Hidup bisa teratur hanya dengan agama? — Surat kepada seorang kawan

Hamid yang baik,

BETULKAH kehidupan manusia bisa teratur hanya dengan agama? Apakah kehidupan manusia tidak mungkin dibuat begitu rupa menjadi tertib dengan hukum-hukum dan peraturan yang mereka buat sendiri berdasarkan akal, pengalaman, dan tahap kematangan mental-intelektual mereka sendiri?

Apakah jalan satu-satunya menjadi manusia bermoral dan etis hanya melalui agama? Apakah moralitas yang berasal dari sumber di luar agama sama sekali tak bisa menjadi landasan untuk mengatur kehidupan manusia?

Beberapa kalangan dalam agama, terutama Islam, mengajukan sebuah logika yang menarik. Bukankah, tanya mereka, Tuhan lebih tahu tinimbang manusia? Bukankah Tuhan Maha Tahu tentang segala-galanya? Dengan demikian, bukankah hukum-hukum dan peraturan yang diberikan oleh Tuhan lebih baik ketimbang hukum yang dibuat manusia sendiri?

Sejak lama saya beregelut dengan pertanyaan ini, dan perkenankan saya mengajukan sebuah refleksi berikut ini. Jawaban saya ini mungkin saja terasa “keras” di telinga sebagian kalangan beragama; tetapi saya harus mengatakannya. Sekurang-kurangnya apa yang saya sampaikan ini bisa menjadi semacam “pengimbang” bagi pendapat yang umum diikuti oleh umat Islam saat ini.

Pertama-tama, perkenankan saya mengatakan: sama sekali tidak benar bahwa jalan satu-satunya menjadi manusia bermoral dan hidup secara etis hanya melalui agama. Seseorang yang tak memeluk agama apapun di dunia ini bisa menjadi manusia yang baik dan hidup secara bermoral.

Bahkan dalam pandangan sebagian kaum Mu’tazilah, kelompok rasionalis yang sudah lahir dalam sejarah Islam sejak seribu tahun lebih yang lalu, sumber moralitas pertama-tama adalah akal manusia. Wahyu hanya datang belakangan untuk mengkonfirmasi moralitas yang sudah diketahui oleh akal manusia itu.

Saya duga orang beragama memiliki asumsi tersembunyi: jika seseorang tak mengikuti ajaran agama apapun, alias agnostik atau ateis, yang bersangkutan akan menjadi orang yang secara moral bejat. Misalnya: yang bersangkutan suka mencuri harta orang lain, menyetubuhi setiap perempuan yang ia jumpai di jalan secara seenaknya seperti binatang, mengganggu orang lain tanpa peduli, membunuhi manusia seenak udelnya sendiri, dsb.

Walhasil, orang yang tak beragama atau anti-agama akan dengan sendirinya bertingkah-laku seenaknya tanpa ikatakan apapun.

Asumsi seperti ini, mohon maaf, adalah asumsi yang bodoh sekali dan tak melihat dunia sekitar. Orang beragama pura-pura tak tahu bahwa tanpa dalil-dalil agama sekalipun, manusia menciptakan aturan yang kompleks untuk mengatur kehidupan mereka agar tidak kacau. Ribuan hukum diciptakan di dunia ini tanpa keterlibatan agama atau wahyu.

Ambillah contoh yang sangat sederhana dari kehidupan modern sekarang. Setelah ditemukannya pesawat terbang oleh Wilbur dan Orville Right pada 1903, muncullah konvensi, hukum, dan peraturan internasional yang sengaja diciptakan untuk menjamin tegaknya industri penerbangan yang akan menjaga keselamatan penumpang.

Di bawah PBB, misalnya, ada sebuah lembaga yang bertanggung jawab untuk mengeluarkan sejumah regulasi dan “code of conduct” dalam penerbangan internasional, yaitu ICAO (International Civil Aviation Organization) yang bermarkas di Montreal, Kanada.

Berdasarkan hukum dan regulasi internasional inilah, misalnya, Uni Eropa melarang perusahaan penerbangan nasional kita, Garuda, untuk memasuki wilayah Eropa. Larangan ini juga berlaku untuk beberapa penerbangan dari negeri-negeri lain, seperti Angola. Uni Eropa mengeluarkan larangan ini pada bulan Juni 2008 yang lalu dan berlaku efektif sejak 6 Juli 2008.

Hukum dan peraturan itu sama sekali tidak lahir dari agama, dan ditulis bukan dengan merujuk pada ayat-ayat Kitab Suci agama tertentu. Tokoh-tokoh agama sama sekali tak terlibat sedikitpun dalam perumusan dan pembuatan peraturan ini. Tak ada seorang fikih pun yang terlibat di sini, sebab saat fikih ditulis oleh ulama Islam ratusan tahun yang lalu, teknologi dan industri penerbangan belum muncul.

Jika anda mengelola perusahaan penerbangan, maka yang disebut “hidup bermoral” dalam konteks usaha anda itu adalah mengikuti peraturan internasional dalam bidang penerbangan itu. Semua orang, baik beragama atau tidak, diikat oleh moralitas tersebut. Jia ia melanggar moralitas itu, ia akan dikeluarkan dari komunitas penerbangan internasional, sebab akan membahayakan keselamatan penumpang.

Taruhlah ada seorang pilot yang kebetulan juga seorang agnostik atau ateis yang tak percaya pada agama apapun, apakah dia langsung akan menyetir pesawat terbang dengan seenaknya saja tanpa mengikuti peraturan internasional? Kan tidak toh?

Ribuan peraturan dan “code of conduct” diciptakan oleh manusia modern untuk membuat hidup mereka teratur. Peraturan ini dibuat tanpa merujuk sedikitpun pada ajaran agama. Peraturan ini bisa kita temukan dalam semua bidang kehidupan manusia modern.

Kalau anda hidup di Amerika dan kebetulan anda adalah penggemar mancing-memancing, anda akan menjumpai aturan yang begitu ketat sampai ke hal yang sederhana itu. Anda, misalnya, tak boleh memancing ikan yang beratnya kurang dari standar tertentu yang ditentukan oleh hukum negara bagian setempat.

Apakah aturan memancing itu dibuat manusia dengan merujuk pada ayat-ayat dalam Kitab Suci agama tertentu? Jelas tidak. Aturan ini dibuat semata-mata karena pertimbangan kepentingan umum, karena akal manusia menghendaki kehidupan yang baik.

Contoh sederhana ini bisa diperluas ke bidang-bidang lain. Intinya: moralitas agama memang memainkan peranan dalam mengatur kehidupan manusia dalam batas-batas tertentu; tetapi untuk sebagian besar, kehidupan manusia diatur oleh hukum dan peraturan sekuler yang dibuat oleh manusia sendiri tanpa merujuk pada agama. Peraturan agama hanyalah setitik saja di tengah “lautan” aturan yang dibuat oleh manusia.

Lihatlah parlemen negeri-negeri demokrasi di seluruh dunia yang memproduksi ribuan hukum setiap tahun guna mengatur kehidupan manusia agar tertib, agar hak-hak seseorang tidak dilanggar oleh orang lain. Khazanah fikih Islam tak ada apa-apanya dibdaning dengan khazanah hukum sekuler yang terus berkembang makin kompleks itu. Khazanah hukum sekuler jauh lebih kaya ketimbang hukum agama manapun, termasuk Islam.

Orang beragama terlalu “ge-er” sekali manakala beranggapan bahwa tanpa aturan agama, hidup manusia akan kacau-balau. Mereka beranggapan bahwa manusia begitu jahatnya sehingga kalau tak diatur oleh hukum agama akan menjadi binatang buas. Sebagaimana sudah saya tunjukkan, asumsi ini salah besar. Manusia, dengan atau tanpa agama, akan menciptakan aturan-aturan yang kompleks untuk membuat hidupnya teratur.

Salah satu cara yang mudah untuk mengetahui apakah manusia hidup teratur atau tidak sangatlah sederhana, yaitu apakah ia mengikuti hukum atau tidak. Makin masyarakat menjadi “law abiding society“, masyarakat yang taat hukum, maka makin tertib dan teratur pula masyarakat itu. Sekarang kita lihat sendiri, mana masyarakat yang paling tertib karena taat hukum, karena hukum ditegakkan dengan baik: apakah masyarakat sekuler seperti kita lihat di negeri-negeri Barat, atau masyarakat religius, misalnya, di negeri Muslim?

Marilah kita lihat dengan sederhana saja soal lalu-lintas di kota sebuah negeri yang mayoritas penduduknya beragama Islam, yaitu Jakarta. Bandingkan saja kota Jakarta dengan kota di sebuah negeri sekuler, taruhlah kota New York yang tak kalah padat dengan Jakarta. Dari dua kota itu, mana yang lebih teratur?

Sudah tentu tidak semua kota di dunia dengan mayoritas penduduk Muslim kacau balau seperti Jakarta, Islamabad, Karachi atau Kairo. Kuala Lumpur, misalnya, sangat teratur dan tak kalah dengan kota-kota di negeri maju yang lain. Tetapi jika kita tengok gambar secara umum, kota-kota negeri-negeri yang maju di Eropa yang sekuler itu jauh lebih indah, teratur, taat hukum, dan relatif terkontrol tingkat polusinya ketimbang kota-kota di negeri-negeri Muslim.

Saya akan bertanya kepada umat beragama, terutama Islam: apakah kota negeri-negeri sekuler kacau balau dan kehidupan masyarakat di sana hancur berantakan karena mereka tak mengikuti hukum agama?

Ada salah paham yang berkembang luas di kalangan sebagian kalangan Islam, yaitu bahwa liberalisme sama saja dengan hidup bebas tanpa aturan (tentu maksudnya aturan agama). Pandangan semacam ini hanya bisa dipercaya oleh orang-orang yang tak mempelajari dengan baik bagaimana praktek sosial dalam masyarakat liberal.

Kalau kita tengok negeri-negeri dengan tradisi demokrasi-liberal yang mapan, kita akan tahu bahwa di sana hukum jauh lebih ditegakkan ketimbang di negeri-negeri otoriter (termasuk di dalamnya negeri-negeri Islam sendiri).

Mereka yang hidup di negeri-negeri seperti itu akan tahu bagaimana ketatnya hukum yang berlaku dalam masyarakat. Sekedar gambaran sederhana: jika anda hidup di Amerika Serikat, lalu tengah malam tetangga anda melakukan keributan yang mengganggu tidur anda, maka anda bisa menelpon 911 dan memanggil polisi untuk mengingatkan tetangga anda itu.

Jika anda mengendarai mobil, anda tak bisa memarkir di sembarang tempat. Jika anda memarkir mobil yang disediakan untuk orang-orang “dis-abled” (orang cacat, maaf memakai istilah ini), anda bisa terkena denda yang sangat besar, sekitar US $200 (hampir dua juta rupiah).

Kehidupan sosial begitu tertib di negeri-negeri liberal yang maju, persis karena adanya “rule of law”. Kebalikan dari pandangan sebagian kalangan Islam selama ini, negara demokrasi-liberal adalah sebuah negara dengan ciri-ciri tertentu, antara lain “rule of law“, artinya kedaulatan hukum, bukan negeri yang bebas dari hukum.

Perbedaan mendasar antara negara demokrasi-liberal denga negeri syariat seperti dikehendaki oleh sebagian kalangan Islam adalah sebagai berikut. Dalam negara demokrasi-liberal, hukum dibuat berdasarkan proses politik yang disebut dengan “deliberasi publik”, atau perdebatan publik. Sebelum sebuah hukum ditetapkan oleh parleman melalui proses yang disebut “enactment“, ia harus diuji terlebih dulu melalui perdebatan publik.

Ini berbeda dengan hukum syariat yang dirumuskan secara “sepihak” oleh oligarki sarjana ahli hukum agama (disebut dengan “fuqaha”, bentuk jamak dari kata “faqih”). Hukum syariat seperti kita kenal dalam Islam mempunyai ciri khas yang lebih elitis ketimbang hukum sekuler dalam negara demokrasi modern.

Beda yang lain: hukum sekuler bisa dipersoalkan dan diperdebatkan tanpa yang bersangkutan khawatir dituduh kafir atau murtad. Ini berbeda dengan hukum syariat yang mengkleim berasal dari Tuhan sehingga siapa saja yang mencoba mempersoalkannya bisa terkena tuduhan kafir. Hukum syariat rentan menjadi lahan subur untuk tumbuhnya otoritarianisme politik (meskipun tidak selalu demikian), persis karena kleimnya sebagai “hukum suci” yang secara umum tak boleh diperdebatkan, terutama aspek-aspek di sana yang dianggap “qath’i” atau pasti.

MASALAH yang selalu menghantui pikiran orang beragama, terutama Islam, adalah masalah seks dan perempuan. Orang beragama berasumsi bahwa tanpa hukum dan moralitas agama, kehidupan seksual manusia akan kacau balau. Apakah asumsi ini benar?

Saya khawatir, umat Islam diam-diam mempunyai anggapan bahwa jika perempuan tak memakai pakaian yang menutup aurat, maka dia akan dimangsa oleh laki-laki, seperti ayam betina dimangsa oleh ayam jago di sembarang tempat.

Sementara itu, aurat perempuan, menurut hukum Islam yang “standar”, adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan. Dengan demikian, perempuan yang berpakaian sopan dan rapi tetapi tidak menutup seluruh tubuhnya (misalnya rambutnya masih tampak kelihatan), dia dianggap sebagai tak menutup aurat. Seorang imam dari Australia yang berasal dari Mesir pernah melontarkan statemen beberapa waktu lalu bahwa seorang perempuan yang tak menutup seluruh tubuhya, “head-to-toe” , sama dengan daging yang tak ditutup. Maksudnya, rawan dirubung “lalat”.

Mari kita tinjau sekali lagi fakta-fakta empiris di lapangan. Apakah betul demikian?

Tengok saja kehidupan sehari-hari di kota Jakarta, tak usah terlalu jauh ke negeri normal seperti Amerika atau Eropa Barat. Lihatlah para perempuan yang bekerja di kantor-kantor, baik pemerintah atau swasta. Sebagian besar mereka mamakai baju biasa, bukan baju penutup aurat seperti dikehendaki oleh hukum Islam. Apakah perempuan-perempuan itu langsung menjadi “mangsa” laki-laki? Apakah kehidupan seksual manusia Jakarta langsung kacau-balau?

Meskipun tingkat keamanan di kota Jakarta tak sebaik di Boston, misalnya, tetapi kita menyaksikan sendiri bagaimana perempuan bisa berjalan dengan aman di tempat-tempat umum, walaupun tak memakai baju yang menutup seluruh aurat. Memang ada insiden di sana-sini, misalnya pemerkosaan. Tetapi secara umum, ruang publik di kota Jakarta dan kota-kota lain sangat aman bagi perempuan, walaupun mereka tak memakai pakaian yang sesuai dengan tuntutan hukum Islam mengenai aurat.

Saya sudah pernah menulis bahwa asumsi sebagian umat Islam begitu buruknya sehingga memandang laki-laki seolah-olah sebagai “binatang buas” yang haus seks, seolah-olah jika melihat perempuan yang tak menutup aurat akan langsung menerkamnya dan ingin bersetubuh dengannya “on the spot“. Sebegitu burukkah asumsi umat beragama yang konon menganggap manusia sebagai “citra Tuhan”, imago Dei (dalam Quran ditegaskan “tsumma sawwahu wa nafakha fihi min ruhihi” QS 32:9)?

Jangan salah paham. Isteri saya memakai jilbab, karena, berdasarkan tradisi di mana ia tumbuh, jilbab dianggap sebagai pakaian yang bisa menjaga martabat perempuan. Tetapi isteri saya tidak menganggap bahwa pakaian-pakaian lain di luar jilbab tidak bisa menjaga kehormatan perempuan dan kepantasan publik.

DENGAN menulis ini semua bukan berarti saya anti-agama. Saya tetap seorang Muslim. Tetapi saya mencoba menjadi seorang beragama yang rendah hati. Saya beragama, tetapi tak menganggap bahwa agama adalah satu-satunya jalan menuju kehidupan yang tertib. Oleh karena itu, saya menghormati orang-orang yang agnostik dan ateis, dan tak beranggapan bahwa manusia yang agnostik akan dengan sendirinya menjadi manusia bejat.

Saya berteman dengan banyak orang-orang yang agnostik: mereka tak kalah humanisnya dengan manusia beragama. Mereka manusia yang bermartabat dan menghormati manusia lain. Bahkan dalam banyak hal, mereka jauh lebih humanis ketimbang manusia beragama.

Bagaimana anda bisa menjelaskan tingkah-laku orang yang konon beragama tetapi menyerang secara fisik, membunuhi, dan mempersekusi orang-orang yang berbeda pandangan dan keyakinan seperti dilakukan oleh orang-orang beragama, sebagaimana kita baca dalam sejarah Kristen dan Islam selama ini?

Yang menarik, hanya di negeri sekulerlah semua agama dan sekte dijamin dengan bebas. Semua sekte dan mazhab bisa mekar dengan bebas di tanah Amerika, misalnya. Sementara di negeri-negeri yang konon “relijius” seperti Indonesia, hak-hak kaum minoritas seperti Ahmadiyah, misalnya, justru ditindas dengan seenaknya oleh orang-orang yang mengaku beragama.

Saya harus menambahkan catatan sebagai “caveat” untuk surat saya ini. Istilah “agama” di sini saya pakai dalam konteks yang terbatas, yaitu agama sebagaimana ditafsirkan oleh orang-orang bigot, fanatik, dan totaliter.

Saya ingin menutup surat ini dengan mengatakan bahwa setiap bentuk “bigotry”, fanatisme, dan totalitarianisme adalah jahat dan berlawanan dengan akal sehat manusia, entah sumbernya dari agama atau non-agama. Totalitarianisme dan fanatisme agama sama saja bahanya dengan totalitarianisme sekuler seperti dipraktekkan oleh Nazi dan sistem totaliter di Uni Soviet dulu. Di mata saya, kaum bigot dan totaliter di mana-mana sama saja: mereka adalah ancaman bagi manusia.

Mohon maaf jika surat saya ini terlalu berkepanjangan dan membosankan.[]

About Ulil Abshar-Abdalla

Iman yang kuat tak akan takut pada keraguan. Iman yang dangkal dan dogmatis selalu was-was pada pertanyaan dan keragu-raguan.
This entry was posted in Surat-surat dari Milis JIL. Bookmark the permalink.

29 Responses to Hidup bisa teratur hanya dengan agama? — Surat kepada seorang kawan

  1. diky abdul jabar says:

    kang Ulil,
    anda benar, kita hanya ketakutan bahwa agama menjadi lemah dan rendah bila kita tidak ‘membela’ matia-matian. hatta kehilangan nalar kritis dan humanis yang justru adalah ruh agama itu sendiri.
    semoga kita selalu tersadarkan dan tercerahkan dari segala taklid buta berkedok agama. Amin

  2. Kris says:

    Setuju ms ulil, Kita harus benar benar obyektif dan jujur terhadap segala sesuatu. Saya yakin tuhan tidak hanya benci pada ucapan yang munafik, tapi juga pada pikiran yang munafik. Salam humanis

  3. Adri says:

    Sepakat dengan mas Ulil, saya rasa pemikiran ini perlu dipahami oleh seluruh umat beragama (tidak hanya Muslim).

  4. safuzi says:

    Menarik, ketika membandingkan kondisi umat islam di saat masa paling gelap peradabannya, dengan kondisi sekuler yg merasa sedang menemukan masa kegemilangannya.

    Coba sebentar kita tarik catatan sejarah, kembali pada masa dimana Rasulullah saw melakukan hal yg sama pada masanya.

    Bagaimana bisa, dari sebuah tempat (Makkah) yg jauh dari hiruk pikuk perebutan kekuasaan 2 imperium besar, Romawi & Persia, dalam waktu 3 dekade menjelma menjadi Imperium terbesar pada zamannya, melampui 2 imperium sebelumnya. Seperti apakah gerangan tokoh penggeraknya ?

    Ajaran spt apa yg bisa menginspirasikan orang-orang tak dikenal tsb bisa memimpin peradaban pada masanya, kemudian menyebarkan peradaban tsb sampai ke Cordoba di Andalusia, yg kemudian membangun Cordoba menjadi pusat peradaban pada masanya. Adakah ‘penjajah’ dari kalangan sekuler pada masa ini yg berbuat sebaik itu ?

    Adakah The Great Britain Inggris berbuat yg sama ketika menjajah India ?

    Adakah Belanda mengantarkan Nusantara kepada puncak peradabannya ketika berhasil menjajahnya ?

    Ijinkan aku tertawa sejenak, ketika Cak Ulil melupakan, bagaimana hasil dari ideology diluar islam telah berhasil menjadikan kolonisasi mendunia ?

    Apakah Cak Ulil lupa, bagaimana perang dunia adalah hasil dari ideology diluar islam yg mengajarkan bahwa bangsa dengan ras terkuat yg berhak utk survive ?

    Sebuah pelaksanaan ajaran Darwinisme yg diaplikasikan kepada bangsa manusia, ternyata hasilnya sungguh spektakuler, perang dunia, sebuah bencana kemanusiaan yg paling besar dalam sejarah.

    Perang dingin antara faham liberal kapitalis melawan sosialis komunis apakah juga merupakan prestasi dari moralitas di luar islam ?

    Sepertinya Cak Ulil juga lupa, bahwa mentalitas terjajah yg diderita oleh Negara dunia ketiga adalah hasil didikan penjajah setelah sekian lama ?

    Itukah yg diajarkan oleh moralitas di luar islam ?

    Seorang nabi Musa tidak bisa berhasil membawa Bani Israel keluar dari mentalitas terjajah, yg akhirnya dihukum tidak punya tanah air selama 40 tahun.

    Kalau boleh jujur, apakah bisa membuat bangsa kita terjajah merupakan prestasi dari moralitas penjajah Belanda ?

  5. haqi says:

    aku jadi pengen ke USA

  6. rihab S.A says:

    Whoever whises to have the benefits of the immediate world, let him acquire knowledge..
    Whoever whishes to have the benefits of hereafter, let him acquire knowledge..
    Whoever whishes to have both togather, let him acquire knowledge..

  7. danalingga says:

    Hidup itu bisa teratur hanyalah dengan keteraturan itu sendiri. Bukan soal beragama atau tidak.

  8. saiful says:

    Bung Ulil, saya kira, aturan apa aja bisa OK, asal bener dan berperikemanusiaan. Jadi bukan soal ia aturan agama atau tidak … bahkan aturan “setan” pun asal dia bisa membawa kedamaian dan menuju kebahagian … mengapa tidak?

  9. Agiek says:

    @bung safuzi
    saya tertarik menggunakan analogi anda. Saya pun juga bisa mengajukan pertanyaan yg sama kpd anda, apakah pertikaian bahkan pembunuhan antar sahabat dan keluarga nabi setelah nabi wafat bisa disebut juga sbg prestasi dari moralitas islam?

    Saya sepertinya melihat Misleading vividness di sini ;)

    falacy bung, argumen anda itu falacy :)

    Ayo dong, biasakanlah untuk tidak ber-fallacy ria (menggunakan argumen yang cacat) tiap kali melontarkan argumen. salam ;)

  10. Junaidi says:

    memang keberaturan itu belum tentu ada sangkut pautnya dengan agama. tapi sebagai umat muslim, knp harus anti syariat islam sih? kesalahan tidak hanya berada dikalangan muslim, disemua agama pada praktiknya ada kesalahan. maka dari itu ambilah kebenaran dalam agama, dimana sebagai muslim sebaiknya atau kalo beoleh dibilang seharusnya mengambil kebenaran dari agama islam itu sendiri.

  11. Nathie says:

    Buat semuanya:

    Saya yakin Bang Ulil (yang nulis artikel ini) tidak sedikit pun bermaksud untuk mendiskreditkan syariat. Yang menjadi pertanyaan disini adalah: mampukah kita, apabila segala logika keagamaan yang selalu disuapkan kepada kita sejak kecil dikupas habis, membangun sebuah masyarakat yang bisa survive tanpa mengkaitkan satu pun ajaran yang diperoleh dari agama?

    Syariat, sebagaimana yang dijelaskan Bang Ulil, memang terlihat sebagai hukum yang absolut; tidak bisa dibantah, karena memang yang membuat adalah sebuah golongan sosial yang punya kuasa untuk mengatur kehidupan sosial masyarakatnya. Tapi, bisakah aturan absolut ini mewadahi segala kepentingan rakyat? Karena syariat bersifat sepihak, ia hanya bisa mewadahi mereka yang sependapat dengannya. Yang tidak sependapat? kemungkinan besar tidak dimasukkan kedalam sistem sosial atau yang lebih parah: dipaksa dengan jalan kekerasan. Apakah memaksakan seseorang untuk sepaham dengannya termasuk ‘kebenaran dalam agama’?

    Sah-sah saja apabila tiap umat beragama merasa bahwa ada unsur kebenaran dalam tiap ajarannya. Yang menjadi masalah disini adalah sikap meng-eksklusifkan kebenaran, seolah satu diri merasa bahwa ‘kebenaran’nya adalah yang paling benar. Inilah yang ingin kita hindari.

    Indonesia, walau termasuk negara yang Muslimnya jauh lebih banyak dari negara-negara lain, tidak bisa disamakan dengan negara Timur Tengah yang kulturnya homogen alias hampir mirip satu sama lain. Yang saya khawatirkan, syariat Islam yang berunsur homogen justru menggeser nilai-nilai keberagaman kultural yang selalu kita banggakan. Seperti yang sudah saya jelaskan, belum tentu syariat bisa mewadahi semua kebutuhan orang Indonesia yang begitu beragam budayanya.

    Buat semuanya: bila ingin berkomentar, gak usah terburu nafsu dahulu. Pelan-pelan, cerna tiap kalimat baik-baik. Hilangkan segala sentimen yang ada (kayak metode terapi aja). Yuk kita ciptakan ruang diskusi yang hangat dan menyenangkan :)

    Kalo ada yang pingin mengoreksi komentar saya, sah-sah saja. Saya tidak akan merasa sok pintar di sini, karena saya sendiri masih kurang ilmu.

    Buat Bang Ulil, saya suka artikel ini. Bikin saya berlatih untuk mengasah logika :D

    Peace

  12. Ass. Wr. Wb
    Maaf saya orang bodoh……saya tidak mengerti kalimat Nathie …
    “Seperti yang sudah saya jelaskan, belum tentu syariat bisa mewadahi semua kebutuhan orang Indonesia yang begitu beragam budayanya”.

    Syariat mana yang dimaksud Nathie? dan apa yang bisa mewadahi keberagaman tersebut?

    Alhamdulillah saya sich masih meyakini bahwa Islam rachmatan lil alamin….dan untuk menerapkannya tentunya harus ada metodologi yang jelas dalam mengimani Islam…..(hermeneutika bukan solusi…..karena bagaimana mungkin akal manusia digunakan untuk melawan kebenaran firman Allah SWT sang Khalik/yang justru menciptakan manusia itu sendiri …..ini bentuk penentangan yang nyata kepada-Nya)

    Ada Al Qur’an dan As Sunnah, ada banyak tafsir dari mufasir yang sdh jelas ketinggian ilmu dan kerendah hatiannya….(apalagi Al Qur’an sdh teruji sejak 15 abad yang lalu dan tidak berubah hingga saat ini maupun sampai akhir zaman karena memang langsung dijaga-Nya, di Indonesia banyak lembaga yang bahkan sdh mendidik anak2 kecil menghafal Al Qur’an…. dan di dunia ini banyak sekali anak2 yang bisa menghafal Al Qur’an……..upaya tersebut memberikan salah satu dasar bagi mereka bila kelak menjadi pemimpin negara maka basis agama Islam mereka sdh kokoh untuk menuju Islam yang rahmatan lil alamin dan bisa membentengi mereka dari aliran-aliran yang sesat atau mendewa-dewakan akal….)

    Kesimpulan:
    Akal harus ditempatkan yang benar yaitu untuk mendapatkan Kebenaran Sejati yang berpedoman pada firman-firman Allah SWT dalam Al Quran serta sabda Nabi Muhammad SAW agar tidak sesat dan menyesatkan serta bisa selamat dunia dan akhirat.Husnul Khatimah….Amin…..

    Saran:
    Agar blog ini diisi dengan diskusi yang menambah keimanan (Rukun Iman) dan memperbanyak pencerahan yang mengajarkan Kebenaran Sejati = bahwa tidak ada tuhan selain Allah SWT/Rukun Islam) ” tentunya yang tidak menuruti hawa nafsu serta tidak terlalu mendewa-dewakan akal manusia”….apalagi bila ada rujukan yang jelas yang berasal dari firman Allah SWT dan Sabda Nabi Muhammad SAW……….jadi bukan rujukan para orientalis atau diabolis intektual (atau saya barangkali salah masuk di blog ini ya….karena saya jadi bingung kalau mencari kebenaran sejati di blog ini ? kalau begitu maaf dech …..bye..bye.. C U on Other Blog….wassalam)

  13. Kris says:

    Mas ulil, pendapat yang anda sampaikan benar sih, tapi mungkin malah bikin bingung mas, sejak kecil kita ini diajarkan bahwa tanpa agama semuanya akan morat marit, tehnologi tanpa agama akan morat marit,semua tanpa agama morat marit. dimana-mana begitu. Lalu makna agama sendiri buat anda apa mas. Tolomg mas bikin tulisanya. tulisanya yang renyah,obyektif dan enak dibaca ya mas. jangan kaya orang2fundamentalis yang bisany cm bikin slogan sama ngancam ngancam doang. trims

  14. lovepassword says:

    Keteraturan hidup adalah tergantung manusianya dengan atau tanpa agama. Tapi saya memilih beragama.

  15. kocha says:

    @agustono prakoso

    hemat saya, ketika seseorang mencari ‘kebenaran’ haruslah bersih dari pretensi-pretensi, dengan hati yang bersih, substansi akan mudah didapatkan, pertentangan terjadi bukan hanya di saat ini, bahkan para sahabat langsung berselisih pendapat setelah rasul wafat…

    saya rasa banyak dari kita yang tidak ‘alergi’ syariah, tetapi harus dicermati syariah itu menurut siapa, hampir semua produk2 syariah justru lahir jauh setelah nabi wafat dan merupakan hasil pemikiran serta interpretasi ulama dahulu, tentu saja mereka adalah orang2 cerdas, namun seiring waktu distorsi itu terjadi dimana-mana karena multi interpretasi tersebut, sehingga muncul bermacam2 aliran, idealnya selain quran dan sunnah diperlukan juga kebeningan hati dan kejernihan pikiran untuk menginterpretasikan ajaran islam awal, sehingga kita mampu memilih ke mana kita melangkah dengan pijakan kuat, dan tidak hanya berlindung dibalik “hukum ALLAH” saja, menelan mentah-mentah setelah melabeli segala produk hukum dengan “milik ALLAH”

    wassalam…..

  16. Nagabonar says:

    Mas Ulil,

    Saya tertarik dengan tulisan anda. Saya setuju bahwa, tulisan anda sedikit banyak memang menggambarkan sejarah dan realitas kehidupan saat ini.

    Mohon maaf, saya kurang begitu faham ttg agama Islam. Dan saya ada beberapa pertanyaan buat Mas Ulil. Mohon pencerahan;

    Pertanyaan saya, sebagai intelektual muslim, apakah anda percaya dengan hukum Islam (Syariah), yang berasal dari Alquran?

    Apakah seorang muslim boleh percaya sebagian isi Alquran saja, dan membuang (tdk percaya) sebagian isi yg lain?

    Apakah isi Alquran yg tdk sesuai dengan realitas kehidupan saat ini, perlu dirubah (direvisi)?

    Kalau Iya, kenapa bisa begitu? Apakah Tuhan salah informasi?

    Kalau Iya, kenapa manusia bisa lebih pintar dari Tuhan?

    Kalau Iya, kenapa kita mesti percaya pada Tuhan? Toh informasi yg ada di “kitab suci” nya salah?

    Terimakasih atas informasi & pencerahanya.

  17. Nagabonar says:

    Rekan-2,
    Saya hanya moncoba mengikuti alur logika Mas Ulil. Karena cara berpikir Mas Ulil yg cerdas dan penyampaianya juga cukup jelas, sehingga saya sbg orang awam, mencoba mencerna dan timbul beberapa pertanyaan seperti ditulisan saya sebelumnya.

    Terimakasih.

  18. Nagabonar says:

    Mas Ulil,

    Saya sangat tertarik dengan tulisan anda, yg menurut saya cukup menggambarkan sejarah dan sesuai dengan realitas pada saat ini.

    Sebagai orang awam, saya ingin bertanya beberapa hal kepada Mas Ulil, dan sekaligus sbg bahan pencerahan buat saya.

    Pertanyaan saya adalah sbb;

    - Sebagai intelektual muslim, apakah Mas Ulil percaya dengan hukum-2 Syariah yg berasal dari Alquran?

    - Bolehkah seorang muslim percaya sebagian isi Alquran, dan membuang (tdk percaya) sebagian isi yang lain?

    - Apakah seorang muslim boleh memakai hukum yang selain dari Alquran, jika kenyataanya tdk sesuai dengan realitas jaman sekarang?

    - Jika Iya, dan masih ingin menggunakan Alquran sbg sumber hukum, kenapa Alquran tdk direvisi saja supaya sesuai dengan keadaan jaman?

    - Jika Iya, kenapa Tuhan membuat informasi yg salah, dan harus direvisi dan disetujui oleh manusia?

    - Jika Iya, berarti manusia lebih pintar dari Tuhan?

    - Jika Iya, apakah Mas Ulil masih menyembah Tuhan (Islam)?

    - Jika Iya, dimana konsistensi Mas Ulil sebagai intelektual?

    Mohon pencerahan.

  19. Nagabonar says:

    Nathie (Mas or Diajeng…. :-))

    Saya setuju dengan pendapat anda. Bahwa keberagaman yg ada di Indonesia harus diatur oleh hukum yg sifatnya Universal (mengakomodir semua pihak).

    Apabila hukum Syariat bersifat universal, dan akan diusulkan utk diterapkan di Indonesia, harus bisa dibuktikan kebenaranya dong…
    Bagaimana Mas Ulil? Setuju gak?

    Peace.

  20. Nagabonar says:

    Mas Junaedi,

    Kalau saya jadi orang Islam, dan saya melihat ada satu hal yg saya anggap salah, maka, saya akan cari tahu ttg kesalahan tadi, sampai saya memperoleh konfirmasi bahwa ternyata saya yang salah, bukan Islam yg salah.

    Tapi, jika ternyata satu hal yg saya anggap salah tadi memang salah, maka saya akan tinggalkan Islam.

    Peace

  21. Shay Kauly says:

    Pertanyaan seperti yang ditanyakan oleh saudara Hamid ini juga pernah ada dalam konsultasi Ustad Ahmad Syarwad di eramuslim.com. Intinya jawabannya adalah jangan menyalahkan agama Islam karena Indonesia belum makmur, tapi salahkan orang-orang Islam yang belum menjalankan agamanya dengan baik. Misalnya masih suka tidak tertib, suka korupsi dll. Gimana mau tertib lha wong undang-undangnya saja masih pakai buatan Belanda tidak diambil dari ajaran Islam. Tapi yang jelas dengan menggunakan ajaran Islam bisa tertib juga kok. Misalnya di daerah Kelantan di salah satu negara bagian Malaysia. Sebenarnya ajaran tertib itu juga salah satu ajaran Islam juga, tapi orang Islam sendiri disini belum bisa mempraktikkannya. Contoh kecil saja Nabi melarang meludah di sembarang tempat sehingga “ludah dan riak ” bertebaran dimana-mana ditempat umum. Kalau di Singapura bisa didenda 1000 dollar. Lucunya lagi kalau itu dibuat peraturan disini maka orang-orang JIL dan semacamnya menghujat habis-habisan, dengan dalil pemaksaan “Syariat Agama”. Khan gitu yaaa mas ULIL. Tak dongakne sampeyan umur panjang biar ada kesempatan untuk Insyaf.
    Satu lagi mas Ulil negara Jepang juga negara yang tertib dan mempunyai etos kerja yang tinggi, tapi angka bunuh diri kok tinggi yaa…
    Di negara Belanda juga tertib penduduknya tapi di negara itu ada sebuah taman yang pengunjungnya boleh berhubunga sex secara leggal didepan Umum, malah kalau anjing masuk ke situ tidak dilarang. Saya punya teman kerja di Belanda, terpaksa mengirim anaknya pulang karena bisa terpengaruh lingkungan. Di Belanda tidak aneh lagi kalau ada pasangan dewasa berhubungan sex di kereta api umum.
    Di negara USA adalah negara yang tertib tapi produksi film porno pendapatan per tahun melebihi revenue softwarenya Microsof.Lihat http://www.shelleylubben.com/index.php?truth=bio. Di Amerika sono kalau saya menyukai isteri teman dan melakukan Zina nggak apa-apa asalkan sudah baliq dan suka sama suka. Jadi jangan marah kalau nanti malam saya makan malam dengan isteri anda selama isteri anda menyukainya. Lebih gila lagi di Jepang negara yang sangat teratur dengan etos kerja yang tinggi. Disana ada istillah “bukkake” yaitu mengeroyok rame-rame satu gadis dengan belasan pria sekaligus. Kalau di Eropa yang sangat teratur ada festival tahunan “Bintang-bintang film porno” seluruh dunia dan itu legal. Kalau di USA ada juga festival Gay Pride di California.
    Organisasi PBB sudah mengeluarkan resolusi puluhan kali kepada Israel tapi nggak ngaruh tuh…nggak ada sangsi apa-apa. Tapi kalau terhadap Iran langsung dijalankan. Padahal Israel jelas-jelas mempunyai ratusan hulu ledak, sedang Iran sudah terbukti hanya untuk reaktor nuklir. Apa itu ketertiban versi ULIL ?
    Wahai teman-temanku muslim apakah kehidupan semacam di EROPA atau di USA seperti itu yang diinginkan ? Tertib dalam satu sisi tapi kemerosotan Akhlak yang berkaitan dengan hunungan antara pria dan wanita dalam sisi lain.
    Mas Ulil saya doakan jangan sampai lembaran-lembaran dollar yang nilainya tidak seberapa sudah membutakan mata hati mas Ulil…

    Note : Kalau takut mempengaruhi yang lain comment saya nggak usah dimuat.

  22. Alan says:

    Assalamualaikum..

    Ternyata nilai² Islam telah di jalankan dengan baik di negeri orang sekuler di barat sana..

    Semoga kita semua bisa hidup bersama berdampingan dalam damai seperti yang selama ini kita impikan, seperti yang selama ini di khotbahkan. amin..

    Salam,

    MN

  23. jowomuslim says:

    yaa… saya ga se7 dengan cak ulil…, tapi se10. Wong intinya kebaikan itu bisa berasal darimana saja. betul itu….
    tapi kebaikan yang sejalan dengan nilai-nilai Tuhan lho……….

  24. Sastro Sukamiskin says:

    Mas Ulil, saya setuju dengan pandangan Mas tentang keteraturan dan agama. Bahkan menurut saya, agama dalam berbagai hal justru menghambat pengembangan kualitas hidup bermasyarakat. Pemikiran itu ndak dapat saya tulis secara akademik, maka pada tahun 2004 saya wujudkan dalam cerpen dan baru saja saya upload di http://sastro.blogsome.com/category/cerpen/

    Nah, saya minta komentar & nasehat dari Mas Ulil sebagai agamawan yang rasional.

    Komentar ini saya maksudkan personal, tidak perlu dipublish.

    Nuwun

  25. mas jamal says:

    aku suka komentar mas nathie, meski rada beda pandangan tapi sejuk bersahabat dan dewasa….

  26. diyant says:

    sekedar mengutip kalimat yg pernah saya baca:
    ,
    agama adalah untuk manusia… dan bukan manusia untuk agama

  27. pidhea says:

    semuanya kembali kepada bagaimana cara anda memandang.
    pada dasarnya, semua pemikiran tentang kehidupan manusia
    berawal dari cara manusia memandang kehidupan itu sendiri.
    memandang kehidupan tentu dipengaruhi oleh pijakan berpikirnya
    atau paradigma berupa ideologi.
    ideologi itu melahirkan berbagai macam pemikiran
    tentang problematika kehidupan. yang akhirnya, pada tatanan
    tertentu melahirkan suatu aturan atau hukum tertentu
    tentang problem solving bagi semua permasalahan kehidupan.
    Dalam hal ini standar baik dan buruk, benar atau salah,
    boleh atau tidak,
    ditetapkan. karena pada dasarnya kehidupan manusia itu
    disadari atau tidak, bergantung pada aturan-aturan tersebut.
    semua yang kita lakukan pasti mengikuti standar kebolehan,
    kebaikan dan kebenaran menurut ideologi tersebut.
    tentu saja cara pandang dari masing ideologi itupun berbeda-beda.
    baik atau buruk menurut liberalis tidak akan sama dengan baik atau buruk menurut
    komunis, begitu pula baik atau buruk menurut Islam. standar kebenaran pun
    bersifat subjektif. benar atau salah menurut pandangan masing-masing
    ideologi tidak akan pernah mendapatkan titik temu.
    kenyataannya, tidak ada sesuatu pun yang tidak subjektif
    dalam memandang sesuatu, ideologi-ideologi itu lah
    yang mempengaruhi semua pemikiran kita.
    sehingga, wajar apabila semua pandangan ideologi itu
    saling bertentangan.
    oleh karena itu, semua pandangan yang kita lontarkan
    disadari atau tidak sedikit banyak dipengaruhi oleh
    ideologi-ideologi tersebut.
    keteraturan menurut Islam dengan keteraturan menurut Liberalis
    tentu berbeda dari segi makna dan tujuannya.
    karena standar kebaikan menurut masing-masing pihak berbeda.
    kata-kata bermoral pun lebih bersifat umum ketimbang bermakna klise,
    karena bermoral menurut Islam tentu berbeda dengan bermoral
    menurut Liberalis.
    dalam hal ini saya hanya menegaskan bahwa pada dasarnya manusia itu butuh
    aturan, perlu hukum, terlepas dari produk mana dan produk siapa.
    karena kenyataannya, kita melakukan sesuatu atau tidak melakukan
    sesuatu berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu,
    sedangkan pertimbangan-pertimbangan tertentu itu
    dipengaruhi oleh standar-standar mengenai baik-buruk,benar-salah,
    boleh-tidak sekalipun berdasarkan ketetapan/keputusan sendiri
    dengan alasan bermanfaat atau tidak, menguntungkan atau tidak,
    menyelematkan atau tidak, menyehatkan atau tidak, membahayakan
    atau tidak dan sebagainya.
    bahkan bagi orang-orang yang menganggap tak perlu aturan sekalipun
    pada dasarnya dia mengikuti atau melakukan sesuatu
    aturan berdasarkan kepentingan,
    keinginan, dan kemampuan dirinya.
    so, pada butuh aturan kan? Mau bebas kek, gak bebas kek,
    fleksibel kek, toleran kek, otaritarian kek, semuanya pada butuh
    aturan.
    cuma masalahnya aturan mana yang layak dan sesuai dengan
    fitrah manusia, memuaskan akal kita, dan menentramkan batin kita.
    karena pada dasarnya, tiga hal itu bersifat umum. maksudnya,
    sesuai dengan fitrah
    berarti hukum itu mesti manusiawi. artinya tidak mengekang sama
    sekali semua kebutuhan yang ada pada manusia baik jasmani maupun
    naluri. dalam hal ini aturan tersebut mesti mengatur pemenuhan
    terhadap kebutuhan dan dorongan naluri manusia sesuai dengan kodratnya.
    memuasakan akal berarti aturan tersebut mesti realistis, logis,
    dan dapat diterima secara akal sehat.di samping itu aturan itu mesti
    menentramkan batin ketika kita mengikuti dan menerapkannya.
    so, dengan begitu bisa dipastikan aturan tersebut bisa dan layak
    kita jadikan pedoman.
    nah, sekarang mari kita pertimbangkan, kita renungkan dan kita pikirkan
    secara jernih berdasarkan hati nurani kita dan akal sehat kita mana
    aturan yang memenuhi tiga kriteria tersebut.
    apakah ideologi Islam, Liberal, Komunis, atau yang lainnya.
    terlepas dari produk mana dan siapa, masing-masing ideologi
    tersebut menetapkan standar-standar kebaikan dan keburukan,
    kebenaran dan kebatilan, kebolehan dan pelarangan berdasarkan
    pandangan para pembuatnya atau para penggagasnya.
    sebagai contoh, bersetubuh itu baik atau buruk?
    pada dasarnya, penilaian baik atau buruk terhadap bersetubuh,
    itu dilihat dari segi-segi tertentu yang melibatkan faktor:
    status masing-masing, siapa dengan siapa atau siapa dengan apa,
    melalui apa atau bagian apa, dengan cara apa, dan untuk apa.

    Islam memandang bersetubuh yang dilakukan oleh sepasang suami istri
    itu baik, dan proses menjadi suami istripun ditempuh dengan cara-cara tertentu
    yaitu pernikahan dengan tata cara, syarat dan rukunnya.
    Suami istripun dalam hal ini mesti berlainan jenis, dan bukan
    saudara kandung maupun sepersusuan, dan bukan pula dari
    lawan jenis dari orang tuanya (Islam mengatur siapa saja
    yang boleh dinikahi maupun yang tidak boleh dinikahi).
    bukan pula dengan menyetubuhi hewan.
    di samping itu Islam telah menetapkan persetubuhan itu
    (penetrasi) hanya pada vagina, bukan pada anus (dubur).
    meskipun memang gaya dan stylenya tidak ada kekhususan,
    bagaimanapun bisa dilakukan baik dari depan, belakang,
    ataupun samping asalkan penetrasinya tetap pada vagina bukan anus.
    dan persetubuhan itu dimaksudkan untuk melanggengkan keturunan,
    saling memberi kenikmatan dan kepuasan
    di samping sebagai ibadah.karena persetubuhan bagi suami istri
    menurut islam adalah sedekah bagi satu sama lainnya.

    Liberalis memandang bersetubuh yang dilakukan atas dasar suka sama suka
    itu baik atau dibenarkan atau dibolehkan,
    terlepas dari apakah dilakukan oleh pasangan suami istri atau bukan,
    berlainan jenis (heteroseksual) atau sejenis (homoseksual), atau
    biseksual(berlainan jenis dan sejenis). apakah juga dengan sedarah
    atau tidak, atau mungkin dengan ibu atau bapak kandung yang penting
    suka sama suka. atau bahkan sama binatang. yang penting enjoy,
    tapi entah apakah ini atas dasar suka sama suka atau pemaksaan
    alias mengambil jatah si jantan atau si betina.
    di samping itu mau penetrasi pada vagina atau anus kek gak
    jadi soal yang penting boleh tancap terus plus bebas style.
    tujuannya bisa jadi karena hanya sekedar mencari kepuasan
    seksual, suka sama suka, “kesehatan”, ataupun yang lainnya
    yang jelas dasarnya adalah suka sama suka atau menguntungkan
    atau memuaskan atau bermanfaat bagi dirinya masing-masing
    menurut pemikiran masing-masing. yang penting happy.
    (walaupun memang pada praktiknya bergantung pada kesepakatan
    undang-undang yang ditetapkan di suatu negara atau daerah
    sebagai legalitas dan legitimasinya)

    disini lah saya hanya mencontohkan bahwa setiap orang
    terikat dengan suatu aturan tertentu dari suatu ideologi tertentu
    sehingga mengahasilkan standar nilai kebaikan, kebenaran dan kebolehan.

    Bersetubuh hanya melalui jalur pernikahan adalah baik menurut Islam,
    sedangkan bersetubuh melalui atau tanpa melalui jalur pernikahan
    asalkan suka sama suka (tidak ada yang terpaksa dan dipaksa) menurut Liberal
    adalah baik.

    begitulah ideologi menentukan standar nilai kebaikan bagi kehidupan manusia

    lantas, persoalannya adalah
    mau mengambil ideologi yang mana atau aturan siapa?

    semuanya kembali pada diri masing-masing.

    kalau memang menurut mas Ulil dan kawan-kawannya,
    Amerika dan negara-negara yang menerapkan Libaralisme
    adalah bentuk ideal bagi negara yang menerapkan
    ideologi kapitalisme tak heran jika mas Ulil and friend
    ini membela mati-matian untuk mempertahankan eksistensi ideologinya.
    dan itulah kenyataan ideologi. pasti akan mempertahankan, meyebarkan,
    dan menentang semua yang bersebrangan dengannya.

    namun, hendaknya mas Ulil melihat lebih jauh lagi, bahwa
    fakta yang mas Ulil sampaikan itu jauh dari realitas dan
    terkesan parsial. Dari semenjak sebelum lahirnya komunis,
    hingga lahirnya komunis, bahkan hingga runtuhnya komunis,
    sampai saat ini kapitalisme dipandang sebagai ideologi rapuh
    dan rentan terhadap kehancuran. fakta menunjukkan bahwa
    kapitalisme membuat jurang yang dalam antara si kaya
    dan si miskin yang membuat pertentangan semakin kentara.
    sehingga pada perjalanannya ideolgi kapitalisme mengalami pasang surut
    dan terkesan tambal sulam dalam pekembangannya yang
    bersifat pragmatis untuk menopang bahaya kehancurannya,
    dan inilah yang disadari oleh Anthony Giddens dengan
    The Third way (Jalan Ketiga) nya.

    so, sampai kapan kita terbawa sebagai ‘korban eksperimen’
    ideologi-ideologi buah akal pemikiran manusia sebagai
    ‘sang Kreator amatiran’ semacam kapitalisme, Liberalisme, Sosialiasme
    maupun Komunisme.

    tanpa mas Ulil dan kawan-kawannya sadari, bahwa mas Ulil
    dan kawan-kawannya sadari telah
    terdoktrinasi, dan membebek terhadap ideologi buatan
    sesama manusia sendiri.

    Hasilnya? ya seperti yang kita rasakan sendiri.

  28. Nafs says:

    Secara umum saya tidak menolak fakta-fakta yang disampaikan cak ulil, tetapi saya ingin mencoba menyampaikan pola pikir yang sedikit berbeda tentang peran agama dalam kehidupan.
    Saya rasa “kesalahan” dari faham agama yang dikritik cak ulil semacam doktrin bahwa kehidupan akan morat-marit tanpa agama difahami secara keliru. Jawaban bahwa tanpa agama lebih baik dari agama harus dibuktikan dengan penerapan aturan yang bertentangan dengan agama. Misal agama melarang membunuh, memperkosa, dll. Untuk membuktikan bahwa agama tidak perlu maka anda harus mencontohkan suksesnya hukum yang menerapkan bebas membunuh, memperkosa, dll. Apabila masyarakat yang mengaku tidak beragama sukses lantaran menerapkan hukum buatan sendiri yang tidak bertentangan dengan agama, tentu bukanlah menjadi bukti tidak diperlukannya agama. Atau bila anda bisa membuktikan bahwa aturan agama ternyata membawa kerusakan masyarakat barulah anda bisa mengatakan syariat itu salah dan harus ditinggalkan. Misal poligami yang diklaim sebagai pandangan agama, sering dianggap salah lantaran banyak menimbulkan kerusakan rumah tangga. Tetapi hal ini mengabaikan fakta/kemungkinan bahwa pelaku poligamilah penyebab kerusakan itu bukan poligaminya. Kita semua tahu bahwa sebagian besar pelaku poligami sesungguhnya tidak memenuhi syarat berpoligami. Hanya lantaran kaya, ganteng, dll kemudian seorang pejabat/artis berpoligami padahal syaratnya adil. Akibatnya rusaklah rumah tangga. Hal ini justru menjadi bukti bahwa kegagalan menerapkan aturan agamalah yang menjadi penyebab kerusakan bukan aturan agama tersebut. Jadi misalkan poligami ini dianggap aturan agama, maka anda bisa menganggapnya keliru jika tidak ditemukan keluarga poligami yang bahagia atau orang yang telah berpoligami dengan benar ternyata keluarganya berantakan.
    Kalau dibeberapa sisi ditunjukkan adanya sisi negatif syariat semisal pemaksaan doktrin “Islam” dalam kasus ahmadiyyah atau jilbab ini tentu bukanlah kesalahan agama Islam tetapi kesalahan penafsir Islam yang faktanya tidak semua Muslim seperti itu. Kita sangat faham Gus Dur pembela Ahmadiyyah.Atau Amin Rais pun Hidayat NW yang tidak termasuk pencaci maki Ahmadiyyah mereka itu adalah tokoh2 Muslim yang juga meyakini dan menjalankan syariat Islam. Karena itu jika ada yang terasa kurang dalam syariat Islam, maka kita tidak menyalahkan Islam tetapi pemahaman syariat itu yang perlu diperbaiki, itu pun tetap perlu bukti empiris untuk menyatakan bahwa pemahaman syariat tertentu itu salah kaprah atau keliru. Mungkin cak ulil ini juga sedang berupaya “meluruskan” pemahaman syariat yang keliru, tetapi itu harus dilakukan secara benar dan rasional. Maju terus cak ulil, tapi jangan ragu untuk mengoreksi pemahaman yang kemudian disadari kurang pas hanya karena takut dikatakan inkonsisten. Seperti cak ulil bilang bahwa pemikiran manusia ini dinamis, maka inkonsistensi adalah implikasi yang wajar bagi pemikiran manusia.
    Saya pribadi termasuk yang tidak menentang hukum2 buatan manusia sepanjang tidak bertentangan dengan hukum syariat meskipun tidak sama. Misal hukum pidana Indonesia yang menghukum pencuri dengan penjara, meskipun tidak sama dengan hukum qishos tetapi secara umum tidak bertentangan karena tetap kerangkanya memberi sanksi pelaku kejahatan. Hanya saja tingkat efektifitasnya memang masih perlu dibuktikan apakan potong tangan lebih baik dari penjara atau sebaliknya. “Rasa keberagamaan” saya sih mengatakan bahwa Hukum Allah pasti yang paling baik, tetapi memang diperlukan bukti empiris untuk bisa diakui orang yang berpendapat sebaliknya.
    Tetapi apa yang saya sampaikan di atas hanyalah terbatas pada hal-hal sosial, sedangkan menyangkut spiritualitas individu dengan Penciptanya tampaknya tidak ter-cover dengan baik dalam kerangka pola pikir cak ulil, atau malah cak ulil tidak menganggap perlu adanya hubungan individu dengan Penciptanya. Kalau menurut saya, sangat tidak mungkin manusia menciptakan sendiri tata cara hubungannya dengan Tuhan dan harus mengikuti cara yang diajarkan Tuhan melalui agama.

  29. okta says:

    aku orang yg msh hrs bnyk beljr agama,,t aku setuju pendapat mas Ulil..krn ada manusia yg dari segi tingkah lakunya baik,sopan ,kemasyarakatanpun bagus,suka menolong,bersedekah..hanya sj dr segi agama dia sgt krg pengetahuan dan apakah orang baik semacam itu jg nantinya msk neraka gara2 ilmu pengetahuannya ttg agama sgt krg ??

Leave a Reply