Sejumlah kontradiksi dalam cara berpikir Abu Bakar Ba’asyir

BARU-baru ini, kita membaca berita di sejumlah media tentang mundurnya Abu Bakar Ba’asyir dari organisasi di mana selama ini dia menjabat sebagai amir atau komandan, yaitu Majelis Mujahidin Indonesia (MMI). Alasan mundurnya Ba’asyir menarik sekali. Dia berpandangan bahwa sistem kepemimpinan yang dianut oleh MMI makin melenceng dari sunnah atau teladan Nabi Muhammad.

Dia mengatakan bahwa MMI selama ini memakai sistem kepemimpinan kolektif dan demokratis. Sistem itu, di mata Ba’asyir, tidak Islami. Dia memandang demokrasi sebagai kafir, tidak Islami, tidak sesuai dengan sunnah Nabi.

Ba’asyir berencana mendirikan jama’ah atau organisasi baru yang di mata dia lebih sesuai dengan sunnah Nabi. Dalam organisasi baru itu, dia akan memakai sistem kepemimpinan yang lebih Islami, bukan sistem kepemimpinan demokratis yang pelan-pelan mulai diadopsi oleh MMI.

Ada beberapa alternatif nama untuk organisasi baru yang hendak ia dirikan itu, misalnya: Jamaah Ansharussunah, Jamaah Ansharullah, Jamaah Muslimin Ansharullah, dan Jamaah Ansharuttauhid. Kalau kita jeli mengamati model-model gerakan Islam di berbagai negara Muslim saat ini, nama-nama itu sangat khas pada kelompok-kelompok yang sering disebut sebagai salafi, yaitu kelompok yang dengan gigih sekali ingin mencontoh teladan dan sunnah Nabi secara konsisten, bahkan fanatik sekali.

Saya menulis esei pendek ini bukan karena saya menganggap fenomena MMI atau Ba’asyir sebagai hal penting. Esei ini ingin menunjukkan kontradiksi dalam cara berpikir dan “mindset” orang-orang seperti Abu Bakar Ba’ayir. Saya berpendapat, metode gerakan yang dipakai oleh Ba’asyir mengandung kontradiksi yang akut. Kalau tidak bersikap apologetik dan pura-pura tak tahu, mereka mestinya menyadari sejumlah kontradiksi yang akan saya tunjukkan di bawah ini.

Metode gerakan seperi dipakai Ba’asyir itu juga rapuh dari dasarnya, sehingga cepat atau lambat, gerakan itu akan rontok sendiri. Ba’asyir hidup dengan sebuah “delusi” yang tak dia sadari.

Ba’asyir mengkleim ingin mendirikan organisasi baru yang lebih sesuai dengan sunnah Nabi. Betulkah kleim semacam itu? Apakah mungkin mendirikan organisasi baru dalam era modern ini tanpa melanggar prinsip mengikuti sunnah Nabi?

Organisasi baru yang akan didirikan oleh Ba’asyir itu, di mata saya, sudah pasti tidak akan sesuai dengan sunnah Nabi. Sebab pada zaman Nabi, tidak kita kenal sebuah entitas bernama organisasi seperti yang akan dia dirikan itu. Pada zaman Nabi semua masyarakat hidup sebagai komunitas tunggal tanpa organisasi atau pengelompokan apapun (dalam pengertian modern yang kita kenal sekarang). Begitu Ba’asyir mendirikan jamaah atau organisasi baru, persis pada saat itu dia meninggalkan sunnah Nabi.

Kalau mau lebih ekstrim lagi, kita bisa berkata bahwa eksperimen mendirikan pesantren Ngruki di Solo pun –yakni pesantren yang didirikan oleh beberapa tokoh Islam termasuk Ba’asyir itu– juga tidak sesuai dengan sunnah Nabi jika dilihat secara cermat, sebab pada masa Nabi tidak ada sekolah seperti dipraktekkan oleh pesantren dan madrasah di Ngruki. Tidak ada sistem kelas, tidak ada sistem ujian, tidak ada sistem ijazah, tidak ada sistem pendaftaran seperti kita saksikan dalam semua praktek sekolah modern saat ini.

Orang-orang seperti Ba’asyir ini memakai logika dan cara berpikir yang aneh dan nyaris tak masuk akal.

Terhadap kritik ini, Ba’asyir boleh jadi menjawab: bahwa sistem pendidikan ala madrasah yang mengenal kelas-kelas itu tidak bisa dikatakan bertentangan dengan sunnah Nabi, sebab sistem itu menyangkut urusan duniawi, bukan masalah ibadah.

Persis di sini soalnya: bukankah soal pemilihan pemimpin, atau soal kepemimpinan secara umum, adalah masalah duniawi pula? Kenapa dia keluar dari MMI karena menganggap bahwa sistem kepemimpinan dalam organisasi itu tidak sesuai dengan sunnah Nabi? Kenapa dia tak membubarkan pesantren Ngruki saja, sebab pesantren itu juga memakai sistem yang tak ada pada atau dicontohkan oleh Nabi?

Ba’asyir mungkin beranggapan bahwa masalah kepemimpinan bukan soal duniawi, tetapi masalah keagamaan. Pertanyaannya, apakah Nabi memberikan petunjuk yang detil mengenai soal kepemimpinan ini dengan seluruh aspek-aspeknya? Kalau jelas ada petunjuk, kenapa para sahabat bertengkar hebat saat Nabi wafat, persis untuk memperebutkan jabatan kepemimpinan?

Bahkan jenazah Nabi tak sempat dikuburkan selama tiga hari, karena sahabat sibuk bertengkar tentang siapa yang menjadi pengganti Nabi dan bagaimana pula cara memilihnya.

PARADOKS lain yang menggelikan adalah bahwa Ba’asyir menolak mentah-mentah sistem demokrasi, tetapi, anehnya, dia menikmatinya sejak pertama kali menginjak bumi Indonesia setelah kembali dari pengasingan di Malaysia selama bertahun-tahun (karena diusir oleh pemerintahan Presiden Suharto yang tak demokratis itu). Demokrasi di Indonesialah yang memungkinkan dia mendirikan organisasi seperti MMI, dan demokrasi itu pulalah yang menjamin hak dia nanti untuk mendirikan organisasi baru yang konon lebih sesuai dengan sunnah Nabi itu.

Kampanye dia selama ini untuk menegakkan syariat Islam di Indonesia tak pernah diganggu oleh aparat keamanan justru karena di Indonesia ada sistem demokrasi. Dengan demikian, Ba’asyir mengecam demokrasi, seraya diam-diam menikmati “roti” demokrasi setiap saat tanpa memberi kredit apapun. Dalam hal ini, Ba’asyir tidak melaksanakan hadis yang terkenal, “man lam yasykur al-nas lam yasykur al-Lah”, barangsiapa tak mensyukuri manusia (yang telah berbuat baik pada dia), maka dia sama saja tak mensyukuri Tuhan.

Ba’asyir menikmati roti demokrasi, tetapi dia tak pernah memberi kredit apapun pada sistem yang memberinya kebebasan itu. Dia malah mengecam sistem itu sebagai sistem kafir karena berasal dari Barat. Tindakan dia ini bertentangan dengan sunnah Nabi sebagaimana tercermin dalam hadis di atas.

Kalau konsisten dengan perlawanannya atas demokrasi, kenapa Ba’syir tak pindah ke negara Arab Saudi saja yang sama sekali tak menerapkan demokrasi? Saat dia diusir dari Indonesia pada awal 80an dulu, mestinya pada saat itu dia punya kesempatan untuk pindah ke negeri yang sama sekali tak menerapkan demokrasi. Eh, dia malah mengungsi ke Malaysia yang juga, dalam tingkat tertentu, menerapkan demokrasi.

Setelah Indonesia makin demokratis paska tergulingnya Presiden Soeharto pada 1998, dia malah kembali ke Indonesia. Kenapa dia kembali ke negeri yang justru makin intensif mengalami proses demokratisasi? Apakah diam-diam Ba’asyir mencintai demokrasi, walau di mulut meluapkan kecaman pada sistem itu?

Mungkin Ba’asyir akan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya ini dengan mengatakan: Saya balik ke Indonesia karena saya mau menegakkan negara syari’ah! Saya mau mendirikan kekuasaan Tuhan, sistem yang ia sebut dengan istilah yang aneh sekali, yaitu “Allah-krasi”, yakni kekuasaan Allah sebagai lawan dari “demokrasi”, kekuasaan rakyat.

Pertama, sistem yang ia sebut sebagai Allah-krasi itu sendiri tidak pernah ada dalam sunnah atau dikatakan secara tegas oleh Nabi sendiri. Dalam hal ini, dia telah melanggar prinsip yang ia anut dengan gigih itu, yaitu hendak hidup sesuai seluruhnya dengan sunnah. Nabi sendiri tak pernah menyebut kekuasaan yang ia praktekkan di Madinah dulu sebagai Allah-krasi.

Kenapa dia menciptakan sesuatu yang tak ada dalam agama? Bukankah ini bid’ah, dan setiap bid’ah, sebagaimana ajaran yang diyakini oleh orang-orang semacam Ba’asyir, akan membawa seseorang masuk neraka (kullu bid’atin dhalalah wa kullu dhalalatin fi al-nar)? Akankah Ba’asyir masuk neraka karena menciptakan bid’ah Allah-krasi itu? Wallahu a’lam! Hanya Tuhan yang tahu.

Kedua, agar dia bisa memperjuangkan sistem Allah-krasi di Indonesia, dia tak bisa tidak butuh sebuah lingkungan politik yang memungkinkan perjuangan itu; dan itu, sekali lagi, adalah sistem demokrasi. Sebab, jika dia hidup di negeri yang tidak demokratis, sudah tentu dia akan mengalami kesuitan untuk memperjuangkan idenya tersebut, persis karena tiadanya kebebasan di sana.

Jika Ba’asyir, misalnya, menetap di Saudi Arabia, dia sudah ditangkap dari sejak awal dan tak akan pernah keluar dari penjara, sebab dia mengampanyekan sistem yang menentang kekuasaan yang ada di sana. Hanya di negeri demokratis seperti Indonesialah dia bisa bergerak dengan leluasa. Bagaimana dia bisa mengecam sistem demokrasi yang telah memberinya hidup selama ini?

Paradoks yang lebih parah dan mendasar adalah keinginan Ba’asyir mendirikan sebuah negara syari’ah, negara yang berlandaskan sistem Allah-krasi itu. Konsep negara itu sendiri tak dikenal secara eksplisit pada zaman Nabi. Nabi sendiri tak pernah menyebut komunitas di Madinah sebagai “daulah” atau negara. Dalam Piadam Madinah yang terkenal itu, komunitas di Madinah hanya disebut sebagai “ummah” saja. Kata ummah di sana tidak terbatas pada umat Islam, tetapi juga umat-umat lain di luar Islam, termasuk Yahudi.

Kalau hendak konsisten mengikuti sunnah Nabi, tindakan Ba’asyir untuk menciptakan nama “negara” itu sendiri untuk menyebut sebuah komunitas yang hendak ia dirikan jelas tidak sesuai dengan teladan atau sunnah Nabi.

Kalau kita amati kelompok-kelompok Islam yang meneriakkan semboyan ingin hidup sesuai dengan sunnah dan teladan Nabi, ada semacam pola yang menarik. Pola ini terjadi di tanah Arab sendiri, dan terjadi pula (atau tepatnya ditiru?) di Indonesia dan negeri-negeri lain di luar Arab. Yaitu, mereka cenderung terlibat dalam pertengkaran internal yang tak pernah selesai. Persoalannya sepele: masing-masing kelompok menuduh yang lain sebagai menyimpang dari atau kurang konsisten dengan sunnah, dan menganggap merekalah yang paling konsisten mengikutinya.

Inilah yang kita lihat pada kasus perpecahan dalam tubuh Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) sekarang. Perpecahan ini juga kita lihat dalam kelompok-kelompok salafi yang lain di sejumlah kota di Indonesia. Pengalaman ini sudah pernah kita saksikan pada Partai Komunis dulu; masing-masing faksi menganggap dirinya paling “ortodoks” dan menuduh yang lain “revisionis”.

Ba’asyir keluar dari MMI karena merasa organisasi itu dikelola dengan prinsip yang tak seusai dengan sunnah Nabi. Saya memprediksi, kelompok baru yang akan didirikan oleh Ba’asyir itu, suatu saat juga akan pecah lagi karena pada gilirannya nanti akan ada kelompok yang merasa lebih konsisten pada sunnah ketimbang yang lain. Begitu seterusnya.

Deskripsi yang tepat untuk menggambarkan kelompok-kelompok yang mengkleim paling mengikuti sunnah ini adalah sebuah ayat dalam Quran, tahsabuhum jami’an wa qulubuhum syatta; engkau melihat mereka seolah-olah bersatu (di bawah ide mengikuti sunnah Nabi), tetapi hati mereka sesungguhnya saling terpecah-belah. Dengan kata lain, gerakan ini sebenarnya rapuh di dalam, persis karena terlalu menekankan “kesucian” gerakan, purifikasi, dan tidak belajar untuk kompromi dan akomodatif terhadap keadaan yang terus berubah.

Watak gerakan puritan di mana-mana selalu mengandung resiko perpecahan internal. Jika kita mau belajar lebih jauh lagi, perpecahan dalam tubuh umat Islam selama ini terjadi persis karena dorongan “puritan” itu, yakni masing-masing kelompok merasa paling sesuai dengan Quran dan sunnah. Dengan sikap “sok benar” sendiri itu, mereka dengan mudah menuduh gerakan yang lain kafir, sesat, murtad, syirik, dsb.

Paradoks seperti dihadapi oleh Ba’asyir ini semestinya menjadi pelajaran bagi kelompok-kelompok Islam yang lain. Di mata saya, metode perjuangan Islam ala Ba’asyir sudah mentok dan tak akan membawa umat Islam ke mana-mana. Sangat keterlaluan jika ada orang-orang yang masih percaya atau “terkelabui” oleh tokoh dan metode perjuangan seperti ini.

Penangkal paling manjur agar umat Islam tak terkecoh oleh retorika orang-orang semacam Ba’asyir ini adalah nalar yang sehat dan kritis. Umat seharusnya diajarkan bagaimana berpikir secara kritis dan berani mempertanyakan kleim-kleim kosong yang diajukan oleh tokoh seperti Abu Bakar Ba’asyir itu.[]

About Ulil Abshar-Abdalla

Iman yang kuat tak akan takut pada keraguan. Iman yang dangkal dan dogmatis selalu was-was pada pertanyaan dan keragu-raguan.
This entry was posted in Komentar. Bookmark the permalink.

14 Responses to Sejumlah kontradiksi dalam cara berpikir Abu Bakar Ba’asyir

  1. Iwan says:

    Dan disetiap saya melihat debat yang melibatkan “Islamnya” ustadz Ba,asyir ini selalu pendukung dibelakang atau didepannya berteriak-teriak Allahhu Akbar, dsb, dan mengganggu para panelis yang berbicara. Hal itu tidak saya temui dalam debat capres, debat partai, atau debat “duniawi” yang lain.
    Hal itu persis seperti suporter sepak bola yang selalu teriak-teriak sepanjang permainan mendukung team kesayangannya. Karena apa ? Karena dalam permainan sepak bola kalah menang adalah sebuah ukuran.
    Mas Ulil, mengajari umat Islam berpikir kritis dan berani tentu akan lebih sukar jika ukurannya adalah kalah menang……….

  2. Andri says:

    Menarik sekali mas.
    Paparan diatas telah menggambarkan bagaimana sepak terjang kelompok fundamentalis di Indonesia. mereka menikmati alam yang demokratis namun bercita-cita menghancurkan demokrasi itu sendiri dari dalam.
    perlu ditambahkan bahwa selamanya idealisme kaum konservatif islam tidak akan pernah sejalan dengan modernitas. oleh karena itu sudah selayaknya setiap rakyat Indonesia yang concern dengan Demokrasi dan keindonesian untuk mewaspadai propaganda kaum fundamentalis ini.
    Tetapi Mas, yang paling membuat saya cemas bukanlah orang-orang eksentrik seperti Ba’asyir atau habib riziek. tetapi justru kelompok2 fundamentalis yang mengaku menempuh jalan damai dalam perjuangannya.
    seperti Mas tahu kalau HTI itu berpotensi menimbulkan kelompok-2 sempalan yang radikal akibat ketidak puasan. di Inggris kalau tidak salah ada kelompok al muhajirun yg konon katanya adalah sempalan HTI dan mereka sangat keras sekali.
    belum lagi dengan Partai-islam-yg-sudah-kita-kenal-itu. meski saya sangat menghormati dan kagum dengan perjuangan moralnya (Partai-islam-yg-sudah-qta-tahu-itu tergolong partai yang cukup bersih dan solid), namun saya bergidik kalau sudah mempelajari materi-materi Liqo yang diajarkan oleh para “Murrabi”-nya di akar rumput. Partai-islam-yg-sudah-qta-tahu-itu yang berdamai dengan demokrasi di tingkat elite, tidak berlaku demikian di tingkat bawah. doktrin yang selama ini diajarkan adalah -tetap- doktrin tentang kedaulatan Allah. karena banyak dari materi2 Liqo tersebut mengacu pada buku2 Qutb, Hawwa dan Maududi. Samar-samar saya menangkap, Partai-islam-yang-sudah-kita-tahu-itu hanya ingin menjadikan demokrasi sebagai alat saja, untuk tujuan yang sebenarnya yaitu mengarahkan Indonesia ke pintu “negara islam”.
    Saya membayangkan jika partai tersebut benar2 menjadi partai yg besar (masuk tiga besar dlm pemilu 2009 nanti). ingat, kemenangan Pilkada Jabar dan sumut mengindikasikan bahwa partai ini sgt gigih dlm perjuangannnya. kesolidan dan kebersihan partai tersebut bisa menjadi magnet yg kuat bagi rakyat yg sudah jemu dengan partai-2 yang ada.
    yg jadi dillema adalah qta tidak memiliki partai tandingan yang benar-2 bersih dan solid (apalagi yg pro dengan sekulerisme dan liberalisme).

  3. andri says:

    Tulisannya sangat berbobot. Blog yang sangat bagus sekali.

  4. Abu Fauzana says:

    Assalamu’alaikum Wr.Wb
    Langsung aja yah…
    saya malahan bertanya-tanya kepada pak Ulil nih, orang pintar dan cerdas tapi pikirannya kerdil… dan berbicara atau menulis tanpa bisa memahami kerangka pemikiran….
    Membandingkan yang dinamakan mengikuti sunnah kok, dalam segi bentuk dan caranya… mana mungkin sama pak… lawong zamannya berbeda…. jadi kesimpulannya tulisan mas ini ngawor dan tidak bisa menangkap pemikiran pak ba’asyir…. tapi wajar sih pak ulil kan tokoh JIL yang memang mengaitkan segala sesuatu dengan logika….
    Kalau menurut saya pak yang diinginkan pak ba’asyir bukanlah dari cara dan bentuknya… tapi lebih ke nilai-nilai dan ideologinya mungkin bisa di katakan akidahnya…. cara dan bentuk boleh bisa mengikuti zaman, tapi aqidahnya tetap mengikuti sunnah…. seperti sistem pembinaan/sekolah… silakan caranya seperti apa… namun tetap nilai, ideologi dan akidahnya tidak lantas meninggalkan sunnah….
    jangan mengartikan sunnah itu dari konteks saja, tapi dalami maksudnya….
    Gitu aja kok repot…

  5. maswari sireqar says:

    ya,kalo yanq nqomonq oranq bukan islam ya,bisa saja comen kyk qini,mirip orientalis ,belajar islam dari orientalis ya?sekolah islam ke barat,Cetek.dech.

    seperti ulil,dan andri.tapi kl emanq memperjuanqkan sekulerisme en liberalisme,silahkan saja,oranq islam menanq koq we’re worried,islam kaqak lho????

  6. Hasan Husin says:

    Ulil KEPARAT, nggak usah ngurusin Ustadz Abu, urusin saja dirimu sendiri dan yahudi germomu , binasalah kau liberal kafir busuk banci pelacur Yahudi!!!!

  7. boytoock says:

    Bismillahirrahmanirrahim wassalatu wassalamu ala rasulillah wa ba’du.

    Begitulah mas Andri dan mas Ulil kalau seseorang sudah cinta kepada Allah, Rasulullah dan Islam. Islam baginya adalah tanggung jawab dan profesionalisme. Seseorang yang mengaku Islam (paham benar-benar) akan tahu apa sebenarnya tujuan Islam dan cita-citanya ketika diturunkan oleh Allah dan diajarkan Rasulullah saw. kepada umat manusia.

    Jika anda lihat orang disekitar kita yang menjadi “pengusaha profesional”, maka anda akan melihat bagaimana dia berdisiplin dalam bekerja, bertanggung jawab dalam bekerja, tau waktu dalam bekerja, tau aturan main dalam bekerja, punya target (baik jangka pendek atau jangka panjang) dalam bekerja. Itulah pengusaha atau pekerja profesional.

    Sedang Islam diturunkan oleh Allah dan diajarkan oleh Rasulullah kepada umat manusia agar mereka bisa “profesional” dalam berIslam, agar bisa profesional dalam kehidupan dengan selalu membawa Islam dan prinsip2nya.

    Profesional dalam artian disiplin dalam berislam, bertanggung jawab dalam berislam, tahu waktu dalam berislam, tahu aturan main dalam berislam, punya target dalam berislam, dll.

    Sedang anda semua yang tidak tahu apa tujuan Islam dalam kehidupan, dengan “bodoh” menghancurkan “Islam, martabat dan cita-citanya” dengan memperjuangkan demokrasi dan menggembar-gemborkannya ke seluruh orang dengan mengatakan “demokrasi dan sistemnya lebih baik dari Islam dan sistemnya”.

    Anda orang Islam bukan??!! Kenapa anda tidak membangun keluarga, masyarakat dan negara dengan Islam? Apakah Nabi Muhammad saw dan para Sahabat Nabi (Khulafaur Rasyidin misalnya) tidak mengajarkannya kepada Anda? Atau anda semua kurang baca dan memahami Al-Quran, Hadits-hadits sahih dan sejarah-sejarahnya?

    Yah, mungkin pola pikir anda semua sudah terbalik karena “tercekoki” oleh pemikiran barat. Mengaku atau tidak itu terserah anda…

    Sehingga anda mengira bahwa “Islam perlu disesuaikan dengan zaman dan modernitas”, bukan “zaman dan modernitas yang harus disesuaikan dengan Islam.”

    Yah, kasihan anda! Anda adalah orang yang tidak tahu tujuan Islam yang diperjuangkan oleh Nabi Muhammad secara mati-matian dan kemudian diteruskan oleh para sahabatnya.

    Anda mungkin menganggap perjuangan Nabi Muhammad saw. dan para sahabat dalam memperjuangkan Islam dan mempertahankannya di setiap waktu dan tempat ( sehingga anda semua masih mengenali Islam dan ajaran-ajarannya sampai sekarang, walaupun anda pungkiri dan anda cerca di kemudian hari) itu hanya sebatas “pola pikir konserfatif, pola pikir para fundamentaslis, pola pikir orang-orang garis keras, pola pikir orang-orang kuno, dll.”

    Wah…wah…anda kira apa Islam itu? apa anda kira Islam itu seperti “baju” yang bisa anda lepas dan pakai semau anda, anda cuci sampai bersih (tanpa aturan dan petunjuk) ketika anda melihatnya kotor, sehingga ketika anda merasa bahwa diri anda “sudah bersih” dari Islam, anda bangga dan bahagia, atau apa??

    Apakah anda tidak punya “cita-cita” dan “tujuan” dengan Islam dan keislaman anda? sehingga anda mengganti Islam dengan yang lain, baik sistem, ideologi, dll.

    Apa arti “Islam” di pikiran dan jiwa anda??

    Apakah anda tidak punya cita-cita untuk membangun Islam dan prinsip-prinsipNya di kehidupan anda sehari-hari? atau anda malah ingin “merusak Islam” karena anda merasa benci (karena Islam menurut anda kuno dan kejam), merasa bingung (karena anda tidak punya niat ikhlas dan taat kepada Allah dalam belajar), dll.

    Mungkin anda ingin menjatuhkan Islam dengan membawa nama-nama orang2 Islam dan organisasi2 Islam “yang anda sebut sebagai kelompok fundamentalis”, sedang saya tidak tahu anda sendiri kelompok apa? liberal atau non Islam?

    Anda seharusnya tahu, bahwa keberadaan anda di tengah-tengah masyarakat adalah untuk menerapkan keislaman anda dan profesioanalisme anda dalam berislam seperti cita2 sebagian orang Islam yang masih punya prinsip dan komitmen terhadap Islam, walaupun sebenarnya ada beberapa cara mereka yang tidak sesuai dengan Islam, misalnya lewat partai, dll .

    Sayang beribu sayang, umat Islam yang tidak “profesional” larut dalam “kesesatan”, “kesalahkaprahan dalam berislam”, “missunderstanding terhadap Islam”dll. Sehingga “kebanyakan orang Islam” disekitar kita dan mungkin anda sendiri adalah “orang Islam yang tidak punya Islam, prinsip2nya, ajaran2nya, hukum2nya dan akhlaknya.” Hal ini diperparah dengan kehadiran anda dan teman2 anda dengan JIL (jaringan iblis Liberal) yang suka membantah dan mendebat Islam dan prinsip2nya tanpa punya kesadaran, apakah itu justru merusak atau memperbaiki Islam dan ketaatan kepada Allah.

    Anda memang punya otak dan hati, tapi apakah anda akan menggunakannya dalam memahami Islam tanpa berpedoman pada Al-Quran dan Hadits sahih, kemudian “mengecek dan crosscek” pada referensi-referensi Islam yang terpercaya?

    Pastinya, kalau anda menggunakan otak dan hati saja (alias tanpa Al-Quran, Hadits-hadits sahih dan referensi2 Islam terpercaya), anda akan mengganggap bahwa “semua agama itu sama”, “Demokrasi lebih baik dari pada Islam”, “Ahmadiyah harus dilindungi demi toleransi dan nasionalisme”, dan pendapat2 lain yang “ngawur”.

    Yah, jangan anda mengira Islam itu salah, jelek dan tidak berarti (alias sama dengan agama lain atau sama dengan tidak beragama) hanya karena melihat “orang-orang Islam” nya yang kadang-kadang memang kurang belajar dan memahami Islam secara baik dan benar.

    Bagaimana bisa baik dan benar, mereka hanya memahami Islam lewat ustadz yang kadang kurang “kredibel”, tanpa cek dan krosscek terhadap Al-Quran, hadits2 sahih dan referensi2 Islam yang tentu memerlukan penguasaan terhadap bahasa Arab dan ketika saya teliti, ternyata sedikit sekali orang Islam yang “menguasai bahasa Arab”.

    Lagi-lagi, bagaimana menguasai, lha wong “belajar saja tidak mau”, karena menurut perkiraan mereka “belajar bahasa Arab itu tidak ada sambungannya dengan dunia kerja alias tidak ada manfaatnya dalam mencari kerja”. He…he…he…pikirannya hanya kerja dan dapat uang saja, tanpa berpikir bahwa bahasa Arab adalah modal pokok dalam mempelajari Islam, pedoman dan referensi2nya. Tanpa bahasa Arab, ya tetap “bodoh” tentang Islam. Jadi nantinya, hanya bisa ngikut ustadz, kyai, dosen, teman, dll yang kadang2 juntrungannya malah tidak jelas seperti ngikut JIL dan orang2 didalamnya yang tidak sadar dan tidak tahu “apa akibat omongan dan pendapat mereka terhadap Islam”.

    Yah, akhirnya saya hanya bisa menghimbau anda untuk “Memikirkan kembali apa makna kehadiran Islam di dalam hati dan jiwa anda”, “apa makna Islam dalam kehidupan sehari-hari anda”. Itu saja.

    Kalaulah anda tetap dengan pemikiran anda bahwa Islam tidak punya makna dan arti apa2, yah maka jawaban saya “Kasihan deh loe!!”

    Yah, sayang…sebenarnya anda pinter, cerdas dan kritis. Tapi semua itu menjadi keblinger, karena anda tidak ikut rambu2 dan aturan dalam berislam. Anda terlalu “tergesa-gesa” untuk berpendapat, menilai dan ngomong bla..bla…bla… tanpa cek dan croscek lagi dan lagi…

    Sayang…sayang…keislaman anda tidak punya kontribusi apa2 terhadap Islam, bahkan malah memiliki kontribusi dan andil besal terhadap demokrasi, dan lain-lain selain Islam. Jadi Islam tidak berarti apa2 dalam kehidupan anda, tidak berwujud apa2 dalam kehidupan anda. Kasihan…kasihan…

  8. Konkoli says:

    Ulil, fenomena ini memang memprihatinkan, pengkotakan “hitam-putih” ” iman vs tdk beriman” “duniawi vs surgawi” adalah akar problema, dan tdk hanya di islam. Padahal ber”agama” atau ber”iman” harus termanifestasi dalam keseharian, mengutuki orang lain sambil meneriakan nama Allah yg suci kpd yg org yg beda pendapat, tdk peduli thdp kemiskinan/korupsi tapi rajin ibadah. Pada akhirnya kita lelap dalam kepalsuan, merasa kita sudah melakukan amal-baik & beroleh pahala, tanpa sadar bahwa semuanya itu semu. Terus menulis bung Ulil, meski saya tidak selalu setuju dgn pendapat anda, tapi tulisan anda baik utk melatih kepekaan agamawi kita.

  9. yudi hidayat says:

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Apakah Pak Ulil pernah bertabayyun dengan Pak Abu Bakar Baasyir sebelum menulis blog ini?

    Terima Kasih

  10. Ryono says:

    saya yakin mas Ulil bukan sedang membidik “Umat Islam” tetapi “umat Islam dengan cara pikir Konservatif” macam Ba’asyir ini.

    Dan saya heran, kenapa sang ustadz kok malah digadang-gadang oleh segelintir orang, sering diundang ceramah/pengajian..

    saya belum pernah mendengar sang ustadz mengeluarkan argumentasi cerdas selain “syariat islam adalah solusi kehidupan”, “kembali Alqur’an dan sunnah yang murni” itu saja..selalu berulang-ulang…mirip dengan aktivis HTI yang belum melek juga bahwa Khilafah sudah “almarhum”….

    dan mungkin bagi sebagian umat islam…pernyataan sang Ustadz bisa disebut “islami”…..meskipun dangkallll…….

  11. John Mahmuddin Hutagalung says:

    Kang Ulil,
    Terima kasih buat tulisan anda.
    Saya sangat senang mengikuti semua tulisan anda. Benar2 memberikan tambahan wawasan dan pencerahan. Ternyata apa yang saya pelajari dan kuasai selama ini belum ada apa2nya.
    Kita beragama dan beriman untuk mencari kedamaian dunia dan akherat.
    Kang Ulil, terima kasih untuk tak bosan2nya mengajari, menghimbau semua umat untuk menghindari dan menjauhi kekerasan, pertentangan.

  12. Muslim says:

    Baasyir adalah muslim yg brsha dgn keras untuk scr sempurna mengikuti alquran n al hadist tp baasyir cm manusia tentulah ada keterbatasan,khilaf,dosa dsb.Ulil abshor adalah….yg berusaha keras menentang alquran n alhadist,smga allah memberikan hidayah kpd engkau sblm adzab menghampiri km.

  13. oegeng says:

    Tidak Paham Kebenaran

  14. Prapto says:

    ABB memang tidak konsisten antara ucapan dan tindakannya namun tetap saja para pengikutnya nurut dengan ajaran dia. Saya ingat sekali pada saat peristiwa bom Bali dia bilang itu rekayasa yahudi, bukan dilakukan orang islam. Tapi kemudian setelah murid-muridnya Amrosi Cs ditangkap dan terbukti melakukan pengeboman berdsarkan putusan pengadilan serta dijauhi hukuman mati, dia bilang mereka mujahid. Bingung kan ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>