SEORANG perempuan beragama Kristen saat ini sedang menggugat pemerintah Malaysia dengan alasan telah melanggar haknya atas kebebasan beragama (baca International Herald Tribune, 29/11/2008). Mei lalu, saat balik dari kunjungan ke Jakarta, Jill Ireland, nama perempuan itu, membawa sejumlah keping DVD yang berisi bahan pengajaran Kristen dari Jakarta. Keping-keping itu disita oleh pihak imigrasi, dengan alasan yang agak janggal: sebab dalam sampulnya terdapat kata “Allah”.

Sejak tahun lalu, pemerintah Malaysia melarang penerbitan Kristen untuk memakai kata “Allah”, sebab kata itu adalah khusus milik umat Islam. Umat lain di luar Islam dilarang untuk menggunakan kata “Allah” sebagai sebutan untuk Tuhan mereka. Pemakaian kata itu oleh pihak non-Muslim dikhawatirkan bisa membingungkan dan “menipu” umat Islam (Catatan: Sedih sekali ya, umat Islam kok mudah sekali tertipu dengan hal-hal sepele seperti itu?)

Pertanyaan yang layak diajukan adalah: apakah kata “Allah” hanyalah milik umat Islam saja? Apakah umat lain tidak boleh menyebut Tuhan yang mereka sembah dengan kata “Allah”? Apakah pandangan semacam ini ada presedennya dalam sejarah Islam? Kenapa pendapat seperti itu muncul?

Sebagai seorang Muslim, terus terang saya tak bisa menyembunyikan rasa geli, tetapi juga sekaligus jengkel, terhadap pandangan semacam ini. Sikap pemerintah Malaysia ini jelas bukan muncul dari kekosongan. Tentu ada sejumlah ulama dan kelompok Islam di sana yang menuntut pemerintah mereka untuk memberlakukan larangan tersebut.

Di Indonesia sendiri, hal serupa juga pernah terjadi. Beberapa tahun lalu, ada seorang pendeta Kristen di Jakarta yang ingin menghapus kata “Allah” dalam terjemahan Alkitab versi bahasa Indonesia. Menurut pendeta itu, istilah “Allah” bukanlah istilah yang berasal dari tradisi Yudeo-Kristen. Nama Tuhan yang tepat dalam tradisi itu adalah Yahweh bukan Allah.

Jika usulan untuk melarang penggunaan kata Allah berasal dari dalam kalangan Kristen, tentu saya, sebagai orang luar, tak berhak untuk turut campur. Tetapi jika pendapat ini datang dari dalam kalangan Islam sendiri, maka saya, sebagai seorang Muslim dan “orang dalam”, tentu berhak mengemukakan pandangan mengenainya.

Pandangan bahwa istilah Allah hanyalah milik umat Islam saja, menurut saya, sama sekali tak pernah ada presedennya dalam sejarah Islam. Sejak masa pra-Islam, masyarakat Arab sendiri sudah memakai nama Allah sebagai sebutan untuk salah satu Tuhan yang mereka sembah. Dalam Quran sendiri, bahkan berkali-kali kita temui sejumlah ayat di mana disebutkan bahwa orang-orang Arab, bahkan sebelum kedatangan Islam, telah mengakui Allah sebagai Tuhan mereka (baca QS 29:61, 31:25, 39:37, 43:87). Dengan kata lain, kata Allah sudah ada jauh sebelum Islam sebagai agama yang dibawa Nabi Muhammad lahir di tanah Arab.

Begitu juga, umat Kristen dan Yahudi yang tinggal di kawasan jazirah Arab dan sekitarnya memakai kata Allah sebagai sebutan untuk Tuhan. Para penulis Kristen dan Yahudi juga memakai kata yang sama sejak dulu hingga sekarang. Seorang filosof Yahudi yang hidup sezaman dengan Ibn Rushd di Spanyol, yaitu Musa ibn Maimun (atau dikenal di dunia Latin sebagai Maimonides [1135-1204]) menulis risalah terkenal, Dalalat al-Ha’irin (Petunjuk Bagi Orang-Orang Yang Bingung). Kalau kita baca buku itu, kita akan jumpai bahwa kata Allah selalu ia pakai untuk menyebut Tuhan.

Semua Bibel versi Arab memakai kata Allah sebagai nama untuk Tuhan. Ayat pertama yang terkenal dalam Kitab Kejadian diterjemahkan dalam bahasa Arab sebagai berikut: Fi al-bad’i khalaqa Allahu al-samawati wa al-ard (baca Al-Kitab al-Muqaddas edisi The Bible Society in Lebanon). Dalam terjemahan versi Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), ayat itu berbunyi: “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi”.

Tak seorangpun sarjana Islam yang memakai bahasa Arab sebagai bahasa ibu mereka, entah pada masa klasik atau modern, yang mem-beslah atau keberatan terhadap praktek yang sudah berlangsung ratusan bahkan ribuan tahun itu. Tak seorang pun ulama Muslim yang hidup sezaman dengan Maimonides yang memprotes penggunaan kata Allah dalam buku dia di atas.

Polemik antara Islam dan Kristen sudah berlangsung sejak masa awal Islam, dan, sejauh pengetahuan saya, tak pernah kita jumpai seorang “mutakallim” atau teolog Muslim yang terlibat perdebatan dengan teolog Kristen atau Yahudi karena memperebutkan kepemilikan atas kata Allah. (Survei terbaik tentang sejarah polemik Islam-Kristen sejak masa awal Islam hingga abad ke-4 H/10 M adalah buku karangan Abdul Majid Al-Sharafi, “Al-Fikr al-Islami fi al-Radd ‘Ala al-Nashara“, 2007).

Dalam perspektif historis, pandangan sejumlah ulama Malaysia yang kemudian diresmikan oleh pemerintah negeri jiran itu, jelas sangat aneh dan janggal sebab sama sekali tak ada presedennya. Dipandang dari luar Islam, pendapat ulama Malaysia itu juga bisa menjadi bahan olok-olok bagi Islam. Sebab, pandangan semacam itu tiada lain kecuali memperlihatkan cara berpikir yang sempit di kalangan sebagian ulama. Jika para ulama di Malaysia itu mau merunut sejarah ke belakang, kata Allah itu pun juga bukan “asli” milik umat Islam. Kata itu sudah dipakai jauh sebelum Islam datang. Dengan kata lain, umat Islam saat itu juga meminjam kata tersebut dari orang lain.

Yahudi, Kristen, dan Islam adalah tiga agama yang lahir dari rahim yang sama, yaitu dari tradisi Ibrahim. Islam banyak sekali mewarisi tradisi dan ajaran dari kedua agama itu. Karena asal-usul yang sama, dengan sendirinya sudah lumrah jika terjadi proses pinjam-meminjam antara ketiga agama itu. Selama berabad-abad, ketiga agama itu juga hidup berdampingan di jazirah Arab dan sekitarnya. Tak heran jika terjadi proses saling mempengaruhi antara ketiga tradisi agama Ibrahimiah tersebut. Tradisi Kristiani, misalnya, mempunyai pengaruh yang besar dalam proses pembentukan Islam, terutama dalam tradisi pietisme atau mistik (baca, misalnya, buku karangan Tarif Khalidi, “The Muslim Jesus: Saying and Stories in Islamic Literature“, 2001).

Quran sendiri banyak meminjam dari tradisi lain, termasuk dalam konteks istilah-istilah yang berkaitan dengan peribadatan. Hampir semua istilah-istilah ritual yang ada dalam Islam, seperti salat (sembahyang), saum (puasa), hajj, tawaf (mengelilingi ka’bah), ruku’ (membungkuk pada saat salat) dsb., sudah dipakai jauh sebelum Islam oleh masyarakat Arab.

Dengan kata lain, proses pinjam-meminjam ini sudah berlangsung sejak awal kelahiran Islam. Pandangan ulama Malaysia itu seolah-olah mengandaikan bahwa semua hal yang ada dalam Islam, terutama istilah-istilah yang berkenaan dengan doktrin Islam, adalah “asli” milik umat Islam, bukan pinjaman dari umat lain. Sebagaimana sudah saya tunjukkan, pandangan semacam itu salah sama sekali.

JIKA demikian, bagaimana kita menjelaskan pendapat yang janggal dari Malaysia itu? Saya kira, salah satu penjelasan yang sederhana adalah melihat masalah ini dari sudut dinamika internal dalam tubuh umat Islam sendiri sejak beberapa dekade terakhir. Sebagaimana kita lihat di berbagai belahan dunia Islam manapun, ada gejala luas yang ditandai oleh mengerasnya identitas dalam tubuh umat. Di mana-mana, kita melihat suatu dorongan yang kuat untuk menetapkan batas yang jelas antara Islam dan non-Islam. Kekaburan batas antara kedua hal itu dipandang sebagai ancaman terhadap identitas umat Islam.

Penegasan bahwa kata “Allah” hanyalah milik umat Islam saja adalah bagian dari manifestasi kecenderungan semacam itu. Pada momen-momen di mana suatu masyarakat sedang merasa diancam dari luar, biasanya dorongan untuk mencari identitas yang otentik makin kuat. Inilah tampaknya yang terjadi juga pada umat Islam sekarang di beberapa tempat. Kalau kita telaah psikologi umat Islam saat ini, tampak sekali adanya perasaan terancam dari pihak luar. Teori konspirasi yang melihat dunia sebagai arena yang dimanipulasi oleh “klik” tertentu yang hendak menghancurkan Islam mudah sekali dipercaya oleh umat. Teori semacam ini mudah mendapatkan pasar persis karena bisa memberikan justifikasi pada perasaan terancam itu.

Keinginan untuk memiliki identitas yang otentik dan “beda” jelas alamiah belaka dalam semua masyarakat. Akan tetapi, terjemahan keinginan itu dalam dunia sehar-hari bisa mengambil berbagai bentuk. Ada bentuk yang sehat dan wajar, tetapi juga ada bentuk yang sama sekali tak masuk akal bahkan lucu dan menggelikan. Pandangan ulama Malaysia yang kemudian didukung oleh pemerintah negeri itu untuk melarang umat Kristen memakai istilah “Allah” adalah salah satu contoh yang tak masuk akal itu. Sebagaimana saya sebutkan di muka, secara historis, pandangan semacam ini sama sekali tak ada presedennya. Selain itu, proses saling meminjam antara Islam, Kristen dan Yahudi sudah berlangsung dari dulu.

Bayangkan saja, jika suatu saat ada kelompok Yahudi yang berpikiran sama seperti ulama Malaysia itu, lalu menuntut agar umat Islam tidak ikut-ikutan merujuk kepada nabi-nabi Israel sebelum Muhammad — apakah tidak runyam jadinya. Orang Yahudi bisa saja mengatakan bahwa sebagian besar nabi yang disebut dalam Quran adalah milik bangsa Yahudi, dan karena itu umat Islam tak boleh ikut-ikutan menyebut mereka dalam buku-buku Islam. Sudah tentu, kita tak menghendaki situasi yang “lucu” dan ekstrem seperti itu benar-benar terjadi.

Selama ini umat Islam mengeluh karena umat lain memiliki pandangan yang negatif tentang Islam, dan karena itu mereka berusaha sekuat mungkin agar citra negatif tentang agama mereka itu dihilangkan. Masalahnya adalah bahwa sebagian umat Islam sendiri melakukan sejumlah tindakan yang justru membuat citra Islam itu menjadi buruk. Menurut saya, pendapat ulama dan sikap pemerintah Malaysia itu adalah salah satu contoh tindakan semacam itu. Jika umat Islam menginginkan agar umat lain memiliki pandangan yang positif tentang agama mereka, maka langkah terbaik adalah memulai dari “dalam” tubuh umat Islam sendiri. Yaitu dengan menghindari tindakan yang tak masuk akal.

Tak ada gunanya umat Islam melakukan usaha untuk mengoreksi citra Islam, sementara mereka sendiri memproduksi terus-menerus hal-hal yang janggal dan tak masuk akal.[]

Caveat: Mohon maaf kepada teman-teman dan pembaca Malaysia, jika tulisan saya ini terlalu kritis pada pemerintah Malaysia dalam isu yang spesifik ini. Saya sama sekali tidak berpandangan bahwa sikap pemerintah Malaysia itu mewakili sikap seluruh umat Islam di sana. Saya tahu, banyak kalangan Islam di sana yang tak setuju dengan sikap ulama dan pemerintah Malaysia itu.

14 Responses to “Apakah istilah “Allah” hanya milik umat Islam saja?”

  1. ariss_ says:

    Itu memang murni politik kan, Mas? Di Barat, Islam banyak ditertawakan, dan sekarang, ia tak lebih sekedar “alat” bagi para Muslim Machiavellian.
    .
    We believe that civil right is far holier than any organized religion in the world
    .
    Salam hangat,
    Ariss,

  2. Terry says:

    The terms “Allah” and “God” should be open to anyone to use. “God” is simply the Germanic word for the Creator. Although I am a Christian, I am very comfortable using “Allah” also to describe my Creator. In fact, one Christian denomination (at least one) uses “Allah” in its formal name. Similarly, I have Islamic friends in Australia who talk of Allah/God as “my Lord”, just as I do. It is legal nonsense to try to ‘trademark’ our Creator’s name.

  3. karel says:

    gua sering nonton acara natal Vatikan lewat TV dan ternyata………..Paus gak pernah menyebut nama “Allah”. Biasanya Paus menyebut Deo, Dieu (bahasa perancis:Tuhan), God(Bahasa Ingris:Tuhan). Umat sini aja yang belom ngerti, agamanya beda kok berusaha dibuat mirip hi hi hi…

    coba liat Oxford Learner’s Pocket Dictionary, Third Edition 2003
    Allah : name of God among muslims.
    God : the maker and ruler of the universe, being is believed to have power over nature or to present a particular quality, person or thing that is greatly admired or loved.

  4. Al Mukhri says:

    Wes…lah yang jelas. Allah milik semua umat, kecuali yang tidak mengakui-Nya.
    Gitu aja kok…..pusing.

  5. tito says:

    salam kenal mas.

  6. islam indie says:

    mas Ulil,
    ketika saya masuk islam, syahadat saya dikoreksi. ibarat nikah, ijab kabulnya di ulang. karena lafadz Allah yang saya kenal ketika di kristen, ringan. tidak menjadi Alloh, seperti dalam tata cara berbahasa arab dengan mengunakan tasjid.

    maka asyadu anlaa ilaha ilallah.. di tuntun menjadi.. asyhadu anlaa ilaha ilalloh

    kalau mau konsisten mengklaim, ya Allah yang bahasa arabnya aja deh. secara aslinya islam kan dari arab. dan dari dulu, tulisan Allah dalam bahasa arab, ga ada yang ngakuin kalau bukan yang islam. walau bangsa arab sendiri, dari sebelum islam juga sudah mengenal kata Allah yaa..

    tapi kalau Allah secara latin, yang kebetulan juga digunakan oleh saudara-saudara yang kristen, itu kan sudah terjemahan/transliterasi. apa bisa di klaim tuh?

    ah..
    selebihnya sih, kok miris ya mas.
    rasa adanya Dia yang maha pencipta dan maha menguasai kehidupan kita, di kecilkan dan diklaim hanya karena sebagian dari bahasa manusia menyebutnya : Allah.

    saya kutip artikelnya di blog saya ya mas.. makasih sebelumnya.

    http://mualafmenggugat.wordpre.....slam-saja/

  7. sulaeman Suparman says:

    Orang paling sombong, menurut saya, adalah agamawan yang sok merasa memiliki Tuhan. Dirinya dan seluruh manusia hanya tinggal di planet bumi sebesar debu di alam semesta yang notabene diciptakan oleh Allah. Lho kok tiba-tiba menjadi keukeuh merasa memiliki Allah. Bukankah ini sikap super sombong. Jika ucapan Muhammad benar bahwa salah satu penyebab masuk neraka adalah kesombongan hatta hanya sebesar dzarrah, rasanya ngeri membayangkan bahwa kebanyakan penghuni neraka adalah agamawan yang seperti itu.

  8. danalingga says:

    Allah itu kan hanya salah satu sebutanNya saja. Rasanya tidak pas memang mengatur orang ini cuma boleh menyebutNya apa, lalu orang lain lagi cuma boleh menyebutNya dengan kata lain.

    Konyol jadinya.

  9. Rina says:

    Allah milik siapa saja, Allah itu kasih dan saya yakin Dia tdk akan marah namanya disebut oleh siapa saja… lebih baik kita TAAT kpd Allah, dari pada bersikap fanatik yg cenderung mengabaikan kasih..

  10. u.muhaimin says:

    kang ulil apakah anda tidak bertentangan dengan kyai sepuh NU guru anda sendiri

  11. Zaman says:

    itu aja mas ulil ko` repot….sebab soal penyebutan Kata “ALLAH” siapa saja boleh, bahkan iblispun menyebutnya….hanya yang anih bg sy mas ulil ini org pinter apa kebablasan bodohnya, sebab orang gila dengan orang waras bedanya sedikit, ketika org waras melayani org gial apa bedanya….? jd dalam persoalan ini.. menurut sy ” al Ilmu La yanfa` al Jahlu La yadzur..” menanggapi tak ada manfaat tdk taupun tak berbahaya. syukron

  12. kupretist says:

    ketika saya di mesir, umat Kristen biasa mengatakan Allah, dengan bunyi Alloh sebagaimana yang kita (umat Islam) lafalkan. Mereka melafalkan kata tersebut karena mereka percaya bahwa Allah ya dilafalkan Alloh. Dan dalam injil berbahasa Arab yang saya miliki, di situ juga ditulis Allah. Makanya orang muslim Indonesia sekali2 ke timur tengah untuk membuka wawasan.

  13. nuke says:

    Salam Kenal mas Ulil…

    saya pribadi pernah sempat bingung sedikit …:-) dengan masalah ini, tapi sampai satu titik bahwa DIA yang sembah itu adalah DIA yang sangat luar biasa mengerti…sampai akhirnya saya memutuskan untuk memanggil -Nya BAPA…

  14. sri rahayu says:

    saya rasa persoalan penggunaan “Allah” diMalaysia lebih complex dari apa yang kita ngerti.
    Selama ini penganut Kristian (kecuali di Sabah dan Sarawak dimana bahasa Melayu luas digunakan) di Malaysia tidak pernah ingin menggunakan “Allah”. Bahkan, ada di kalangan mereka jijik mendengar nama “Allah” atau azan di masjid2.
    Sudah di persetujui bahwa agam rasmi Malaysia adalah Islam. Salah atau tidak, dalan perlembagaan, orang Islam diharamkan bertukar agama.
    Ini semua ada kene mengena dengan sejarah negara Malaysia. Selagi perlembagaan tidak di ubah, maka, unsur2 mengenai ISlam dan orang2 Melayu harus di terima.
    Persoalaan Allah ditimbul marah orang2 Islam bukan tanpa sebab.
    Ini bukan mencabar agama lain atau “interfere’ dengan agama lain. Orang islam merasa yang orang Christian, terutama missionary Christian dan gereja Katholik ada motif dan tujuan yang tidak baik.
    Memang mudah membuat kesimpulan dari jauh, secara superficial.

    persoalan sebenar ia-lah suspicion.

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>