“Man lam yasykur al-nas, lam yasykur al-Lah“, barang siapa tak berterima kasih kepada manusia, ia sama saja tak berterima kasih pada Tuhan. Demikian bunyi sebuah hadis terkenal yang kerap kita dengar dari mulut para kiai, ustaz, khatib, dan da’i. Tradisi mengucapkan terima kasih kepada orang lain yang berbuat baik kepada kita, kurang begitu tertanam kuat dalam praktek sehari-hari masyarakat Indonesia. Ketika seorang pelayan restoran menghidangkan makanan ke meja pelanggan, misalnya, jarang saya melihat orang-orang mengucapkan “terima kasih” kepada pelayan itu.
Pengalaman yang amat menarik saya jumpai waktu saya pergi ke luar negeri untuk pertama kali sekitar 12 tahun yang lalu. Saat itu saya berkunjung ke Australia, tepatnya ke kota Melbourne. Pemandangan yang mengesankan dan terus saya ingat hingga sekarang adalah saat saya naik bus kota. Setiap seorang penumpang turun, dia tak lupa mengucapkan kata “thank you” kepada sopir. Kalau penumpang turun dari pintu belakang, dia akan teriak keras “thank you” kepada si sopir. Saya terhenyak melihat pemandangan itu.
Mungkin ucapan “terima kasih” kelihatan sepele. Tetapi, saya membayangkan, seorang sopir bus yang mendapat ucapan terima kasih dari penumpang, akan merasa mendapat apresiasi atas pekerjaannya. Di mata saya, ini adalah pelaksanaan hadis di atas. Itulah akhlak Islam yang saya temukan di Australia, tetapi tidak saya temukan di Indonesia, terutama di Jakarta, kota yang berpenduduk mayoritas Muslim.
Melalui surat ini, saya hendak mengucapkan terima kasih kepada semua pembaca yang telah menyediakan waktu untuk melongok dan membaca artikel-artikel dalam blog saya. Bagi seorang penulis, tidak ada kebahagiaan yang lebih besar daripada ketika tulisannya dibaca oleh publik. Ucapan terima kasih juga saya sampaikan secara khusus kepada pembaca yang telah bersedia menorehkan komentar untuk tulisan saya. Apapun wujud komentar itu, entah ejekan, cemoohan, kritik, atau dukungan, adalah masukan yang sangat baik buat saya. Komentar itu, di mata saya, menandakan bahwa pembaca peduli pada masalah yang saya diskusikan.
Ada sejumlah hal yang ingin saya katakan berkaitan dengan komentar-komentar yang masuk.
Pertama, tidak semua komentar yang masuk bisa saya muat di blog. Komentar yang memakai kata-kata kasar dan, maaf, kotor serta bernada cacian, jelas tak bisa saya muat di blog. Saya banyak sekali mendapat komentar “kotor” seperti itu, begitu rupa sehingga saya terheran-heran, apakah begitu merosotnya akhlak sebagian umat Islam sehingga tak bisa memakai kata-kata yang sopan dalam diskusi.
Saya menghargai perbedaan pendapat, tetapi saya ingin perbedaan diselenggarakan dengan cara yang beradab. Umat Islam sudah selayaknya belajar berbeda pendapat, walau sekeras apapun, dengan cara yang terhormat dan sesuai dengan standar tata-krama yang normal. Memaki-memaki dan memakai cara yang kotor bukanlah cara diskusi yang baik.
Kedua, ada sebagian pembaca yang menganggap bahwa komentar yang saya muat di blog hanya komentar yang mendukung gagasan saya. Ini jelas tidak benar. Saya tak keberatan memuat komentar yang kritis, bahkan nyinyir, pada saya. Anda bisa lihat sendiri komentar-komentar yang saya tampilkan: tak seluruhnya komentar yang “manis” terhadap tulisan saya, bahkan sebagian besar berseberangan dengan dan “keras” sekali dalam menanggapi pendapat saya.
Ketiga, saya memohon maaf karena tak bisa memberikan jabawan balik atas komentar yang masuk. Bahkan, sangat jarang sekali saya memberikan respon balik. Ada banyak alasan kenapa saya tidak memberikan jawaban. Ada kalanya saya melihat komentar yang masuk memang tak layak ditanggapi, karena isinya tak serius. Adakalanya, karena isinya hanya mendukung saja apa yang sudah saya katakan. Ada kalanya, karena isinya memberikan pandangan penyeimbang terhadap perspektif yang saya pakai, sehingga saya tak perlu menanggapi balik; biarlah pembaca yang menilai sendiri. Ada kalanya, saya memang tak sanggup menjawab balik. Dalam keadaan seperti ini, biarlah orang lain yang mampu membantu saya memberikan jawaban. Saya bukanlah manusia “super” yang bisa menjawab semua pertanyaan. Bahkan Imam Malik ibn Anas, pendiri mazhab Maliki yang terkenal itu, saat ditanya mengenai banyak hal, kerap menjawab, “la adri“, saya tak tahu.
Ada kalanya pembaca mengirim komentar yang terlalu panjang, kadang malah lebih panjang dari artikel saya sendiri dan idkutip dari artikel yang ditulis oleh orang lain. Komentar semacam ini terpaksa saya hapus. Kalau hendak memberikan komentar atau kritik yang komprehensif dan panjang, silahkan menulis di blog anda sendiri lalu buatlah link ke blog saya, sehingga pengunjung yang membaca artikel saya bisa membaca tanggapan itu.
Tetapi, jujur saja, alasan yang jauh lebih relevan dalam banyak kasus adalah karena saya tak mempunyai cukup waktu untuk menulis komentar balik. Saya hanya konsentrasi untuk menulis “tesis” tertentu. Kalau ada orang lain yang mengajukan “kontra-tesis”, tentu saya senang sekali. Saya tak harus selalu menjawab kontra-tesis itu. Biarlah pembaca yang akan menilai sendiri. Yang penting bagi saya adalah pembaca mendapatkan perspektif yang beragam mengenai suatu soal dalam Islam: ada perspektif liberal-kritis seperti saya kemukakan, ada perspektif konvensional yang selama ini sudah beredar dalam masyarakat. Tak semua perbedaan harus diselesaikan secara tuntas sekarang juga. Masing-masing orang bisa menyortir perspektif yang ada dan menentukan jawabannya sendiri.
Masyarakat yang sehat adalah masyarakat di mana di sana terdapat akses yang seimbang kepada berbagai ragam perspektif dalam suatu soal. Yang tidak sehat adalah jika ada suatu kelompok tertentu yang merasa “benar sendiri”, self-righteous, lalu menyesatkan pendapat lain, dan bahkan ingin memberangus pendapat itu. Yang tak sehat adalah jika dalam suatu masyarakat keragaman hendak disingkirkan jauh-jauh, sementara yang boleh berkeliaran dengan bebas hanyalah satu perspektif saja yang dianggap “lurus” dan benar.
Saat saya mengajukan pendapat dan mengkritik suatu perspektif tertentu, itu bukan berarti saya ingin memberangus perspektif itu. Setiap pendapat bisa dikritik dan dikritik balik. Menghormati pendapat lain bukan berarti menghentikan diskusi dan kritik sama sekali. Saya menghormati hak semua pihak untuk berpendapat, termasuk pihak-pihak yang berlawanan dengan saya. Saya akan membela hak mereka untuk berpendapat jika sekiranya, suatu waktu, hak itu diancam oleh negara untuk diberangus dengan alasan-alasan yang bertentangan dengan hukum dan UU yang berlaku. Tetapi pendapat pihak lain itu juga bisa saya kritik.
Saat saya mengkritik suatu pendapat, bukan berarti saya berada pada pihak yang pasti atau paling benar. Berdasarkan informasi dan argumen tertentu, saya berpandangan bahwa perspektif yang saya pakai adalah benar, tetapi saya tak menutup diri pada kebenaran lain. Inilah yang disebut dengan sikap “ironis”, artinya kita mengajukan suatu kleim tertentu yang kita anggap benar tetapi seraya membuka kemungkinan bahwa kleim tersebut bisa saja tak benar. Sikap “ironis” ini sudah dikemukakan oleh banyak tokoh mazhab di masa lampau. Konon Imam Syafii, pendiri mazhab Syafii yang luas diikuti di Indonesia, berkata, “Pendapatku benar tetapi mungkin salah, sementara pendapat lawan diskusiku salah tetapi mungkin benar” (ra’yuna shawabun yahtamil al-khatha’, wa ra’yu khashmina khatha’un yahtamil al-shawab).
Sebagaimana pembaca lihat sendiri dalam seluruh artikel yang saya tulis di blog, saya tak pernah memojokkan pihak lain yang berbeda pandangan dengan saya sebagai kafir atau sesat. Paling jauh saya hanya menilainya salah atau kurang tepat. Tetapi menganggap pihak tertentu dalam Islam sebagai kafir, murtad, dan sesat, di mata saya, sama sekali kurang sehat dan hanya akan mengotori iklim diskusi di dalam tubuh umat.
Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih kepada semua pembaca yang telah meluangkan waktu untuk berkunjung ke blog saya. Terima kasih sekali lagi kepada mereka yang memberikan komentar.
Jazakum al-Lahu khairan katsira.
Ulil Abshar AbdallaÂ
Mas sebagai sesama manusia saya wajib memaafkan kalau ada yang meminta maaf. Jadi mas ulil saya maafkan. Tapi mas ulil harus lebih meminta maaf dan mohon ampun kepada Allah SWT karena maaf saya tidak berguna kalau Allah SWT tetap murka.
Ada satu hal yang saya kira sudah seharusnya ditiru oleh kalangan yang selama ini kontra dengan pendapat Mas Ulil (selembut dan sekeras bagaimana pun sikap kontra itu), yaitu adanya kesadaran diri bahwa anggapan “hanya pendapat saya, kita atau kelompok kita lah yang paling benar dan kelompok lain pasti salah” adalah anggapan yang seharusnya dijauhkan dari diri kita.
Saya menilai, karena budaya “arogansi intelektual” seperti ini hanya akan menghasilkan atau bahkan akan menjelma “arogansi fisik” yang tak akan menyelesaikan masalah bahkan akan menimbulkan masalah lain.
Selain itu, “arogansi intelektual” juga akan menghalangi terciptanya diskusi yang sehat antara kita. Jadi, kalau memang pihak yang selama ini merasa paling menghormati para ulama, maka sudah seharusnya meniru Imam as-Syafi’i yang tak setuju dengan “arogansi intelektual ini”. Bukankah beliau masih mengakui adanya kemungkinan kebenaran dari pihak lain?
bahkan, ucapan terimakasih pun bisa anda jadikan sebuah ‘tesis’ tersendiri. hehe, mantabs mas!
Dan saya memohon dimaafkan oleh Mas Ulil, karena secara tdk langsung telah banyak mengcopy paste tulisan Mas Ulil di Detik Forum(sosbud) mungkin sebagian pencaci adalah org2 yg tidak suka dgn Pencerahan yg ditulis oleh Mas Ulil….
Saya sampai kapanmu akan terus berjuang ikut menyuarakan esei-esei Mas Ulil, karena bagi saya, inilah wajah yang sesungguhnya dari Islam…
Maafkan saya…..
Yah terimakasih kembali Mas Ulil. Saya rasa pembaca blog panjenengan ini juga pasti sadar kalo anda itu cukup sibuk. Hik hik.
SALAM BOS
Terima Kasih juga buat mas Ulil, yg udah meluangkan waktu dan ilmunya dgn tulisan-tulisannya, mengenai caci-maki atau kata2 yg tdk sopan dari para komentator saya kira hal yg wajar utk masyarakat dgn tingkat intelektualitas seperti kita. Di forum2/blog2 lain yg cuma membahas olah raga atau hiburan aja saling2 caci-makinya luar biasa, apalagi ini menyangkut keyakinan gitu lho! Jadi easy going aja. Kita toh tinggal baca suka atau tidak terserah , kalu tinggal kasih komentar deh! THX
Terima kasih kembali Kang Ulil, saya selalu mengikuti perkembangan tulisan Kang Ulil setiap saat dan mencoba merunut tulisan-tulisan Kang Ulil sebelum terkenal dulu hee…di Jurnal Al-Qalam yang berjudul “Meruntuhkan hegemoni tafsir dan menghidupkan kembali teks” dan masih banyak tulisan lain yang saya simpan terutama dalam laman JIL, dan juga dari tulisan yang berserakan dimedia massa. disini saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada Kang Ulil yang mencoba “membangunkan” umat Islam Indonesia dari tidur panjangnya, semoga kelak Kang Ulil juga pinaringan peran untuk “menyadarkan/mencerahkan”umat Islam Indonesia menuju kesadaran spiritual yang lebih agung tentang “substansi dari eksistensi” yang tidak terikat oleh sampan atau rakit ortodoksi manapun sebagaimana yang ditempuh melalui jalan mistik dalam “term” intelektual, tetapi penamaan mistik disitu kurang bisa menampung beban makna kata yang disandangnya terlalu sempit, tidak bisa mewadahi dari eksistensi yang sebenarnya. Kebenaran selalu unik dan khas tidak bisa disamakan antara satu yang lainya pencerahan yang diperoleh nabi Muhammad khas Muhammad, Yesus unik milik Yesus, Krishna, Budha, dan orang-orang yang sudah mencapai “titik terang” selalu unik dan tidak bisa dipadankan serta dibandingkan…semoga Kang Ulil tetap pada jalan untuk menuju “Kebenaran Agung”, semoga..wasalam.
Saya walaupun seorang non-muslim (ex-muslim untuk lebih tepatnya) tetap senang membaca tulisan mas ulil karena banyak manfaat moral yang bisa saya dapatkan, walaupun sebagian besar telah saya sadari, namun tidak ada jeleknya untuk mengulangi mempelajari hal hal yang baik.
Saya rasa caci maki di blog itu sudah hal yang wajar, jangankan bagi orang indonesia yang tingkat pendidikannya rendah, di antara blog2 orang amerika saja saya masih sering membaca caci maki dan lain sebagainya. Pada hakikatnya manusia senang merasa benar dan banyak sekali yang yakin bahwa dia benar, padahal dalam topik ringan, apalagi seperti john doe bilang, dalam hal keyakinan. Saya yg tidak beragama ini sering sekali mendapat caci maki orang di blog saya, namun memang komentar seperti itu tidak saya publish.
Cuek saja mas, masih lebih banyak orang yang berakal dan memiliki common sense, saya pikir, dibanding yang membabi buta seperti kerbau ngamuk. A lot of people will still be interested in what you have to say!
sebuah hadis yang saya baca di kitab ihya al Ghazali tentang debat mendebat, mengalah ketika brdebat walupun benar, Allah akan membangunkan taman ditaman nya sorga, sedangkan mengalah karena tau dirinya salah maka Allah akan membangunkan rumah di perkampungan sorga. kurang lebih nya gitu hib kalu tidak salah, dan dalam kitab yang sama juga orang yang berterima kasih kepada manusia saja tanpa memandang kepada Allah yang mengerakkan segala sesutu adalah diumpamakan seperti semut yang terheran2 dengan sebuah ujung polpen yang menghsilkan tulisan yang indah tanpa melihat tangan yang menggerakan. gomen nasai, arigato gozaimasu
Kamu orang memang pantas untuk dicaci maki bahkan layak pula untuk dibunuh karena telah menjadi musuh allah dan rasul, berani memuratbalikkan hukum-hukum Allah, mendapatkan sogokan uang dari amerika, Dasar Ulil Antek Yahudi Anjing Amerika, Terkutuklah kau bangsaat…….
memang kadang ada gengsi tersendiri ketika mengucapkan “terimakasih” . entah dari mana datangnya rasa tinggi hati itu. dan saya rasa postingan kali ini merepresentasikan etika si empunya blog. meski sudah kadung besar, si empunya tak sungkan-sungkan berucap “terima kasih”.
saya juga pernah menemukan blog yang isinya lebih banyak caci-maki daripada rationale discuss. ketika ada pengunjung yang mencoba mengingatkan, eh malah dicaci ulang sebagai sok moralis dan bla bla bla.
makasih mas, saya banyak nimba ilmu dari njenengan. nuwun.
Sebagai pemerhati JIL di daerah, saya sangat mengucapkan terimakasih kepada Mas ulil yang telah memberikan dedikasi waktunya dari hidup yg sesingkat ini untuk sesuatu yg benar dan gak remang²
terima kasih mas ulil
di blog saya pun banyak sekali kata2 cacian yang diberikan oleh tulisan yg dimuat di blog saya..
sekali lagi terima kasih mas ulil
Richie
Bung ulil, bagi saya anda tak ubahnya Abdullah bin Ubay, seorang munafik dimasa Rasulullah. Di tengah gencarnya seruan untuk kembali pada Syariat Islam, anda dan teman-teman anda yang lain para cecunguk JIL yang telah dibayar Amerika/Yahudi, malah mengajak orang lain untuk anti syariah dengan pendapat yang seolah olah berasal dari Islam, padahal kalian apa yang kalian suarakan tidak lain berasal dari hawa nafsu kalian. Bung Ulil, persiapkanlah dirimu untuk menerima azab Allah yang sangat pedih atas kemunafikan kalian, juga atas kelancangan kalian terhadap Allah dan Rasul karena keberanian kalian memutarbalikkan hukum Quran dan Sunnah.
Setiap ucapan “terimakasih” adalah kembali ke titik nol. Itu titik digital, demikian diriwayatkan oleh Ary Ginanjar Agustian. Selamat mas Ulil, Anda sudah jadi manusia digital, yang menukik jauh ke bawah, ke dalam kesadaran bahwa kita ini bukan apa-apa, tidak punya apaapa, dan belum ngapa-gapa. Keep writing & rocking, mas Ulil! Terima Kasih.
Tabik….
Saya juga ikut terima kasih kepada Ulil karena dengan adanya keberadaan Ulil dan konco-konconya semacam Guntur Romli dan Musdah Mulia saya jadi tahu mana mana munafikun yang gemar jualan agama atau yang benar-benar mengharap ridho Allah saja. Contohnya “atanya orang liberal Anti Kekerasan ” tetapi ternyata membawa banser ke ruang sidang dan selalu memprovokasi. Sama juga dengan Ulil gemar memprovokasi dengan cara lain yaitu dengan tulisan. Kalau saat jaman nabi Ulil ini bisa disamakan dengan para penyair yang selalu menyerang nabi dengan syair-syairnya. Contohnya “Ulil pernah menulis” ulama “MUI TOLOL”.
Wahai saudaraku pemuja mahzab liberal sadarlah bahwa dalam semua bidang merk “Liberal/Kapitalisme” tidak akan membawa perubahan ke arah lebih baik, baik dalam bidang Ekonomi maupun agama. Contohnya “bangkrutnya” Lehman brother dalam bidang ekonomi atau munculnya Orang Islam lesbian Irsad Manji yang paling dipuja oleh Musdah Mulia.
Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada Gus Ulil yang dengan segala kesibukannya masih mau dan menyempatkan diri menulis blog, sebuah aktivitas menulis secara sosial.
Kalau menurut saya, perdebatan antara yang self-righteous dan bukan kalau saya lihat ujung-ujungnya masalah barat-timur.
Kebetulan Gus Ulil orang yang dianggap pro dengan barat, disamping itu gagasannya juga kebarat-baratan.
Lalu masih relevankah memperdebatkan masalah Barat-Timur sementara kini di Barat sendiri “Islamisasi” personal dan komunal mulai tampak dan terkesan di Timur justru berbalik dalam hal “ahlaq” …
Gus Ulil teruslah menulis dan ajari kami bagaimana menghargai pendapat, mengkritisi dan berargumen secara bertanggung jawab.
Akhirnya, walau belum telat, mohon maaf lahir batin.
Salam Mas Ulil,
Sy setuju dgn pendapat anda soal budaya positif seperti ungkapan “terima kasih” yang mulai luntur di masyarakat kita, walau kadang2 sy msh melihat dan mendengarnya.
Bicara soal respon, bagaimana respon anda sendiri terhadap situasi di berbagai majelis dan masjid (terutama di Jakarta) yang saat ini sangat marak terhadap tudingan miring, cacian dan hujatan terhadap JIL, terutama thd anda sendiri.
yang saya senang dari ulil, beliau mencontoh nabi dengan ucapan “terima kasih”.
Nabi Muhammad, meski me ” terima” cacian dan makian, beliau tetap me “kasih” i mereka.
sebenarnya ini tidak hanya untuk kang ulil saja. semua yang bisa meniru seperti itu, berarti dia telah berlaku islami, apapun agamanya bahkan yang tidak beragamapun.
damai……
ah memang ternyata komentar yang dimuat mayoritas yang pro dan mendukung pemikiran Ulil saja kok….jarang dimuat komentar sebagus apapun yang kontra padahal itu banyak sekali, dimana liberalisme berendapat Ulil kalau begitu???…
Abu Jibril (Majelis Mujahidin) berkata bahwa Islam itu hanya satu yaitu Islam yang berdasar pada Al-Qur’an dan al-hadits. Dia benar. Persoalannya, persepsi terhadap al-Qur’an dan al-hadits oleh setiap orang bisa berbeda. Perbedaan itu muncul bahkan di kalangan para sahabat begitu nabi wafat. Memungkiri adanya perbedaan persepsi dan menganggap persepsinya sebagai satu-satunya kebenaran adalah sikap yang mengingkari sejarah dan bisa berarti mengambil alih fungsi Tuhan karena hanya Tuhan yang tahu kebenaran yang hakiki. Allahu akbar.
Salut dengan tulisan-tulisan anda, bisa jadi pendobrak kekakuan akidah dan pelentur otot ukhuwah agar arogansi keyakinan tidak lagi menjadi alat untuk menjatuhkan individu/komunitas lain
waduh, sama2 mas, terima kasih juga. Postingan Anda bagus kok.
kalau ingin belajar kpd anda gmn mas ?saya kagum pada anda,tp takut pada stigma miring JIL takut di omelin orang maklum saya dari keluarga fundamentalis,tetap berkarya mas ulil mudah@an saya bisa bertemu anda (BTW nama dan email saya palsu)
Mas Ulil yang saya hormati, terimakasih mas, you are my idol, inget mas Ulil inget Syeh Siti Jenar, berani melawan arus, kasihan Islam Indonesia kita ini, mayoritas memeluk Islam tapi justru record Korupsi nya tertinggi di dunia, apakah misi ulama yang gagal atau memang kita semua sudah berbuat dzolim terhadap diri sendiri ?, malu2in ajaran Islam aja, naudzubilahimindzalik……..
Salam Pak Ulil,
Saya suka tilisan2 anda yang kritis dan semangat perbedaan itu. Namun saya agak tidak setuju dengan kurangnya tulisan2 anda menyentuh hal2 yang bersifat tasawuf (cobalah utk dikupas pasti mantap) tanpa harus mengurangi daya kritis dan semangat liberal. Saya yakin jika wacana2 tasawuf dikembangkan pastinya perbedaan2 mudah untuk bisa diterima tanpa ada prasangka.
Satu lagi menurut saya pak ulil jarang sekali”meng-Agung kan Tuhan”, walo pak ulil sudah menyatakan “statement-saya bukan manusia super” mbok yao di tambah minimal untuk untuk menyatakan kelemahan di hadapan Tuhan…mungkin dengan tambahan “wallohu’alam”" biar mantap gitu…
wallohu’alam
Salam hormat dan mohon maah