Menjadi Muslim dengan perspektif liberal

USAI memberikan ceramah di sebuah kantor di kawasan Jakarta Selatan sekitar enam tahun yang lalu, saya bertanya kepada seorang panitia, di mana saya bisa mengambil air wudu dan melaksanakan salat Asar. Saat saya salat, secara lamat-lamat saya mendengar bisik-bisik di balik punggung, “Lho, Mas Ulil kok salat, katanya liberal.”

Saat di Boston, saya aktif mengikuti kegiatan yang diadakan oleh sebuah kelompok pengajian bernama IQRA. Selain ingin menikmati masakan Indonesia yang dihidangkan oleh ibu-ibu anggota pengajian, saya juga bisa belajar bagaimana teman-teman yang tinggal di Amerika memaknai Islam. Kadang-kadang saya juga memberikan ceramah, tetapi lebih sering menjadi pendengar saja. Kadang saya juga didaulat menjadi imam salat.

Saat Ramadan, seluruh kegiatan buka puasa hampir tak pernah saya lewatkan. Selain isteri saya memang gemar sekali memasak dan ingin berbagi masakan itu dengan teman-teman Indonesia yang lain, saya juga menikmati pertemuan-pertemuan seperti itu karena membuat saya bisa merasakan “getaran” bulan puasa. Ibadah puasa tidak terlalu asyik jika dilaksanakan sepenuhnya secara “personal” dan “soliter”. Sejak kecil, saya menikmati puasa sebagai “tindakan kolektif”. Pengalaman sosial seperti itu tak saya jumpai selama di Amerika, sebab di sini jumlah umat Islam sedikit sekali.

Dengan mengikuti momen-momen buka puasa atau melaksanakan salat tarawih secara bareng-bareng, saya merasakan kembali “suasana sosial” dalam ibadah puasa. Pengalaman sosial dalam beragama ini bukan hanya khas Islam; dalam agama apapun, dimensi “bebrayan” atau sosialitas ini sangat penting. Pengalaman yang membekas pada para pemeluk agama biasanya bukan sekedar “kesyahduan individual” saat seseorang melakukan meditasi untuk berkomunikasi dengan Tuhan, misalnya dalam sembahyang. Pengalaman yang paling membekas biasanya adalah pengalaman beragama secara sosial itu.

Kelompok paguyuban semacam IQRA atau yang lain memiliki makna yang penting bagi masarakat Muslim yang hidup di luar negeri karena membantu mereka untuk mengalami kembali pengalaman sosial dalam beragama dan beribadah.

Itulah sebabnya, dengan suka cita saya mengikuti kegiatan bulan puasa yang diadakan teman-teman Indonesia di kota Boston. Sekali lagi, saya mendengar bisik-bisik di baik punggung, “Kok Mas Ulil puasa, padahal liberal.”

SEJAK Mei 2001, bersama dengan teman-teman muda di Jakarta, saya mendirikan sebuah kelompok bernama Jaringan Islam Liberal, disingkat JIL. Kata “jil” selain enak diucapkan sebagai akronim, juga merupakan kata Arab yang artinya “generasi”. JIL adalah sebuah generasi pemikiran yang muncul di tengah-tengah masyarakat.

Tujuan utama kelompok ini secara umum ada dua. Pertama, melakukan kritik atas pemahaman keislaman yang fundamentalistis, radikal dan cenderung pada kekerasan. Paham-paham semacam ini muncul bak cendawan setelah era reformasi di Indonesia sejak 1998. Bagi saya, paham Islam yang radikal, eksklusif, dan pro-kekerasan ini sangat berbahaya bukan saja bagi masyarakat Indonesia yang plural, tetapi juga bagi Islam sendiri. Sebagai seorang Muslim, saya tidak mau agama saya”dibajak” oleh kaum radikal-fundamentalis untuk mengesahkan kekerasan atas nama agama.

Kedua, untuk menyebarkan pemahaman Islam yang lebih rasional, kontekstual, humanis, dan pluralis. Di mata saya dan teman-teman yang menggagas JIL, Islam harus terus-menerus dikonfrontasikan dengan realitas sosial yang terus berubah. Jawaban yang diberikan oleh agama atau ulama di masa lampau, belum tentu tepat untuk zaman sekarang. Oleh karena, sikap kritis dalam membaca pemikiran Islam yang kita warisi dari ulama masa lampau sangat penting.

Tidak semua hal yang tertera dalam Quran dan hadis harus dimaknai secara harafiah. Quran dan hadis dibentuk oleh konteks yang spesifik, dan karena itu harus terus-menerus dikontekstualisasikan, terutama ajaran-ajaran yang berkenaan dengan kehidupan sosial-politik. Bagi saya dan teman-teman JIL, misalnya, sistem pengelolaan “negara” yang pernah dicontohkan oleh Nabi dan sahabat-sahabat sesudahnya di Madinah tidak mesti kita contoh mentah-mentah untuk dipraktekkan pada zaman sekarang, sebab kita berhadapan dengan konteks sejarah yang berbeda.

JIL sama sekali tidak mengungkit-ungkit masalah ibadah. Saya sadar tidak semua hal dalam agama bisa dirasionalkan. Ada dimensi-dimensi tertentu dalam agama yang tak bisa sepenuhnya dipahami secara rasional. Contoh yang baik adalah masalah ibadah. Yang saya maksud di sini adalah ibadah dalam pengertian yang terbatas, yaitu apa yang sering disebut dengan ibadah mahdah alias ibadah murni seperti salat, puasa dan haji. Tata cara ibadah dalam Islam, menurut saya, berlaku sepanjang zaman dan tidak bisa dirasionalkan.

Tentu ada sejumlah tata-cara ibadah yang bisa didiskusikan ulang. Tidak semua hal berkenaan dengan tata-cara ibadah bersifat “harga mati”. Misalnya, saat saya kecil di kampung dulu, ada diskusi hangat antara kalangan NU dan Muhammadiyah mengenai boleh tidaknya menyampaikan khutbah Jumat dalam bahasa selain Arab. Kiai-kiai NU berkeras bahwa khutbah Jumat harus disampaikan dalam bahasa Arab, sebab Nabi dulu memakai bahasa itu dalam khutbah.

Kalangan Muhammadiyah berpandangan lain: khutbah tujuan pokoknya adalah untuk memberi pengertian dan informasi kepada jamaah. Bagaimana pengertian itu bisa sampai kepada mereka jika tak memakai bahasa yang bisa mereka pahami? Dalam hal ini, cara berpikir Muhammadiyah, menurut saya, cenderung liberal, sementara kiai-kiai NU cenderung konservatif.

Sekarang, praktek khutbah dengan bahasa non-Arab sudah diterima secara umum baik oleh kiai NU maupun, apalagi, tokoh-tokoh Muhammadiyah. Meskipun di kampung saya, hingga sekarang masih ada beberapa kiai yang tak bisa menerima khutbah dalam bahasa Indonesia atau Jawa. Paman saya di kampung yang mengelola sebuah pesantren, masih tetap memakai bahasa Arab dalam khutbah Jumat. Dia tetap berpandangan bahwa khutbah yang disampaikan dalam bahasa lokal, bukan Arab, tidak sah dan karena itu salat Jumat juga menjadi tidak sah pula.

Masalah serupa sekarang muncul dalam konteks salat: apakah kita boleh memakai bahasa non-Arab dalam salat? Sebagaimana kita tahu, salat adalah kata Arab yang secara harafiah artinya doa. Apakah kita harus berdoa hanya dalam bahasa Arab saja, atau bolehkah berdoa dalam salat dengan bahasa lain, misalnya Jawa, Madura, Sunda, atau Batak? Bukankah doa dengan bahasa lokal yang kita pakai sehari-hari lebih baik ketimbang bahasa Arab yang untuk beberapa orang sama sekali tak dipahami?

Umumnya umat Islam tidak bisa menerima ide tentang salat memakai bahasa non-Arab. Bahkan kalangan Muhammadiyah yang cukup “liberal” dalam kasus khutbah Jumat, umumnya bersikap konservatif dalam masalah yang satu ini.

Itu adalah beberapa contoh tata cara ibadah yang masih terbuka untuk didiskusikan. Tetapi, pada umumnya, tata cara ibadah bersifat “fixed” alias harga mati. Jumlah rakaat salat, misalnya, tidak bisa kita diskusikan lagi. Waktu salat juga sudah ditentukan oleh agama. Kita tak usah terlalu jauh mempersoalkan kenapa salat Magrib berjumlah tiga rakaat, Isya empat rakaat, Subuh dua rakaat, dan seterusnya. Boleh saja kita mereka-reka alasan di balik tata cara itu. Pada akhirnya, hal-hal yang berkaitan dengan ritual itu bersifat ta’abbudi, alias tidak bisa dirasionalkan.

Sebagai seorang Muslim liberal, saya tak pernah mempersoalkan masalah-masalah yang masuk dalam wilayah ibadah murni itu. Sebuah hadis terkenal menegaskan, “al-salah mukh-kh al-’ibadah”, salat atau berdoa adalah “the crux” atau inti ibadah. Hadis ini dengan tepat sekali memotret fenomena keberagamaan bukan saja dalam Islam, tetapi juga dalam semua agama. Kalau kita telaah agama-agama dunia, berdoa, meditasi, sembahyang atau praktek-praktek serupa adalah unsur pokok di sana yang tak bisa dihindarkan.

Oleh karena itu, sembahyang buat saya memiliki kedudukan yang penting dalam keislaman yang saya pahami. Sembahyang di sini saya mengerti dalam dua makna sekaligus, yaitu sembahyang secara teknis yang sering disebut salat dengan tata-cara yang sudah ditetapkan dalam Islam, maupun sembahyang dalam pengertian berdoa dan meditasi secara umum. Saya melakukan dua hal itu sekaligus.

Spiritualitas menempati kedudukan penting dalam modus keberagamaan saya. Meminjam istilah William James yang dikenal luas melalui bukunya The Varieties of Religious Experience” itu, beragama yang “genuine” ditandai oleh semacam gejala seperti “flu berat” (acute fever). Beragama yang hanya mengikuti tradisi saja tanpa pengalaman spiritualitas yang mendalam oleh James disebut sebagai pengalaman yang menyerupai “baju bekas”, (istilah yang dipakai oleh James adalah second hand religious life).

Dengan demikian, salat atau sembahyang menempati kedudukan yang penting dalam pemahaman Islam liberal saya. Entah dari mana sumbernya, ada suatu persepsi di sebagian kalangan masyarakat bahwa Islam liberal sama dengan tidak salat, tidak puasa, dan mengabaikan ibadah sama sekali. Ini jelas persepsi yang keliru sama sekali.

PERBEDAAN mendasar antara saya beserta teman-teman Muslim liberal lain dengan kalangan Islam konservatif pada umumnya adalah pada aspek interpretasi dan perspektif pemahaman. Meskipun saya berpandangan bahwa tidak semua hal dalam agama bisa dirasionalkan, pada saat yang bersamaan saya juga berpandangan bahwa tidak semua hal dalam agama harus melulu dianggap sebagai semata-mata perintah Tuhan yang tidak bisa dicari dasar-dasar rasionalisasinya, tak bisa dinalar.

Islam memang berarti ketundukan. Muslim berarti orang yang tunduk. Kalangan Islam konservatif, dengan interpretasi tertentu, hendak mengatakan bahwa sebagai Muslim, kita harus tunduk pada perintah Tuhan tanpa reserve, tanpa ba-bi-bu. Kita tak diperbolehkan untuk mempertanyakan kenapa Tuhan memerintahkan hal ini, melarang itu. Tugas manusia nyaris seperti “budak” yang taat tanpa berpikir pada sebuah perintah.

Pemahaman keislaman seperti ini, dalam pandangan saya, jelas sama sekali tak tepat. Dalam Quran sendiri, berkali-kali kita menjumpai ayat-ayat yang disudahi dengan sebuah pertanyaan retoris berbunyi “afala ta’qilun“, apakah kalian tak memakai akal, atau “la’allakum tatafakkarun” atau “afala tatafakkarun“, apakah kalian tak berpikir.

Ayat yang menarik perhatian saya sejak dulu adalah berikut ini, “inna syarra al-dawabbi ‘inda al-Lahi al-shumm al-bukm al-lazina la ya’qilun.” (QS 8:22). Terjemahan bebas ayat itu: seburuk-buruk binatang melata di muka bumi adalah orang-orang tuli dan bisu yang sama sekali tak memakai akal mereka.

Ayat di atas bukan semacam kutukan bagi mereka yang secara fisik menderita cacat tuli dan bisu. Dua kata itu dipakai dalam ayat di atas secara metaforis. Ayat itu sudah menjelaskan dirinya sendiri: tuli dan bisu di sana merujuk kepada orang-orang yang tak memakai akal. Yakni mereka yang hanya tunduk pada tradisi dan pemahaman yang sudah berlaku umum, tanpa memeriksa pemahaman itu secara kritis dengan akal sehat.

Memakai akal adalah perintah Tuhan itu sendiri. Jika seseorang mengikuti perintah agama dengan sikap kritis, itu bukan berarti ia tak tunduk pada perintah tersebut, tetapi justru ia melaksanakan perintah itu sendiri. Sebab, dalam banyak ayat Tuhan mengkritik perilaku mereka yang hanya mengikuti apa yang sudah ada tanpa berpikir kritis. Bacalah ayat berikut ini: qalu wajadna aba’ana kazalika yaf’alun (QS 26:74). Terjemahan bebas: mereka berkata, kami hanya mengikuti saja apa yang telah dilakukan oleh bapak-bapak kami sebelumnya.

Ayat itu adalah kritik terhadap masyarakat pada masa Nabi Ibrahim yang “ngotot” merawat tradisi keagamaan mereka tanpa berpikir kritis. Mereka menolak dakwah Ibrahim dengan alasan yang sangat “tipikal” pada semua masyarakat manapun: kami hanya mengikuti tradisi yang sudah dijamin teruji; kami tak mau ambil resiko mengikuti anda yang belum jelas reputasinya. Masyarakat manapun memang cenderung konservatif, alias menjaga tradisi dan merawatnya secara membabi-buta, walaupun bukti-bukti rasional menunjukkan bahwa praktek yang ada itu sudah tak tepat sama sekali dan berlawanan dengan semangat zaman.

Ayat itu relevan sebagai kritik bukan saja untuk masyarakat pada masa Nabi Ibrahim, tetapi juga keadaan umat Islam sendiri saat ini. Semangat taklid buta tanpa berpikir kritis sangat dikecam dalam banyak ayat di Quran.

Itulah “tuli” dan “bisu” yang dikritik oleh Quran: sikap keras kepala, tak rasional, tak mau membuka diri pada perkembangan baru yang ada dalam masyarakat. Orang-orang seperti ini mempunyai prinsip yang khas: pokoknya agama mengatakan A, ya sudah, saya mengikutinya tanpa bertanya apapun. Orang-orang semacam ini merasa tunduk pada perintah Tuhan, padahal mereka mengabaikan perintah Tuhan yang lain untuk berpikir kritis.

Oleh Quran, orang-orang semacam ini disebut sebagai “syarr al-dawabb”, binantang melata yang paling buruk. Kata “dabbah” (bentuk tunggal dari kata “dawabb”) secara harafiah berarti “kullu ma yadibbu ‘ala al-ard”, segala hewan yang merangkak atau melata di muka bumi. Meskipun kata “dabbah” biasa dipakai untuk menyebut hewan yang biasa dikendarai sebagai alat transportasi (seperti kuda, keledai, atau unta), yang dimaksud dengan kata itu dalam ayat di atas adalah manusia. Dengan kata lain, seburuk-buruk manusia adalah mereka yang tak memakai akal mereka.

Dengan bersembunyi di balik alasan “tunduk pada perintah Tuhan”, orang-orang yang disebut “syarr al-dawabb” itu menolak untuk memakai pendekatan yang kritis dalam memahami perintah-perintah agama.

Pemahaman Islam liberal yang saya kembangkan ingin mengajukan cara pandang yang lain. Berpikir kritis, termasuk dalam memahami perintah-perintah Tuhan, adalah bagian dari keislaman itu sendiri. Berpikir secara rasional dalam masalah agama adalah bagian dari perintah agama itu sendiri. Berpikir kritis dalam agama bukan berarti membangkang terhadap agama.

DENGAN mengecualikan aspek ibadah murni, saya cenderung mengembangkan pemamahan keislaman yang rasional, kontekstual, dan humanis. Banyak hal yang selama ini dianggap sebagai perintah agama, sebetulnya, jika kita telaah dengan kritis, hanyalah cerminan dari keadaan sosial pada masa tertentu yang makin tak relevan dengan berlalunya zaman.

Sejumlah contoh bisa saya sebutkan di sini.

Hingga sekarang, masih banyak negeri-negeri Arab teluk, termasuk Saudi Arabia, yang menolak mengangkat perempuan sebagai anggota parlemen. Berdasarkan “petuah” dan “fatwa” ulama konservatif di negeri-negeri itu, mereka berpandangan bahwa praktek mengangkat perempuan menjadi anggota parlemen berlawanan dengan Islam. Sebuah hadis terkenal sering dijadikan sebagai sandaran argumen, “ma aflaha qawmun wallau amrahum imra’atan.” Terjemahan bebasnya: bangsa yang menyerahkan urusan mereka kepada seorang perempuan tak akan beruntung, alias akan gagal.

Beragama secara rasional dan kritis seperti saya pahami dalam kerangka Islam liberal akan mencoba mengajukan sejumlah pertanyaan berikut ini.

Benarkah perempuan tak mampu menjadi pemimpin? Apakah secara empiris itu dibuktikan dalam realitas empiris? Bukankah banyak perempuan yang sukses menjadi pemimpin? Kalau perempuan dalam masyarakat tertentu tak mampu menjadi pemimpin, apakah hal itu karena faktor intrinsik dalam diri mereka, atau karena masyarakat tak memberikan kesempatan pada mereka untuk memperoleh ketrampilan sebagai pemimpin? Taruhlah hadis itu benar diucapkan oleh Nabi, apakah ia tetap relevan diberlakukan hingga sekarang, ataukah itu terkait dengan keadaan spesifik pada zaman Nabi saja? Apakah masuk akal ajaran agama yang konon berasal dari Tuhan menghalangi hak perempuan untuk menjadi pemimpin dalam masyarakat, padahal jumlah mereka adalah separoh dari penduduk bumi? Tuhan macam apa yang memberikan ajaran semacam ini? Ataukah kita sendiri yang tak tepat memahami ajaran Tuhan itu?

Bertanya secara kritis semacam ini bukan melawan esensi Islam sebagai agama ketundukan. Sebagaimana sudah saya tunjukkan di muka, bertanya secara kritis adalah bagian dari perintah agama itu sendiri. Sekali lagi, kita tunduk pada perintah Tuhan bukan seperti “budak bego” yang sama sekali tak berpikir. Kita tunduk tetapi harus dengan cara-cara yang rasional. Tunduk secara membabi-buta tanpa berpikir disebut oleh Quran sebagai tindakan orang-orang yang masuk kategori “syarr al-dawabb”, “the ugliest animal“, binatang yang teramat buruk.

Contoh lain yang relevan untuk keadaan yang kita saksikan di sejumlah negeri-negeri Islam saat ini adalah masalah hukum hudud yaitu hukum pidana Islam seperti potong tangan, cambuk, dan lontar batu. Sebagaimana kita tahu, hukuman bagi pidana pencurian yang memenuhi syarat-syarat tertentu menurut Quran adalah potong tangan (QS 5:38). Saat ini, muncul sejumlah gerakan Islam yang ingin menerapkan syariat Islam sebagai hukum negara. Hukum potong tangan adalah salah satu ajaran yang hendak mereka perjuangkan untuk menjadi hukum negara yang tentu bisa di-enforce melalui aparat pemerintah.

Membaca ayat di atas, kita bisa mengajukan sejumlah pertanyaan: apakah teknik menghukum pidana pencurian bersifat statis? Bukankah teknik pemidanaan dan penghukuman berkembang terus sesuai dengan perkembangan peradaban dan kematangan mental manusia? Bukankah hukum potong tangan itu warisan dari praktek-prektek penghukuman pada masyarakat kuno yang sangat kejam? Bukankah Islam hanya meminjam saja praktek-praktek penghukuman yang sudah ada? Jika perkembangan teknik penghukuman berkembang terus, apakah kita tak perlu meninjau “hukum Tuhan” itu? Bukankah yang penting adalah esensi penghukuman, bukan cara menghukum?

Sekali lagi, bertanya seperti itu adalah bagian dari perintah agama, bukan melawan perintah agama seperti dikesankan oleh kaum Islam fundamentalis di mana-mana.

Sikap kritis semacam ini perlu kita kembangkan untuk memahami sejumlah ajaran dalam Islam. Sekali lagi, saya menganjurkan sikap ini di luar masalah ibadah murni. Dalam masalah ritual murni, saya menjalankan saja perintah agama dengan ketentuan-ketentuan yang ada. Meskipun detil-detil ketentuan itu masih bisa tetap diperdebatkan.

Kenapa sikap kritis saya berhenti pada saat berhadapan dengan masalah ibadah murni? Ini pertanyaan yang diajukan oleh beberapa teman kepada saya. Tidak mudah menjawab pertanyaan ini, dan saya tak memiliki pretensi untuk bisa menjawabnya secara memuaskan. Secara umum, jawaban saya adalah sebagai berikut. Masalah-masalah ibadah murni cenderung bersifat arbitrer, alias acak dan tanpa alasan yang jelas.

Sebagai perbandingan, kita bisa mengambil sejumlah contoh tindakan arbitrer dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu contoh adalah praktek berlalu-lintas di sebelah kiri seperti kita jumpai di Indonesia. Kita bisa bertanya, kenapa kita tak memakai sistem lain, yaitu lalu-lintas dari sebelah kanan seperti berlaku di banyak negeri Eropa atau Amerika. Tentu kita bisa memberikan alasan pembenar untuk masing-masing praktek itu. Tetapi, pada akhirnya, jawaban yang paling masuk akal adalah: itu semua adalah pilihan suka-suka saja, alias arbitrer. Baik kanan atau kiri tidak mengandung alasan yang subtansial. Yang penting, lalu-lintas aman dan tertib.

Masalah ibadah murni kurang-lebih sama dengan hal itu, meskipun tidak persis. Kita bisa bertanya, kenapa salat Magrib berjumlah tiga rakaat, kenapa tidak empat, kenapa tidak lima; kita juga bisa mencoba memberikan alasan-alasan pembenar. Tetapi, pada akhirnya, tak ada alasan yang masuk akal kecuali bahwa hal itu bersifat arbitrer. Tuhan sudah menentukan demikian, kita tinggal menjalankannya saja. Bagi saya, semua jenis ibadah yang dipraktekkan oleh agama apapun, sama statusnya: yaitu arbitrer. Yang penting di mata saya adalah bukan bagaimana cara beribadah, tetapi apakah anda bisa menghayati spiritualitas yang “genuine” dengan cara ibadah yang anda ikuti itu atau tidak.

Semua orang beribadah dengan tujuan yang sama: membangun komunikasi dengan Tuhan sebagai Sumber, Pemberi, dan Pemelihara Kehidupan. Masing-masing agama memiliki cara ibadah yang “arbitrer”. Tak ada alasan yang substansial di balik tata-cara ibadah itu.

Inilah pemahaman Islam liberal yang ingin saya kembangkan; yakni beragama yang secara individual menekankan spirtualitas yang mendalam, dan secara sosial memakai pendekatan yang rasional dan kontekstual. Inilah corak agama yang memenuhi definisi Islam sebagaimana saya pernah pelajari waktu duduk di madrasah ibtida’iyah (setara dengan SD) puluhan tahun yang lalu.

Waktu kecil dulu, Islam, menurut buku pelajaran tauhid yang saya pakai saat itu, adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW untuk membawa kebahagiaan di dunia sekarang dan akhirat kelak. Hingga sekarang saya masih ingat teks Arab definisi itu: al-Islam huwa al-din al-lazi ja’a bihi Muhammadun SAW li sa’adat al-insani fi al-’ajili wa al-ajili.

Kebahagiaan ukhrawi, dalam pandangan saya, dicapai melalui pengembangan spiritualitas yang mendalam. Sementara itu, kebahagiaan duniawi dicapai melalui usaha membangun kehidupan sosial-politik yang masuk akal. Definisi Islam seperti saya pelajari waktu kecil itu menarik sekali karena relevan untuk kita terapkan pada hampir semua agama. Inti definisi itu menggambarkan dengan baik sekali fungsi agama: yaitu mencapai kebahagiaan, entah di dunia sekarang, atau dalam kehidupan kelak. Tekanan ingin saya letakkan pada kata “kebahagiaan”.

Mereka yang belajar filsafat Islam, akan dengan mudah menemukan relevansi konsep kebahagiaan ini dalam tradisi filsafat Islam yang sangat kuat dipengaruhi oleh filsafat Yunani. Kalau kita telaah karya-karya Al-Farabi (w. 950 M), Ibn Sina (w. 1037 M) atau Ibn Miskawayh (w. 1030 M), kita akan menjumpai pembahasan yang menarik tentang konsep kebahagiaan. Dalam pandangan mereka, ada dua jenis kebahagiaan, yaitu kebahagiaan teoretis (al-sa’adah al-nazariyyah) yang diajarkan oleh filsafat, dan kebahagiaan praktis (al-sa’adah al-’amaliyyah) yang diajarkan oleh para nabi. Dua-duanya sangat vital dalam mencapai hidup yang bahagia.

Dalam filsafat Yunani, terutama dalam tradisi Plato, kita kenal konsep eudaimonia, yaitu kombinasi antara “kebajikan” (arete) dan “pengetahuan” (episteme). Dalam konsepsi ini, kebahagiaan sudah mengandung dua elemen sekaligus, yaitu pengetahuan (antara lain mengenai yang baik dan buruk) dan kebajiikan atau “virtue“. Istilah “virtue” ini diterjemahkan dalam tradisi filsafat etika Islam sebagai “akhlaq”. Sementara itu, istilah akhlak sendiri sering didefinisikan dalam filsafat Islam klasik sebagai “malakah” atau “habitus”, yakni kebiasaan yang terbentuk dalam fakultas mental kita dan kemudian diterjemahkan menjadi suatu tindakan praktis. Akhlak atau “virtue” dalam pengertian “malakah” adalah semacam “etika yang tertubuhkan” (embodied ethics).

Dengan kata lain, agama adalah jalan menuju kepada kebahagiaan itu. Kebahagiaan akan dicapai jika seluruh fakultas mental kita diberi keleluasaan untuk bekerja, bukan dikekang atas nama tradisi atau pemahaman tertentu. Oleh karena itu, etika kebebasan menjadi sangat vital dalam usaha mencapai kebahagiaan itu. Mereka yang tak bebas secara mental jelas mengalami depressi, dan itu sama sekali tidak bahagia.

Tetapi kebahagiaan juga tidak cukup hanya dengan mengembangkan fakultas mental belaka. Kita harus bertindak secara benar dalam kehidupan sehari-hari. Saat berbuat sesuatu yang benar dan baik, seseorang akan mengalami perasaan bahagia dan bebas. Sebaliknya, seseorang yang bertindak salah akan merasa resah, tertekan, dan tidak bahagia.

Agama adalah jalan mencapai kebahagiaan “teoretis” dan “praktis” semacam itu.

Oleh karena itu, mereka yang mengajarkan keislaman dengan cara merepresi kebebasan akal dan berpikir secara kritis, sama saja mengajarkan kebahagiaan yang tak seimbang, seperti burung dengan satu sayap saja. Tak ada gunanya kita tunduk pada perintah harafiah Tuhan jika kita tak bisa mempertanyakan perintah itu. Bertanya secara kritis adalah bagian integral dalam proses menuju kebahagiaan atau sa’adah.

Inilah perpsepektif Islam liberal yang ingin saya kembangkan. Inilah cara saya memahami Islam. Saya merasa tenteram dan bahagia dengan pemahaman semacam itu. Sebetulnya, pandangan semacam ini sudah ada pada banyak kalangan dalam masyarakat. Hanya saja, jarang orang yang berani mengatakannya dengan terus terang, entah khawatir “diteror” oleh kalangan Islam radikal-fundamentalis, takut di-cap sesat, atau khawatir kehilangan “posisi sosial” tertentu.

Kita tak boleh tunduk atau takut pada ancaman kaum radikal-fundamentalis.[]

About Ulil Abshar-Abdalla

Iman yang kuat tak akan takut pada keraguan. Iman yang dangkal dan dogmatis selalu was-was pada pertanyaan dan keragu-raguan.
This entry was posted in Komentar. Bookmark the permalink.

24 Responses to Menjadi Muslim dengan perspektif liberal

  1. kris says:

    Mas ulil ini orang jujur. jujur terhadap pikiran dan hatinya.

  2. rozi says:

    “Sebetulnya, pandangan semacam ini sudah ada pada banyak kalangan dalam masyarakat. Hanya saja, jarang orang yang berani mengatakannya dengan terus terang, entah khawatir “diteror” oleh kalangan Islam radikal-fundamentalis, takut di-cap sesat, atau khawatir kehilangan “posisi sosial” tertentu.”

    Betul sekali mas Ulil, pemikiran saya sama seperti mas, tapi karena khawatir saja seperti yang mas utarakan di atas.

  3. Wah, keren banget! Inilah pemahaman Islam yang mesti dipertahankan dan dikembangkan. Saya setuju dengan Mas Ulil, harus ada direntangkan antara ta’abbudi dan ta’aqquli dalam memahami Islam. Saya pun merindukan Islam yang sama sekali tak mengekang kebebasan akal, karena dengan begini umat Islam bisa mencurahkan nalar kreatifnya untuk menformar bentuk keagamaan yang cocok dengan nalurinya. Terakhir, dan inilah yang perlu ditegaskan, pikiran yang bebas-radikal dan ibadah yang tekun harus dimiliki semua umat Islam.

  4. rifqi says:

    Menarik Mas Ulil mbahas ne, lagi. Seingat saya dulu mas pernah juga mbahas yang sejenis ne di bukunya, dan waktu tu saya ngerasa da yang janggal. Jadi saya minta pendapatnya Mas Ulil ne tentang kebingungan saya.
    Gini, poin saya tu apakah mungkin Umat Islam pemahaman agamanya semaju orang Kristen, maksudnya kita tu udah ga terlalu fokus pada Ibadah yang sifatnya langitan. Ibadahnya tu customize buat diri qta sendiri. Kaya Shalat tu kita gak perlu 5 waktu, pi pas butuh aja. Maksudq gimana bisa ketagihan kalo ngelakuinnya kita ga tau pa yang kita lakuin ato baca dan menolong orang lain lebih menggoda dan Allah malah lebih suka ada tindakan nyata kan,
    Intinya kita tu mengakui adanya Allah dan melakukan perbuatan mulia di dunia ini berdasarkan nurani kita dan untuk melakukannya kita gak perlu ritual-ritual yang seperti di buat untuk tahap “anak-anak” doang.

  5. rihab S.A says:

    assalamualikum pak ulil..
    wah senang sekali akhirnya saya ketemu blog anda secara ga sengaja..
    saya cukup gergetan dengan isu bahwa anda sebagai seorang liberalis di danai oleh pihak barat “anti islam”..anda di sebut sbg alat untuk menerobos pengaruh2 n pemikiran mrk untuk melunturkan kemurnian islam yg bersandar pd al quran dan sunnah..anda ga tanggung2 di sebut sbg penghianat islam “munafik” yg yukhade’on allah wa rasuluh demi kepentingan barat..orang2 itu bahkan berani membuktikan bahwa anda secara benar di danai..buat saya berbeda pendapat itu sah2 aja..jgn sampe agama kita pahami agama secara dogmatis sprt yg terjadi di arab saudi…sedikit sedikit mereka menyebut “hazda syara!!”..sementara mrk berwisata ke luar ngeri demi mencari kebebasan..prinsip mrk dosa2 jangan di buat di tanah haramain..tp di luar tanah haramain itu boleh2 aja..saya penah berdebat dengan salah satu ustad tentang kenapa islam citranya selalu buruk..beliau menjawab jangan salah kan islam ..yang salah adalah orang2nya! yang mau saya tanyakan pak ulil..kalo seumapama dalam kelas ada 15 siswa..dan seluruhnya ga2l dalam ujian..yang paling disalahkan gurunya atau muridnya? atau bahkan sekolahnya?? aku betul2 ingin tahu pak ulil ..dimana letak kesalahan dalam islam hinnga they look down at us?? apakah pengaruh mazhab dan aliran yang paling bertanggung jawab?? saudia arabia menjadi seperti itu karena pengaruh mazhab wahaby yang mereka anut..begitu juga di iran, tangkap menangkap perempuan di jalanan karena tidak memakai jilabab bahkan krena make up mereka ketebalan..apakah sebaiknya seorang muslim tidak usah bermazhab hingga dia bisa berfikir kritis dan lebih longgar tidak terkekang oleh dogma suatu mazhab tertentu? apakah “ta’shub bil mazhab” adalah biang kerok sempitnya pemikiran tentang islam ?

    salam dari cignjur pak
    have a nice day…all the best for you

  6. bahaur rijal says:

    adalah sebuah kebingungan tersendiri bagi saya, saat mas ulil mengatakan kalau berfikiran liberal tak boleh menyentuh hal yang bersifat taabudi, lantas kenapa di lain waktu para teman-teman anda yang mengaku sbg liberal malah dengan getol-getolnya mengkampanyekan tafsir baru atas ibadah ini, meski bagi saya taabudi ini sudah wilayah ijma’ yang tidak boleh qt utek2, saran saya kalau emang berfikir secara liberal itu tak harus mengutek2 ibadah taabudi, mbok ya ho mas ulil ngejelasin pada temen2 sampeyan yang cenderung menafsiri ibadah taabudi itu.

  7. bahaur rijal says:

    Bukankah dalam agama islam dianjurkan amar ma’ruf nahi munkar. Terimakasih mas ulil

  8. bahaur rijal says:

    Bukankah dalam agama islam dianjurkan amar ma’ruf nahi munkar. Terimakasih.

  9. dana says:

    @bahaur rijal

    Tapi disarankan juga jangan memaksa. :D

  10. rihab S.A says:

    mas rifqi..mengakui adanya Tuhan tidak cukup..mengakui adanya ibu kita tidak cukup..segala hal yang telah di berikan oleh ibu kita harus berterimakasih kepadanya..maka minimal dengan ritual sholat adalah cara bersyukur kita kepada tuhan..tentunya sholat yang hanya 5 kali dan menghabiskan waktu paling cepat 10 minet..tdk ada apa2nya dengan reziki dan karunia Tuhan yang berlimpah2 kepada ummat manusia..nabi Muhammad pernah di tanya oleh sayedah Aisyah..kenapa engkau ya nabi masi beribadah ( sholat malam) sementara Allah menjamin kema’shuman engkau? jawaban nabi sangat bijaksana .. ” ALA AKUNA ‘ABDAN SHAKURAN “

  11. Abufafa says:

    Mas Ulil, secara sekilas orng akan “terpesona” dengan kata2 anda sehingga “tidak mungkin” lah Ulil tuh begini, begitu….
    Tapi sekali lagi masalah anda sangat sangat mendasar….:
    1. Anda selalu mendahulukan akal anda diatas kepercayaan kepada Allah. Padahal, akal anda dititipkan kepada anda untu mengurai rahasia Allah.
    2. Afala tafakkarun…afala ta’qilun itu konteksnya secara langsung adalah “membaca rahasia Allah di alam ini” sehingga bertambahlah keimanan kita padaNya. Bukan untuk “menyerang perintahNya”.
    3. Kalau sy boleh katakan, silakan gunakan akal anda ini sebaik-baiknya tapi tolong ajari memantapkan imannya dulu.
    4. Jangan Takabbur dengan intelektual anugerah Allah untuk anda.

  12. rifqi says:

    OK, bagaimana jika kondisinya seperti ini, anda mengakui adanya kekuatan besar di balik semua yang ada ini, anda berbuat berdasarkan apa yang menurut pikiran dan nurani anda benar, anda melakukan sesuatu yang anda MENGERTI untuk membentuk diri anda yang akhirnya nanti bisa membantu sekitar anda atau semua umat manusia, anda melakukan semua kebaikan berdasarkan prinsip kemanusiaan bukan sekedar untuk angka-angka yang bisa berlipat-lipat(pahala) atau neraka surga, bagaimana jika seperi itu?

    JIka agama itu diturunkan memang untuk kebaikan umat manusia, dan kita BISA menjadi manusia yang bukan jahiliyah tanpa ritual-ritual yang sudah mulai kurang bermakna, terus buat apa ritual tadi? apakah hanya dengan ritual seseorang bisa dikatakan bersyukur? masalahnya bukan ritualnya kan, tapi kelanjutan dari ritual tadi menurut saya.

    Dan menurut anda apakah Islam dengan ritual2 seperti sholat 5 waktu, puasa, pake bahasa arab, haji, dsb apakah memang buat semua manusia atau buat orang-orang arab yang jahiliyah dulu itu? Seingat saya kata Islam itu sendiri sekarang udah diartikan secara inklusif menjadi berserah diri kan.

    Dan mengenai napa umat Islam gak maju2, ya gak berani tanya pertanyaan2 yang kritis, dari kecil diajari taklid, dan merasa dengan sholat, doa, zikir, baca Quran ato ritual lainnya uda bisa nyantai ja, tar juga dapet tempat di surga.

  13. Ardiansyah says:

    Menjadi muslim dengan menggunakan perspektif muslim.

    Fatwa-fatwa ulama berseliweran, diantaranya ada yang disepakati oleh jumhur ulama. Sementara banyak yang berbeda satu dengan lainnya.
    Muslim yang berfikir akan menggunakan akal untuk berusaha semaksimal mungkin menaati perintah Allah, sehingga dia akan memilih menjalankan fatwa yang menurutnya (pribadi) lebih kuat, sementara juga mudah(tidak memudah-mudahkan). Jadi semangat yang diusung adalah ketaatan dan tidak mempersulit diri.
    Jadi posisi ulama masih menjadi posisi sentral.

    Dan tugas ilmuwan bidang umum untuk memberi masukan kepada ilmuwan bidang syariat dalam mengeluarkan sebuah fatwa.
    Dengan demikian muslim sudah memaksimalkan potensi berfikirnya.

    Wallahu alam, cuma pendapat saya saja

  14. rihab S.A says:

    Trimakasih mas rifki..saya tidak memaksakan pendapat saya disini..saya suka berdebat secara terbuka dan positive..

    Melaksanakan ritual2 memang sudah tidak lagi rasional di zaman modern seperti ini, dimana zaman sekarang lebih banyak menuntut hal2 yang bersifat logis ketimbang hal2 mistis atau ghaib..

    Muhammad Ibn zakariya al Razi (865-925) adalah salah satu filosofi muslim yang menolak Nubuat (prophesy). Dia lebih memilih scientific books ketimbang segala kemu’jizatan wahyu dalam Al-quran. Dapat di katakan dia percaya bahwa manusia cukup berilmu maka dia bisa mencapai derajat kesempurnaan manusianya atau bisa manjadi manusia yang bermoral tanpa harus mengikuti wahyu apalagi menjalankan ritual2 yang di bawakan oleh wahyu..

    Kemudian muncul filosof moslim Ibnu Thufail yang menentang pendapat2 filosof2 tentang penolakan mereka terhadap wahyu atau nubuat, di dalam novel filsafatnya yang sangat terkenal Hayyan ibn Yaqdzan, dia mengisahkan (pendek cerita) seseorang yang hidup seorang diri dalam hutan, tidak ada wahyu yang sampai kepadanya, tidak ada agama, tidak ada seseorangpun bersamanya. Dia dapat sampai kepada pengetahuan tentang adanya si Pencipta yang menciptakan alam ini, dia sampai kepada pengetahuan adanya Tuhan hanya dengan kemampuan Akalnya, tidak dari wahyu manapun. Lama kelamaan kehausan dirinya untuk mencapai atau berkomunikasi kepada sang Tuhan, mendorong dia untuk melakukan bebagai cara seperti berputar2 dll. Cara2 tersebut adalah Ritual. Ritual2 semacam itu datang dari kreativitas atau usaha manusia untuk berkomunikasi dengan Tuhan Pencipta Alam. Pasti anda juga tahu bahwa tidak hanya agama samawi yang memiliki ritual2 yang di dapatkan secara economis dari wahyu, agama2 Ardi baik budda, hindu atau majusi dll tentunya memiliki ritualnya masing2.

    Kemudian Anand krishna yang konon mengatakan tidak memeluk agama manapun tetapi dia mengaku seorang spiritualis, tetap saja dia percaya akan Meditasi! apakah meditasi atau yoga itu merupakan ritual? saya katakan iya. Baik meditasi, yoga, solat, bertapa dll adalah merupakan ritual. Karena baik manusia beragama atau atheis sekalipun membutuhkan MEDIA untuk berkomunikasi dengan Tuhan secara khusyu’ (private). Yang tidak beragamapun, dia akan menciptakan caranya sendiri (ritualnya) yang nyaman baginya.
    So, ritual adalah media.

    Tuhan itu gaib, doa itu gaib, hantu itu gaib, nafas kita sendiri juga gaib..kalo anda seorang rasionalis, 4 hal tersebut tidak dapat di percaya..

    Al-quran tidak berlaku hanya untuk2 orang jahiliyyah..karena banyak sekali ayat2 yang masih bermanfaat untuk kehidupan modern, kalau saja anda mau belajar isi Al-qur’an (bukan mengaji)..

    At last, kira2 Imam ghazali mengatakan begini: Taqlid tanpa akal tidak benar, akal tanpa wahyu akan tersesat.

    wallahua’lam..

    Mohon di koreksi pak ulil

  15. rifqi says:

    WOW, u wrote one hell of opinion there….

    oke, anda pasti baca banyak, tentang karya2 klasik itu. Yes, saya memang belum pernah menyentuh tu buku2, dan selama ini pendidikan saya tidak pernah mengarah situ, pernah c dulu waktu di perpus Aliyah saya ketemu semacam karya klasik gitu, bukunya tebal, kaku dan sepertinya sama sekali tidak ada unsur menarik saat itu.

    Begini mas Rihab, saya sering melihat orang yang shalat hanya buat dirinya sendiri dan itupun mungkin cuma motif pahala doang, maksud saya sholat itu tidak da pengaruh sama sekali jika menyangkut masalah “duniawi”. Pernyataan klasik ne emang. Kalau minjam istilahnya Yusman Roy, sholatnya orang teler. Bagaimanapun juga sedikit banyak tu mempangaruhi saya dalam melihat ritual usang bernama sholat ne.

    Saya yakin banyak orang yang berpandangan seperti saya, melihat ritual shalat dengan biasa-biasa saja, pi mungkin mereka cuma diam saja.

    Saat ini saja bisa kita lihat banyak orang shalat untuk bisa berkumpul dengan orang-orang untuk mengaktualisasikan dirinya, misalnya pada Sholat Jumat, Tarawih, atau Hari raya. Setelah itu entah nasib sholatnya gimana.

    Intinya kita sudah tidak melihat sholat tu seperti yang anda atau golongan anda atau orang-orang yang sadar akan pentingya shalat 5 waktu lihat.

    Jika anda mengikuti pendapat Nabi bahwa sholat itu untuk berterima kasih padaNya, tu tidak cukup kuat, tanpa sholat rutin pun kita bisa berterima kasih padaNya.

    btw, S.A tu gelar ta….

    terima kasih.

  16. rihab S.A says:

    Btw am not mas…am still miss huhuh…
    S.A itu nama bapak saya..

    saya sependapat dengan pak ulil..bahwa masalah ubudiyyah itu sudah final..rukun iman dan rukun islam tidak usah di otak-atik..tinggal masalah rasa aja..kalo setelah solat anda merasa lebih baik berarti anda tau manfaat solat..

    Maka barengilah rasa khushu’ (konsentrasi)ketika solat..mudah2an anda akan tau manfaatnya…sama halnya jika anda melakukan meditasi dengan penuh konsentrasi..jangan bohong jika anda tidak merasakan (minimal sedikit) ketenangan. dan perlu anda ketahui bahwa ayat tentang poligami dan ayat tentang jilbab hanya sekali di sebut dalam al-quran..sementara ayat perintah solat berkali2 disebut di dalamnya..tuhan pasti ada maksud dan tau yang terbaik buat hambanya..barangkali solat memang untuk kebaikan kita sendiri..

    ritual sudah menjadi fitrah manusia, seperti yang saya sebutkan di atas, baik yang beragama maupun yang tidak beragama, mereka membutuhkan ritual..di dalam islam, kebetulan Tuhan memilih solat sebagai salah satu ritual bagi umatnya..kalau tuhan merasa cukup dengan iman kita dan perbuatan baik kita di dunia..buat apa dia harus ribet2 memerintahkan solat di berkali2??

    have a nice day..

  17. rinaldi says:

    nice thought mas! anyway, bolehkah saya memposting ulang tulisan mas di blog saya? semoga bisa menjadi pencerahan dalam kehidupan beragama umat islam…

  18. silahkan saja, mas rinaldi. terima kasih untuk komentar anda.

    ulil

  19. Erry says:

    Mas Ulil,
    I agree with you!

    Mestinya ayat ini sudah jadi landasan yang cukup kuat untuk orang-orang yang berfikir…

    “inna syarra al-dawabbi ‘inda al-Lahi al-shumm al-bukm al-lazina la ya’qilun.” (QS 8:22). Terjemahan bebas ayat itu: seburuk-buruk binatang melata di muka bumi adalah orang-orang tuli dan bisu yang sama sekali tak memakai akal mereka.

    Terima kasih atas pencerahannya. Saya merasa mendapat ‘teman’ yang tidak ingin menelan mentah hal-hal yang memang bukan dogmatis.

    -Erry

  20. alan says:

    assalamualaikum…

    Mas ulil saya tidak mau berkomentar di postingan ini.. tapi saya sangat mengharapkan anda bisa menjawab apa yang di sampaikan oleh mas abufafa disini. terima kasih

    salam,

    MN

  21. dony says:

    Wow!!! Lagi-lagi sebuah pemikiran yang aneh!!!
    Anda mengaku Islam padahal pemahaman anda ini sudah sangat jauh menyimpang dari aqidah orang Islam. Anda menentang hukum dalam Al-Quran hanya karena nafsu dan akal anda yang sempit itu??? Anda mungkin merasa pintar padahal sebenarnya anda itu terlalu bodoh wahai Ulil. Mungkin pemahaman skeptis anda ini akan diterima oleh beberapa orang bodoh yang merasa pintar saja, yang lainnya tidak, kami hanya akan mentertawakan pemikiran dari orang-orang yang seperti anda ini :)….

    Demi ALLAH, Islam ialah: “Mengucap dua kalimat Syahadat, Shalat lima waktu, Puasa dibulan Ramadhan, Menunaikan Zakat, Berhaji jika mampu.”

    Perintah ataupun larangan didalam Al-Quran itu sudah jelas, dan Al-Hadits yang berisikan penjelasan itu juga telah diteliti oleh orang-orang yang jujur dan benar-benar mencari sebuah kebenaran (bukan orang seperti anda yang saya duga hanya berusaha mencari ketenaran saja, biar slebor asal kesohor ya??).

    Tata cara shalat sudah valid didalam ilmu Fiqh. Soal perbedaan Mazhab dalam islam itu juga terdapat hikmahnya. Saya merasa sangat aneh anda masih ingin mempermasalahkan khotbah jum’at atau bahasa Arab yang digunakan dalam shalat. Sebegitu dangkalkah pengetahuan anda terhadap syariat wahai Ulil??? Semoga kamu bisa insyaf yaa Ulil yang malang…… :)

  22. Semenjak saya membaca tulisan-tulisan Kang Ulil, saya menjadi tertarik dengan metode berpikir Kang Ulil. Tapi saya tidak tergesa-gesa mengikutinya karena harus banyak mencaritahu seperti Kan Ulil. Terimakasih Kang Ulil, Jenengan telah memotivasi saya untuk mencaritahu

  23. Singa Padang Pasir says:

    Wah..hebat! Saya sangat setuju dgn pemahaman sampeyan,Mas Ulil..
    Hal yg selama ini jd misteri utk saya yaitu adanya pemahaman bahwa hanya agama Islam yg diterima utk mendapatkan surga. Disini saya bertanya-tanya, lalu bgmn dgn nasib umat Nasrani maupun Yahudi yg telah berbuat baik kpd sesama & mengamalkan ajarannya dgn tulus ikhlas, seperti contohnya Bunda Theresa yg kita tau beliau sangat toleran kpd sesama. Lalu yg terbaru ada seorang pengusaha Yahudi yg membantu total pembangunan masjid, apakah mereka tetap saja salah & nantinya msk neraka? Saya rasa tidak, Allah memberikan “hadiah” berupa surga kpd siapapun yg dikehendaki-nya.
    Jadi yg selama ini saya dengar, lihat, & rasakan, bahwa Islam adlh satu2nya agama yg membawa kita kpd surga, adlh pemikiran yg sangat2 sempit, pemikiran yg konservatif, padahal sikap konservatif hanya akan membatasi gerak kita utk lbh maju. Saya kira Allah tdk ingin umat-nya seperti itu. Saya cocok sekali dgn pandangan M.Ulil, bukannya utk melawan apa yg telah ada, namun bersikap kritis utk membawa Islam dlm kemajuan adlh hal yg berani & patut diteladani.

  24. heryan says:

    Ini mungkin yang dimaksud umat islam akhir zaman banyak tapi bagaikan buih dilautan, karena mereka menganut islam tidak mempunyai fondasi yang kuat sehingga mengambang dalam meyakini islam bahkan terus menerus mengkritik bahkan menganggap Alquran perlu dikritik. yang berpegang teguh pada syariat sebagai fondasi dianggap fundamental. ga apa-apa dianggap fundamental dari pada bang Ulil yang masih melayang mengkritik kesempurnaan Islam. bukankah anda tahu dalilnya Islam telah sempurna.

Leave a Reply