Ulil Abshar-Abdalla

Iman yang kuat tak akan takut pada keraguan. Iman yang dangkal dan dogmatis selalu was-was pada pertanyaan dan keragu-raguan.

Ulil Abshar-Abdalla header image 2

Tentang Hizbut Tahrir di Indonesia

August 25th, 2008 · 19 Comments

MUNGKIN sebagian teman-teman heran, kenapa saya seperti terobsesi untuk melakukan kritik terhadap kelompok bernama Hizbut Tahrir (HT), kelompok yang didirikan oleh .

Ketika masih di Jakarta dulu, saya sering sekali melakukan “tour” ke sejumlah kampus untuk menghadiri sejumlah diskusi yang diadakan oleh beberapa kelompok mahasiswa. Selain ke kampus, saya juga sering mendatangi forum-forum diskusi di tingkat kabupaten.

Sungguh di luar dugaan saya, bahwa Hizbut Tahrir cukup mendapatkan pengaruh yang lumayan di sejumlah kampus. Kalau saya katakan “lumayan” bukan berarti besar sekali. Tetapi sebagai pemain baru, gerakan ini cukup sukses menanamkan pengarus di sejumlah kampus, seperti IPB di Bogor, misalnya.

Yang mengherankan, saat diundang diskusi ke sebuah pesantren kecil di kota Tuban, saya bertemu juga dengan beberapa aktivis HT di sana. Sepanjang diskusi, mereka membuat “onar” dengan cara bertanya yang sangat agresif. Saya tak menduga bahwa mereka bisa mempunyai pengaruh hingga ke wilayah kabupaten.

Suatu saat saya pernah diundang ke Universitas Muhammadiyah Malang dalam sebuah diskusi yang juga menghadirkan salah seorang cendekiawan Muhammadiyah, Dr. Syafiq Mughni. Dalam diskusi itu ada sejumlah aktivis HT yang hadir dan, sekali lagi, membuat “onar” dengan cara mereka sendiri, antara lain dengan teriakan-terakan Allahu Akbar dan meneriaki seseorang yang berpendapat berbeda. Pak Syafiq sampai terheran dan berujar, kok Universitas Muhammadiyah jadi begini.

Memang secara umum, pengalaman berdiskusi dengan kalangan fundamentalis di beberapa tempat sangat tidak menyenangkan, karena mereka sama sekali tak mengikuti cara-cara berdiskusi yang beradab.

Pemandangan yang sangat lucu terjadi pada sebuah diskusi yang diadakan oleh Kedutaan Amerika di Hotel Hilton (sekarang berubah menjadi Hotel Sultan [untung bukan Hotel Khalifah]) beberapa tahun lalu. Saat itu, saya menjadi moderator, dan diskusi dilangsungkan dalam bahasa Inggris. Seorang aktivis HT “ngacung” dan bertanya dalam bahasa Arab. Ketika saya peringatkan bahwa sebaiknya dia memakai bahasa Inggris atau Indonesia saja, dia ngotot. Pertanyaannya sama sekali tak berkenaan dengan isi diskusi. Pokoknya meracau saja.

Rupanya, kelompok HT memang memakai strategi yang unik, yaitu dengan cara mengirim aktivis mereka ke sejumlah diskusi publik untuk mengampanyekan ide mereka tentang “khilafah”. Walaupun diskusinya tidak berkaitan dengan tema itu, mereka paksakan saja saat sesi tanya-jawab untuk melontarkan isu tersebut.

Strategi ini ternyata merupakan metode yang sengaja mereka praktekkan di mana-mana. Kalau anda membaca buku karangan mantan aktivis HT di Inggris yang “sadar” dan keluar dari organisasi itu, yaitu Ed Husein yang menulis buku “The Islamist” itu (buku ini sudah terbit baru-baru ini dalam edisi Indonesia oleh Penerbit Alvabet, Jakarta, dengan judul Matinya Semangat Jihad), anda akan tahu bahwa cara serupa juga mereka terapkan di Inggris di sejumlah kampus.

Strategi lain yang baru saya sadari belakangan adalah dengan cara memakai literatur fikih dan ushul fikih klasik untuk mendukung ide-ide mereka. Strategi ini saya kira mereka tempuh untuk menghadapi kalangan pesantren di Indonesia yang akrab dengan khazanah fikih dan ushul fikih itu. Saya senang dengan strategi mereka yang satu ini, karena dengan demikian mereka akan dengan mudah dipatahkan melalui tradisi fikih dan ushul fikih sendiri yang sangat kaya itu.

Meski mereka memakai fikih dan ushul fikih, cara mereka mendekati kedua disiplin itu adalah dengan melakukan “ideologisasi”, yakni mengunci fikih dan ushul fikih pada perspektif tertentu secara kaku, mengabaikan watak “polifonik” atau “polisemik” dari keduanya. Cara mereka seperti ini akan menjadi “boomerang” bagi mereka sendiri. Fikih dan ushul fikih sama sekali tak bisa di-fiksasi, karena wataknya yang sejak awal sangat lentur dan “fluid“.

Menurut saya, meski kelompok HT sama sekali tak besar, tetapi ini adalah kelompok yang sangat mengancam di masa mendatang. Kelompok ini memang tidak memakai metode kekerasan, tetapi cara-cara indoktrinasi mereka sangat kondusif untuk lahirnya kekerasan. Mereka memakai metode konfrontasi dengan membagi dunia secara hitam putih, dunia Islam dan dunia kafir.

Kalau anda baca pamflet-pamflet mereka yang secara agresif mereka sebarkan, entah melalui majalah bulanan atau buletin mingguan pada hari Jumat, mereka dengan “ngoyo” –tetapi kadang-kadang lucu dan menggelikan– mencoba menganalisa peristiwa-peristiwa politik, baik domestik atau internasional, dengan cara yang sangat klise, yaitu mengembalikan seluruh masalah di dunia ini kepada kapitalisme, sekularisme, dan demokrasi, seraya mengajukan alternatif sistem khilafah sebagai solusi.

Dalam pandangan mereka, semua hal bisa diselesaikan dengan syari’ah Islam, mulai dari problem WC rusak (maaf, jangan terkecoh, ini hanya ungkapan yang saya pakai secara metaforis saja!) hingga ke sistem perdagangan dunia yang tak adil.

Saya sedang membaca kembali semua literatur HT yang ditulis oleh Taqiyyuddin al-Nabhani dan Abdul Qadim Zallum. Seluruh karangan mereka lengkap saya temukan di perpustakaan Universitas Harvard. Tidak mudah membaca buku kedua pengarang ini. Bukan karena sulit, tetapi karena isinya membosankan dan penuh dengan “non-sense“. Saya heran, bagaimana mungkin anak-anak muda bisa tergoda dengan ideologi yang non-sense seperti ini.

Saya kira, salah satu penjelasannya adalah bahwa ideologi HT ingin tampil sebagai ideologi revolusioner yang hendak menjadi alternatif atas kapitalisme dan demokrasi. Anak-anak muda yang sedang mengalami fase “sturm und drang“, fase pubertas intelektual dan mencari “bentuk”, mungkin mudah tertarik dengan ideologi yang hendak menampilkan diri sebagai “Che Guevara” dengan baju Islam ini.

Saya tak menyalahkan anak-anak muda itu. Tugas kaum intelektual Muslim lah untuk membongkar kepalsuan ideologi HT dengan menampilkan interpretasi yang beragam mengenai Islam, terutama interpretasi sejarah Islam yang hendak dimanipulas oleh kalangan HT. Beberapa kalangan terpelajar Muslim yang belajar di universitas Barat, tetapi tidak terdidik dalam studi Islam yang sistematis, juga ada yang jatuh kedalam “perangkap” kelompok ini. Saya sungguh heran, bagaimana kaum terpelajar yang berpikir secara rasional bisa percaya pada “non-sense” seperti dikemukakan oleh HT itu.

Beberapa kalangan pesantren di Jawa Timur, saya dengar, juga ada yang sudah mulai terpengaruh. Saya kira, taktik HT yang juga memakai literatur fiqh al-siyasah (fikih politik) klasik seperti al-Ahkam al-Sulthaniyya wa al-Wilayat al-Diniyya karangan Imam al-Mawardi (w. 1058 M), dalam beberapa kasus, membuahkan hasil. Sejumlah kiai dan santri yang tak mengerti peta perkembangan ideologi Islam internasional, dengan gampang “ditipu” oleh kelompok ini dengan retorika yang sengaja dibuat begitu rupa sehingga seolah-olah berbau fikih.

Kelompok ini dilarang di sejumlah negeri Arab dan Eropa, tetapi menikmati kebebasan yang penuh di Indonesia, bahkan berhasil mengadakan konferensi khilafah internasional pada 12 Agustus 2007 di Senayan. Tak kurang dari Ketua Umum Muhammadiyah, Dr. Din Syamsuddin, ikut menghadiri konfrensi itu dan memberikan sambutan. Isu Ahmadiyah yang menghangat di tanah air beberapa waktu lalu merupakan “lahan basah” yang dengan cerdik dipakai oleh sejumlah tokoh HT untuk menghimpun “credit points” di mata umat.

Bersama kelompok-kelompok lain seperti FUI dan FPI, HT dengan agresif melancarkan kampanye pembubaran Ahmadiyah di Indonesia. Salah satu tokoh mereka, Muhammad Al-Khaththath yang berhasil “menyusup” menjadi pengurus MUI Pusat, tampil sebagai salah satu figur sentral dalam kampanye ini. Isu Ahmadiyah memang isu yang sangat murah untuk meraih “credit points” di mata umat, tanpa resiko apapun.

Menurut saya, harus ada usaha yang sistematis untuk melawan secara intelektual ideologi HT. Ada kecenderungan yang sangat kuat ke arah totalitarianisme dan fasisme dalam ideologi ini yang sangat berbahaya bagi umat Islam.

Kelompok ini jauh lebih berbahaya ketimbang kelomopok salafi yang umumnya hanya menekankan “puritanisme dan kesalehan individual”. Mereka juga berbahaya persis karena sikapnya yang “konfrontatif” terhadap sistem politik yang ada di Indonesia: mereka menolak menjadi partai politik dan ikut pemilu karena menganggap demokrasi sebagai sistem kafir, padahal mereka sendiri adalah sebuah partai (terbukti dengan nama mereka, “hizb”). Karena berada di luar sistem, mereka bisa bertindak di luar kontrol.

Yang mengherankan adalah sikap pemerintah Indonesia yang bertindak secara kurang tepat dalam dua kasus berikut ini. Sementara dalam kasus Ahmadiyah, pemerintah takluk pada tekanan kaum Islam fundamentalis, termasuk Hizbut Tahrir, untuk membubarkannya, pada kasus Hizbut Tahrir pemerintah justru memperlihatkan kelonggaran yang luar biasa. Memang SKB Ahmadiyah tidak membubarkan kelompok itu, tetapi hanya sebatas membatasi kegiatannya. Karena tidak puas, kelompok-kelompok fundamentalis ini, di masa mendatang, tentu akan terus melakukan tekanan agar membubarkan Ahmadiyah.

Padahal jelas sekali tujuan akhir HT bertentangan sama sekali dengan tujuan negara Indonesia. HT ingin menggantikan Indonesia sebagai negara plural berdasarkan Pancasila dengan negara khilafah atau negara Islam universal. Sementara tujuan kelompok Ahmadiyah sama sekali tak ada yang bertentangan dengan tujuan negara Indonesia.

Meskipun saya sendiri bersikap bahwa setiap kelompok, aliran, sekte, dan mazhab apapun harus diberikan kebebasan untuk berserikat dan menyatakan pendapat di Indonesia sesuai dengan mandat konstitusi kita. Baik Ahmadiyah, Hizbut Tahrir, dan kelompok-kelompok lain haruslah diberikan kebebasan yang sama. Saya hanya mau menunjukkan paradoks kebijakan yang ditempuh pemerintah.

Meskipun saya menganjurkan agar semua kelompok diberikan kebebasan berpendapat, tetapi kita, terutama masyarakat sipil, harus terus-menerus melakukan kritik atas ideologi atau paham yang menyebarkan kebencian pada kelompok atau aliran yang berbeda, yang tujuan akhirnya berlawanan dengan tujuan negara Indonesia, seperti kelompok HT ini.

Dalam beberapa “note” mendatang, insyaallah saya akan berusaha menulis sejumlah kritik atas ideologi negara khilafah yang dilontarkan oleh HT.[]

Tags: Komentar

19 responses so far ↓

  • 1 Iis // Aug 25, 2008 at 9:53 pm

    Mas Ulil saya undang untuk melihat website akhirzaman.info dan di minta pendapatnya dan jawabannya di ulil.net

  • 2 zahidayat // Aug 26, 2008 at 10:03 am

    Mestinya terima kasih juga kepada Hizbut Tahrir di Indonesia. Karena mereka “lumayan”, sampeyan masih punya bahan untuk menulis dan mengkritik. Asik bukan, Mas?

  • 3 Hudi // Aug 26, 2008 at 4:44 pm

    Mas Ulil

    Saya tidak berposisi mewakili HT, tapi ini semata pendapat pribadi

    setelah membaca 2 tulisan mas ulil, saya jadi penasaran.
    apa ini merupakan ‘balasan’ atas apa yang telah terjadi
    pada kasus monas AKKBB vs FPI awal juni 2008 lalu
    orang liberal yang pro ahmadiyah sering ‘diblejeti’ oleh HTI atau yang pro syariah
    sehingga masyarakat semakin tahu siapa sesungguhnya yang benar dan yang salah.
    lantas ‘kelihatannya’ mas ulil ‘tidak terima’ dengan aksi-aksi ‘mereka’
    mulailah mas ulil menganalisis, siapa yang paling dominan
    dan paling vokal menentang orang liberal.

    sepertinya tulisan mas ulil sebagai episode ‘blejeti’ HTI

    namun menurut pengamatan saya, argumen HT lah saya rasa paling mantaBB
    karena HT lah yang paling mampu menandingi argumen orang liberal,
    HT lah yang paling sering ‘mengusik’ pemikiran orang liberal
    makanya mas ulil ‘terusik’ dan merasa perlu menjawab (barangkali lho).

    saya yakin 100 % kalau mas ulil berhadapan dengan DPP HTI sekali lagi
    akan kalah argumennya (Suer..), karena HTI menggunakan dalil dan kaidah ushul yang jelas dan standard
    sedang orang liberal, kaidah berpikirnya ya pikiran liberal itu saja
    sambil sekali-kali mencocokkan dengan Qur’an, tentu saja akan kalah

    orang-orang HT sudah terbiasa membahas tentang: kaidah usul dan usul fikih,
    pemikiran tentang segala hal yang biasa dibahas oleh islam liberal
    sudah ada jawabannya dan menjadi kajian oleh HT, saya yakin 100%,
    salah satu yang mampu menandingi argumen2 orang liberal tidak lain adalah HT

    saya rasa HTI diikuti hanya orang-orang yang ikhlas dan rela berkorban
    betapa tidak, tidak ada janji-janji materiel di sana (seperti jabatan, harta, dapat beasiswa dsb. )
    mereka yang ikut HTI insya Allah hanya mencari ridho Allah semata.

    banyak lho yang ‘keder’ untuk ikut HTI, gara-gara idenya khilafah, yang diopinikan
    transnasional lah, yang diopinikan selalu ‘melawan’ (mengkritisi) pemerintah lah,
    yang diopinikan membahayakan lah dsb.

    sehingga dengan opini tersebut banyak yang hatinya menjadi kecut dan takut,
    terus terang banyak yang nggak mau diajak ngaji gara-gara takut,
    takut ditangkap polisi kek, takut dianggap subversif lah

    lho tapi kok simpatisannya masih terus bertambah,
    karena mereka tersentuh oleh akidah yang benar yang diemban HT
    karena mereka mendapat pemahaman Islam yang benar dan menyeluruh
    tidak masalah ibadah maghdoh semata, namun HT sudah membahas berbagai
    hal tentang Ekonomi, politik, Budaya, Sosial dsb
    yang dibutuhkan oleh masyarakat dan negara.

    jadi insya Allah HT diikuti oleh orang-orang yang ikhlas karena Allah
    yang tidak takut terhadap cacian orang mencaci.

    Kenapa HT yakin Khilafah dan Syariah, karena sudah menjadi janji Allah SWT,
    dan Janji Allah pasti benar, kedua Fakta-fakta sistem-sistem dunia yang sekuler
    lambat maupun cepat akan bangkrut

    HTI bermimpi saja sudah ditakuti
    apalagi khilafah berdiri benar, sungguh akan berwibawa dan ditakuti
    ditakuti oleh negara dan orang-orang sekuler

    orang mengatakan ide khilafah tidak rasional, utopia dan mimpi.
    tapi yang jelas khilafah pernah tegak dan menaungi kaum muslimin berabad-abad
    ada yang mengatakan tapi sejarah khilafah buruk, tentu saja namanya juga manusia
    tapi sistemnya kan tidak, demokrasi pun banyak diselewengkan

    kalau orang membicarakan ide dan tidak memiliki konsep, orang boleh menertawakan,
    tapi HT, konsepnya insya Allah komplit untuk mengatasi problematika
    yang sedang hangat di kancah nasional dan dunia.

    dulu ide pergi ke bulan juga dikatakan mimpi, tapi nyatanya berhasil
    saya yakin orang-orang barat banyak yang takut akan ‘mimpi Khilafahnya’ HT ini
    karena mereka meyakini bahwa mimpi bisa jadi kenyataan (Dream comes true)
    lihatlah ‘The Secret’ yang ramai dibicarakan tempo hari.

    mimpi yang tidak akan nyata, adalah mimpi yang hanya diimpikan semata
    dan tidak ada upaya untuk diwujudkan

    HT punya mimpi Khilafah, terus dan terus ingin diwujudkan,
    sudah menjadi kebiasaan umum orang-orang yang sukses,
    kalau mau sukses orang harus punya visi dan misi
    Bagaimana kalau ada orang memiliki visi dan misi yang jelas,
    dan terus-menerus diperjuangkan apa mungkin gagal?

    Konferensi Khilafah Internasional (KKI) tahun lalu
    menjadi energi baru yang menambah keyakinan bagi pengembannya
    Upaya untuk menggagalkan KKI, menghalang-halangi KKI
    oleh pihak-pihak tertentu tidak berhasil,
    kesuksesan KKI semata-mata atas rahmat dan pertolongan Allah SWT, semata.

    inilah yang ditunggu-tunggu tentang Khilafah
    ada upaya menghalang-halangi, kampanye buruk, dsb
    tidak akan menyurutkan tekad pengembannya,
    insya Allah, Nashrullah (pertolongan Allah SWT) akan tiba

    makanya keyakinan tentang akan tegaknya khilafah ya tunggu waktu saja

    khilafah adalah
    kerinduan akan kesatuan kaum muslimin seluruh dunia
    yang akan menaungi masyarakatnya baik muslim maupun non muslim
    yang memerintah dengan adil berdasar hukum Allah Yang Maha Adil

    salam

    Hudi

  • 4 mas // Aug 27, 2008 at 7:14 pm

    Mas Ulil, teruskan tulisanmu tentang HTI, karena jelas-jelas HTI itu dapat menggangu stabilitas kampus, apalagi banyak mahasiswa-mahasiswi yang mudah tergoda oleh ideologi ini karena kedangkalan informasi tentang Islam sejak SMA yang berakibat kacaunya pikiran tentang Islam oleh HTI, kalau bisa bikin buku tentang hal ini yang dapat dikonsumsi publik

  • 5 rifqi // Aug 28, 2008 at 9:23 am

    Wah3, uda mule terang-terangan ne attacknya, y ud mas, langsung di post in di Islamlib ja, heboh mungkin tar. Heran, di Islamlib orang2 yang nentang JIL kok malah banyak banget, entah mereka mo “nyadarin” sodara2 muslimnya ato uda bosen mbahas topik2 itu2 aja di golongannya….

    Kalo di kampus c, terutama di kampus umum, (saya pernah di UB) hampir semua kajian islamnya dipenuhi orang2 fundamentalis doang, ya sejenis HTI tu lah. Mahasiswa sekarang emang cari mudahnya doang, yah bisa dibilang menyedihkan lah….

  • 6 abdul // Aug 30, 2008 at 12:04 am

    Rifqi, gue mo nanya(nanya ke lo aja deh cos kalo nanya ke ulil “ga bisa jawab), Liberal tu ada batasanya ga? bentuk keliberal-an tu apa? Anda dah merasa liberal secara kaffah (fikiran,sikap,tindakan)? kalo emang lo merasa liberal kok ada yang komentar “bebas” ke golongan lo,ko ga terima? kalo mang lo liberal ada yang komentar lo harus menerima dunk. So lo kaya tonk cosong nyarieng bunyienye.

  • 7 abdul // Aug 30, 2008 at 12:11 am

    Teologi Apologetik dalam Membaca “Kitab Suci”

    Dalam situs pribadinya, Ulil Abshar-Abdallah menulis satu artikel tentang cara membaca Kitab “Suci” –baik Al-Qur’an maupun yang lainnya. ( Memahami Kitab-Kitab “Suci” secara non-apologetik ). Dalam artikelnya itu, Ulil menolak pembaca Kitab “Suci” secara apologetic. Karenanya dia mengusulkan bagaimana membaca kitab “suci” itu secara non-apologetik. Dia merasa terganggu oleh kalangan umat Islam yang banyak menunjukan kontradiksi dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Karena menurutnya, itu hanya usaha untuk menunjukkan kehebatan Al-Qur’an.

    Artikel ini, hemat penulis, perlu dicermati karena menyangkut otentisitas Al-Qur’an. Selain itu, ada semacam usaha Ulil untuk “menyamakan” antara Al-Qur’an dengan kitab-kita agama lain –khususnya Bible. Di sini akan penulis kutip beberapa pernyataan Ulil yang penting untuk dikritisi.

    Di awal artikelnya, Ulil menulis: “

    SAYA sering terganggu oleh sikap beberapa kalangan Muslim apologetik yang dengan mudah menunjukkan adanya kontradiksi dalam Kitab Perjanjian Lama dan Baru. Dengan gigih sekali mereka mencoba memperlihatkan bahwa dalam dua kitab “suci” itu tersua sejumlah pertentangan internal.

    Usaha itu bukan tanpa tujuan: yaitu untuk menunjukan kehebatan Quran sebagai Kitab “Suci” yang paling baik, solid, koheren, logis, tidak mengandung pertentangan internal apapun. Lalu mereka mengutip sebuah ayat dalam Quran yang terkenal, “Afala yatadabbarun al-Quran, wa law kana min ‘indi ghair al-Lahi lawajadu fihi ikhtilafan katsira.” (4:82) Artinya: Apakah mereka tak merenungkan secara mendalam mengenai Quran itu; seandainya ia berasal dari selain Tuhan, maka sudah pasti mereka akan menjumpai banyak pertentangan di dalamnya.

    Hal serupa juga ada pihak Kristen (dan juga Yahudi). Saya banyak sekali menjumpai buku-buku apologetika Kristen (juga Yahudi) yang menunjukkan adanya sejumlah pertentangan internal dalam Quran.”

    Dia juga menulis:

    Tanpa mengurangi penghormatan saya pada kepercayaan teman-teman Muslim yang lain mengenai Quran, sejauh menyangkut kontradiksi, dalam Quran banyak sekali kita jumpai kontradiksi dan pertentangan internal. Bukan hanya itu, dalam hampir semua Kitab “Suci” selalu akan kita jumpai kontradiksi semacam itu. Tugas penafsirlah untuk melakukan “harmonisasi” agar pertentangan itu bisa “dihaluskan” (explained away) atau malah dihilangkan sama sekali. Orang yang datang dari luar tradisi Islam (terutama orang Kristen), misalnya, dan ujug-ujug langsung membaca Quran, kemungkinan akan terperanjat, karena Quran di matanya boleh jadi mirip sebuah “jumble mumble”, atau kitab yang sama sekali tanpa struktur, temanya loncat-loncat tanpa aturan, seperti sebuah buku yang tak diedit dengan baik, dan mengandung banyak kontradiksi di dalamnya. Dia akan cenderung membandingkan Quran dengan Kitab Perjanjian Lama yang lebih memiliki struktur naratif yang rapi. Hal yang sama terjadi pada orang yang datang luar tradisi Kristen (misalnya seorang Muslim), lalu ujug-ujug membaca Kitab Perjanjian Lama atau Baru, boleh jadi dia akan menjumpai sejumlah kontradiksi internal dalam kitab itu, apalagi menyangkut gambaran Tuhan dalam Perjanjian Lama yang, mohon maaf, tampak aneh dan sama sekali tak masuk akal.”

    Tentang keimaman seoramg Muslim terhadap kitab-kitab lain, Ulil menyatakan bahwa “sorang Muslim percaya bahwa kitab-kitab sebelum Quran bersumber dari Tuhan yang sama. Tetapi, iman mereka pada kitab-kitab itu tak sama dengan iman mereka pada Quran. Meskipun mengimani Bibel, tetapi mereka memandang Kitab “Suci” itu sebagai buku yang “defektif” atau cacat.”

    Dua Catatan Penting
    Ada catatan penting, penulis kira, yang harus dikemukan berkaitan dengan pendapat Ulil ini. Pertama, Ulil menyayangkan adanya kaum Muslimin yang melihat kitab-kitab agama lain secara “apologetik”. Ulil menginginkan agar hal ini tidak terjadi. Oleh karenanya, tidak boleh membaca kitab agama lain dengan “prasangka buruk”. Di sini Ulil mungkin lupa bahwa kontradiksi dalam Al-Qur’an merupakan hal yang mustahil ditemukan. Oleh karenanya, ayat yang dikutip oleh umat Islam di atas adalah “tantangan” Allah s.w.t. bagi orang kafir, jika mereka mengklaim bahwa Al-Qur’an bukan dari Allah s.w.t. Masalah susunan Al-Qur’an yang tidak rapi dan tidak tertib, tidak jadi persoalan. Justru di situ letak keunikan Al-Qur’an. Studi-studi ulama Islam lewat tafsir tematik (al-tafsir al-mawdhu’iy) menyimpulkan harmonitas ayat-ayat Al-Qur’an. Imam al-Biqa’i (w. 885 H), misalnya, sangat “piawai” dalam mengharmoniskan surat-surat dan ayat-ayat Al-Qur’an dan tafsirnya ‘Nazhm al-Durar fi Tanasub al-Ayat wa al-Suwar’.

    Dan jika Ulil melihat bahwa Bible lebih naratif dan rapi, itu karena Ulil tidak membaca Bible secara kritis. Jika Al-Qur’an di balik ketidakrapiannya justru ayat-ayatnya “harmonis” (tidak saling kontradiktif), dalam Bible justru sebaliknya. Terkesan “rapi” dan “naratif” tapi malah tidak karuan ayat-ayatnya. Sebagai contoh: dalam Kitab Keluaran dijelaskan bahwa Musa mengetahui “kapan dan dimana” dia meninggal dan dikuburkan. Tentu saja ini bertentangan dengan realitas. Dengan begitu, ayat Perjanjian Lama (Torah) ini mengesankan bahwa bukan Musa yang menulisnya melainkan orang ketiga. Ini lah kemudian yang dikritik oleh Baruch Spinoza (1632-1677).

    Atau beberapa ayat yang saling bertentangan. Misalnya, dalam kitab Ulangan (12: 9-10) bahwa hukum Taurat ditulis oleh Musa.” Ini jelas kata orang ketiga, bukan kata Musa. Dalam kitab Kejadian juga (22: 14) disebutkan bahwa gunung Moria dinamai dengan gunung Allah. Padahal nama ini baru dipakai setelah pembangungan kuil dimulai, yaitu setelah zaman Musa. Bahkan Musa tidak pernah menunjukkan tempat yang dipilih oleh Allah, dia hanya meramalkan bahwa Allah akan memilih satu tempat yang memakai nama Allah. (Lihat, Baruch Spinoza, Kritik Bible, Terj: Salim Rusydi Cahyono, (Bekasi, Fima Rodheta, 2006: 47).

    Maka, merupakan hal yang wajar jika kedua umat yang berbeda itu saling tidak mengimani kitab orang lain. Walaupun berbeda dengan umat Islam, dan ini diakui oleh Ulil. Walaupun Ulil menambahkan bahwa umat Islam masih melihat bahwa kitab-kitab yang lain adalah “defektif” atau cacat. Pandangn ini bukan tanpa dasar. Allah sendiri yang menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwa kaum Ahli Kitab “terbiasa” melakukan distorsi terhadap kitab “suci” mereka. (Lihat, Qs. Al-Baqarah [2]: 75; al-Nisa’ [4]: 46; al-Ma’idah [5]: 13 dan 41). Dan banyak ayat-ayat yang lainnya.

    Tentu pandangan ini sulit diterima oleh seorang Ulil. Karena dia menginginkan agar seorang Muslim –usulan Ulil—membaca Bible lewat kacamata orang Yahudi-Kristen. Di sisi lain –dan ini dapat dipastikan mustahil—Ulil menyeru agar mereka membaca Al-Qur’an sebagai umat Islam membacanya. Meskipun dia juga ‘mengejek’ umat Yahudi-Kristen dengan mengatakan, mohon maaf, tampak aneh dan sama sekali tak masuk akal.

    Solusinya, menurut Ulil, adalah mengikut nasehat Durkheim: “What I ask of the free thinker is that he should confront religion in the same mental state as the believer… He who does not bring to the study of religion a sort of religious sentiment cannot speak about it! He is like a blind man trying to talk about colour.” (hal. xvii, dikutip dari pengantar Karen E. Fields atas karya utama Durkheim, “Elementary Forms of Religious Life”).

    Dengan kata lain, saat membaca suatu Kitab “Suci” dari agama manapun, kita harus memiliki “religious sentiment” –meminjam istilah dari Durkheim itu– sebagaimana dimiliki oleh orang yang mengimani kitab itu. Jika kita kehilangan sentimen itu, maka kita akan melihat sejumlah pertentangan dalam kitab tersebut.

    Jika anda kebetulan seorang Muslim, cobalah sekali-kali anda membaca Quran dengan mengambil “jarak” sebentar, mencoba keluar dari sentimen keimanan yang selama ini anda miliki.

    Dalam keadaan sebagai seorang “skeptis sementara” itu, anda akan menjumpai sejumlah hal yang kontradiktif dan tak masuk akal dalam Quran. Sebagai contoh saja, dalam satu ayat dikatakan bahwa Tuhan tak menyerupai apapun, Laisa kamitslihi syai’un (42:11), tetapi dalam banyak ayat yang lain Tuhan digambarkan memiliki tangan, wajah, bahkan dalam hadis digambarkan pula memiliki jari-jari (ashabi’ al-rahman).

    Jika orang Islam keberatan dengan penggambaran tentang Tuhan yang “brutal” dan sangat antropomorfis dalam, misalnya, Perjanjian Lama, maka mereka sebetulnya lalai bahwa dalam Quran juga kita jumpai penggambaran yang kurang lebih serupa: Tuhan yang “brutal” dan antropomorfis.

    Bagaimana umat Islam bisa melewatkan begitu saja kisah tentang Nabi Nuh di Quran tanpa bertanya-tanya secara “kritis”: bagaimana mungkin Tuhan menenggelamkan seluruh umat manusia hanya karena mereka tak beriman kepada Nuh dengan sebuah banjir besar yang melanda begitu hebat? Apakah reaksi Tuhan semacam ini tidak keterlaluan? Mana sifat belas-kasih Tuhan? Baiklah, granted,Tuhan memang mempunyai sifat adil dan pengazab, selain sifat rahman dan rahim (kasih sayang).

    Tetapi mengirim banjir begitu hebat untuk mengazab seluruh manusia hanya gara-gara segelintir manusia tak beriman kepada Nabi Nuh — apakah azab seperti itu proporsional? (Jawab seseorang yang memiliki sentimen keagamaan tentu sudah bisa kita tebak: rasio manusia tak mampu memahami tindakan Tuhan).

    Banyak hal dalam Quran yang bisa kita persoalkan secara “kritis”, kalau kita mau sebentar melepaskan diri dari sentimen keimanan sebagai seorang Muslim.

    Itulah yang terjadi pada seorang Muslim yang membaca Bibel: karena mereka tak memiliki sentimen keagamaan seperti dimiliki oleh umat Kristen, maka mereka menjumpai banyak sekali kontradiksi dalam Kitab “Suci” itu, seraya lupa bahwa kontradiksi serupa bisa dijumpai dalam Quran.”

    Kedua, di sinilah letak ‘lucu’ dan rancunya logika berpikir Ulil. Dia memaksakan setiap pemeluk agama agar ikut ‘nasehat Durkheim’. Tentu saja amat sulit dilakukan. Merubah teologi semacam itu adalah absurd. Apalagi Ulil mengusulkan agar “sentimen” keimanan umat Islam dikeluarkan dulu –atau umat Islamnya yang keluar dari sentimen itu—agar membaca Al-Qur’an dengan kacamata dan hawa yang berbeda. Intinya, agar seorang Muslim dapat membaca dan menemukan kesan yang berbeda. Contohnya, seorang Muslim –menurut logika Ulil—agar mengetahui bahwa ternyata Allah juga dalam Al-Qur’an “brutal”. Di sini Ulil ingin mengatakan bahwa setiap agama –khususnya Islam—jangan mengklaim kitab sucinya yang paling benar. Karena di dalamnya terdapat banyak kontradiksi juga –sebagaimana halnya Bible.

    Sejatinya, Ulil terjebak logika orang “Kristen Liberal-Plural” yang ingin merelatifkan seluruh agama. Kenapa? Karena mereka “kebingunan”, sudah tidak ada lagi yang dapat dipertahankan dari agama mereka. Termasuk Bible, bahkan Yesus. Timbullah inisiafit “liberal” dari Knitter. Menurut Knitter, “All religions are relative—that is, limited, partial, incomplete, one way of looking a think.” Di sini Knitter ingin menyamakan semua agama: sama-sama relatif (tidak absolut), parsial (tidak global, tidak universal), tidak komplit (memiliki kekurangan), hanya memiliki satu cara pandang terhadap sesuatu. Oleh karena itu, menurut Knitter, pemeluk agama yang mengklaim agamanya “paling benar” adalah salah; ofensif dan berpandangan sempit. Dia menulis: “To hold that any religions is intrinsically better than another is felt tobe somehow wrong, offensif, narrowminded.” (Lihat: Paul Knitter, No Other Name, A Critical Survey of Christian Attitudes toward the World Religion, 1985), p. 23).

    Ulil kemudian memberi memberi contoh dengan ayat ‘laysa kamitsilihi sya’in’ yang dikaitkan dengan ayat-ayat yang menyatakan bahwa Allah punya “tangan”, wajah dan jari-jari. Di sini Islam punya konsep dan metode “takwil” dalam menyikapi ayat-ayat yang seperti itu. Ulama Islam dalam masalah akidah, punya konsep yang jitu dalam memahami ayat-ayat “sifat” (ayat al-shifat) dalam ranah ilmu Tawhid (al-‘akidah). Tidak ada yang rigid dalam Islam. Jika Ulil “rajin” membaca kitab-kita akidah, dia tidak akan terkejut ketika menemukan ayat-ayat yang seperti itu. Karena metode pemaknaannya sudah mapan. Sebagai contoh, untuk menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits yang dianggap “problematis” (musykil), Imam Ibnu Qutaybah menulis buku yang sangat baik: ‘Ta’wil Musykil al-Qur’an’ dan ‘Ta’wil Musykil al-Hadits’.

    Ulil juga memberikan contoh tentang “kebrutalan” Allah lewat kisah umat nabi Nuh dalam Al-Qur’an. Apakah ini tidak keterlaluan? Tanya Ulil. Hal itu dipermasalahkan oleh Ulil, karena menurutnya “tidak proporsional”. Bagi orang yang faham Al-Qur’an, hal tersebut proporsional. Dan itu pun sudah lewat peringatan dari Allah. Bahwa orang-orang kafir pada zaman nabi Nuh jika tidak beriman kepada nabi Nuh akan ditenggelamkan. Dan “pemusnahan” ini pun lewat permohonan nabi Nuh (Qs. Nuh [71]: 26-27), bukan insiatif Allah per se. Bahkan ketika nabi Nuh ‘protes’ kepada Allah tentang anaknya yang ikut orang kafir dan juga ditenggelamkan oleh Allah, Allah menyatakan bahwa ilmu nabi Nuh tidak sampai untuk memahaminya. (Qs. Hud [11]: 25-47 dan al-Mu’min [23]: 27, 32-42). Konon lagi kita menuduh Allah –dan kita anggap ini kritis—“brutal” dan “tidak proporsional”. Sekelas nabi Nuh kah kita?

    Berbeda dengan Bible. Umat nabi Nuh ditenggelamkan karena Allah “menyesal” melihat manusia yang semakin banyak dan semakin jahat di atas permukaan bumi. Tuhan dalam versi Bible ini pun mengirimkan “banjir bandang” yang luar biasa. Bukanya itu, seluruh hewan yang ada di atas dunia dimusnahkan oleh Allah.

    6:4 Pada waktu itu orang-orang raksasa ada di bumi, dan juga pada waktu sesudahnya, ketika anak-anak Allah menghampiri anak-anak perempuan manusia, dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi mereka; inilah orang-orang yang gagah perkasa di zaman purbakala, orang-orang yang kenamaan.

    6:5 Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata,

    6:6 maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya.

    6:7 Berfirmanlah TUHAN: “Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka.” (Kejadian 6: 4-7). Masya Allah. Tuhan apakah yang ada dalam Bible ini? Tentu sangat berbeda dengan kisah Nuh di atas. Setiap pasang hewan dibawa naik ke atas kapal oleh nabi Nuh, karena dia dan umatnya yang beriman akan mendirikan kehidupan yang baru di bukit Judi.

    Kisah nabi Musa yang “menyebrangi laut” pun membuat Ulil ragu. Karena dia terpengaruh oleh pemikirn Richard Dawkins dan Sam Harris. Dia bukannya mempertahankan bahwa keajaiban yang terjadi dalam Al-Qur’an adalah “mukjizat”, malah “membebek” kepada pemikiran skeptis seperti itu. Menyedihkan. Benar-benar menyedihkan jika ada seorang Muslim yang seperti itu. Apa yang tidak mungkin bagi Allah? Dalam beberapa ayat Al-Qur’an Allah menjelaskan bahwa jika DIA ingin melakukan sesuatu, cukup dengan ‘innama amruhu idza arada syai’an an yaqula lahu kun fayakun’. Nabi Ibrahim tidak terbakar, tentu “bukan dongeng”. Dan semuanya terjadi atas perintah dan kehendak Allah. Karena bagi Allah api itu “relatif”: bisa panas, dingin bahkan hangat kuku. Karena api adalah milik-Nya, bukan milik raja Namrudz.

    Urgensi Teologi Apologetik
    Hemat penulis, teologi apologetik sangat diperlukan. Apakah akan menimbulkan kekerasan dan negatif? Bisa jadi ya, bisa jadi tidak. Di Mesir sendiri, umat Kristen banyak mengamalkan ini, lewat metode yang mereka sebut dengan al-lahut al-dhifa’iy (teologi apologetik). Di satu sisi ini mungkin dianggap “ekslusif”, tapi di sisi yang lain ini akan menguatkan keimanan pemeluk agama masing-masing. Dan tradisi ini sudah lama diamalkan oleh kedua belah pihak, khususnya ulama klasik Islam.

    Penjelasan tentang sosok (pribadi) Yesus, misalnya, sudah dimulai oleh Ja’far ibn Abi Thalib ketika berhadapan dengan para pendeta Negus (Najasyi) di Abessinia (Ethiopia).

    Untuk mempertahankan dan membela kesucian Al-Qur’an dan akidah Islam, ulama kita kemudian banyak yang menulis buku-buku kristologi, seperti ‘Anti-Christian Polemic in Early Islam: Abu Isa al-Warraq Against the Trinity’ (edited and translated by David Thomas [The Bishop of Blackburn’s Adviser on Inter-Faith Relations], Cambridge-New York: Cambridge University Press). Dalam buku ini, Abu Isa al-Warraq mengkritik dogma Trinitas yang tidak masuk akal dalam agama Kristen; Abu Hamid al-Ghazali menulis al-Radd al-Jamil ‘ala Uluhiyyat ‘Isa bi Sharih al-Injil; Ibnu Taimiyyah menulis ‘al-Jawab al-Shahih liman Baddala Din al-Masih’; Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menulis ‘Hidayat al-Hiyara fi Ajwibat al-Yahud wa al-Nashara’; dan ‘Allamah al-Hindi menulis ‘Izhar al-Haqq’. Dari kalangan ulama kontemprer, misalnya, Ahmed Deedat menulis ‘The Choice: Islam and Christianity’; Syeikh Muhammad al-Ghazali menulis ‘Shaihah al-Tahdzir min Du’at al-Tanshir’; Ismail R. al-Faruqi menulis ‘Christian Ethics: A Historical and Systematic Analysis of Its Dominant Ideas’ (Kuala Lumpur: Pustaka Hidayah, ttp); Kamar Oniah Kamaruzaman menulis ‘Early Muslim Scholarship in Religionswissenchaft: The Works and Contribution of Abu-Rayhan Muhammad ibn Ahmad Al-Biruni’ (Kuala Lumpur: International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC: 2003). Dalam buku ini, Al-Biruni, setelah menjelaskan keempat Gospels yang ada (Matius, Markus, Lukas dan Yohanes), “mengkritik” geneologi Kristus (Messiah). Kamar Oniah menulis: “Al-Biruni also highlights some discrepancies that are found among these Gospels, particularly those which pertain to the geneology of the Messiah, thereby indicating the inaccuracy of the information in them.” (Oniah, p. 159). Dan jika kita lihat Gospel yang berbicara tentang geneologi Kristus memang tidak akurat (Bandingkan: Matius 1: 6-16 dan Lukas 3: 23-31).

    Kerja-kerja kristologi seperti ini tentu akan membuka pintu dialog yang kritis. Sehingga akan muncul tanggapan dan sanggah yang kritis pula. Dengan catatan bahwa budaya kritik itu harus dibangun di atas “fakta dan data”, bukan berdasarkan sentimentil tanpa dasar. Dengan begitu, jalan menuju kebenaran pun semakin terbuka lebar. Buktinya dapat kita lihat, bagaimana Ahmed Deedat membuktikan kebenaran Al-Qur’an yang merespon berbagai penyimpangan dan distorsi dalam Bible. Hal itu membuka mata para pendeta dan pastor bahwa memang dalam kitab ‘suci’ mereka ada problem serius.

    Dan para ilmuwan dan kristolog Muslim di atas tentunya harus dijadikan sebagai “uswatun hasanah” dalam membela akidah Islam. Kesimpulannya, umat Islam –dan mungkin juga umat yang lain—sah-sah saja membaca kitab ‘sucinya’ sendiri maupun kitab suci orang lain secara “apologetik”.

  • 8 rihab S.A // Aug 30, 2008 at 2:16 pm

    Boleh yah saya bagi pengalaman saya, mohon maaf dengan keterbatasan tulisan saya, karena saya bukan seorang penulis..kebetulan saya banyak bergaul dengan orang non moslim..baik non moslim dari indonesia ataupun non-moslim dari luar indonesia..saya pernah tinggal serumah dengan 3 orang kristen protestan dan 2 orang lainnya kristen katolik dan tetangga dekat kami seorang buda yang juga sering main ke rumah kami. Saya betul2 kagum dengan prinsip mereka tentang agama dan sungguh sangat menyenangkan kehidupan kami saat2 itu, walaupun tak di pungkiri kita pasti pernah cekok karena masalah kebersihan rumah, masalah listrik, jemuran dll..tetapi tidak pernah menyangkut masalah agama sedikitpun!
    sebagian kecil saya contohkan hormatnya mereka terhadapa agama saya, ketika saya sholat sebelum pergi bersama2, mereka menunggu saya dengan sabar, ketika waktu solat tiba mereka cepat2 mengecilkan suara musik, dan jika mereka menerima tamu kemudian saya sedang sholat mereka tergesa2 menutup pintu kamar saya keren hawatir akan suara bising dari tamu tersebut..tasbih saya pernah hilang..semuanya bersama2 mencari..kenapa demikan? karena kita semua berteguh pada satu prinsip bahwa semua agama bertujuan baik dan benar. Kemudian ada salah satu dari temen saya datang menjenguk saya, dia seorang muslim, tapi maaf boleh di kata hanya muslim KTP, dia masuk dalam rumah kami dan kaget melihat ada Al-quran ada kitab dan ada salib kecil2 di almari buku2 kami..dia tiba2 berbalik marah kepada saya sambil mengatakan..you are crazy..the angles will not come to visit u as long as those things are around u (dia menunjuk ke kitab suci dan salib2 yang ada disitu) saya cuma tertawa lepas..kemudia saya katakan kepadanya..iman saya kepada tawhid muthlak kuat! saya tidak perlu takut dengan lingkungan saya yang tidak islami..anda bisa marah seperti itu karena iman anda tidak kuat..sehingga anda takut dengan lingkungan semacam ini, takut terpengaruhi oleh agama mereka dan anda ragu-ragu malaekat2 tidak dateng akan menjenguk anda.
    Saya setuju dengan pernyataan pak ulil bahawa iman yang kuat tidak akan takut. Kalau iman kita kuat kita tidak perlu ngotot atau sentimen terhadapa agama lain. Ketika saya membaca buku kecil punya temen saya budda (dia selalu membacanya sebelum tidur) saya tidak sibuk membanding2kannya dengan agama saya..saya tidak membarengi rasa sentimen saya ketika saya membacanya. Begitu pula ketika saya baca injil dll. Karena pada kenyataannya ajaran yang saya temukan di dalamnya adalah baik dan benar..yang berbeda hanyalah masalah tauhid!! jadi tugas saya disini sebagai orang moslim adalah memperkenalkan tauhid saya kepada temen2 saya (bukan menyebarkan agama saya)..kemudian kalau iman temen2 saya kuat terhadap keyakinan mereka..saya tidak lantas mengatakan keyakinanmu salah dan keyakinanku adalah yang benar..saya tidak lantas mengatakan lihatkah mu’jizat kami Al-quran yang penuh dengan kebenaran..sementara jangankan mereka paham isinya..baca tulisan arabpun mereka tidak bisa!
    kemu’jizatan Alquran memang mu’jizat atau tandingan buat bangsa arab di zaman nabi yang suka bersyair..sekali lagi saya setuju dengan pernyataan pak ulil..bahwa ketika seorang non-moslim apalagi non-arab pertama kali membaca Al-quran dia akan kebingungan..kita tidak usah pungkiri hal itu..jadi menurut saya, umat beragama tidak perlu berdebat panjang tentang isi kebenaran sebuah kitab suci..karena masing2 akan sibuk menyodorkan sisi kelemahan dari kitab suci lawannya.

    Terimakasi..

  • 9 Fajar // Aug 30, 2008 at 6:39 pm

    kang Ulil…saya minta email anda karena saya ingin banyak berdiskusi dengan anda.
    kirim ke frarezki@yahoo.com.
    trima kasih

  • 10 bendoh // Aug 30, 2008 at 9:46 pm

    Bang ulil oleh nabi saya Nabi Muhammad s.a.w., “tidak tau kalu sekarang ini siapa nabimu, karena mungkin saja anda sekarang sedang mengkaji Al Quran yang suci dan sedang melepaskan keimananmu” kalu kita berjalan itu berjalanlan di yang tengah2 karena klau terlalu pinggir kekiri anda akan terjerumus dalam kebodohan, dan klu anda terlalu berjalan kekanan anda akan terjerumus dalam kepintaranmu yang membuat hati rusak, karena terlalu berbangga hati dengan kepintaranmu. sekarang boleh lah karna kepintaranmu dalam agama, saya yang bodoh ini memanggil anda seorang ulama yang hebat, pintar dan berpengetahuan luas yang menginginkan perubahan dalam segala hal dalam agama islam. namun satu hal bang, dalam kitab ihya ulumuddin saya baca bahwa Allah menciptakan segala sesutunya di dunia ini Berpasang2an, ada laki ada perempuan, ada jelek ada bagus, ada pintar dan ada yang bodoh. bukan berdua2an seperti laki dan laki, perempuan dan perempuan, apa jadinya dunia ini kalau tidak ada perbedaan yang saling melengkapi. begitu juga dengan ulama dalm kitab ihya dibagi juga menjadi 2 ada ulama yang baik dan ulama su atau ulama yang jahat. dan dalam ciri2 ulama su atau jahat yang saya baca maaf bang ulil ini cuman suatu perbedaan biar kita saling melengkapi, bang ulil ini termasuk dalam katagori ulama su, karena terlalu pintar anda berbngga diri sehingga merendahkan pendapat orang lain yang menyebabkan anda menjadi seorang yang sombong, karena anda terlalu pintar anda ingin ria memperlihatkan ilmu berdebat anda yang lihai, sehingga anda beramal karena ingin dipuji sehingga menyebabkan anda menjadi sirik. karena kepintaran mu anda anda ingin ikhlas mempersembhkan hasil pemikiranmu tentang islam dan karena ingin dikatakan ikhlas anda menjadi sesat dengan pemikiranmu. dan satu lagi bang dan masih banyak satu lagi2 namun tak bisa saya ketik, karena jadi jempol semua ntar jari2 ku. janganlah engkau melepaskan keimananmu walupun sedetik ketika engkau sedang mengkaji Al Alquran karena ajal itu datang tak di undang bisa menjemput kita kapan saja. gomen ne warui kedo sa. dari saya yang sudah kehabisan tiket tuk masuk kedalam taman sorga, namun masih berharap dapat tidur diemperan2 sorga, atau mungkin saja kita sempat bertemu dalam panasnya api neraka karena aku sering membohongi Allah dengan janji2 tobat yang tak pernah dapat aku laksanakan. sekian dari orang bodoh ini yang walupun bodoh masih tertulis di KTP ku bahwa aku seorang yang beragama islam yang masih saudara seislam denganmu. mungkin tapi ni.

  • 11 rifqi // Sep 1, 2008 at 9:23 am

    Hem….. abdul2, ya3…
    Menurutq liberal tu batasnya hukum, hukum yang berlaku di tempat itu, yang tertulis tentunya, tapi karena hukum tadi juga buatan manusia, dan tidak ada yang namanya hukum sempurna, kita bisa merubah hukum itu, dengan proses yang ada, menyesuaikan dengan lingkungan yang terus berubah.

    Dan satu hal tentang orang liberal dul, menurutq mereka selalu mempertanyakan terus apa yang di lakukan, karena orang liberal slalu mencari arti atau makna dalam setiap perbuatannya. Peran fikiran memang besar di sini. Oleh sebab itu, dialog ato debat dengan orang yang bersikap apolegetik, terlalu mendewakan teks tertentu, yang membabi buta melakukan tradisi, dan hanya menggunakan akal dan nurani dengan porsi amat dikit aja, menjadi tidak menarik dan kadang buang2 waktu doang…

  • 12 Junaidi // Sep 1, 2008 at 11:55 am

    Mas Rifqi..apakah al quran itu hanya sebuah teks menurut anda? apakah salah jika orang islam “mendewakan” al quran?

  • 13 rifqi // Sep 5, 2008 at 10:55 am

    Hem, is that a tricky question?

    Mari kita telaah lebih dalam tentang teks ini.

    Teks ini diajarkan dari kecil, kecuali anda di madrasah atau pondok, anda hampir tidak mungkin memahami salah satu bahasa tersulit yang menyusunnya,

    Ada yang membawanya harus di atas perut, atau di atas kepala malah, dan harus diletakkan di atas teks-teks yang lain. Entah cara ini bisa disebut menghargai atau tidak dalam arti sebenarnya.

    Banyak orang membacanya hampir setiap hari, ugal-ugalan malah di Ramdhan ini, entah mereka mengerti atau tidak yang sedang di baca.

    Teks ini mengalahkan teks-teks lainnya, dalam arti di keluarga “muslim” teks inilah yang diwajibkan di baca rutin, biasanya setelah shalat maghrib, kalau tidak mau baca, sudah pasti akan mendapat hukuman.

    Jadi menurut anda gimana?

    Yang menjadi masalah menurut saya adalah sayangnya ilmu Allah tidak di teks itu doang, dan sementara “orang lain” belajar keras dari teks-teks lain, yang kadang hasil dari belajarnya diklaim sebagai bukti benarnya Al-Quran, sebagian besar kita cuma membaca teks itu dengan motif yang terlalu dangkal, pahala ato sorga buat dirinya sendiri.

  • 14 wildan // Sep 6, 2008 at 2:14 pm

    Ulil, ah…biasa aja tuh.

  • 15 adnriyanto // Sep 6, 2008 at 4:06 pm

    orang ngawur (Ulil) ditanggapi,, lagian jadi antek amerikan dan barat sudah pasti ngomonginnya macem - macem ttg islam yang salah,,,ingat jangan menuhankan LIberalisme diatas segalanya
    Ingat juga adzab yang akan menimpa jika tidak segera ditaubati
    wassalam

  • 16 abdul // Sep 9, 2008 at 9:08 pm

    Rifqi, ada ga hukum yang menghukumi hukum itu sendiri? Jadi hukum yang kamu anut itu buatan manusia ya? Hebat. kamu dah mampu memegang hukum yang lebih benar dari hukum Alquran. Berarti selama ini kamu mencari kebenran yang lebih benar dari Alquran (lari /jenuh dari Alquran)? Bosan ya ama Alquran? Hebat lo, dah mampu merasa jenuh ma Alquran. Tingakatan lo dah melebihi malaikat kali ya?

    Berati kita semestinya menyesuaikan hukum dengan keadaan? bukan menyesuaikan keadaan dengan hukum? Jadi, yang jadi pegangan itu hukum ato keadaan? Apa jaminanya?

    Kalo selalu mempertanyakan setiap perbuatanya semestinyalah dia selalu membuka diri untuk menerima kritik dan dia tidak menjawab kritikan itu dengan silat lidah tapi denagn perbuatan agar tidak munafik (gengsi dengan kebenaran dari orang lain).

    Apakah fikiran itu ada tolok ukurnya terhadap peranya itu? sehingga bisa dikatakan benar ato salah? Dan apa ato siapa yang dijadikan tolok ukur itu?

    Pertanyaan terahir. Apakah anda sudah mampu memahami dan melaksanakan semua hukum alquran sehingga kamu mencarinya dari luar Alquran dan menyalahkan kaum lain yang mencari kebenaran di dalam Alquran?

    Jawab ye…

  • 17 Muhammad ad-dhury // Sep 12, 2008 at 6:18 am

    Mas Ulil…! Selamat yah..! anda cerdas..! Mulai merasah tersisihkan dengan Islam Liberalnya karena tidak berhasil mempertahankan Ahmadiyah.
    Bagi siapa yang membaca Komentar saya . Saya katakan : Inilah gaya Orang Liberal ketika ketakutan akan kebangkitan islam yang benar dengan cara mempengaruhi pemerintah sebagai alat kekuasaan untuk mencoba membubarkan HTI dan ormas islam lainnya yang sepaham. Masih ingat gak …! semua kasus diskusi dulu bersama gusdur yang diisukan adanya pemukulan oleh ormas islam yang kemudian di opinikan besar-besaran yang kemudian mereka berusaha memfitnah bahwa organisasi islam seperti FPI, HTI, MMI melakukan kekerasan, ujung-ujungnya orang liberal menuntut agar pemerintah mau membubarkan organisasi tersebut (Cara Orang yahudi). Inilah bukti keputusasaan mereka menghadapi gelombang stunami kebangkitan islam yang semakin bercahaya di indonesia dan mereka terancam kepentingannya dari agen-agen yang menyewa mereka dengan harga yang murah….!

    Mas Ulil terimakasih atas tulisanmu. Ini akan menambah jelas siapa serigala sebenarnya yang berpura-pura membela islam tapi malah menghancurkan dari dalam.

  • 18 John Doe // Sep 16, 2008 at 2:55 am

    HTI tidak sama dengan kebangkitan Islam, tetapi penghancuran pemikiran Islam, kasihan anak-anak yg ABG dalam hal ilmu agama, dibodohin sama kelompok2 fundamentalis, karena mereka memang tdk pernah belajar Islam dgn benar, lha wong sekolah SMA, kuliah di PTN/swasta, modal agamanya cuman dapat di SMA ama ceramah jum’at, wajar kalau mereka lebih mudah dibodohin, apalagi dijanjikan pasti masuk surga kalau masuk kelompoknya. Kerusakan yg mereka timbulkan lebih substansial karena merusak cara berpikir yg sehat.

  • 19 rifqi // Sep 17, 2008 at 11:30 am

    Tentu saya jawab, hem, dimana mulainya ya, anda membuat banyak sekali pertanyaan, sebagian besar saya anggap retorik, jadi akan saya jawab yang saya mengerti saja ato mungkin yang menarik saja tepatnya.

    Ya, saya manusia hukum, melaksanakan hukum-hukum yang dibuat oleh manusia, misalnya waktu lampu merah saya akan berhenti, kalo memakai sepeda saya akan pakai helm, atau kalu ada antrian saya akan antri. Menurut saya tu semua buatan manusia. Di Alquran setau saya tidak ada kata yang tepat sama dengan aturan-aturan ini, dan karena itu Muhammad juga bilang kalian lebih mengerti urusan dunia daripada aku.

    Banyak hukum atau aturan di Alquran memang, hukum waris, tentang poligami, mencuri, membunuh, zakat, membaca Quran, dsb. Apakah saya akan melakukan tepat sama dengan apa yang dikatakan di situ? tentu saja tidak. Pemahaman saya, suatu hukum dibuat berdasarkan konteks suatu masyarakat tersebut berada, tentunya konteks masyarakat arab dahulu yang jahiliyah dan barbar tidak bisa disamakan dengan masyarakat sekarang yang sudah mengenal konsep kebebasan, demokrasi, dan nurani lebih dalam. Yang universal pada hukum di Quran tu hanya semangatnya saja, tujuan awalnya.

    Dan tujuan awal dari semua hukum yang ada di Quran tentunya buat manusia, bukan buat Allah.
    Dengan ini berarti manusia bisa membuat aturan-aturan baru yang sesuai dengan kondisinya.

    Akan saya kasi beberapa retorik. Apakah dengan tidak melaksanakan aturan yang tepat sama dengan Quran seseorang bisa dikatakan tidak islami atau mungkin kafir? Apakah dengan sholat setiap waktu, baca Quran setiap saat, memakai jilbab, berjenggot, berpoligami, memendekkan celana, merajam orang, memotong tangan orang atau mengebom orang seseorang bisa disebut islami? Apakah memang seperti itu yang Allah mau?

    Bukan kesalahan kita ketika diciptakan Allah juga memberi nurani, pikiran, dan konsep kebebasan.

    Misalnya ketika lampu merah saya nerobos saja, saya akan pertanggung jawabkan perbuatan saya di pengadilan dengan alasan-alasan saya. Dan jika saya memilih untuk tidak sholat setiap waktu, untuk tidak membaca buku yang tidak saya mengerti, tidak Jumatan, atau tidak melakukan ritual islam yang sudah menjadi tradisi tanpa makna sama sekali, tentu saya juga tidak keberatan mempertanggung jawabkan semua perbuatan saya itu kelak.

Leave a Comment