Budaya alias peradaban manusia, sehingga memang tidak ada yang sempurna. mengapa saya membaca artikel ini juga karena ingin ada penjelasan yang bisa dimengerti. Jadi akan banyak orang2 yang mencari kebenaran dan akan membaca tulisan dan memikirkan semua tulisan Mas Ulil bahkan ada yang dipakai untuk berpendapat dan mendebat orang lain. Mas Ulil pasti memahami ada tanggung jawab bagi semua hal. Saya kira web ini, diskusi2, buku dan lain-lain masih kurang termasuk untuk dapat menjelaskan hal-hal dengan perspektif baru. Sehingga perlu ada cara-cara yang lebih smart, terorganisir dan strategis ( rekayasa sosial ) dan istiqomah untuk dapat merubah pemahaman orang, Mas Ulil. Selamat Belajar untuk Berjuang mungkin apa yang Mas Ulil lakukan adalah sebuah Jihad , Mas harus berkorban apapun untuk apa yang Mas yakini . Bukan saya menyamakan Jihad dengan berkorban nyawa loh. Jihad adalah berusaha untuk bersungguh-2 untuk selalu istiqomah bukan?

  39. wonkbagus says:

    Memang setiap agama akan dianggap paling baik dan paling benar oleh pemeluk yang meyakininya.
    Sebagai muslim kewajiban kita untuk membuktikannya bahwa Islam itu memang baik.

  40. colek says:

    hmm.., semoga tulisan bapak dapat memberikan pencerahan dan ilham bagi yang membacanya… amiin

  41. warm says:

    innalillahi wainnailaihi rojiun..
    :|

  42. Unyil says:

    Kalo banyak seperti Mas Ulil ini di Indonesia, maka damailah Indonesia ini

  43. upay says:

    Ngaco ah…

  44. ytumimo says:

    sori agak oot, saya tertarik dgn pendapat anda saat intvw di hardrockfm,bersama pandji, bisakah anda membahas lbh dalam ttg perkawinan beda agama?thx

  45. megan says:

    saya sudah sering melaporkan situs ini kepada menkominfo melalui twitter, tetapi tidak pernah ditanggapi. begitu PKS sksd dengan amerika, saya jadi tahu alasannya kenapa laporan saya tak pernah ditanggapi :)

    ditunggu artikel selanjutnya, mas. panjang umur, islam liberal

  46. nadyanjb says:

    Jadi teringat pesan ibu saya. “Kelak disaat kamu sudah memiliki keturunan, perkaya ilmu-nya dgn al-quran arahkan dgn al-quran, bentengi dgn al-quran.. Zaman skrg aja org byk yg mentoleransikan hukum2 agama dgn perkembangan zaman, apalagi di zaman anakmu nanti”
    mohon doanya, agar kelak kami mampu melindungi anak2 kami dr ajaran org2 pinter seperti mas Ulil ini. Amin :)

  47. alma says:

    Mas, kalau bilang semua agama itu pasti ada salahnya kenapa mas ulil masih ‘ngaku’ beragama? Mas, yang salah itu bukan islamnya, tapi praktik keseharian pemeluk-pemeluknya. Cukuplah kita dikatakan sombong dengan menolak kebenaran dan mengatakan Tuhan itu lemah. Jika agama yang diturunkanNya itu punya kelemahan, secara tidak langsung anda bilang Tuhan itu lemah. Masa nurunin yang ga sempurna…

    Istighfar mas..

  48. shirley says:

    salam damai mas Ulil…

    senang sekali membaca tulisan mas ulil yang membuat saya melihat wawasan baru.
    teruskan menulis mas…., saya selalu menunggu…

  49. saykoji says:

    tulisan yang baik, pak ulil. saya rasa hal terbaik yang bisa dilakukan adalah saling menerima hal positif dari tiap kepercayaan yang ada dan menggunakan hal itu sebagai landasan menjalankan toleransi.

    saya pernah lihat isi situs faith freedom, dan saya langsung berpendapat kalau debat mengenai isu antar kepercayaan memang ujung-ujung nya tidak akan menghasilkan suatu hubungan yang baik di antara kedua belah pihak.

    saya akan sering ke sini mau baca-baca boleh ya pak. hehehe terimakasih.

  50. Martianus says:

    Salam mas Ulil!
    saya seorang kristen, saya follow Anda di twitter dan mengikuti pandangan-pandangan Anda.
    Begini mas, Anda berada di garis Islam yang liberal dan moderat, dan saya melihat bagaimana pandangan-pandangan Anda dipengaruhi oleh keimanan mas Ulil. Pertanyaan saya, apakah sangat tidak mungkin menjembatani perbedaan antara pandangan Islam liberal dan garis keras? Apakah tidak mungkin bagi seorang kristen seperti saya menjalin persahabatan yang tulus dengan seorang Islam dari garis keras?
    Saya mengutip pernyataan mas Ulil di atas ” … Saya berpandangan sejak awal bahwa tidak semua tindakan Nabi tepat untuk ditiru ‘mentah-mentah’ dalam konteks sekarang …”, tidakkah ini pernyataan yang terlalu berani, apalagi melihat ada komentar teman-teman di atas yang tidak begitu setuju?
    Tetapi, dengan jujur saya mengatakan salut atas keberanian itu dan terus maju mas Ulil bagi toleransi dan kedamaian Indonesia. Saya tahu bahwa Islam yang sesungguhnya cinta damai.

Leave a Reply