<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Hidup bisa teratur hanya dengan agama? &#8212; Surat kepada seorang kawan</title>
	<atom:link href="http://ulil.net/2008/09/07/hidup-bisa-teratur-hanya-dengan-agama-surat-kepada-seorang-kawan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ulil.net/2008/09/07/hidup-bisa-teratur-hanya-dengan-agama-surat-kepada-seorang-kawan/</link>
	<description>Iman yang kuat tak akan takut pada keraguan. Iman yang dangkal dan dogmatis selalu was-was pada pertanyaan dan keragu-raguan.</description>
	<lastBuildDate>Mon, 20 Jun 2011 12:51:59 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
	<item>
		<title>By: okta</title>
		<link>http://ulil.net/2008/09/07/hidup-bisa-teratur-hanya-dengan-agama-surat-kepada-seorang-kawan/comment-page-1/#comment-7664</link>
		<dc:creator>okta</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 Jun 2010 15:38:07 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ulil.net/2008/09/07/hidup-bisa-teratur-hanya-dengan-agama-surat-kepada-seorang-kawan/#comment-7664</guid>
		<description>aku orang yg msh hrs bnyk beljr agama,,t aku setuju pendapat mas Ulil..krn ada manusia yg dari segi tingkah lakunya baik,sopan ,kemasyarakatanpun bagus,suka menolong,bersedekah..hanya sj dr segi agama dia sgt krg pengetahuan dan apakah orang baik semacam itu jg nantinya msk neraka gara2 ilmu pengetahuannya ttg agama sgt krg ??</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>aku orang yg msh hrs bnyk beljr agama,,t aku setuju pendapat mas Ulil..krn ada manusia yg dari segi tingkah lakunya baik,sopan ,kemasyarakatanpun bagus,suka menolong,bersedekah..hanya sj dr segi agama dia sgt krg pengetahuan dan apakah orang baik semacam itu jg nantinya msk neraka gara2 ilmu pengetahuannya ttg agama sgt krg ??</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Nafs</title>
		<link>http://ulil.net/2008/09/07/hidup-bisa-teratur-hanya-dengan-agama-surat-kepada-seorang-kawan/comment-page-1/#comment-6740</link>
		<dc:creator>Nafs</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 18 Jan 2010 06:28:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ulil.net/2008/09/07/hidup-bisa-teratur-hanya-dengan-agama-surat-kepada-seorang-kawan/#comment-6740</guid>
		<description>Secara umum saya tidak menolak fakta-fakta yang disampaikan cak ulil, tetapi saya ingin mencoba menyampaikan pola pikir yang sedikit berbeda tentang peran agama dalam kehidupan. 
Saya rasa &quot;kesalahan&quot; dari faham agama yang dikritik cak ulil semacam doktrin bahwa kehidupan akan morat-marit tanpa agama difahami secara keliru. Jawaban bahwa tanpa agama lebih baik dari agama harus dibuktikan dengan penerapan aturan yang bertentangan dengan agama. Misal agama melarang membunuh, memperkosa, dll. Untuk membuktikan bahwa agama tidak perlu maka anda harus mencontohkan suksesnya hukum yang menerapkan bebas membunuh, memperkosa, dll. Apabila masyarakat yang mengaku tidak beragama sukses lantaran menerapkan hukum buatan sendiri yang tidak bertentangan dengan agama, tentu bukanlah menjadi bukti tidak diperlukannya agama. Atau bila anda bisa membuktikan bahwa aturan agama ternyata membawa kerusakan masyarakat barulah anda bisa mengatakan syariat itu salah dan harus ditinggalkan. Misal poligami yang diklaim sebagai pandangan agama, sering dianggap salah lantaran banyak menimbulkan kerusakan rumah tangga. Tetapi hal ini mengabaikan fakta/kemungkinan bahwa pelaku poligamilah penyebab kerusakan itu bukan poligaminya. Kita semua tahu bahwa sebagian besar pelaku poligami sesungguhnya tidak memenuhi syarat berpoligami. Hanya lantaran kaya, ganteng, dll kemudian seorang pejabat/artis berpoligami padahal syaratnya adil. Akibatnya rusaklah rumah tangga. Hal ini justru menjadi bukti bahwa kegagalan menerapkan aturan agamalah yang menjadi penyebab kerusakan bukan aturan agama tersebut. Jadi misalkan poligami ini dianggap aturan agama, maka anda bisa menganggapnya keliru jika tidak ditemukan keluarga poligami yang bahagia atau orang yang telah berpoligami dengan benar ternyata keluarganya berantakan.
Kalau dibeberapa sisi ditunjukkan adanya sisi negatif syariat semisal pemaksaan doktrin &quot;Islam&quot; dalam kasus ahmadiyyah atau jilbab ini tentu bukanlah kesalahan agama Islam tetapi kesalahan penafsir Islam yang faktanya tidak semua Muslim seperti itu. Kita sangat faham Gus Dur pembela Ahmadiyyah.Atau  Amin Rais pun Hidayat NW yang tidak termasuk pencaci maki Ahmadiyyah mereka itu adalah tokoh2 Muslim yang juga meyakini dan menjalankan syariat Islam. Karena itu jika ada yang terasa kurang dalam syariat Islam, maka kita tidak menyalahkan Islam tetapi pemahaman syariat itu yang perlu diperbaiki, itu pun tetap perlu bukti empiris untuk menyatakan bahwa pemahaman syariat tertentu itu salah kaprah atau keliru. Mungkin cak ulil ini juga sedang berupaya &quot;meluruskan&quot; pemahaman syariat yang keliru, tetapi itu harus dilakukan secara benar dan rasional. Maju terus cak ulil, tapi jangan ragu untuk mengoreksi pemahaman yang kemudian disadari kurang pas hanya karena takut dikatakan inkonsisten. Seperti cak ulil bilang bahwa pemikiran manusia ini dinamis, maka inkonsistensi adalah implikasi yang wajar bagi pemikiran manusia.  
Saya pribadi termasuk yang tidak menentang hukum2 buatan manusia sepanjang tidak bertentangan dengan hukum syariat meskipun tidak sama. Misal hukum pidana Indonesia yang menghukum pencuri dengan penjara, meskipun tidak sama dengan hukum qishos tetapi secara umum tidak bertentangan karena tetap kerangkanya memberi sanksi pelaku kejahatan. Hanya saja tingkat efektifitasnya memang masih perlu dibuktikan apakan potong tangan lebih baik dari penjara atau sebaliknya. &quot;Rasa keberagamaan&quot; saya sih mengatakan bahwa Hukum Allah pasti yang paling baik, tetapi memang diperlukan bukti empiris untuk bisa diakui orang yang berpendapat sebaliknya.
Tetapi apa yang saya sampaikan di atas hanyalah terbatas pada hal-hal sosial, sedangkan menyangkut spiritualitas individu dengan Penciptanya tampaknya tidak ter-cover dengan baik dalam kerangka pola pikir cak ulil, atau malah cak ulil tidak menganggap perlu adanya hubungan individu dengan Penciptanya. Kalau menurut saya, sangat tidak mungkin manusia menciptakan sendiri tata cara hubungannya dengan Tuhan dan harus mengikuti cara yang diajarkan Tuhan melalui agama.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Secara umum saya tidak menolak fakta-fakta yang disampaikan cak ulil, tetapi saya ingin mencoba menyampaikan pola pikir yang sedikit berbeda tentang peran agama dalam kehidupan.<br />
Saya rasa &#8220;kesalahan&#8221; dari faham agama yang dikritik cak ulil semacam doktrin bahwa kehidupan akan morat-marit tanpa agama difahami secara keliru. Jawaban bahwa tanpa agama lebih baik dari agama harus dibuktikan dengan penerapan aturan yang bertentangan dengan agama. Misal agama melarang membunuh, memperkosa, dll. Untuk membuktikan bahwa agama tidak perlu maka anda harus mencontohkan suksesnya hukum yang menerapkan bebas membunuh, memperkosa, dll. Apabila masyarakat yang mengaku tidak beragama sukses lantaran menerapkan hukum buatan sendiri yang tidak bertentangan dengan agama, tentu bukanlah menjadi bukti tidak diperlukannya agama. Atau bila anda bisa membuktikan bahwa aturan agama ternyata membawa kerusakan masyarakat barulah anda bisa mengatakan syariat itu salah dan harus ditinggalkan. Misal poligami yang diklaim sebagai pandangan agama, sering dianggap salah lantaran banyak menimbulkan kerusakan rumah tangga. Tetapi hal ini mengabaikan fakta/kemungkinan bahwa pelaku poligamilah penyebab kerusakan itu bukan poligaminya. Kita semua tahu bahwa sebagian besar pelaku poligami sesungguhnya tidak memenuhi syarat berpoligami. Hanya lantaran kaya, ganteng, dll kemudian seorang pejabat/artis berpoligami padahal syaratnya adil. Akibatnya rusaklah rumah tangga. Hal ini justru menjadi bukti bahwa kegagalan menerapkan aturan agamalah yang menjadi penyebab kerusakan bukan aturan agama tersebut. Jadi misalkan poligami ini dianggap aturan agama, maka anda bisa menganggapnya keliru jika tidak ditemukan keluarga poligami yang bahagia atau orang yang telah berpoligami dengan benar ternyata keluarganya berantakan.<br />
Kalau dibeberapa sisi ditunjukkan adanya sisi negatif syariat semisal pemaksaan doktrin &#8220;Islam&#8221; dalam kasus ahmadiyyah atau jilbab ini tentu bukanlah kesalahan agama Islam tetapi kesalahan penafsir Islam yang faktanya tidak semua Muslim seperti itu. Kita sangat faham Gus Dur pembela Ahmadiyyah.Atau  Amin Rais pun Hidayat NW yang tidak termasuk pencaci maki Ahmadiyyah mereka itu adalah tokoh2 Muslim yang juga meyakini dan menjalankan syariat Islam. Karena itu jika ada yang terasa kurang dalam syariat Islam, maka kita tidak menyalahkan Islam tetapi pemahaman syariat itu yang perlu diperbaiki, itu pun tetap perlu bukti empiris untuk menyatakan bahwa pemahaman syariat tertentu itu salah kaprah atau keliru. Mungkin cak ulil ini juga sedang berupaya &#8220;meluruskan&#8221; pemahaman syariat yang keliru, tetapi itu harus dilakukan secara benar dan rasional. Maju terus cak ulil, tapi jangan ragu untuk mengoreksi pemahaman yang kemudian disadari kurang pas hanya karena takut dikatakan inkonsisten. Seperti cak ulil bilang bahwa pemikiran manusia ini dinamis, maka inkonsistensi adalah implikasi yang wajar bagi pemikiran manusia.<br />
Saya pribadi termasuk yang tidak menentang hukum2 buatan manusia sepanjang tidak bertentangan dengan hukum syariat meskipun tidak sama. Misal hukum pidana Indonesia yang menghukum pencuri dengan penjara, meskipun tidak sama dengan hukum qishos tetapi secara umum tidak bertentangan karena tetap kerangkanya memberi sanksi pelaku kejahatan. Hanya saja tingkat efektifitasnya memang masih perlu dibuktikan apakan potong tangan lebih baik dari penjara atau sebaliknya. &#8220;Rasa keberagamaan&#8221; saya sih mengatakan bahwa Hukum Allah pasti yang paling baik, tetapi memang diperlukan bukti empiris untuk bisa diakui orang yang berpendapat sebaliknya.<br />
Tetapi apa yang saya sampaikan di atas hanyalah terbatas pada hal-hal sosial, sedangkan menyangkut spiritualitas individu dengan Penciptanya tampaknya tidak ter-cover dengan baik dalam kerangka pola pikir cak ulil, atau malah cak ulil tidak menganggap perlu adanya hubungan individu dengan Penciptanya. Kalau menurut saya, sangat tidak mungkin manusia menciptakan sendiri tata cara hubungannya dengan Tuhan dan harus mengikuti cara yang diajarkan Tuhan melalui agama.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: pidhea</title>
		<link>http://ulil.net/2008/09/07/hidup-bisa-teratur-hanya-dengan-agama-surat-kepada-seorang-kawan/comment-page-1/#comment-1474</link>
		<dc:creator>pidhea</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 04 Dec 2008 18:18:41 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ulil.net/2008/09/07/hidup-bisa-teratur-hanya-dengan-agama-surat-kepada-seorang-kawan/#comment-1474</guid>
		<description>semuanya kembali kepada bagaimana cara anda memandang.
pada dasarnya, semua pemikiran tentang kehidupan manusia
berawal dari cara manusia memandang kehidupan itu sendiri.
memandang kehidupan tentu dipengaruhi oleh pijakan berpikirnya
atau paradigma berupa ideologi.
ideologi itu melahirkan berbagai macam pemikiran
tentang problematika kehidupan. yang akhirnya, pada tatanan
tertentu melahirkan suatu aturan atau hukum tertentu
tentang problem solving bagi semua permasalahan kehidupan.
Dalam hal ini standar baik dan buruk, benar atau salah,
boleh atau tidak,
ditetapkan. karena pada dasarnya kehidupan manusia itu
disadari atau tidak, bergantung pada aturan-aturan tersebut.
semua yang kita lakukan pasti mengikuti standar kebolehan,
kebaikan dan kebenaran menurut ideologi tersebut.
tentu saja cara pandang dari masing ideologi itupun berbeda-beda.
baik atau buruk menurut liberalis tidak akan sama dengan baik atau buruk menurut
komunis, begitu pula baik atau buruk menurut Islam. standar kebenaran pun
bersifat subjektif. benar atau salah menurut pandangan masing-masing
ideologi tidak akan pernah mendapatkan titik temu.
kenyataannya, tidak ada sesuatu pun yang tidak subjektif
dalam memandang sesuatu, ideologi-ideologi itu lah
yang mempengaruhi semua pemikiran kita.
sehingga, wajar apabila semua pandangan ideologi itu
saling bertentangan. 
oleh karena itu, semua pandangan yang kita lontarkan
disadari atau tidak sedikit banyak dipengaruhi oleh
ideologi-ideologi tersebut.
keteraturan menurut Islam dengan keteraturan menurut Liberalis
tentu berbeda dari segi makna dan tujuannya.
karena standar kebaikan menurut masing-masing pihak berbeda.
kata-kata bermoral pun lebih bersifat umum ketimbang bermakna klise,
karena bermoral menurut Islam tentu berbeda dengan bermoral 
menurut Liberalis.
dalam hal ini saya hanya menegaskan bahwa pada dasarnya manusia itu butuh
aturan, perlu hukum, terlepas dari produk mana dan produk siapa.
karena kenyataannya, kita melakukan sesuatu atau tidak melakukan
sesuatu berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu,
sedangkan pertimbangan-pertimbangan tertentu itu 
dipengaruhi oleh standar-standar mengenai baik-buruk,benar-salah,
boleh-tidak sekalipun berdasarkan ketetapan/keputusan sendiri 
dengan alasan bermanfaat atau tidak, menguntungkan atau tidak,
menyelematkan atau tidak, menyehatkan atau tidak, membahayakan
atau tidak dan sebagainya.
bahkan bagi orang-orang yang menganggap tak perlu aturan sekalipun
pada dasarnya dia mengikuti atau melakukan sesuatu 
aturan berdasarkan kepentingan,
keinginan, dan kemampuan dirinya.
so, pada butuh aturan kan? Mau bebas kek, gak bebas kek,
fleksibel kek, toleran kek, otaritarian kek, semuanya pada butuh 
aturan. 
cuma masalahnya aturan mana yang layak dan sesuai dengan
fitrah manusia, memuaskan akal kita, dan menentramkan batin kita.
karena pada dasarnya, tiga hal itu bersifat umum. maksudnya,
sesuai dengan fitrah
berarti hukum itu mesti manusiawi. artinya tidak mengekang sama
sekali semua kebutuhan yang ada pada manusia baik jasmani maupun
naluri. dalam hal ini aturan tersebut mesti mengatur pemenuhan 
terhadap kebutuhan dan dorongan naluri manusia sesuai dengan kodratnya.
memuasakan akal berarti aturan tersebut mesti realistis, logis,
dan dapat diterima secara akal sehat.di samping itu aturan itu mesti
menentramkan batin ketika kita mengikuti dan menerapkannya.
so, dengan begitu bisa dipastikan aturan tersebut bisa dan layak
kita jadikan pedoman.
nah, sekarang mari kita pertimbangkan, kita renungkan dan kita pikirkan
secara jernih berdasarkan hati nurani kita dan akal sehat kita mana
aturan yang memenuhi tiga kriteria tersebut.
apakah ideologi Islam, Liberal, Komunis, atau yang lainnya.
terlepas dari produk mana dan siapa, masing-masing ideologi
tersebut menetapkan standar-standar kebaikan dan keburukan,
kebenaran dan kebatilan, kebolehan dan pelarangan berdasarkan
pandangan para pembuatnya atau para penggagasnya.
sebagai contoh, bersetubuh itu baik atau buruk?
pada dasarnya, penilaian baik atau buruk terhadap bersetubuh,
itu dilihat dari segi-segi tertentu yang melibatkan faktor:
status masing-masing, siapa dengan siapa atau siapa dengan apa, 
melalui apa atau bagian apa, dengan cara apa, dan untuk apa.

Islam memandang bersetubuh yang dilakukan oleh sepasang suami istri
itu baik, dan proses menjadi suami istripun ditempuh dengan cara-cara tertentu
yaitu pernikahan dengan tata cara, syarat dan rukunnya.
Suami istripun dalam hal ini mesti berlainan jenis, dan bukan
saudara kandung maupun sepersusuan, dan bukan pula dari 
lawan jenis dari orang tuanya (Islam mengatur siapa saja 
yang boleh dinikahi maupun yang tidak boleh dinikahi).
bukan pula dengan menyetubuhi hewan.
di samping itu Islam telah menetapkan persetubuhan itu
(penetrasi) hanya pada vagina, bukan pada anus (dubur).
meskipun memang gaya dan stylenya tidak ada kekhususan,
bagaimanapun bisa dilakukan baik dari depan, belakang,
ataupun samping asalkan penetrasinya tetap pada vagina bukan anus.
dan persetubuhan itu dimaksudkan untuk melanggengkan keturunan,
saling memberi kenikmatan dan kepuasan
di samping sebagai ibadah.karena persetubuhan bagi suami istri
menurut islam adalah sedekah bagi satu sama lainnya.
 
Liberalis memandang bersetubuh yang dilakukan atas dasar suka sama suka
itu baik atau dibenarkan atau dibolehkan, 
terlepas dari apakah dilakukan oleh pasangan suami istri atau bukan,
berlainan jenis (heteroseksual) atau sejenis (homoseksual), atau
biseksual(berlainan jenis dan sejenis). apakah juga dengan sedarah
atau tidak, atau mungkin dengan ibu atau bapak kandung yang penting
suka sama suka. atau bahkan sama binatang. yang penting enjoy,
tapi entah apakah ini atas dasar suka sama suka atau pemaksaan
alias mengambil jatah si jantan atau si betina.
di samping itu mau penetrasi pada vagina atau anus kek gak
jadi soal yang penting boleh tancap terus plus bebas style.
tujuannya bisa jadi karena hanya sekedar mencari kepuasan
seksual, suka sama suka, &quot;kesehatan&quot;, ataupun yang lainnya
yang jelas dasarnya adalah suka sama suka atau menguntungkan
atau memuaskan atau bermanfaat bagi dirinya masing-masing
menurut pemikiran masing-masing. yang penting happy.
(walaupun memang pada praktiknya bergantung pada kesepakatan
undang-undang yang ditetapkan di suatu negara atau daerah
sebagai legalitas dan legitimasinya)

disini lah saya hanya mencontohkan bahwa setiap orang
terikat dengan suatu aturan tertentu dari suatu ideologi tertentu
sehingga mengahasilkan standar nilai kebaikan, kebenaran dan kebolehan.

Bersetubuh hanya melalui jalur pernikahan adalah baik menurut Islam,
sedangkan bersetubuh melalui atau tanpa melalui jalur pernikahan
asalkan suka sama suka (tidak ada yang terpaksa dan dipaksa) menurut Liberal
adalah baik.

begitulah ideologi menentukan standar nilai kebaikan bagi kehidupan manusia

lantas, persoalannya adalah
mau mengambil ideologi yang mana atau aturan siapa?

semuanya kembali pada diri masing-masing.

kalau memang menurut mas Ulil dan kawan-kawannya,
Amerika  dan negara-negara yang menerapkan Libaralisme 
adalah bentuk ideal bagi negara yang menerapkan 
ideologi kapitalisme tak heran jika mas Ulil and friend
ini membela mati-matian untuk mempertahankan eksistensi ideologinya.
dan itulah kenyataan ideologi. pasti akan mempertahankan, meyebarkan,
dan menentang semua yang bersebrangan dengannya.

namun, hendaknya mas Ulil melihat lebih jauh lagi, bahwa
fakta yang mas Ulil sampaikan itu jauh dari realitas dan
terkesan parsial. Dari semenjak sebelum lahirnya komunis,
hingga lahirnya komunis, bahkan hingga runtuhnya komunis,
sampai saat ini kapitalisme dipandang sebagai ideologi rapuh
dan rentan terhadap kehancuran. fakta menunjukkan bahwa 
kapitalisme membuat jurang yang dalam antara si kaya 
dan si miskin yang membuat pertentangan semakin kentara.
sehingga pada perjalanannya ideolgi kapitalisme mengalami pasang surut
dan terkesan tambal sulam dalam pekembangannya yang
bersifat pragmatis untuk menopang bahaya kehancurannya,
dan inilah yang disadari oleh Anthony Giddens dengan
The Third way (Jalan Ketiga) nya.

so, sampai kapan kita terbawa sebagai &#039;korban eksperimen&#039;
ideologi-ideologi buah akal pemikiran manusia sebagai
&#039;sang Kreator amatiran&#039; semacam kapitalisme, Liberalisme, Sosialiasme
maupun Komunisme.

tanpa mas Ulil dan kawan-kawannya sadari, bahwa mas Ulil 
dan kawan-kawannya sadari telah
terdoktrinasi, dan membebek terhadap ideologi buatan
sesama manusia sendiri. 

Hasilnya? ya seperti yang kita rasakan sendiri.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>semuanya kembali kepada bagaimana cara anda memandang.<br />
pada dasarnya, semua pemikiran tentang kehidupan manusia<br />
berawal dari cara manusia memandang kehidupan itu sendiri.<br />
memandang kehidupan tentu dipengaruhi oleh pijakan berpikirnya<br />
atau paradigma berupa ideologi.<br />
ideologi itu melahirkan berbagai macam pemikiran<br />
tentang problematika kehidupan. yang akhirnya, pada tatanan<br />
tertentu melahirkan suatu aturan atau hukum tertentu<br />
tentang problem solving bagi semua permasalahan kehidupan.<br />
Dalam hal ini standar baik dan buruk, benar atau salah,<br />
boleh atau tidak,<br />
ditetapkan. karena pada dasarnya kehidupan manusia itu<br />
disadari atau tidak, bergantung pada aturan-aturan tersebut.<br />
semua yang kita lakukan pasti mengikuti standar kebolehan,<br />
kebaikan dan kebenaran menurut ideologi tersebut.<br />
tentu saja cara pandang dari masing ideologi itupun berbeda-beda.<br />
baik atau buruk menurut liberalis tidak akan sama dengan baik atau buruk menurut<br />
komunis, begitu pula baik atau buruk menurut Islam. standar kebenaran pun<br />
bersifat subjektif. benar atau salah menurut pandangan masing-masing<br />
ideologi tidak akan pernah mendapatkan titik temu.<br />
kenyataannya, tidak ada sesuatu pun yang tidak subjektif<br />
dalam memandang sesuatu, ideologi-ideologi itu lah<br />
yang mempengaruhi semua pemikiran kita.<br />
sehingga, wajar apabila semua pandangan ideologi itu<br />
saling bertentangan.<br />
oleh karena itu, semua pandangan yang kita lontarkan<br />
disadari atau tidak sedikit banyak dipengaruhi oleh<br />
ideologi-ideologi tersebut.<br />
keteraturan menurut Islam dengan keteraturan menurut Liberalis<br />
tentu berbeda dari segi makna dan tujuannya.<br />
karena standar kebaikan menurut masing-masing pihak berbeda.<br />
kata-kata bermoral pun lebih bersifat umum ketimbang bermakna klise,<br />
karena bermoral menurut Islam tentu berbeda dengan bermoral<br />
menurut Liberalis.<br />
dalam hal ini saya hanya menegaskan bahwa pada dasarnya manusia itu butuh<br />
aturan, perlu hukum, terlepas dari produk mana dan produk siapa.<br />
karena kenyataannya, kita melakukan sesuatu atau tidak melakukan<br />
sesuatu berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu,<br />
sedangkan pertimbangan-pertimbangan tertentu itu<br />
dipengaruhi oleh standar-standar mengenai baik-buruk,benar-salah,<br />
boleh-tidak sekalipun berdasarkan ketetapan/keputusan sendiri<br />
dengan alasan bermanfaat atau tidak, menguntungkan atau tidak,<br />
menyelematkan atau tidak, menyehatkan atau tidak, membahayakan<br />
atau tidak dan sebagainya.<br />
bahkan bagi orang-orang yang menganggap tak perlu aturan sekalipun<br />
pada dasarnya dia mengikuti atau melakukan sesuatu<br />
aturan berdasarkan kepentingan,<br />
keinginan, dan kemampuan dirinya.<br />
so, pada butuh aturan kan? Mau bebas kek, gak bebas kek,<br />
fleksibel kek, toleran kek, otaritarian kek, semuanya pada butuh<br />
aturan.<br />
cuma masalahnya aturan mana yang layak dan sesuai dengan<br />
fitrah manusia, memuaskan akal kita, dan menentramkan batin kita.<br />
karena pada dasarnya, tiga hal itu bersifat umum. maksudnya,<br />
sesuai dengan fitrah<br />
berarti hukum itu mesti manusiawi. artinya tidak mengekang sama<br />
sekali semua kebutuhan yang ada pada manusia baik jasmani maupun<br />
naluri. dalam hal ini aturan tersebut mesti mengatur pemenuhan<br />
terhadap kebutuhan dan dorongan naluri manusia sesuai dengan kodratnya.<br />
memuasakan akal berarti aturan tersebut mesti realistis, logis,<br />
dan dapat diterima secara akal sehat.di samping itu aturan itu mesti<br />
menentramkan batin ketika kita mengikuti dan menerapkannya.<br />
so, dengan begitu bisa dipastikan aturan tersebut bisa dan layak<br />
kita jadikan pedoman.<br />
nah, sekarang mari kita pertimbangkan, kita renungkan dan kita pikirkan<br />
secara jernih berdasarkan hati nurani kita dan akal sehat kita mana<br />
aturan yang memenuhi tiga kriteria tersebut.<br />
apakah ideologi Islam, Liberal, Komunis, atau yang lainnya.<br />
terlepas dari produk mana dan siapa, masing-masing ideologi<br />
tersebut menetapkan standar-standar kebaikan dan keburukan,<br />
kebenaran dan kebatilan, kebolehan dan pelarangan berdasarkan<br />
pandangan para pembuatnya atau para penggagasnya.<br />
sebagai contoh, bersetubuh itu baik atau buruk?<br />
pada dasarnya, penilaian baik atau buruk terhadap bersetubuh,<br />
itu dilihat dari segi-segi tertentu yang melibatkan faktor:<br />
status masing-masing, siapa dengan siapa atau siapa dengan apa,<br />
melalui apa atau bagian apa, dengan cara apa, dan untuk apa.</p>
<p>Islam memandang bersetubuh yang dilakukan oleh sepasang suami istri<br />
itu baik, dan proses menjadi suami istripun ditempuh dengan cara-cara tertentu<br />
yaitu pernikahan dengan tata cara, syarat dan rukunnya.<br />
Suami istripun dalam hal ini mesti berlainan jenis, dan bukan<br />
saudara kandung maupun sepersusuan, dan bukan pula dari<br />
lawan jenis dari orang tuanya (Islam mengatur siapa saja<br />
yang boleh dinikahi maupun yang tidak boleh dinikahi).<br />
bukan pula dengan menyetubuhi hewan.<br />
di samping itu Islam telah menetapkan persetubuhan itu<br />
(penetrasi) hanya pada vagina, bukan pada anus (dubur).<br />
meskipun memang gaya dan stylenya tidak ada kekhususan,<br />
bagaimanapun bisa dilakukan baik dari depan, belakang,<br />
ataupun samping asalkan penetrasinya tetap pada vagina bukan anus.<br />
dan persetubuhan itu dimaksudkan untuk melanggengkan keturunan,<br />
saling memberi kenikmatan dan kepuasan<br />
di samping sebagai ibadah.karena persetubuhan bagi suami istri<br />
menurut islam adalah sedekah bagi satu sama lainnya.</p>
<p>Liberalis memandang bersetubuh yang dilakukan atas dasar suka sama suka<br />
itu baik atau dibenarkan atau dibolehkan,<br />
terlepas dari apakah dilakukan oleh pasangan suami istri atau bukan,<br />
berlainan jenis (heteroseksual) atau sejenis (homoseksual), atau<br />
biseksual(berlainan jenis dan sejenis). apakah juga dengan sedarah<br />
atau tidak, atau mungkin dengan ibu atau bapak kandung yang penting<br />
suka sama suka. atau bahkan sama binatang. yang penting enjoy,<br />
tapi entah apakah ini atas dasar suka sama suka atau pemaksaan<br />
alias mengambil jatah si jantan atau si betina.<br />
di samping itu mau penetrasi pada vagina atau anus kek gak<br />
jadi soal yang penting boleh tancap terus plus bebas style.<br />
tujuannya bisa jadi karena hanya sekedar mencari kepuasan<br />
seksual, suka sama suka, &#8220;kesehatan&#8221;, ataupun yang lainnya<br />
yang jelas dasarnya adalah suka sama suka atau menguntungkan<br />
atau memuaskan atau bermanfaat bagi dirinya masing-masing<br />
menurut pemikiran masing-masing. yang penting happy.<br />
(walaupun memang pada praktiknya bergantung pada kesepakatan<br />
undang-undang yang ditetapkan di suatu negara atau daerah<br />
sebagai legalitas dan legitimasinya)</p>
<p>disini lah saya hanya mencontohkan bahwa setiap orang<br />
terikat dengan suatu aturan tertentu dari suatu ideologi tertentu<br />
sehingga mengahasilkan standar nilai kebaikan, kebenaran dan kebolehan.</p>
<p>Bersetubuh hanya melalui jalur pernikahan adalah baik menurut Islam,<br />
sedangkan bersetubuh melalui atau tanpa melalui jalur pernikahan<br />
asalkan suka sama suka (tidak ada yang terpaksa dan dipaksa) menurut Liberal<br />
adalah baik.</p>
<p>begitulah ideologi menentukan standar nilai kebaikan bagi kehidupan manusia</p>
<p>lantas, persoalannya adalah<br />
mau mengambil ideologi yang mana atau aturan siapa?</p>
<p>semuanya kembali pada diri masing-masing.</p>
<p>kalau memang menurut mas Ulil dan kawan-kawannya,<br />
Amerika  dan negara-negara yang menerapkan Libaralisme<br />
adalah bentuk ideal bagi negara yang menerapkan<br />
ideologi kapitalisme tak heran jika mas Ulil and friend<br />
ini membela mati-matian untuk mempertahankan eksistensi ideologinya.<br />
dan itulah kenyataan ideologi. pasti akan mempertahankan, meyebarkan,<br />
dan menentang semua yang bersebrangan dengannya.</p>
<p>namun, hendaknya mas Ulil melihat lebih jauh lagi, bahwa<br />
fakta yang mas Ulil sampaikan itu jauh dari realitas dan<br />
terkesan parsial. Dari semenjak sebelum lahirnya komunis,<br />
hingga lahirnya komunis, bahkan hingga runtuhnya komunis,<br />
sampai saat ini kapitalisme dipandang sebagai ideologi rapuh<br />
dan rentan terhadap kehancuran. fakta menunjukkan bahwa<br />
kapitalisme membuat jurang yang dalam antara si kaya<br />
dan si miskin yang membuat pertentangan semakin kentara.<br />
sehingga pada perjalanannya ideolgi kapitalisme mengalami pasang surut<br />
dan terkesan tambal sulam dalam pekembangannya yang<br />
bersifat pragmatis untuk menopang bahaya kehancurannya,<br />
dan inilah yang disadari oleh Anthony Giddens dengan<br />
The Third way (Jalan Ketiga) nya.</p>
<p>so, sampai kapan kita terbawa sebagai &#8216;korban eksperimen&#8217;<br />
ideologi-ideologi buah akal pemikiran manusia sebagai<br />
&#8216;sang Kreator amatiran&#8217; semacam kapitalisme, Liberalisme, Sosialiasme<br />
maupun Komunisme.</p>
<p>tanpa mas Ulil dan kawan-kawannya sadari, bahwa mas Ulil<br />
dan kawan-kawannya sadari telah<br />
terdoktrinasi, dan membebek terhadap ideologi buatan<br />
sesama manusia sendiri. </p>
<p>Hasilnya? ya seperti yang kita rasakan sendiri.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: diyant</title>
		<link>http://ulil.net/2008/09/07/hidup-bisa-teratur-hanya-dengan-agama-surat-kepada-seorang-kawan/comment-page-1/#comment-1431</link>
		<dc:creator>diyant</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 29 Nov 2008 02:30:43 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ulil.net/2008/09/07/hidup-bisa-teratur-hanya-dengan-agama-surat-kepada-seorang-kawan/#comment-1431</guid>
		<description>sekedar mengutip kalimat yg pernah saya baca:
,
agama adalah untuk manusia... dan bukan manusia untuk agama</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>sekedar mengutip kalimat yg pernah saya baca:<br />
,<br />
agama adalah untuk manusia&#8230; dan bukan manusia untuk agama</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: mas jamal</title>
		<link>http://ulil.net/2008/09/07/hidup-bisa-teratur-hanya-dengan-agama-surat-kepada-seorang-kawan/comment-page-1/#comment-1218</link>
		<dc:creator>mas jamal</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 02 Nov 2008 16:31:09 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ulil.net/2008/09/07/hidup-bisa-teratur-hanya-dengan-agama-surat-kepada-seorang-kawan/#comment-1218</guid>
		<description>aku suka komentar mas nathie, meski rada beda pandangan tapi sejuk bersahabat dan dewasa....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>aku suka komentar mas nathie, meski rada beda pandangan tapi sejuk bersahabat dan dewasa&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

