Ulil Abshar-Abdalla

Iman yang kuat tak akan takut pada keraguan. Iman yang dangkal dan dogmatis selalu was-was pada pertanyaan dan keragu-raguan.

Ulil Abshar-Abdalla header image 2

Memahami Kitab-Kitab “Suci” secara non-apologetik

August 6th, 2008 · 14 Comments

SAYA sering terganggu oleh sikap beberapa kalangan Muslim apologetik yang dengan mudah menunjukkan adanya kontradiksi dalam Kitab Perjanjian Lama dan Baru. Dengan gigih sekali mereka mencoba memperlihatkan bahwa dalam dua kitab “suci” itu tersua sejumlah pertentangan internal.

Usaha itu bukan tanpa tujuan: yaitu untuk menunjukan kehebatan Quran sebagai Kitab “Suci” yang paling baik, solid, koheren, logis, tidak mengandung pertentangan internal apapun. Lalu mereka mengutip sebuah ayat dalam Quran yang terkenal, “Afala yatadabbarun al-Quran, wa law kana min ‘indi ghair al-Lahi lawajadu fihi ikhtilafan katsira.” (4:82) Artinya: Apakah mereka tak merenungkan secara mendalam mengenai Quran itu; seandainya ia berasal dari selain Tuhan, maka sudah pasti mereka akan menjumpai banyak pertentangan di dalamnya.

Hal serupa juga ada pihak Kristen (dan juga Yahudi). Saya banyak sekali menjumpai buku-buku apologetika Kristen (juga Yahudi) yang menunjukkan adanya sejumlah pertentangan internal dalam Quran.

Maryam Jameelah, seorang perempuan Yahudi dari New York yang semula bernama Margaret Marcus, menceritakan proses dia masuk Islam (pada tahun 1961) dalam bukunya “Islam versus West”. Di sana ia berkisah tentang kelas yang ia ikuti di New York University tentang “Judaism in Islam” yang diampu oleh seorang rabbi bernama Abraham Isaac Katsh. Rabbi itu mencoba menunjukkan kelemahan Quran sebagai kitab yang sekedar menyontek saja dari Torah atau Perjanjian Lama.

Saya memandang sikap apologetik seperti itu kurang tepat, bahkan hanya menimbulkan perceckokan yang kurang produktif dan kleim paling benar sendiri yang menghalangi adanya dialog yang positif.

Tanpa mengurangi penghormatan saya pada kepercayaan teman-teman Muslim yang lain mengenai Quran, sejauh menyangkut kontradiksi, dalam Quran banyak sekali kita jumpai kontradiksi dan pertentangan internal.

Bukan hanya itu, dalam hampir semua Kitab “Suci” selalu akan kita jumpai kontradiksi semacam itu. Tugas penafsirlah untuk melakukan “harmonisasi” agar pertentangan itu bisa “dihaluskan” (explained away) atau malah dihilangkan sama sekali.

Orang yang datang dari luar tradisi Islam (terutama orang Kristen), misalnya, dan ujug-ujug langsung membaca Quran, kemungkinan akan terperanjat, karena Quran di matanya boleh jadi mirip sebuah “jumble mumble”, atau kitab yang sama sekali tanpa struktur, temanya loncat-loncat tanpa aturan, seperti sebuah buku yang tak diedit dengan baik, dan mengandung banyak kontradiksi di dalamnya. Dia akan cenderung membandingkan Quran dengan Kitab Perjanjian Lama yang lebih memiliki struktur naratif yang rapi.

Hal yang sama terjadi pada orang yang datang luar tradisi Kristen (misalnya seorang Muslim), lalu ujug-ujug membaca Kitab Perjanjian Lama atau Baru, boleh jadi dia akan menjumpai sejumlah kontradiksi internal dalam kitab itu, apalagi menyangkut gambaran Tuhan dalam Perjanjian Lama yang, mohon maaf, tampak aneh dan sama sekali tak masuk akal.

Kontradiksi itu akan makin menjadi-jadi kalau kita membaca kitab agama lain dengan prasangka buruk, apalagi dengan niat untuk mencari kejelekannya, seperti yang dilakukan oleh banyak kalangan apologetik dari, terutama, kedua belah agama, Islam dan Kristen.

Di mata orang beriman, kontradiksi itu memang tak kelihatan, karena yang bersangkutan sudah dikondisikan oleh imannya untuk mempercayai apa saja yang termuat dalam kitab tersebut.

Seorang Muslim yang membaca Bibel bisa melihat kontradiksi dalam kitab itu karena dia tak “mengimani”-nya sebagaimana ia mengimani Quran. Begitu juga seorang Kristen bisa melihat kontradiksi dalam Quran karena dia tidak mengimani Kitab “Suci” tersebut.

Memang benar, sorang Muslim percaya bahwa kitab-kitab sebelum Quran bersumber dari Tuhan yang sama. Tetapi, iman mereka pada kitab-kitab itu tak sama dengan iman mereka pada Quran. Meskipun mengimani Bibel, tetapi mereka memandang Kitab “Suci” itu sebagai buku yang “defektif” atau cacat.

Bagaimana cara membaca Kitab “Suci” agama lain tanpa harus berhadapan dengan kontradiksi itu?

Caranya adalah sederhana: gunakanlah kaca-mata orang yang mengimani Kitab “Suci” itu. Seorang Muslim yang hendak mendapatkan manfaat dari Bibel saat membacanya, dan tak sekedar terpaku pada kontradiksi yang ada di sana, dia harus membaca kitab itu dengan “hati” dan “mata” sebagaimana dipakai oleh orang Kristen saat membacanya.

Hal ini berlaku juga untuk orang Kristen yang hendak membaca Quran dan ingin mendapatkan sesuatu yang berguna dari sana, tanpa terjebak dalam kontradiksi yang ia lihat di sana.

Nasehat sosiolog besar dari Perancis, Emile Durkheim, kepada para sarjana yang hendak mengkaji agama bisa kita pertimbangkan di sini:

“What I ask of the free thinker is that he should confront religion in the same mental state as the believer… He who does not bring to the study of religion a sort of religious sentiment cannot speak about it! He is like a blind man trying to talk about colour.” (hal. xvii, dikutip dari pengantar Karen E. Fields atas karya utama Durkheim, “Elementary Forms of Religious Life”).

Dengan kata lain, saat membaca suatu Kitab “Suci” dari agama manapun, kita harus memiliki “religious sentiment” –meminjam istilah dari Durkheim itu– sebagaimana dimiliki oleh orang yang mengimani kitab itu. Jika kita kehilangan sentimen itu, maka kita akan melihat sejumlah pertentangan dalam kitab tersebut.

Jika anda kebetulan seorang Muslim, cobalah sekali-kali anda membaca Quran dengan mengambil “jarak” sebentar, mencoba keluar dari sentimen keimanan yang selama ini anda miliki.

Dalam keadaan sebagai seorang “skeptis sementara” itu, anda akan menjumpai sejumlah hal yang kontradiktif dan tak masuk akal dalam Quran. Sebagai contoh saja, dalam satu ayat dikatakan bahwa Tuhan tak menyerupai apapun, Laisa kamitslihi syai’un (42:11), tetapi dalam banyak ayat yang lain Tuhan digambarkan memiliki tangan, wajah, bahkan dalam hadis digambarkan pula memiliki jari-jari (ashabi’ al-rahman).

Jika orang Islam keberatan dengan penggambaran tentang Tuhan yang “brutal” dan sangat antropomorfis dalam, misalnya, Perjanjian Lama, maka mereka sebetulnya lalai bahwa dalam Quran juga kita jumpai penggambaran yang kurang lebih serupa: Tuhan yang “brutal” dan antropomorfis.

Bagaimana umat Islam bisa melewatkan begitu saja kisah tentang Nabi Nuh di Quran tanpa bertanya-tanya secara “kritis”: bagaimana mungkin Tuhan menenggelamkan seluruh umat manusia hanya karena mereka tak beriman kepada Nuh dengan sebuah banjir besar yang melanda begitu hebat? Apakah reaksi Tuhan semacam ini tidak keterlaluan? Mana sifat belas-kasih Tuhan? Baiklah, granted,Tuhan memang mempunyai sifat adil dan pengazab, selain sifat rahman dan rahim (kasih sayang).

Tetapi mengirim banjir begitu hebat untuk mengazab seluruh manusia hanya gara-gara segelintir manusia tak beriman kepada Nabi Nuh — apakah azab seperti itu proporsional? (Jawab seseorang yang memiliki sentimen keagamaan tentu sudah bisa kita tebak: rasio manusia tak mampu memahami tindakan Tuhan).

Banyak hal dalam Quran yang bisa kita persoalkan secara “kritis”, kalau kita mau sebentar melepaskan diri dari sentimen keimanan sebagai seorang Muslim.

Itulah yang terjadi pada seorang Muslim yang membaca Bibel: karena mereka tak memiliki sentimen keagamaan seperti dimiliki oleh umat Kristen, maka mereka menjumpai banyak sekali kontradiksi dalam Kitab “Suci” itu, seraya lupa bahwa kontradiksi serupa bisa dijumpai dalam Quran.

Sementara itu, jika anda berdiri sepenuhnya sebagai seorang agnostik tulen yang tak terikat atau malah skeptik terhadap semua bentuk sentimen keimanan apapun, maka anda sudah pasti akan “sinis” pada semua Kitab “Suci”, sebab kitab agama manapun akan mengandung hal-hal yang di mata rasio yang kritis akan tampak kontradiktoris dan tak masuk akal.

Apalagi jika kita perhitungkan bahwa semua Kitab “Suci” agama-agama dunia saat ini lahir ribuan tahun lalu. Ilmu pengetahuan manusia maju begitu pesat dan mereka bisa menjelaskan secara lebih memuaskan gejala-gejala alam yang di mata manusia kuno tampak misterius dan fantastik.

Di hadapan rasio manusia modern yang skeptik, jelas Kitab-Kitab “Suci” itu tampak seperti dongeng anak-anak. Contoh paling bagus untuk ini adalah dua sarjana yang akhir-akhir ini melakukan “crusade” melawan agama-agama dunia, yaitu Richard Dawkins dan Sam Harris.

Lihatlah kisah tentang Musa yang menyeberangkan orang-orang Israel melewati Laut Merah dengan memakai tongkatnya. Jika seseorang sebentar melepaskan diri dari sentimen keagamaan lalu membaca kisah itu dalam Perjanjian Lama atau Quran, sudah pasti dia akan bertanya-tanya: apakah ini kisah nyata atau hanya dongeng belaka.

Seorang beriman tak pernah bertanya-tanya dengan skeptis seperti itu sebab mereka membaca kitab “suci” dengan “mata seorang beriman”. Thomas Aquinas, seorang teolog Kristen dari abad 13, dengan baik sekali mengemukakan hal ini dalam Summa Theologiae: “Believers proves things from the premises of faith” (hal. 329, dalam edisi terjemahan ringkas yang diedit oleh Timothy McDermott). Apa yang dimaksud oleh Aquinas sebagai “premis iman” itu adalah “the authoritative sources of sacred scripture”.

Dengan kata lain, syarat seseorang bisa mengapresiasi suatu Kitab “Suci” agama manapun adalah ia harus memiliki “mata iman”, atau, jika mau memakai kembali istilah Durkheim, “religious sentiment”. Begitu sentimen atau premis iman itu hilang atau tak ada, maka kitab “suci” akan tampak sebagai dokumen yang aneh, sebagai “jumble mumble”.

Di mata saya, pertengkaran antara seorang Muslim apologetik dengan seorang Kristen yang juga apologetik untuk membuktikan bahwa Kitab “Suci” merekalah yang paling baik dan benar, jelas, mohon maaf, lucu. Sebab, sekali lagi, itu sama dengan tukang jamu yang semuanya teriak jamu yang dia jual lah yang paling baik.

Kembali lagi di sini, kita bisa belajar dari Durkheim. Dalam pengantar untuk karya besarnya di bidang sosiologi agama, “Elementary Forms of Religious Life”, Durkheim membuat sebuah pernyataan yang boleh jadi akan membuat semua orang beragama akan kaget seperti terkena setrum listrik. Durkheim mengatakan:

Fundamentally, then, there are no religions that are false. All are true after their own fashion: All fulfill given conditions of human existence, though in different ways (hal. 2).

Semua agama jelas benar dengan caranya sendiri-sendiri. Semua orang yang beragama merasa bahwa kebutuhan eksistensialnya sebagai manusia tercukupi dan terpenuhi oleh agama dan kepercayaan yang dipeluknya itu.

Kalau pernyataan Durkheim ini mau kita tarik secara lebih spesifik ke dalam konteks diskusi saya mengenai Kitab “Suci”, maka semua Kitab “Suci” adalah benar dengan caranya sendiri-sendiri. Semua pemeluk agama yang memiliki “religious sentiment” akan melihat Kitab “Suci”-nya itu sebagai paling baik dan benar.

Nada tulisan Durkheim itu memang tampak sangat relativis. Di mata saya, sikap ini jauh lebih sehat, karena dengan itu kita bisa mengapresiasi banyak hal, termasuk Kitab-Kitab “Suci” dari agama lain. Sikap ini lebih sehat ketimbang sikap apologetik yang, sekali lagi maaf, tampak seperti “katak dalam tempurung”. Jika kita menenggelamkan diri dalam tempurung, memang segala hal yang kita miliki tampak paling baik dan sempurna.

Sikap relativis Durkheimian itu mengajarkan kita untuk keluar dari tempurung sehingga kita melihat keluasan dunia di luar “dunia” kita sendiri yang selama ini kita peluk erat-erat dengan sentimen yang mendalam.

DALAM tulisan ini, saya selalu menulis Kitab “Suci” dengan tanda kutip pada kata “suci”. Saya sengaja melakukan itu, sebab Quran tidak pernah disebut sebagai Kitab Suci (al-Kitab al-Muqaddas), baik oleh Quran sendiri, hadis, atau oleh ulama tafsir klasik. Sebutan “Kitab Suci” untuk Quran muncul pada era modern sekarang ini, mungkin karena pengaruh tradisi Kristen.

Sebutan Quran untuk dirinya adalah “Kitab Mulia” (al-Quran al-Karim), sebagaimana terbaca dalam ayat “innahu laqur’anun karim fi kitabin maknun” (56:77).

Oleh karena itu, istilah “The Holy Qur’an” sebetulnya tampak aneh. Bahkan istilah “Tanah Suci” (Holy Land) pun juga terdengar aneh dalam konteks Islam. Dua tanah yang selama ini dianggap suci, Mekah dan Madinah, lebih tepat disebut sebagai “Tanah Terlarang”, terjemahan harafiah dari istilah “haramain”, maksudnya dua tanah yang “haram” alias terlarang; bukan tanah suci.

Disebut “terlarang” sebab orang yang tinggal di sana dilarang untuk memotong pohon atau membunuh hewan yang ada di dua tanah itu. Istilah “haramain” mungkin lebih tepat dikaitkan dengan konsep “taboo” sebagaimana kita lihat pada agama-agama kuno.[]

Tags: Refleksi Mingguan

14 responses so far ↓

  • 1 abdul // Aug 18, 2008 at 10:27 am

    lil, kayanya lu dah pantas deh bikin kitab suci. Btw kapan nih bikin kitb suci? Saya yakin kitab yang lu bikin lebih suci dari kitab sekarang couse lu dah tahu “kesalahan” kitab suci yang ada.

  • 2 ade tanesia // Aug 20, 2008 at 11:44 am

    Ulil, tulisan anda bagus sekali. saya mendukung cara pembacaan kitab suci seperti yang anda anjurkan. Sebagai penganut agama kristen, saya berpendapat bahwa kitab suci adalah kisah perjalanan manusia mencari, menemukan Tuhan. Sehingga kalau ada kontradiksi yah sangat mungkin terjadi. Untuk saya, yang menarik adalah sikap-sikap manusia dan Tuhan terhadap suatu fenomena yang terjadi. Kadang di perjanjian lama, memang gak jelas, antara Tuhan yang bicara, atau sebenarnya kemauan orang Israel aja. Tapi aku tetap menghargai semua kitab suci, karena itu sebenarnya sebuah perjalanan iman manusia. Sayangnya yang tertulis memang sedikit, salah satunya Yudaism, Kristen, dan Islam. Coba agama-agama lokal punya kitabnya, pasti bakal menarik juga untuk dipelajari. Keberagaman adalah rahmat Tuhan. Bukan begitu bang Ulil? salam kenal: ade tanesia

  • 3 Konkoli // Aug 29, 2008 at 1:58 pm

    Meski tdk semua hal saya setujui (saya kristen Injili), tapi tulisan Ulil sangat obyektif dan mencerahkan. Contoh dialog Islam vs Kristen yg tdk proporsional, dan biasanya cuman jadi debat kusir, mis. membandingkan Tuhan Yesus vs Muhamad, atau bibel dgn Qur’an, dalam perpektif fenomenologi lebih tepat membandingkan Tuhan Yesus dgn qur’an (ke-2 nya tidak dapat salah) dan Muhamad vs Rasul Paulus.

  • 4 sentotakur // Aug 29, 2008 at 2:11 pm

    saya setuju dengan ulil, memang saya menemukan banyak pertentenga kitab kristen, dan setelah dipandang dengan cara tidak imanipun tetap terjadi pertentangan

  • 5 firmansyah // Aug 30, 2008 at 12:25 pm

    Iya mas Ulil,

    Apa yang sampean omongkan itu benar, nggapain kita sibuk menyalahkan agama orang lain, mencari-cari hal-hal yang bertentangan, kok seneng banget mereka itu bikin perseteruan. Yo mbok wis lah.. agama A ya sudah sana ikut aturannya sana, yang agama B ya ikut aturannya sama. Lah wong menata dirinya sendiri aja belum tentu betul kok ngurusi orang. Ojo rumongso iso sak durung iso rumongso. bener to mas….?

  • 6 abdel // Aug 31, 2008 at 3:27 pm

    Saya heran kenapa manusia sering merasa lebih pintar dari Tuhan, merasa sudah paling baik dari Tuhan. Manusia merasa bahwa ciptaannyalah yang paling indah dan paling baik sedunia, sampai-sampai “mengritik” Tuhan seolah-olah Tuhan hanya seperti makhluk yang penuh salah dan dosa sehingga pantas untuk disejajarkan dengan manusia yang memang tempat salah dan lupa.
    Islam maju bukan karena orang luar Islam yang membangun dan mengembangkannya. Dan Islam juga hancur bukan karena serangan dari agama lain terhadap Islam, tetapi oleh orang yang mengaku beriman dan berislam tetapi sesungguhnya malah memurukkan Islam itu sendiri. Ulil Absar memang orang pintar, tetapi sayang pintarnya kok malah mau menghancurkan Islam sebagai agama yang dianutnya, ini memang jamannya kebebasan berekspresi dan berpikir, tetapi saya pikir pikiran anda sudah sangat membahayakan dan sangat-sangat materialistis, seolah-olah semua ajaran dalam Islam harus masuk akal manusia sehingga harus sesuai dengan pikiran dan nafsu manusia. Memang agama untuk orang berakal, tetapi agama tidak komoditas yang untuk diakal-akali, orang pintar jangan merasa sudah lebih pintar dari Tuhan, jangan sombong terhadap pikiran anda yang anda anggap paling benar, padahal anda hanya manusia sehingga pastyi bersalah dan pasti berdosa.

  • 7 nawa abdullah // Aug 31, 2008 at 6:58 pm

    Mas Ulil,…… berkali-kali Anda menulis, berkali-kali kecerdasan Anda gunakan, berkali-kali saya membaca saya renungkan dan saya kaji - sepintas - kok -tema- tulisan Anda sama, dengan benang merah yang sama = mereduksi Islam dari para pembaca Muslim.
    Tipu-tipu macam Musailamah Al Kadzab Mas Ulil terbukti secara empiris, terbukti secara analogis dan terbukti secara historis GAGAL.
    Allah Swt semoga memberimu hidayah yang lurus kembali…. Kang—kang— kapan kapokmu. Istighfarlah sebelum Izrail membetot ubun-ubun mu yang penuh pikiran ANTI ISLAM, dan Kambratmu GUS DUR juga….

  • 8 MHanif // Sep 2, 2008 at 4:03 pm

    Saya tantang Ulil segera menerbitkan buku tentang kontradiksi dan pertentangan internal dalam Al Qur’an yang Ulil sebutkan diatas. Sebut semua contoh ayat-ayatnya dan kontra dengan ayat yang mana. Tentunya Ulil sudah merasa paling hebat dalam menilai Al Qur’an ini, atau mungkin sudah menerima semacam wahyu seperti halnya Mirza Ghulam Ahmad sehingga bisa menilai suci tidaknya Al Qur’an. Wassalam

  • 9 denni // Sep 3, 2008 at 10:44 am

    Mugkin hanya orang yang gila liberal saja yang bisa memposisikan dirinya seperti yang ulil harapkan. Seorang atheispun tidak bisa mengambil posisi seperti itu. Menurut saya Naluriah seorang manusia adalah berpihak pada apa yang menurutnya benar hal ini berkaitan dengan rasa yang dimiliki semua orang. Jadi Nasehat sosiolog besar dari Perancis, Emile Durkheim yang anda rujuk atau Aquinas dll hanya bentuk pemikiran utopis yang mereka sendiri belum bisa melakukannya. Para orientalis mengkaji Qur’an apa yang mereka cari? tentunya kelemahnya tujuannya untuk apa? ya untuk menyerang dan menghancurkan islam. sama hanya seperti Anda?. Kata liberal yang anda gunakan betul2 menginspirasi anda untuk bebas menyerang agama anda sendiri. Semoga anda menemukan kebenaran yang sepertinya sedang anda cari Ulil.

  • 10 bendoh // Sep 5, 2008 at 11:32 pm

    Pintu masuk Islam itu dua kalimah sahadat, mengesakan Allah dan meyakini nabi Muhammad sebagai utusanNya yang membawa risalah kebenaran, dan saya yakin si ulil ini sudah masuk kedalamnya namun seperti orang buta yang ketika berjalan di dalam raungan itu dia menabrak guci antik yang bagus, yang diletakkan dipojok raungan untuk menghiasi ruangan itu, tapi karena kedunguannya, kebodohannya, dan hanya omongnya aja yang gede lalu dia berteriak2 siapa yang menaruh guci ini ditengah ruangan bikin orang kesandung aja. padahal dialah yang dungu karena kebutaannya tidak bisa melihat sesuatu yang sudah pada tempatnya. maaf mas ini hanyalah pemikiranku yan liberal aja, yang boleh mengkeritik apa saja yang dilihat, tidak berdosa kan mengkeritik orang menurut bang ulil. pahami lagi kunci tuk masuk islam yaitu dua kalimat sahadat, atau karena sudah liberal mungkin dua kalimah sahadatnya bang unyil ini sudah diganti.

  • 11 kris // Sep 6, 2008 at 10:57 am

    Orang islam fundamentalis kebanyakan tidak menyadari bahwa tuhan menciptakan dunia ini begitu luasnya. Mereka tidak bisa menerima kenyataan bahwa dunia ini luas. Oleh karena itu mereka tidak bisa menerima perbedaan perbedaan yang ada. Mereka akan marah jika ada ssesuatu yang berbeda dengan kehidupan di sekitar mereka. padahal mereka ndak buta lho. Cm mereka manusia biasa yang banyak salah tapi terlalu kepedean aja. Jadi inget peribahasa, gajah dipelupuk mata nggak kelihatan, semut dikejauhan keliatan. Kayake nggak gitu ya, lupa e.Pokoknya jujurlah pada nurani sendiri buat orang liberal atau fundamental.

  • 12 bendoh // Sep 7, 2008 at 12:08 am

    bagaimana mungkin Tuhan menenggelamkan seluruh umat manusia hanya karena mereka tak beriman kepada Nuh dengan sebuah banjir besar yang melanda begitu hebat? saya mau balik bertanya ni apakah ada disebutkan bahwa Allah menenggelamkan seluruh dunia, dan seluruh umat manusia, yang disebutkan hanya kaum nabi nuh yang tidak beriman, mungkin saja di belahan bumi yang lain manusia tidak ditengelamkan karena tidak disebutkan bahwa bumi ini ditenggelamkan seluruhnya, dan kalaupun Allah yang dikatakan berutal menenggelamkan umat nabi nuh seperti yang dikatakan ulil. satu hal hib bahwa berutalnya Allah tidaklah bisa disamakan dengan berutalnya ulil mengkeritik Allah, seperti tidak bisa disamakan gigi, tangan,mulut,kaki, dan wajahnya ulil mirip dengan bauya. DAn begitu juga tidak bisa disamkan wajah dan tangan Allah disamkan dengan dengan ciptaannya,karna di dunia ini begitu banyak ciptaanNya yang punya wajah,kaki,dan tangan yang tidak bisa kita hitung. kita ni lil bisa disamakn dengan burung beo, baru bisa mengungkapkan kata2 yang hanya diajarkan oleh tuannya, dan mungkin burung beo ini berpikiran bahwa dia telah bisa melampaui akan perbendaharaan kata2 dari tuannya. dan satu lagi tentang burung beo agar bicaranya tambah lancar maka ujung lidahnya harus dipotong, yang mungkin burung beo ini tak kan pernah mengerti mengapa lidahnya dipotong dengan berutal oleh tuannya. Kalau ingin melihat debat yang terseru abad ini, antara Dr. wiliam campbel dengan Dr. Muhammad Zakir Naik yang diadakan di cicago. cari di youtube dengan judul” Alquran vs injil”

  • 13 diky abdul jabar // Sep 8, 2008 at 4:30 am

    Kang Ulil..
    yg komentar kok kebanyakan orang2 goblok, nadanya hanya kebencian, dan kesesatan terhadap anda.
    semoga tuhan menciptakan ulil2 baru di dunia ini , dan sadarkan kekeliruan athian ali, habib rizieq dari ketidaktahuannya.

  • 14 Riza // Oct 24, 2008 at 10:15 pm

    Mas ulil,

    Blog anda udah jadi Menu Favorite saya.
    Saya suka buah pemikiran anda
    Memang banyak komentator diatas yang iman-nya sudah “dikondisikan” seperti yang anda maksud.
    Saya bukan termasuk diantaranya, meskipun tidak seluruhnya sepakat dengan pendapat anda.
    Yang ingin saya tanya :
    Bagaimana sikap kita menghadapi keragu-raguan dari isi semua kitab suci yang ada ?

    Please advice !

Leave a Comment