Kaligrafi, keyboard, dan pudarnya “penmanship”

Esei pendek ini adalah kenangan dan sekaligus penghormatan untuk guru saya, Ustaz Ahmad Zikri…

IA sudah cukup sepuh, kulitnya keriput, dan uban mulai meruyak di seluruh kepalanya yang selalu ia tutup dengan sebuah peci lusuh. Tetapi ia bukanlah orang tua yang rapuh. Setiap pagi, ia mengayuh sepeda, menempuh jarak dua kilo, menuju ke sebuah madrasah ibitidaiyah (sekolah dasar agama) tempat saya sekolah.

Walau keriput, ia memiliki tubuh yang masih tampak atletis. Tangannya cukup kekar. Detil-detil anatomis pada wajahnya sudah saya lupa, tetapi, yang jelas, ia bukan seseorang dengan muka yang menakutkan. Ia memiliki wajah yang tak membuat siapapun yang memandangnya merasa terancam.

Setiap masuk kelas, ia menjadi hiburan bagi kami murid-murid yang duduk di kelas satu, dua, dan tiga. Ia selalu datang dengan wajah yang ramah, gemar melucu, dan kadang-kadang juga mendongeng.

Di zaman ketika TV masih merupakan kemewahan yang sulit dijangkau, sementara buku tidak terlalu banyak tersedia, dan radio hanya menjadi benda mewah milik orang-orang yang cukup kaya untuk sebuah desa miskin tempat saya tinggal, momen ketika seorang guru mendongeng adalah momen yang nyaris ‘redemptive’ — saat yang mengandung potensi penebusan, apapun anda memaknai istilah berbau Kristen itu.

Ia mengajarkan dua hal di madrasah tempat saya sekolah dulu: tajwid, yakni ilmu yang berkenaan dengan teknik mengucapkan huruf-huruf Arab secara tepat, dan kaligrafi Arab atau khat.

Saat itu, saya duduk di kelas satu madrasah ibtidaiyah, setara dengan kelas satu SD. Umur saya sekitar enam tahun. Keterampilan menulis khat Arab yang indah bukan hal yang mudah untuk dikuasai. Menengok secara retrospektif masa itu, saya membayangkan diri seperti seorang anak kecil di daratan Cina yang dipaksa untuk melakukan latihan gimnastik yang keras.

Tetapi, guru saya tidak mengajarkan kaligrafi dengan disiplin yang keras; sebaliknya dengan cara yang cukup rileks, bahkan kadang-kadang lucu, karena diselingi dengan lelucon-lelucon ala anak kecil yang membuat kami tertawa terpingkal-pingkal. Apa yang ia katakan ketika itu sehingga kami tertawa, saya sudah lupa sama sekali.

Ala kulli hal (artinya: apapun), saya dan murid-murid lain belajar kaligrafi Arab dengan suka cita. “It’s just fun,” kata orang Amerika.

Waktu saya sekolah di madrasah pada pertengahan dekade 70an, pengaruh huruf Latin atau Roman belum sekuat saat ini, terutama di kalangan para santri seperti saya. Huruf Roman dan Arab masih memiliki kedudukan yang setara. Orang-orang tua kami, terutama yang terdidik dalam sistem pesantren, masih memakai huruf Arab pegon dalam surat-menyurat.

Sementara itu, pelajaran di sekolah yang memakai aksara Arab masih cukup banyak. Dengan kata lain, aksara Arab saat itu masih menjadi bagian dari nafas kehidupan sehari-hari, bukan semata-mata huruf yang dibaca, tanpa dipakai dalam praktek penulisan sehari-hari, seperti keadaan yang kita lihat saat ini. Dengan kata lain, aksara Arab masih merupakan ‘the living alphabet’.

Oleh karena itu, belajar menulis huruf Arab yang baik masih merupakan kebanggaan. Mereka yang memiliki keterampilan itu akan mendapat kedudukan yang khusus di masyarakat.

Bukan hanya itu; kemampuan menulis Arab secara baik bahkan bisa membawa dampak keuangan yang cukup menjanjikan. Beberapa penerbit yang khusus mencetak kitab-kitab berbahasa Jawa dengan huruf Arab pegon, seperti Penerbit Menara Kudus, membutuhkan para ‘khattat’ atau kaligrafer yang baik.

Salah seorang khattat yang merajai dunia kaligrafi saat saya kecil dulu adalah seseorang yang tak pernah saya kenal sosoknya hingga saat ini kecuali kecuali melalui otograf yang ia bubuhkan pada setiap judul buku yang ia tulis, yaitu Abdul Razak. Tulisan dia selalu menjadi semacam model bagi saya yang masih belajar saat itu.

Tetapi, khat guru saya itu tak kalah indah dengan khat milik Abdul Razak. Sayang sekali, ia tak beruntung mendapatkan kesempatan untuk ‘menjual’ ketrampilannya itu ke sebuah penerbit besar seperti Menara Kudus. Hingga wafat, ia hidup hanya dengan gaji mengajar di sekolah kampung yang sangat tak berarti, serta mengurus kebun di sekitar rumah yang tak seberapa luas. Ia sangat miskin; rumahnya sama sekali tak indah, sebuah gubug sederhana yang terbuat dari bambu dengan atap ijuk — kontras dengan huruf-huruf Arab indah yang selalu ia torehkan setiap hari di papan tulis di hadapan kami.

Setiap ia menuliskan aksara Arab di papan tulis, saya selalu memperhatikan gerak tangannya yang meliak-liuk dengan gaya yang sangat khas. Yang menakjubkan, ia memiliki cara menulis tertentu yang membuat kami selalu tertawa.

Misalnya, saat menulis huruf nun atau waw di akhir kalimat, ia akan membuatnya begitu rupa sehingga tampak panjang sekali, bahkan nyaris ‘komikal’, namun tetap simetris dan indah. Pada momen itulah, gelak-tawa kami sebagai seorang anak-anak langsung pecah berantakan. Kebiasaannya menulis huruf di bagian akhir kalimat yang tampak komikal itu selalu kami tiru saat ia sudah meninggalkan kelas. Anak-anak akan berebut ke papan tulis, menyambar kapur yang tersisa, dan menirukan gaya komis yang diperagakan oleh sang guru itu.

Saya sungguh kagum pada guru itu. Ia jelas tak pernah belajar pedagogi modern; tetapi ia memiliki metode mengajar yang sangat efektif. Seluruh teman sekelas saya dengan derajat yang berbeda-beda mencintai kaligrafi dan huruf Arab, berkat teknik mengajar ‘alamiah’ yang dimiliki oleh guru tersebut.

Selama tiga tahu, saya belajar menulis aksara Arab dengan indah pada guru itu. Ia, dengan caranya yang khas dan sama sekali tak ‘meneror’, menanamkan kecintaan pada diri saya terhadap huruf dan kaligrafi Arab.

Nama guru itu adalah Ustaz Ahmad Zikri. Saya dan teman-teman sekelas kerap memanggilnya Pak Zikri.

Ia sudah wafat beberapa tahun lalu. Hingga saat ini, saya masih sering iseng menulis huruf Arab indah untuk kebutuhan diri sendiri. Setiap menggoreskan aksara Arab, saya selalu mengenang Ustaz Zikri. Bagi saya, menuliskan kaligrafi Arab adalah semacam proses penebusan terhadap masa lampau yang sudah hilang.

Menulis, dengan kata lain, adalah mengenang, tetapi juga sekaligus menebus.

TERUS-terang, frekwensi saya menulis aksara Arab sudah makin jarang sejak sepuluh tahun terakhir ini. Saat menulis aksara Arab pun, saya sudah mulai jarang menuliskannya secara manual; saya mulai memakai komputer untuk menulis aksara Arab. Mesin tampaknya telah menggantikan keterampilan tangan.

Bukan hanya aksara Arab; bahkan frekwensi saya menulis huruf Latin secara manual pun makin merosot tajam. Dua puluh tahun yang lalu, saya bisa menulis surat berlembar-lembar kepada seorang kawan dengan tulisan tangan.

Saat kuliah di Jakarta, saya selalu secara rutin menulis surat secara manual kepada ayah saya di kampung dengan aksara Arab, entah dalam bahasa Jawa krama inggil (ini yang kerap saya lakukan) atau, kadang-kadang, bahasa Arab. Saya bisa menulis surat hingga tiga halaman folio kepada ayah saya. Ia tampak senang sekali membaca laporan perkembangan studi saya melalui surat itu.

Kebiasaan itu, saat ini, sudah nyaris saya tinggalkan. Sekarang, nyaris semua surat yang saya tulis berbentuk surat elektronik atau email. Medium penulisannya bukan lagi pena, tetapi sebuah mesin bernama komputer. Hasilnya memang rapi, tetapi jari-jari saya sudah mulai kehilangan keterampilan untuk menulis tangan sebagaimana saya lakukan pada masa-masa lampau.

Pelan-pelan saya mulai kehilangan tradisi ‘penmanship’ atau menulis secara manual. Pudarnya ‘penmansnhsip’ ini mungkin sudah menjadi gejala sosial yang terjadi secara luas. Kontak manusia modern dengan huruf, tampaknya, bukan lagi bersifat langsung dan ‘alamiah’ melalui keterampilan tangan, sebaliknya melalui mediasi sebuah alat bernama komputer.

Di madrasah dulu, saya bukan hanya diajari menulis huruf Arab yang indah, tetapi juga huruf Latin. Teknik menulis kursif gaya teks Proklamasi itu masih saya pelajari waktu kecil, memakai sebuah buku khusus dengan garis-garis yang saling berdekatan, persis seperti buku notasi musik.

Saya tidak tahu, apakah keterampilan itu masih diajarkan hingga sekarang. Saya duga, keterampilan itu sudah mulai ditinggalkan, karena dianggap tidak praktis lagi. Anak-anak sekarang mungkin sudah tak mengenal lagi model huruf kursif yang biasa dipakai oleh generasi tua sebelum tahun 70an.

Hingga sekarang, saya masih mengagumi gaya menulis yang waktu saya kecil dulu disebut dengan ‘menulis huruf gandeng’. Jika bertemu dengan orang tua yang masih bisa menulis dengan gaya lama itu, saya selalu memperhatikannya dengan cermat. Melihat tulisan seperti itu, saya seperti kembali ke masa lampau.

Zaman telah berubah, dan mesin makin merangsek, merampas beberapa keterampilan manual yang pernah kita miliki dulu. Adakah manusia kehilangan sesuatu saat keterampilan itu hilang, termasuk keterampilan menulis tangan?[]

Catatan: Huruf Arab pegon adalah huruf Arab dengan sistem tertentu untuk menuliskan kitab-kitab yang memakai bahasa Jawa atau Melayu. Huruf ini masih dipakai di kalangan pesantren tradisional di Jawa hingga sekarang. Di lingkungan kebudayaan Melayu, huruf ini masih dipakai di Aceh dan Malaysia.

About Ulil Abshar-Abdalla

Iman yang kuat tak akan takut pada keraguan. Iman yang dangkal dan dogmatis selalu was-was pada pertanyaan dan keragu-raguan.
This entry was posted in Cerita Ringan. Bookmark the permalink.

3 Responses to Kaligrafi, keyboard, dan pudarnya “penmanship”

  1. lovepassword says:

    Yah semuanya memang serba digital. Bahkan melukis pun sekarang bisa dilakukan oleh komputer. Kadang manual mengundang kerinduan tersendiri. Ada jiwa di situ. Ada rasa yang mungkin sulit digantikan oleh seseorang yang pernah merasakannya.

  2. FRL says:

    menulis gandeng kayaknya masih di ajarkan tuh mas ulil…
    tapi salut juga ma sampeyan, nulis surat pake huruf arab dgn bhs arab pula…ckckckckckck
    jangan disia2 kan ilmunya ya mas…

    FRL

Leave a Reply