SAYA sering terganggu oleh sikap beberapa kalangan Muslim apologetik yang dengan mudah menunjukkan adanya kontradiksi dalam Kitab Perjanjian Lama dan Baru. Dengan gigih sekali mereka mencoba memperlihatkan bahwa dalam dua kitab “suci” itu tersua sejumlah pertentangan internal.
Usaha itu bukan tanpa tujuan: yaitu untuk menunjukan kehebatan Quran sebagai Kitab “Suci” yang paling baik, solid, koheren, logis, tidak mengandung pertentangan internal apapun. Lalu mereka mengutip sebuah ayat dalam Quran yang terkenal, “Afala yatadabbarun al-Quran, wa law kana min ‘indi ghair al-Lahi lawajadu fihi ikhtilafan katsira.” (4:82) Artinya: Apakah mereka tak merenungkan secara mendalam mengenai Quran itu; seandainya ia berasal dari selain Tuhan, maka sudah pasti mereka akan menjumpai banyak pertentangan di dalamnya.
Hal serupa juga ada pihak Kristen (dan juga Yahudi). Saya banyak sekali menjumpai buku-buku apologetika Kristen (juga Yahudi) yang menunjukkan adanya sejumlah pertentangan internal dalam Quran.
Maryam Jameelah, seorang perempuan Yahudi dari New York yang semula bernama Margaret Marcus, menceritakan proses dia masuk Islam (pada tahun 1961) dalam bukunya “Islam versus West”. Di sana ia berkisah tentang kelas yang ia ikuti di New York University tentang “Judaism in Islam” yang diampu oleh seorang rabbi bernama Abraham Isaac Katsh. Rabbi itu mencoba menunjukkan kelemahan Quran sebagai kitab yang sekedar menyontek saja dari Torah atau Perjanjian Lama.
Saya memandang sikap apologetik seperti itu kurang tepat, bahkan hanya menimbulkan perceckokan yang kurang produktif dan kleim paling benar sendiri yang menghalangi adanya dialog yang positif.
Tanpa mengurangi penghormatan saya pada kepercayaan teman-teman Muslim yang lain mengenai Quran, sejauh menyangkut kontradiksi, dalam Quran banyak sekali kita jumpai kontradiksi dan pertentangan internal.
Bukan hanya itu, dalam hampir semua Kitab “Suci” selalu akan kita jumpai kontradiksi semacam itu. Tugas penafsirlah untuk melakukan “harmonisasi” agar pertentangan itu bisa “dihaluskan” (explained away) atau malah dihilangkan sama sekali.
Orang yang datang dari luar tradisi Islam (terutama orang Kristen), misalnya, dan ujug-ujug langsung membaca Quran, kemungkinan akan terperanjat, karena Quran di matanya boleh jadi mirip sebuah “jumble mumble”, atau kitab yang sama sekali tanpa struktur, temanya loncat-loncat tanpa aturan, seperti sebuah buku yang tak diedit dengan baik, dan mengandung banyak kontradiksi di dalamnya. Dia akan cenderung membandingkan Quran dengan Kitab Perjanjian Lama yang lebih memiliki struktur naratif yang rapi.
Hal yang sama terjadi pada orang yang datang luar tradisi Kristen (misalnya seorang Muslim), lalu ujug-ujug membaca Kitab Perjanjian Lama atau Baru, boleh jadi dia akan menjumpai sejumlah kontradiksi internal dalam kitab itu, apalagi menyangkut gambaran Tuhan dalam Perjanjian Lama yang, mohon maaf, tampak aneh dan sama sekali tak masuk akal.
Kontradiksi itu akan makin menjadi-jadi kalau kita membaca kitab agama lain dengan prasangka buruk, apalagi dengan niat untuk mencari kejelekannya, seperti yang dilakukan oleh banyak kalangan apologetik dari, terutama, kedua belah agama, Islam dan Kristen.
Di mata orang beriman, kontradiksi itu memang tak kelihatan, karena yang bersangkutan sudah dikondisikan oleh imannya untuk mempercayai apa saja yang termuat dalam kitab tersebut.
Seorang Muslim yang membaca Bibel bisa melihat kontradiksi dalam kitab itu karena dia tak “mengimani”-nya sebagaimana ia mengimani Quran. Begitu juga seorang Kristen bisa melihat kontradiksi dalam Quran karena dia tidak mengimani Kitab “Suci” tersebut.
Memang benar, sorang Muslim percaya bahwa kitab-kitab sebelum Quran bersumber dari Tuhan yang sama. Tetapi, iman mereka pada kitab-kitab itu tak sama dengan iman mereka pada Quran. Meskipun mengimani Bibel, tetapi mereka memandang Kitab “Suci” itu sebagai buku yang “defektif” atau cacat.
Bagaimana cara membaca Kitab “Suci” agama lain tanpa harus berhadapan dengan kontradiksi itu?
Caranya adalah sederhana: gunakanlah kaca-mata orang yang mengimani Kitab “Suci” itu. Seorang Muslim yang hendak mendapatkan manfaat dari Bibel saat membacanya, dan tak sekedar terpaku pada kontradiksi yang ada di sana, dia harus membaca kitab itu dengan “hati” dan “mata” sebagaimana dipakai oleh orang Kristen saat membacanya.
Hal ini berlaku juga untuk orang Kristen yang hendak membaca Quran dan ingin mendapatkan sesuatu yang berguna dari sana, tanpa terjebak dalam kontradiksi yang ia lihat di sana.
Nasehat sosiolog besar dari Perancis, Emile Durkheim, kepada para sarjana yang hendak mengkaji agama bisa kita pertimbangkan di sini:
“What I ask of the free thinker is that he should confront religion in the same mental state as the believer… He who does not bring to the study of religion a sort of religious sentiment cannot speak about it! He is like a blind man trying to talk about colour.” (hal. xvii, dikutip dari pengantar Karen E. Fields atas karya utama Durkheim, “Elementary Forms of Religious Life”).
Dengan kata lain, saat membaca suatu Kitab “Suci” dari agama manapun, kita harus memiliki “religious sentiment” –meminjam istilah dari Durkheim itu– sebagaimana dimiliki oleh orang yang mengimani kitab itu. Jika kita kehilangan sentimen itu, maka kita akan melihat sejumlah pertentangan dalam kitab tersebut.
Jika anda kebetulan seorang Muslim, cobalah sekali-kali anda membaca Quran dengan mengambil “jarak” sebentar, mencoba keluar dari sentimen keimanan yang selama ini anda miliki.
Dalam keadaan sebagai seorang “skeptis sementara” itu, anda akan menjumpai sejumlah hal yang kontradiktif dan tak masuk akal dalam Quran. Sebagai contoh saja, dalam satu ayat dikatakan bahwa Tuhan tak menyerupai apapun, Laisa kamitslihi syai’un (42:11), tetapi dalam banyak ayat yang lain Tuhan digambarkan memiliki tangan, wajah, bahkan dalam hadis digambarkan pula memiliki jari-jari (ashabi’ al-rahman).
Jika orang Islam keberatan dengan penggambaran tentang Tuhan yang “brutal” dan sangat antropomorfis dalam, misalnya, Perjanjian Lama, maka mereka sebetulnya lalai bahwa dalam Quran juga kita jumpai penggambaran yang kurang lebih serupa: Tuhan yang “brutal” dan antropomorfis.
Bagaimana umat Islam bisa melewatkan begitu saja kisah tentang Nabi Nuh di Quran tanpa bertanya-tanya secara “kritis”: bagaimana mungkin Tuhan menenggelamkan seluruh umat manusia hanya karena mereka tak beriman kepada Nuh dengan sebuah banjir besar yang melanda begitu hebat? Apakah reaksi Tuhan semacam ini tidak keterlaluan? Mana sifat belas-kasih Tuhan? Baiklah, granted,Tuhan memang mempunyai sifat adil dan pengazab, selain sifat rahman dan rahim (kasih sayang).
Tetapi mengirim banjir begitu hebat untuk mengazab seluruh manusia hanya gara-gara segelintir manusia tak beriman kepada Nabi Nuh — apakah azab seperti itu proporsional? (Jawab seseorang yang memiliki sentimen keagamaan tentu sudah bisa kita tebak: rasio manusia tak mampu memahami tindakan Tuhan).
Banyak hal dalam Quran yang bisa kita persoalkan secara “kritis”, kalau kita mau sebentar melepaskan diri dari sentimen keimanan sebagai seorang Muslim.
Itulah yang terjadi pada seorang Muslim yang membaca Bibel: karena mereka tak memiliki sentimen keagamaan seperti dimiliki oleh umat Kristen, maka mereka menjumpai banyak sekali kontradiksi dalam Kitab “Suci” itu, seraya lupa bahwa kontradiksi serupa bisa dijumpai dalam Quran.
Sementara itu, jika anda berdiri sepenuhnya sebagai seorang agnostik tulen yang tak terikat atau malah skeptik terhadap semua bentuk sentimen keimanan apapun, maka anda sudah pasti akan “sinis” pada semua Kitab “Suci”, sebab kitab agama manapun akan mengandung hal-hal yang di mata rasio yang kritis akan tampak kontradiktoris dan tak masuk akal.
Apalagi jika kita perhitungkan bahwa semua Kitab “Suci” agama-agama dunia saat ini lahir ribuan tahun lalu. Ilmu pengetahuan manusia maju begitu pesat dan mereka bisa menjelaskan secara lebih memuaskan gejala-gejala alam yang di mata manusia kuno tampak misterius dan fantastik.
Di hadapan rasio manusia modern yang skeptik, jelas Kitab-Kitab “Suci” itu tampak seperti dongeng anak-anak. Contoh paling bagus untuk ini adalah dua sarjana yang akhir-akhir ini melakukan “crusade” melawan agama-agama dunia, yaitu Richard Dawkins dan Sam Harris.
Lihatlah kisah tentang Musa yang menyeberangkan orang-orang Israel melewati Laut Merah dengan memakai tongkatnya. Jika seseorang sebentar melepaskan diri dari sentimen keagamaan lalu membaca kisah itu dalam Perjanjian Lama atau Quran, sudah pasti dia akan bertanya-tanya: apakah ini kisah nyata atau hanya dongeng belaka.
Seorang beriman tak pernah bertanya-tanya dengan skeptis seperti itu sebab mereka membaca kitab “suci” dengan “mata seorang beriman”. Thomas Aquinas, seorang teolog Kristen dari abad 13, dengan baik sekali mengemukakan hal ini dalam Summa Theologiae: “Believers proves things from the premises of faith” (hal. 329, dalam edisi terjemahan ringkas yang diedit oleh Timothy McDermott). Apa yang dimaksud oleh Aquinas sebagai “premis iman” itu adalah “the authoritative sources of sacred scripture”.
Dengan kata lain, syarat seseorang bisa mengapresiasi suatu Kitab “Suci” agama manapun adalah ia harus memiliki “mata iman”, atau, jika mau memakai kembali istilah Durkheim, “religious sentiment”. Begitu sentimen atau premis iman itu hilang atau tak ada, maka kitab “suci” akan tampak sebagai dokumen yang aneh, sebagai “jumble mumble”.
Di mata saya, pertengkaran antara seorang Muslim apologetik dengan seorang Kristen yang juga apologetik untuk membuktikan bahwa Kitab “Suci” merekalah yang paling baik dan benar, jelas, mohon maaf, lucu. Sebab, sekali lagi, itu sama dengan tukang jamu yang semuanya teriak jamu yang dia jual lah yang paling baik.
Kembali lagi di sini, kita bisa belajar dari Durkheim. Dalam pengantar untuk karya besarnya di bidang sosiologi agama, “Elementary Forms of Religious Life”, Durkheim membuat sebuah pernyataan yang boleh jadi akan membuat semua orang beragama akan kaget seperti terkena setrum listrik. Durkheim mengatakan:
Fundamentally, then, there are no religions that are false. All are true after their own fashion: All fulfill given conditions of human existence, though in different ways (hal. 2).
Semua agama jelas benar dengan caranya sendiri-sendiri. Semua orang yang beragama merasa bahwa kebutuhan eksistensialnya sebagai manusia tercukupi dan terpenuhi oleh agama dan kepercayaan yang dipeluknya itu.
Kalau pernyataan Durkheim ini mau kita tarik secara lebih spesifik ke dalam konteks diskusi saya mengenai Kitab “Suci”, maka semua Kitab “Suci” adalah benar dengan caranya sendiri-sendiri. Semua pemeluk agama yang memiliki “religious sentiment” akan melihat Kitab “Suci”-nya itu sebagai paling baik dan benar.
Nada tulisan Durkheim itu memang tampak sangat relativis. Di mata saya, sikap ini jauh lebih sehat, karena dengan itu kita bisa mengapresiasi banyak hal, termasuk Kitab-Kitab “Suci” dari agama lain. Sikap ini lebih sehat ketimbang sikap apologetik yang, sekali lagi maaf, tampak seperti “katak dalam tempurung”. Jika kita menenggelamkan diri dalam tempurung, memang segala hal yang kita miliki tampak paling baik dan sempurna.
Sikap relativis Durkheimian itu mengajarkan kita untuk keluar dari tempurung sehingga kita melihat keluasan dunia di luar “dunia” kita sendiri yang selama ini kita peluk erat-erat dengan sentimen yang mendalam.
DALAM tulisan ini, saya selalu menulis Kitab “Suci” dengan tanda kutip pada kata “suci”. Saya sengaja melakukan itu, sebab Quran tidak pernah disebut sebagai Kitab Suci (al-Kitab al-Muqaddas), baik oleh Quran sendiri, hadis, atau oleh ulama tafsir klasik. Sebutan “Kitab Suci” untuk Quran muncul pada era modern sekarang ini, mungkin karena pengaruh tradisi Kristen.
Sebutan Quran untuk dirinya adalah “Kitab Mulia” (al-Quran al-Karim), sebagaimana terbaca dalam ayat “innahu laqur’anun karim fi kitabin maknun” (56:77).
Oleh karena itu, istilah “The Holy Qur’an” sebetulnya tampak aneh. Bahkan istilah “Tanah Suci” (Holy Land) pun juga terdengar aneh dalam konteks Islam. Dua tanah yang selama ini dianggap suci, Mekah dan Madinah, lebih tepat disebut sebagai “Tanah Terlarang”, terjemahan harafiah dari istilah “haramain”, maksudnya dua tanah yang “haram” alias terlarang; bukan tanah suci.
Disebut “terlarang” sebab orang yang tinggal di sana dilarang untuk memotong pohon atau membunuh hewan yang ada di dua tanah itu. Istilah “haramain” mungkin lebih tepat dikaitkan dengan konsep “taboo” sebagaimana kita lihat pada agama-agama kuno.[]
lil, kayanya lu dah pantas deh bikin kitab suci. Btw kapan nih bikin kitb suci? Saya yakin kitab yang lu bikin lebih suci dari kitab sekarang couse lu dah tahu “kesalahan” kitab suci yang ada.
Ulil, tulisan anda bagus sekali. saya mendukung cara pembacaan kitab suci seperti yang anda anjurkan. Sebagai penganut agama kristen, saya berpendapat bahwa kitab suci adalah kisah perjalanan manusia mencari, menemukan Tuhan. Sehingga kalau ada kontradiksi yah sangat mungkin terjadi. Untuk saya, yang menarik adalah sikap-sikap manusia dan Tuhan terhadap suatu fenomena yang terjadi. Kadang di perjanjian lama, memang gak jelas, antara Tuhan yang bicara, atau sebenarnya kemauan orang Israel aja. Tapi aku tetap menghargai semua kitab suci, karena itu sebenarnya sebuah perjalanan iman manusia. Sayangnya yang tertulis memang sedikit, salah satunya Yudaism, Kristen, dan Islam. Coba agama-agama lokal punya kitabnya, pasti bakal menarik juga untuk dipelajari. Keberagaman adalah rahmat Tuhan. Bukan begitu bang Ulil? salam kenal: ade tanesia
Meski tdk semua hal saya setujui (saya kristen Injili), tapi tulisan Ulil sangat obyektif dan mencerahkan. Contoh dialog Islam vs Kristen yg tdk proporsional, dan biasanya cuman jadi debat kusir, mis. membandingkan Tuhan Yesus vs Muhamad, atau bibel dgn Qur’an, dalam perpektif fenomenologi lebih tepat membandingkan Tuhan Yesus dgn qur’an (ke-2 nya tidak dapat salah) dan Muhamad vs Rasul Paulus.
saya setuju dengan ulil, memang saya menemukan banyak pertentenga kitab kristen, dan setelah dipandang dengan cara tidak imanipun tetap terjadi pertentangan
Iya mas Ulil,
Apa yang sampean omongkan itu benar, nggapain kita sibuk menyalahkan agama orang lain, mencari-cari hal-hal yang bertentangan, kok seneng banget mereka itu bikin perseteruan. Yo mbok wis lah.. agama A ya sudah sana ikut aturannya sana, yang agama B ya ikut aturannya sama. Lah wong menata dirinya sendiri aja belum tentu betul kok ngurusi orang. Ojo rumongso iso sak durung iso rumongso. bener to mas….?
Saya heran kenapa manusia sering merasa lebih pintar dari Tuhan, merasa sudah paling baik dari Tuhan. Manusia merasa bahwa ciptaannyalah yang paling indah dan paling baik sedunia, sampai-sampai “mengritik” Tuhan seolah-olah Tuhan hanya seperti makhluk yang penuh salah dan dosa sehingga pantas untuk disejajarkan dengan manusia yang memang tempat salah dan lupa.
Islam maju bukan karena orang luar Islam yang membangun dan mengembangkannya. Dan Islam juga hancur bukan karena serangan dari agama lain terhadap Islam, tetapi oleh orang yang mengaku beriman dan berislam tetapi sesungguhnya malah memurukkan Islam itu sendiri. Ulil Absar memang orang pintar, tetapi sayang pintarnya kok malah mau menghancurkan Islam sebagai agama yang dianutnya, ini memang jamannya kebebasan berekspresi dan berpikir, tetapi saya pikir pikiran anda sudah sangat membahayakan dan sangat-sangat materialistis, seolah-olah semua ajaran dalam Islam harus masuk akal manusia sehingga harus sesuai dengan pikiran dan nafsu manusia. Memang agama untuk orang berakal, tetapi agama tidak komoditas yang untuk diakal-akali, orang pintar jangan merasa sudah lebih pintar dari Tuhan, jangan sombong terhadap pikiran anda yang anda anggap paling benar, padahal anda hanya manusia sehingga pastyi bersalah dan pasti berdosa.
Mas Ulil,…… berkali-kali Anda menulis, berkali-kali kecerdasan Anda gunakan, berkali-kali saya membaca saya renungkan dan saya kaji – sepintas – kok -tema- tulisan Anda sama, dengan benang merah yang sama = mereduksi Islam dari para pembaca Muslim.
Tipu-tipu macam Musailamah Al Kadzab Mas Ulil terbukti secara empiris, terbukti secara analogis dan terbukti secara historis GAGAL.
Allah Swt semoga memberimu hidayah yang lurus kembali…. Kang—kang— kapan kapokmu. Istighfarlah sebelum Izrail membetot ubun-ubun mu yang penuh pikiran ANTI ISLAM, dan Kambratmu GUS DUR juga….
Saya tantang Ulil segera menerbitkan buku tentang kontradiksi dan pertentangan internal dalam Al Qur’an yang Ulil sebutkan diatas. Sebut semua contoh ayat-ayatnya dan kontra dengan ayat yang mana. Tentunya Ulil sudah merasa paling hebat dalam menilai Al Qur’an ini, atau mungkin sudah menerima semacam wahyu seperti halnya Mirza Ghulam Ahmad sehingga bisa menilai suci tidaknya Al Qur’an. Wassalam
Mugkin hanya orang yang gila liberal saja yang bisa memposisikan dirinya seperti yang ulil harapkan. Seorang atheispun tidak bisa mengambil posisi seperti itu. Menurut saya Naluriah seorang manusia adalah berpihak pada apa yang menurutnya benar hal ini berkaitan dengan rasa yang dimiliki semua orang. Jadi Nasehat sosiolog besar dari Perancis, Emile Durkheim yang anda rujuk atau Aquinas dll hanya bentuk pemikiran utopis yang mereka sendiri belum bisa melakukannya. Para orientalis mengkaji Qur’an apa yang mereka cari? tentunya kelemahnya tujuannya untuk apa? ya untuk menyerang dan menghancurkan islam. sama hanya seperti Anda?. Kata liberal yang anda gunakan betul2 menginspirasi anda untuk bebas menyerang agama anda sendiri. Semoga anda menemukan kebenaran yang sepertinya sedang anda cari Ulil.
Pintu masuk Islam itu dua kalimah sahadat, mengesakan Allah dan meyakini nabi Muhammad sebagai utusanNya yang membawa risalah kebenaran, dan saya yakin si ulil ini sudah masuk kedalamnya namun seperti orang buta yang ketika berjalan di dalam raungan itu dia menabrak guci antik yang bagus, yang diletakkan dipojok raungan untuk menghiasi ruangan itu, tapi karena kedunguannya, kebodohannya, dan hanya omongnya aja yang gede lalu dia berteriak2 siapa yang menaruh guci ini ditengah ruangan bikin orang kesandung aja. padahal dialah yang dungu karena kebutaannya tidak bisa melihat sesuatu yang sudah pada tempatnya. maaf mas ini hanyalah pemikiranku yan liberal aja, yang boleh mengkeritik apa saja yang dilihat, tidak berdosa kan mengkeritik orang menurut bang ulil. pahami lagi kunci tuk masuk islam yaitu dua kalimat sahadat, atau karena sudah liberal mungkin dua kalimah sahadatnya bang unyil ini sudah diganti.
Orang islam fundamentalis kebanyakan tidak menyadari bahwa tuhan menciptakan dunia ini begitu luasnya. Mereka tidak bisa menerima kenyataan bahwa dunia ini luas. Oleh karena itu mereka tidak bisa menerima perbedaan perbedaan yang ada. Mereka akan marah jika ada ssesuatu yang berbeda dengan kehidupan di sekitar mereka. padahal mereka ndak buta lho. Cm mereka manusia biasa yang banyak salah tapi terlalu kepedean aja. Jadi inget peribahasa, gajah dipelupuk mata nggak kelihatan, semut dikejauhan keliatan. Kayake nggak gitu ya, lupa e.Pokoknya jujurlah pada nurani sendiri buat orang liberal atau fundamental.
bagaimana mungkin Tuhan menenggelamkan seluruh umat manusia hanya karena mereka tak beriman kepada Nuh dengan sebuah banjir besar yang melanda begitu hebat? saya mau balik bertanya ni apakah ada disebutkan bahwa Allah menenggelamkan seluruh dunia, dan seluruh umat manusia, yang disebutkan hanya kaum nabi nuh yang tidak beriman, mungkin saja di belahan bumi yang lain manusia tidak ditengelamkan karena tidak disebutkan bahwa bumi ini ditenggelamkan seluruhnya, dan kalaupun Allah yang dikatakan berutal menenggelamkan umat nabi nuh seperti yang dikatakan ulil. satu hal hib bahwa berutalnya Allah tidaklah bisa disamakan dengan berutalnya ulil mengkeritik Allah, seperti tidak bisa disamakan gigi, tangan,mulut,kaki, dan wajahnya ulil mirip dengan bauya. DAn begitu juga tidak bisa disamkan wajah dan tangan Allah disamkan dengan dengan ciptaannya,karna di dunia ini begitu banyak ciptaanNya yang punya wajah,kaki,dan tangan yang tidak bisa kita hitung. kita ni lil bisa disamakn dengan burung beo, baru bisa mengungkapkan kata2 yang hanya diajarkan oleh tuannya, dan mungkin burung beo ini berpikiran bahwa dia telah bisa melampaui akan perbendaharaan kata2 dari tuannya. dan satu lagi tentang burung beo agar bicaranya tambah lancar maka ujung lidahnya harus dipotong, yang mungkin burung beo ini tak kan pernah mengerti mengapa lidahnya dipotong dengan berutal oleh tuannya. Kalau ingin melihat debat yang terseru abad ini, antara Dr. wiliam campbel dengan Dr. Muhammad Zakir Naik yang diadakan di cicago. cari di youtube dengan judul” Alquran vs injil”
Kang Ulil..
yg komentar kok kebanyakan orang2 goblok, nadanya hanya kebencian, dan kesesatan terhadap anda.
semoga tuhan menciptakan ulil2 baru di dunia ini , dan sadarkan kekeliruan athian ali, habib rizieq dari ketidaktahuannya.
Berteman dengan Pedagang Parfum ikut kecipratan wanginya, berteman dengan pedagang minyak tanah ikut kecium bau minyak tanah, berteman dengan kaum kuffar yah ikut ilmu kuffarny juga ….
Untuk membuktikan bahwa faham pluralisme agama itu sangat beda dengan
Islam, mari kita ajukan pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawabannya.
Agar lebih mudah maka diilustrasikan dengan tiga orang:
* Penguji.
* Muslim anti pluralisme agama.
* Ulil.
Pertanyaan 1.
Penguji: Apakah orang muslim yang pemahamannya benar sesuai Al-Qur’an
dan As-Sunnah itu sesembahannya hanya Allah?
Jawab Muslim: Ya.
Jawab Ulil: Ya.
Penguji: Apakah orang kafir dan musyrik sesembahannya hanya Allah?
Jawab Muslim: Tidak.
Jawab Ulil: Tidak. (Karena kalau sesembahannya hanya Alah
berarti tidak musyrik).
Penguji: kalau demikian, samakah antara orang Muslim dengan orang
kafir dan musyrik; dan apa dalilnya dalam hal sesembahan ini.
Jawab Muslim: tidak sama. Dalilnya:
1. Katakanlah: “Hai orang-orang kafir,
2. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.
3. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah.
4. Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,
5. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah.
6. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS Al-Kafirun: 1-6).
Jawab Ulil: Sama saja, muslim dan kafir ataupun
musyrik semuanya sama. Soalnya yang mengetahui benar dan tidaknya itu
bukan kita tetapi hanya Allah. Kita tidak boleh mengklaim kebenaran itu.
Sahut penguji: Bodoh kamu Ulil. Tadi kamu ditanya, apakah orang Muslim
yang benar sesuai Al-Qur’an dan As-Sunnah, sesembahannya hanya Allah,
kamu jawab: ya. Kemudian ditanya, apakah orang kafir dan musyrik
sesembahannya hanya Allah, kamu jawab tidak. Kok sekarang kamu
samakan, yang ya dengan yang tidak?! Apakah ya itu sama dengan tidak?
Benar-benar telah rusak akalmu.
Pertanyaan 2:
Penguji: Samakah orang yang sholat dengan orang yang tidak sholat,
dan apa dalilnya.
Muslim: Tidak sama. Yang memelihara sholatnya maka kelak masuk surga,
sedang yang tidak sholat masuk neraka. Dalilnya:
(9) (10) (11)
dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. Mereka itulah
orang-orang yang akan mewarisi,(ya`ni) yang akan mewarisi surga
Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. (QS Al-Mu’minun: 9, 10, 11).
Sebaliknya, orang yang tidak sholat masuk neraka:
“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?”
Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang
mengerjakan shalat, (Qs Al-Muddatstsir: 42, 43).
Jawab tokoh pluralisme agama: Sama. Orang yang sholat dan yang tidak
sholat sama. Karena yang tahu kebenaran itu hanya Allah. Para ulama
juga tidak tahu kebenaran, makanya ketika menafsirkan Al-Qur’an
diakhiri dengan kalimat Allahu a’lam.
Penguji: Bodoh kamu Ulil. Anak SD (sekolah dasar) saja tahu, dan dapat
membedakan antara orang yang sholat dan tidak sholat. Lha kamu sudah
jadi professor, sekaligus tokoh pluralisme agama malahan tidak dapat
membedakannya. Lebih memalukan lagi, tidak dapat membedakan pula
ungkapan pendek dalam bahasa Arab, yang disebut isim tafdhil
(tingkatan lebih). Dalam hal mengetahui kebenaran, para ulama itu
tahu, ketika ayatnya jelas, ya ulama tahu. Kemudian ungkapan Allahu
a’lam itu artinya Allah yang lebih tahu. Jadi bukan berarti ulama
tidak tahu, tetapi ulama tahu, namun Allah lebih tahu. Itu maksud
lafal Allahu a’lam. Baru tentang lafal Allahu a’lam saja tidak tahu
maksudnya, tetapi berani menetapkan hukum yang sangat bertentangan
dengan Islam: Muslim disamakan dengan kafir dan musyrik; lalu orang
yang menjaga sholatnya disamakan dengan yang tidak sholat. Ini
namanya tidak tahu namun sok tahu, bahkan ketidak tahuannya itu untuk
menghukumi perkara yang sangat-sangat besar! Benar-benar bodoh Ulil!
Dear Mr Ulil,
sebenarnya Ulil ingin menyatakan bahwa, semua agama adalah benar dengan mengemukakan argumentasi dan bukti-bukti menurut versinya sendiri. Seolah2 Tak ada agama yang luput dari pertentangan didalamnya. Perlahan Ulil menggiring pemikiran kita sepeti itu dengan meninggalkan semua bentuk kemapanan keyakinan pada kebenaran yang absolut dan membenturkannya dengan logika manusia yang terkesan dipaksakan, pada poin ini saya fikir apa yang dilakukan ulil juga adalah merupakan salah satu bentuk sikap apologetik terhadap akal manusia yang mengesampingkan akan adanya kebenaran yang hakiki, bila ini yang terjadi maka semakin nyatalah kesesatan manusia oleh kepongahannya
Oleh Qosim Nursheha Dzulhadi *)
Dalam situs pribadinya, Ulil Abshar-Abdallah menulis satu artikel tentang cara membaca Kitab “Suci†–baik Al-Qur’an maupun yang lainnya. ( Memahami Kitab-Kitab “Suci†secara non-apologetik ). Dalam artikelnya itu, Ulil menolak pembaca Kitab “Suci†secara apologetic. Karenanya dia mengusulkan bagaimana membaca kitab “suci†itu secara non-apologetik. Dia merasa terganggu oleh kalangan umat Islam yang banyak menunjukan kontradiksi dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Karena menurutnya, itu hanya usaha untuk menunjukkan kehebatan Al-Qur’an.
Artikel ini, hemat penulis, perlu dicermati karena menyangkut otentisitas Al-Qur’an. Selain itu, ada semacam usaha Ulil untuk “menyamakan†antara Al-Qur’an dengan kitab-kita agama lain –khususnya Bible.
Di sini akan penulis kutip beberapa pernyataan Ulil yang penting untuk dikritisi.
Di awal artikelnya, Ulil menulis: “
SAYA sering terganggu oleh sikap beberapa kalangan Muslim apologetik yang dengan mudah menunjukkan adanya kontradiksi dalam Kitab Perjanjian Lama dan Baru. Dengan gigih sekali mereka mencoba memperlihatkan bahwa dalam dua kitab “suci†itu tersua sejumlah pertentangan internal.
Usaha itu bukan tanpa tujuan: yaitu untuk menunjukan kehebatan Quran sebagai Kitab “Suci†yang paling baik, solid, koheren, logis, tidak mengandung pertentangan internal apapun. Lalu mereka mengutip sebuah ayat dalam Quran yang terkenal, “Afala yatadabbarun al-Quran, wa law kana min ‘indi ghair al-Lahi lawajadu fihi ikhtilafan katsira.†(4:82) Artinya: Apakah mereka tak merenungkan secara mendalam mengenai Quran itu; seandainya ia berasal dari selain Tuhan, maka sudah pasti mereka akan menjumpai banyak pertentangan di dalamnya.
Hal serupa juga ada pihak Kristen (dan juga Yahudi). Saya banyak sekali menjumpai buku-buku apologetika Kristen (juga Yahudi) yang menunjukkan adanya sejumlah pertentangan internal dalam Quran.â€
Dia juga menulis:
Tanpa mengurangi penghormatan saya pada kepercayaan teman-teman Muslim yang lain mengenai Quran, sejauh menyangkut kontradiksi, dalam Quran banyak sekali kita jumpai kontradiksi dan pertentangan internal. Bukan hanya itu, dalam hampir semua Kitab “Suci†selalu akan kita jumpai kontradiksi semacam itu. Tugas penafsirlah untuk melakukan “harmonisasi†agar pertentangan itu bisa “dihaluskan†(explained away) atau malah dihilangkan sama sekali. Orang yang datang dari luar tradisi Islam (terutama orang Kristen), misalnya, dan ujug-ujug langsung membaca Quran, kemungkinan akan terperanjat, karena Quran di matanya boleh jadi mirip sebuah “jumble mumbleâ€, atau kitab yang sama sekali tanpa struktur, temanya loncat-loncat tanpa aturan, seperti sebuah buku yang tak diedit dengan baik, dan mengandung banyak kontradiksi di dalamnya. Dia akan cenderung membandingkan Quran dengan Kitab Perjanjian Lama yang lebih memiliki struktur naratif yang rapi. Hal yang sama terjadi pada orang yang datang luar tradisi Kristen (misalnya seorang Muslim), lalu ujug-ujug membaca Kitab Perjanjian Lama atau Baru, boleh jadi dia akan menjumpai sejumlah kontradiksi internal dalam kitab itu, apalagi menyangkut gambaran Tuhan dalam Perjanjian Lama yang, mohon maaf, tampak aneh dan sama sekali tak masuk akal.â€
Tentang keimaman seoramg Muslim terhadap kitab-kitab lain, Ulil menyatakan bahwa “sorang Muslim percaya bahwa kitab-kitab sebelum Quran bersumber dari Tuhan yang sama. Tetapi, iman mereka pada kitab-kitab itu tak sama dengan iman mereka pada Quran. Meskipun mengimani Bibel, tetapi mereka memandang Kitab “Suci†itu sebagai buku yang “defektif†atau cacat.â€
Dua Catatan Penting
Ada catatan penting, penulis kira, yang harus dikemukan berkaitan dengan pendapat Ulil ini. Pertama, Ulil menyayangkan adanya kaum Muslimin yang melihat kitab-kitab agama lain secara “apologetikâ€. Ulil menginginkan agar hal ini tidak terjadi. Oleh karenanya, tidak boleh membaca kitab agama lain dengan “prasangka burukâ€. Di sini Ulil mungkin lupa bahwa kontradiksi dalam Al-Qur’an merupakan hal yang mustahil ditemukan. Oleh karenanya, ayat yang dikutip oleh umat Islam di atas adalah “tantangan†Allah s.w.t. bagi orang kafir, jika mereka mengklaim bahwa Al-Qur’an bukan dari Allah s.w.t. Masalah susunan Al-Qur’an yang tidak rapi dan tidak tertib, tidak jadi persoalan. Justru di situ letak keunikan Al-Qur’an. Studi-studi ulama Islam lewat tafsir tematik (al-tafsir al-mawdhu’iy) menyimpulkan harmonitas ayat-ayat Al-Qur’an. Imam al-Biqa’i (w. 885 H), misalnya, sangat “piawai†dalam mengharmoniskan surat-surat dan ayat-ayat Al-Qur’an dan tafsirnya ‘Nazhm al-Durar fi Tanasub al-Ayat wa al-Suwar’.
Dan jika Ulil melihat bahwa Bible lebih naratif dan rapi, itu karena Ulil tidak membaca Bible secara kritis. Jika Al-Qur’an di balik ketidakrapiannya justru ayat-ayatnya “harmonis†(tidak saling kontradiktif), dalam Bible justru sebaliknya. Terkesan “rapi†dan “naratif†tapi malah tidak karuan ayat-ayatnya. Sebagai contoh: dalam Kitab Keluaran dijelaskan bahwa Musa mengetahui “kapan dan dimana†dia meninggal dan dikuburkan. Tentu saja ini bertentangan dengan realitas. Dengan begitu, ayat Perjanjian Lama (Torah) ini mengesankan bahwa bukan Musa yang menulisnya melainkan orang ketiga. Ini lah kemudian yang dikritik oleh Baruch Spinoza (1632-1677).
Atau beberapa ayat yang saling bertentangan. Misalnya, dalam kitab Ulangan (12: 9-10) bahwa hukum Taurat ditulis oleh Musa.†Ini jelas kata orang ketiga, bukan kata Musa. Dalam kitab Kejadian juga (22: 14) disebutkan bahwa gunung Moria dinamai dengan gunung Allah. Padahal nama ini baru dipakai setelah pembangungan kuil dimulai, yaitu setelah zaman Musa. Bahkan Musa tidak pernah menunjukkan tempat yang dipilih oleh Allah, dia hanya meramalkan bahwa Allah akan memilih satu tempat yang memakai nama Allah. (Lihat, Baruch Spinoza, Kritik Bible, Terj: Salim Rusydi Cahyono, (Bekasi, Fima Rodheta, 2006: 47).
Maka, merupakan hal yang wajar jika kedua umat yang berbeda itu saling tidak mengimani kitab orang lain. Walaupun berbeda dengan umat Islam, dan ini diakui oleh Ulil. Walaupun Ulil menambahkan bahwa umat Islam masih melihat bahwa kitab-kitab yang lain adalah “defektif†atau cacat. Pandangn ini bukan tanpa dasar. Allah sendiri yang menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwa kaum Ahli Kitab “terbiasa†melakukan distorsi terhadap kitab “suci†mereka. (Lihat, Qs. Al-Baqarah [2]: 75; al-Nisa’ [4]: 46; al-Ma’idah [5]: 13 dan 41). Dan banyak ayat-ayat yang lainnya.
Tentu pandangan ini sulit diterima oleh seorang Ulil. Karena dia menginginkan agar seorang Muslim –usulan Ulil—membaca Bible lewat kacamata orang Yahudi-Kristen. Di sisi lain –dan ini dapat dipastikan mustahil—Ulil menyeru agar mereka membaca Al-Qur’an sebagai umat Islam membacanya. Meskipun dia juga ‘mengejek’ umat Yahudi-Kristen dengan mengatakan, mohon maaf, tampak aneh dan sama sekali tak masuk akal.
Solusinya, menurut Ulil, adalah mengikut nasehat Durkheim: “What I ask of the free thinker is that he should confront religion in the same mental state as the believer… He who does not bring to the study of religion a sort of religious sentiment cannot speak about it! He is like a blind man trying to talk about colour.†(hal. xvii, dikutip dari pengantar Karen E. Fields atas karya utama Durkheim, “Elementary Forms of Religious Lifeâ€).
Dengan kata lain, saat membaca suatu Kitab “Suci†dari agama manapun, kita harus memiliki “religious sentiment†–meminjam istilah dari Durkheim itu– sebagaimana dimiliki oleh orang yang mengimani kitab itu. Jika kita kehilangan sentimen itu, maka kita akan melihat sejumlah pertentangan dalam kitab tersebut.
Jika anda kebetulan seorang Muslim, cobalah sekali-kali anda membaca Quran dengan mengambil “jarak†sebentar, mencoba keluar dari sentimen keimanan yang selama ini anda miliki.
Dalam keadaan sebagai seorang “skeptis sementara†itu, anda akan menjumpai sejumlah hal yang kontradiktif dan tak masuk akal dalam Quran. Sebagai contoh saja, dalam satu ayat dikatakan bahwa Tuhan tak menyerupai apapun, Laisa kamitslihi syai’un (42:11), tetapi dalam banyak ayat yang lain Tuhan digambarkan memiliki tangan, wajah, bahkan dalam hadis digambarkan pula memiliki jari-jari (ashabi’ al-rahman).
Jika orang Islam keberatan dengan penggambaran tentang Tuhan yang “brutal†dan sangat antropomorfis dalam, misalnya, Perjanjian Lama, maka mereka sebetulnya lalai bahwa dalam Quran juga kita jumpai penggambaran yang kurang lebih serupa: Tuhan yang “brutal†dan antropomorfis.
Bagaimana umat Islam bisa melewatkan begitu saja kisah tentang Nabi Nuh di Quran tanpa bertanya-tanya secara “kritisâ€: bagaimana mungkin Tuhan menenggelamkan seluruh umat manusia hanya karena mereka tak beriman kepada Nuh dengan sebuah banjir besar yang melanda begitu hebat? Apakah reaksi Tuhan semacam ini tidak keterlaluan? Mana sifat belas-kasih Tuhan? Baiklah, granted,Tuhan memang mempunyai sifat adil dan pengazab, selain sifat rahman dan rahim (kasih sayang).
Tetapi mengirim banjir begitu hebat untuk mengazab seluruh manusia hanya gara-gara segelintir manusia tak beriman kepada Nabi Nuh — apakah azab seperti itu proporsional? (Jawab seseorang yang memiliki sentimen keagamaan tentu sudah bisa kita tebak: rasio manusia tak mampu memahami tindakan Tuhan).
Banyak hal dalam Quran yang bisa kita persoalkan secara “kritisâ€, kalau kita mau sebentar melepaskan diri dari sentimen keimanan sebagai seorang Muslim.
Itulah yang terjadi pada seorang Muslim yang membaca Bibel: karena mereka tak memiliki sentimen keagamaan seperti dimiliki oleh umat Kristen, maka mereka menjumpai banyak sekali kontradiksi dalam Kitab “Suci†itu, seraya lupa bahwa kontradiksi serupa bisa dijumpai dalam Quran.â€
Kedua, di sinilah letak ‘lucu’ dan rancunya logika berpikir Ulil. Dia memaksakan setiap pemeluk agama agar ikut ‘nasehat Durkheim’. Tentu saja amat sulit dilakukan. Merubah teologi semacam itu adalah absurd. Apalagi Ulil mengusulkan agar “sentimen†keimanan umat Islam dikeluarkan dulu –atau umat Islamnya yang keluar dari sentimen itu—agar membaca Al-Qur’an dengan kacamata dan hawa yang berbeda. Intinya, agar seorang Muslim dapat membaca dan menemukan kesan yang berbeda. Contohnya, seorang Muslim –menurut logika Ulil—agar mengetahui bahwa ternyata Allah juga dalam Al-Qur’an “brutalâ€. Di sini Ulil ingin mengatakan bahwa setiap agama –khususnya Islam—jangan mengklaim kitab sucinya yang paling benar. Karena di dalamnya terdapat banyak kontradiksi juga –sebagaimana halnya Bible.
Sejatinya, Ulil terjebak logika orang “Kristen Liberal-Plural†yang ingin merelatifkan seluruh agama. Kenapa? Karena mereka “kebingunanâ€, sudah tidak ada lagi yang dapat dipertahankan dari agama mereka. Termasuk Bible, bahkan Yesus. Timbullah inisiafit “liberal†dari Knitter. Menurut Knitter, “All religions are relative—that is, limited, partial, incomplete, one way of looking a think.†Di sini Knitter ingin menyamakan semua agama: sama-sama relatif (tidak absolut), parsial (tidak global, tidak universal), tidak komplit (memiliki kekurangan), hanya memiliki satu cara pandang terhadap sesuatu. Oleh karena itu, menurut Knitter, pemeluk agama yang mengklaim agamanya “paling benar†adalah salah; ofensif dan berpandangan sempit. Dia menulis: “To hold that any religions is intrinsically better than another is felt tobe somehow wrong, offensif, narrowminded.†(Lihat: Paul Knitter, No Other Name, A Critical Survey of Christian Attitudes toward the World Religion, 1985), p. 23).
Ulil kemudian memberi memberi contoh dengan ayat ‘laysa kamitsilihi sya’in’ yang dikaitkan dengan ayat-ayat yang menyatakan bahwa Allah punya “tanganâ€, wajah dan jari-jari. Di sini Islam punya konsep dan metode “takwil†dalam menyikapi ayat-ayat yang seperti itu. Ulama Islam dalam masalah akidah, punya konsep yang jitu dalam memahami ayat-ayat “sifat†(ayat al-shifat) dalam ranah ilmu Tawhid (al-‘akidah). Tidak ada yang rigid dalam Islam. Jika Ulil “rajin†membaca kitab-kita akidah, dia tidak akan terkejut ketika menemukan ayat-ayat yang seperti itu. Karena metode pemaknaannya sudah mapan. Sebagai contoh, untuk menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits yang dianggap “problematis†(musykil), Imam Ibnu Qutaybah menulis buku yang sangat baik: ‘Ta’wil Musykil al-Qur’an’ dan ‘Ta’wil Musykil al-Hadits’.
Ulil juga memberikan contoh tentang “kebrutalan†Allah lewat kisah umat nabi Nuh dalam Al-Qur’an. Apakah ini tidak keterlaluan? Tanya Ulil. Hal itu dipermasalahkan oleh Ulil, karena menurutnya “tidak proporsionalâ€. Bagi orang yang faham Al-Qur’an, hal tersebut proporsional. Dan itu pun sudah lewat peringatan dari Allah. Bahwa orang-orang kafir pada zaman nabi Nuh jika tidak beriman kepada nabi Nuh akan ditenggelamkan. Dan “pemusnahan†ini pun lewat permohonan nabi Nuh (Qs. Nuh [71]: 26-27), bukan insiatif Allah per se. Bahkan ketika nabi Nuh ‘protes’ kepada Allah tentang anaknya yang ikut orang kafir dan juga ditenggelamkan oleh Allah, Allah menyatakan bahwa ilmu nabi Nuh tidak sampai untuk memahaminya. (Qs. Hud [11]: 25-47 dan al-Mu’min [23]: 27, 32-42). Konon lagi kita menuduh Allah –dan kita anggap ini kritis—“brutal†dan “tidak proporsionalâ€. Sekelas nabi Nuh kah kita?
Berbeda dengan Bible. Umat nabi Nuh ditenggelamkan karena Allah “menyesal†melihat manusia yang semakin banyak dan semakin jahat di atas permukaan bumi. Tuhan dalam versi Bible ini pun mengirimkan “banjir bandang†yang luar biasa. Bukanya itu, seluruh hewan yang ada di atas dunia dimusnahkan oleh Allah.
* 6:4 Pada waktu itu orang-orang raksasa ada di bumi, dan juga pada waktu sesudahnya, ketika anak-anak Allah menghampiri anak-anak perempuan manusia, dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi mereka; inilah orang-orang yang gagah perkasa di zaman purbakala, orang-orang yang kenamaan.
* 6:5 Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata,
* 6:6 maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya.
* 6:7 Berfirmanlah TUHAN: “Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka.†(Kejadian 6: 4-7). Masya Allah. Tuhan apakah yang ada dalam Bible ini? Tentu sangat berbeda dengan kisah Nuh di atas. Setiap pasang hewan dibawa naik ke atas kapal oleh nabi Nuh, karena dia dan umatnya yang beriman akan mendirikan kehidupan yang baru di bukit Judi.
Kisah nabi Musa yang “menyebrangi laut†pun membuat Ulil ragu. Karena dia terpengaruh oleh pemikirn Richard Dawkins dan Sam Harris. Dia bukannya mempertahankan bahwa keajaiban yang terjadi dalam Al-Qur’an adalah “mukjizatâ€, malah “membebek†kepada pemikiran skeptis seperti itu. Menyedihkan. Benar-benar menyedihkan jika ada seorang Muslim yang seperti itu. Apa yang tidak mungkin bagi Allah? Dalam beberapa ayat Al-Qur’an Allah menjelaskan bahwa jika DIA ingin melakukan sesuatu, cukup dengan ‘innama amruhu idza arada syai’an an yaqula lahu kun fayakun’. Nabi Ibrahim tidak terbakar, tentu “bukan dongengâ€. Dan semuanya terjadi atas perintah dan kehendak Allah. Karena bagi Allah api itu “relatifâ€: bisa panas, dingin bahkan hangat kuku. Karena api adalah milik-Nya, bukan milik raja Namrudz.
Urgensi Teologi Apologetik
Hemat penulis, teologi apologetik sangat diperlukan. Apakah akan menimbulkan kekerasan dan negatif? Bisa jadi ya, bisa jadi tidak. Di Mesir sendiri, umat Kristen banyak mengamalkan ini, lewat metode yang mereka sebut dengan al-lahut al-dhifa’iy (teologi apologetik). Di satu sisi ini mungkin dianggap “ekslusifâ€, tapi di sisi yang lain ini akan menguatkan keimanan pemeluk agama masing-masing. Dan tradisi ini sudah lama diamalkan oleh kedua belah pihak, khususnya ulama klasik Islam.
Penjelasan tentang sosok (pribadi) Yesus, misalnya, sudah dimulai oleh Ja’far ibn Abi Thalib ketika berhadapan dengan para pendeta Negus (Najasyi) di Abessinia (Ethiopia).
Untuk mempertahankan dan membela kesucian Al-Qur’an dan akidah Islam, ulama kita kemudian banyak yang menulis buku-buku kristologi, seperti ‘Anti-Christian Polemic in Early Islam: Abu Isa al-Warraq Against the Trinity’ (edited and translated by David Thomas [The Bishop of Blackburn’s Adviser on Inter-Faith Relations], Cambridge-New York: Cambridge University Press). Dalam buku ini, Abu Isa al-Warraq mengkritik dogma Trinitas yang tidak masuk akal dalam agama Kristen; Abu Hamid al-Ghazali menulis al-Radd al-Jamil ‘ala Uluhiyyat ‘Isa bi Sharih al-Injil; Ibnu Taimiyyah menulis ‘al-Jawab al-Shahih liman Baddala Din al-Masih’; Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menulis ‘Hidayat al-Hiyara fi Ajwibat al-Yahud wa al-Nashara’; dan ‘Allamah al-Hindi menulis ‘Izhar al-Haqq’. Dari kalangan ulama kontemprer, misalnya, Ahmed Deedat menulis ‘The Choice: Islam and Christianity’; Syeikh Muhammad al-Ghazali menulis ‘Shaihah al-Tahdzir min Du’at al-Tanshir’; Ismail R. al-Faruqi menulis ‘Christian Ethics: A Historical and Systematic Analysis of Its Dominant Ideas’ (Kuala Lumpur: Pustaka Hidayah, ttp); Kamar Oniah Kamaruzaman menulis ‘Early Muslim Scholarship in Religionswissenchaft: The Works and Contribution of Abu-Rayhan Muhammad ibn Ahmad Al-Biruni’ (Kuala Lumpur: International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC: 2003). Dalam buku ini, Al-Biruni, setelah menjelaskan keempat Gospels yang ada (Matius, Markus, Lukas dan Yohanes), “mengkritik†geneologi Kristus (Messiah). Kamar Oniah menulis: “Al-Biruni also highlights some discrepancies that are found among these Gospels, particularly those which pertain to the geneology of the Messiah, thereby indicating the inaccuracy of the information in them.†(Oniah, p. 159). Dan jika kita lihat Gospel yang berbicara tentang geneologi Kristus memang tidak akurat (Bandingkan: Matius 1: 6-16 dan Lukas 3: 23-31).
Kerja-kerja kristologi seperti ini tentu akan membuka pintu dialog yang kritis. Sehingga akan muncul tanggapan dan sanggah yang kritis pula. Dengan catatan bahwa budaya kritik itu harus dibangun di atas “fakta dan dataâ€, bukan berdasarkan sentimentil tanpa dasar. Dengan begitu, jalan menuju kebenaran pun semakin terbuka lebar. Buktinya dapat kita lihat, bagaimana Ahmed Deedat membuktikan kebenaran Al-Qur’an yang merespon berbagai penyimpangan dan distorsi dalam Bible. Hal itu membuka mata para pendeta dan pastor bahwa memang dalam kitab ‘suci’ mereka ada problem serius.
Dan para ilmuwan dan kristolog Muslim di atas tentunya harus dijadikan sebagai “uswatun hasanah†dalam membela akidah Islam. Kesimpulannya, umat Islam –dan mungkin juga umat yang lain—sah-sah saja membaca kitab ‘sucinya’ sendiri maupun kitab suci orang lain secara “apologetikâ€. “
menurut saya seh kitab2 suci hanya sebuah refleksi
dari hasil perenungan akan alam ini, kita manusia diberi akal untuk memikirkan menyimpulkan tentang apa yang direnunginya tentang semua ini, bukannya saya menolak quran, injil dan saya mengakui itu benar hanya bagaimana cara dan pilihan kita tuk memakainya sebagai pakaian kita selama mengarungi kehidupan ini
Mas ulil,
Blog anda udah jadi Menu Favorite saya.
Saya suka buah pemikiran anda
Memang banyak komentator diatas yang iman-nya sudah “dikondisikan” seperti yang anda maksud.
Saya bukan termasuk diantaranya, meskipun tidak seluruhnya sepakat dengan pendapat anda.
Yang ingin saya tanya :
Bagaimana sikap kita menghadapi keragu-raguan dari isi semua kitab suci yang ada ?
Please advice !
Bang Ulil,
Saya sangat kagum dengan cara pandang dan berfikir abang. Saya benar2 merasa tercerahkan. Hambatan dan tantangan untuk pola fikir begini memang masih amat sangat banyak, dan mungkin akan makin banyak dan tak habis-habisnya.
Tapi percayalah, ada lebih banyak lagi orang yang setuju pola fikir abang dan kelompok ini biasanya tak suka berkoar-koar, cukup berkarya nyata.
Maju jaya terus dengan ide-ide dan fikiran anda, dunia akan menjadi lebih baik.
Lil,…
Anda merasa pinter jadinya keblinger…
memang semua yg dibicarakan Ulil sangat kontekstual dan relevan dgn kondisi saat ini. Manusia sudah berevolusi dan tercerahkan dari 1500 abad yang lalu. Akan tetapi memahami agama secara bebas dan relativ akan sangat membebani dan menguras energi. Sebenarnya kita hanya butuh aturan aturan simple dan masuk akal yg di sepakati oleh umat dan dilaksanakan. Sekarang ini terlalu banyak hal prinsip yg ditinggalkan sehingga tidak ada progress yg terjadi. Tidak ada kemajuan tanpa kedisiplinan dan ketekunan, menerapkan hal hal sederhana dalam hidup. Islam sebagai tuntunan tentu sudah sangat baik, apabila ada pertentangan kembali-lah kepada Quran, apabila mendapatkan kebingungan kembali lah kepada nature dan ratio, tanpa meninggalkan kedalaman dan kejernihan hati nurani, spt yang disebut “mata iman”. Tidak semua orangmampu menjadi Ulil, juga tidak semua orang punya waktu untuk mendalami semua agama. Memeluk 1 agama dan menjalankan isinya saja sudah sangat berat, apalagi mengkonfrontasikan, membandingkan, menelaah berbagai agama. Kalo mau jujur, saya mendapati banyak kebenaran dalam ajaran Budha misalnya, yang mirip dgn kebenaran dalam Islam. Dan apabila memang baik dan berguna, why not kita tidak ambil ? Tetapi tidak semua mampu, yg terjadi saat ini adalah degradasi dalam Islam sendiri, kekeroposan yang harus dibenahi dan diperbaiki. Mudah-mudahan Mas Ulil menuju ke arah konstruktif yg sama. Karena berpikir bebas hanya demi kebebasan hanya akan menimbulkan chaos.
Wahai ulil yang bego. Kelemahan pengetahuan dan kedhaifan pemahaman anda terhadap Islam janganlah membuat anda menyerang agama kami ini.
Apasih yang lu cari lil? Kalau lu ingin mencari kelemahan Al-Quran maka ketahuilah bahwa lu tidak akan pernah menemukannya. Kalau lu nggak percaya tanyakan aja kepada para pendeta kristen yang telah berabad2 mencari kelemahannya.
Dasar ulil kurang kerjaan, cari sensasi aja ya? Ngaku iman dah kuat tapi masih limbung kesana kemari pake ingin ‘memperbaharui’ Al-Quran segala.
Jadi sebenarnya agama lu apa lil?? Secara Al-Quran itu kitab suci orang Islam loh!! Lu kan udah sanksi ama Al-Quran..
Smoga cepat sembuh ya ulil, semoga lu bisa tobat dan masuk kedalam Islam..
Mas Ullil jd kesimpulannya semua Kitab Suci itu bikinan manusia yah…? Krn menurut saya Tuhan adalah kesempurnaan absolut tanpa kontradiksi….Bener ga mas..?
Astagfirullah,,tobatlah,,,Ulil!!!
Sungguh bukan Allah yg dipertanyakan tapi kita yg akan dipertanyakan kelak,,kenapa juga Ulil begitu lancangnya mempertanyakan, menghina dan menyangsikan AlQuran dan mengatakan bahwa terdapat kontradiksi didalamnya.
Saya setuju dalam hal bahwa tugas Ahli tafsirlah yg membuat AlQur’an dapat dijelaskan secara harmoni,,tapi ingat para ahli tafsir ini tidaklah sembarangan dalam menafsirkan dan pastinya ini yg membedakan Islam dgn agama lainnya kita punya “BURHAN!!!” bukti nyata!!! segala sesuatunya dijelaskan dg hadits sbg referansinya. Bukan hanya “ngecap” biar tampak harmoni.
Tidak seperti menjelaskan perjanjian baru & lama,,segala sesuatunya bisa dipaksakan agar tampak harmoni,,hanya dengan “silat lidah”,,tanpa bukti!!..dan disaatnya mereka tidak sanggup membuatnya harmoni saat itulah dibutuhkan menambah, mengurangi, ataupun bermain dengan penerjemahan dr yg seharusnya didalam kitabnya. Bukankah itu yg menyebabkan evolusi dalam bible yg berkembang dr jaman ke jaman mengikuti people / church opinion.
astagfirullah, lo tu tobat sana mumpung lo belum mati. gua mo tanya ma lo, lo bisa bikin gak bikin yang serupa ama al quran,lo inget ya nabi muhammad itu nabi yang umi yang gak mengenal baca dan tulis.lo liat perjanjian lama dan baru itu udah campur tangan manusia, dan shli gereja jaman dulu itu udah ngerubah bentuk injil itu.dan inget al quran itu gak ada yang mampu ngerubah nya,gua mau tau orang mana yang sanggup ngerubah al quran ampe qiamat pun gak ada yang mampu ngerubahnya
mas Ulil baik..
jujur ya, ini sangat subyektif dan pribadi. ga nyangkut soal-soal pemikiran, asli buah pengalaman saya saja. hehehe
sebagai mualaf yang masuk islam tahun 90, saya merasakan sekali “jumble mumbleâ€-nya agama islam. sampai ke realitasnya loh. saya sampai pusingg… padahal sebagai mualaf, saya sudah dalam posisi menerima apapun islam itu. tapi tetap bingung tuh.
ini pula deh, yang saya prihatin bahkan sampai hari ini. “jumble mumble” ini jika tidak di pahami dengan jernih dan kontekstual, maka potensi hipokrit juga yang akan terjadi dalam ekspresi umat pemeluknya. dan saya tersiksa dalam ekspresi demikian. sepertinya jadi dualitas.. sederhananya terlalu banyak mau dan ga apa adanya.
skr usia keislaman saya 18 tahun. saya terus berproses tuk perlahan bisa mengerti dan memahami islam dengan sejernih-jernihnya kapasitas saya. walau saya tidak mempelajari qur’an seperti mas Ulil mempelajarinya, sangat mendalam dan menguasai kaidah2nya. saya ya hanya berbuah nalar aja.
gitu deh mas… bingung bilangnya..
tapi saya memahami sekali inti dari tulisan mas di atas. hehehe
tetap bicara dan menulis ya mas, saya tidak mendukung simbol liberalisme yang mas usung, walau saya sendiri adalah seorang yang merasa merdeka tuk berbicara dan merasa apa saja.
saya mendukung independensi manusia dalam beragama dan berkeyakinan. saya mendukung kebenaran… dari manapun itu, sekecil apapun itu. gitu mas.. hehehe
Mas Ulil
Salut dengan keberanian dan kecerdasan mas Ulil. Blog ini adalah pencerah dalam hidup saya. Komentar2 pedas ini pasti akan selalu ada mas, namanya juga memperjuangkan apa yang kita percaya, imani dan pikirkan memang tidak mudah.
Mudah2an semuanya bisa diberikan waktu dan kemudahan untuk berpikir dahulu sebelum menyerang.
Walaupun saya tidak 100 persen setuju dengan mas Ulil, (kira2 98 persen-lah hahaha) tapi saya dukung selalu mas! Indonesia butuh pemikir dan pejuang seperti mas.
Salam sejahtera dan tetap semangat, Mas Ulil
Sebagai seorang muslim, yang menyerah penuh pada Islam, sami’na wa atho’na atas apa yang Allah SWT dan Rasulnya sampaikan adalah muthlaq adanya. Allah SWT sendiri yang menginformasikan kepada umat Islam bahwa kitab-kitab sebelum alquran telah banyak mengalami perubahan, jadi tanpa belajar injil atau taurat, umat islam sudah tahu kecacatan kitab2 tsb.
Hanya orang kafir dan munafiq saja yang tidak percaya kepada perkataan Allah SWT.
Assalamu’alaikum!
Kok pd ribut tu kenapa? Menurut saya, setiap Kitab apabila dicari kelemahannya ya pasti ada celah utk dianggap lemah, entah itu Taurat, Bible, maupun Al Qur’an..
Namun begini sajalah, apa yg anda yakini & anda imani saat ini ya sudah anda laksanakan perintah serta menghindari larangan yg tercantum disana. Tidak usah saling mencari kesalahan & kelemahan masing2 kitab. Anda saja belum tentu bisa mengamalkan ajaran yg ada di dalam Kitab yg anda yakini & anda imani kok, jd tidak usah seperti orang yg kurang kerjaan mencerca kitab agama lain.
Prinsip Islam itu bagi saya adalah Rahmatan ‘lil alamien & lakum dinukum waliyaddin.. Dgn sikap itu InsyaAllah rahmat bagi seluruh umat manusia dalam Islam akan terlaksana dgn baik.