Archive for July, 2008

Catatan sederhana tentang bahasa Inggris

July 11th, 2008

Saya selama ini bergaul dengan bahasa Inggris sebagai “bahasa kuliah”, yakni sebagai bahasa untuk alat artikulasi gagasan-gagasan yang kerapkali bersifat abstrak. Semula, saya mengira, bahasa Inggris “kuliahan” ini sudah paling hebat dan paling tinggi derajatnya; saya semua mengira bahwa bahasa Inggris buku yang “akademis” itu sudah “sundul” atau menyentuh “langit ketujuh”.

Saya juga semula mengira bahwa bahasa Inggris buku adalah “superior” ketimbang dialek yang dipakai dalam percakapan sehari-hari; lebih superior daripada bahasa Inggris yang dipakai dalam majalah-majalah atau bacaan populer yang “ngepop”.

Mungkin mentalitas seperti ini berasal dari “mind-set” yang terbentuk dalam diri saya saat belajar bertahun-tahun di pesantren. Karena terbiasa mempelajari bahasa Arab sebagaimana dipakai dalam kitab-kitab kanon klasik yang sering disebut dengan “Kitab Kuning” (disebut demikian karena warna kertasnya memang kuning, agar tak menyilaukan mata), saya beranggapan bahwa bahasa dalam buku adalah yang paling baik.

Di kalangan pesantren, muncul semacam pandangan bahwa bahasa Arab seperti yang mereka baca dalam kitab-kitab kuning itu adalah bahasa Arab yang paling berkualitas tinggi, bahasa fushha. Itulah bahasa standar yang mestinya menjadi “kriteria” untuk menilai bentuk-bentuk pengucapan yang lain.

Bahasa Arab “pasaran” (sering disebut dengan “lahjah” atau “al-lughah al-darijah”) sebagaimana dipakai dalam pergaulan sehari-hari, dianggap oleh para santri sebagai “bahasa rendahan” yang tak memenuhi standar “bahasa buku” yang baku. Begitu juga bahasa Arab seperti dipakai dalam koran, majalah, atau bacaan-bacaan modern, oleh para santri dipandang dengan “mata-terpicing”.

Mind-set ini yang terbawa saat saya belajar bahasa Inggris. Bahasa Inggris buku-kuliahanlah yang semula saya anggap sebagai bentuk yang paling baik dan bermutu.

Perubahan terjadi saat saya menyadari bahwa bahasa Inggris buku itu lama-lama membosankan, apalagi buku-buku yang berisi gagasan-gagasan filsafat yang abstrak. Selama ini, wilayah bacaan saya memang berkisar pada buku-buku semacam itu.

Saat berbicara dengan orang-orang penutur Inggris asli, saya merasakan bahwa kosa-kata yang saya kuasai sangat “bookish”, alias terasa kebuku-bukuan. Saat saya ingin menulis suatu esei yang tidak berkenaan dengan tugas perkuliahan, saya juga merasa bahwa bahasa Inggris saya kaku.

Mulailah saya sadar, bahwa bahasa Inggris buku hanyalah salah satu “genre” atau jenis-jenis yang ada. Bahasa Inggris buku bukanlah satu-satunya bentuk pemakaian bahasa itu. Ada banyak jenis yang bertebaran di luar sana yang layak dijelajahi.

Mulailah saya melakukan semacam “petualangan” untuk mengenali berbagai ragam pemakaian bahasa Inggris. Dari penjelajahan ini, saya mulai sadar bahwa seseorang yang kompeten untuk ber-bahasa Inggris saat menulis topik tentang sejarah teologi Islam, misalnya, belum tentu dia memiliki kompetensi serupa saat menulis tentang keindahan sebuah taman kota.

Untuk menulis sesuatu tentang keindahan taman kota, anda butuh kosa-kata, idiom, dan ekspresi yang berbeda sama sekali dengan saat anda menulis tentang teologi, filsafat, atau hukum.

Begitu pula, jika anda bisa memahami dengan baik buku-buku tentang filsafat dalam bahasa Inggris, belum tentu anda bisa memahami dengan baik buku-buku tentang masakan atau novel, atau buku-buku travelog yang berisi catatan perjalanan.

Inilah kesan saya setelah sejenak menjelajah: buku-buku tentang tema-tema “non-kuliahan” itu lebih lincah, bergairah, dan girang-gemirang. Kosa katanya juga lebih beragam, lebih kongkret dan “visual”. Dalam buku-buku filsafat, banyak kosa-kata yang semula memiliki pengertian yang “empiris” dan kongkret, tiba-tiba kehilangan darah dan “nafsu”, menjadi kering-kerontang karena diperas-tuntas oleh sebuah proses kejam yang namanya “abstraksi” atau penajridan.

Dunia gagasan memang kadang berlaku seperti sebuah vampir yang menyesap habis darah bahasa! Pada titik itu, anda harus kembali ke dunia sehari-hari, di mana anda akan menjumpai bahasa yang menari riang-gembira, tanpa dosa, seperti ronggeng di sebuah dukuh yang diceritakan oleh Ahmad Tohari itu. Ya, Dukuh Paruk!

Saat saya mulai menjelajahi bahasa Inggris non-kuliahan, saya seperti anak-anak yang baru mengenal bahasa. Saya teriak, “This is the real English, this is what I want!”

Saat naik pesawat, misalnya, saya senang sekali membuka-buka majalah yang biasa disediakan di sana, berisi catatan perjalanan, laporan tentang tempat-tempat turisme yang indah, atau sebuah masakan “eksotis” yang berasal dari sebuah sudut dunia yang tak pernah kita ketahui. Dengan membaca bahasa Inggris dalam majalah seperti itu, saya menemukan kosa-kata baru yang digunakan dalam konteks kehidupan kongkret yang berbagai-bagai itu.

Saya senang sekali membacai novel, terutama novel-novel yang bercerita tentang dunia remaja masyarakat Amerika. Saya mempunyai tesis: sumur bahasa adalah anak-anak remaja belasan tahun (teenagers)! Mereka lah pencipta bahasa yang tanpa dosa, tak peduli dengan sejibun aturan yang kompleks yang di-fatwa-kan oleh Dewan Bahasa itu.

Bacalah novel laris manis karangan Curtis Sittenfeld berjudul “Prep” yang berkisah tentang dunia anak-anak under-grad, anak-anak sophomore, alias mahasiswa-mahasiswi tahun pertama.

Saya juga suka membacai majalah-majalah tentang dunia kuliner. Semua orang butuh makan, tetapi percayalah, anda pasti tak cukup menguasai “diskursus” atau cara bercakap-cakap tentang dunia makanan dan masakan, bahkan dalam bahasa Indonesia sekalipun. Banyak orang yang berpikiran bahwa makanan ya memang untuk disantap, bukan untuk dibicarakan, di-wacana-kan. Makanan adalah dunia kongkret, dunia pra-diskursus!

No, anda keliru. Setiap bagian dalam kehidupan manusia bisa dipercakapkan dengan indah sekali, termasuk dunia makanan dan masakan. Dunia itu juga memiliki kosa-katanya sendiri, idiom-nya sendiri, ekspresinya sendiri, bahkan wisdom dan filosofinya sendiri.

Baru-baru ini, isteri saya (namanya IENAS TSUROIYA; kita, tanpa sadar, sering menggunakan kata “isteri saya” tanpa menyebut namanya, seolah isteri kita adalah orang-asing tanpa nama) menunjukkan sebuah blog tentang masak-memasak yang dimiliki oleh seorang “foodblogger” dari Indonesia, Riana “Pennylane” Ambarsari.

Dia mengelola blog masak-memasak dalam bahasa Inggris yang sungguh menawan, “Pennylane Kitchen”. Meskipun saya bukan seorang pecinta masak-memasak, tetapi saya sungguh senang sekali membaca blog-nya.

Alasannya sederhana: saya belajar banyak dari sana tentang jenis bahasa Inggris yang dipakai dalam dunia kuliner. Saya sungguh kagum pada Riana: bahasa Inggrisnya lincah, indah, penuh “selera”; ia membicarakan dunia masak-memasak bukan semata-mata sebagai masalah dapur, tetapi juga dalam konteks yang lebih luas, yaitu kegiatan manusia sebagai makhluk yang beradab!

Jika anda meraih skor TOEFL yang paling tinggi, maka itu bukan berarti anda sudah menguasai bahasa Inggris dengan hebat. Itu barulah pertanda bahwa anda masuk dalam beranda bahasa Inggris. Untuk mengetahui kekayaan bahasa itu, anda harus masuk ke dalam rumahnya, mengeksplorasi seluruh kamar-kamarnya, bahkan kalau perlu hingga ke kamar mandi dan toiletnya.

Setiap bahasa selalu mempunyai dimensi yang kaya seperti itu. Sekali lagi, bahasa buku hanyalah salah satu jenis saja dari keseluruhan bahasa yang sangat kompleks dan kaya; kebetulan bukan jenis atau varietas yang terbaik.

A “Muslim” note on John Shelby Spong

July 11th, 2008

John Shelby Spong is one of my favorite theologians. All of his works have stuffed my private library, including my favorite, Why Christianity Must Change or Die. Irrespective of the fact that the message contained in the book is addressed toward Christians, but it speaks very well to the very problem faced by Muslims nowadays.

If we swap the word “Christianity” in the above title with “Islam”, the message of the book is still relevant. Yes, both Islam and Christianity are faced with the same problem, i.e. the problem of literalistic reading of the Scripture. Sharing Spong in what he said in this book, there are myriad doctrines both in Islam and Christianity that we who live in twenty first century can no longer believe in without being subject to reinterpretation.

For instance, I can no longer believe in the doctrine that Islam is the sole path toward salvation, that Islam is the only religion that embodies the Divine Truth. The exclusivist claim such as that is widely found in any religion, particularly among the family of Semitic religions.

Paul Knitter calls this phenomenon as a “claim of uniqueness”. Almost all religions pride itself to be the unique path toward the truth, rendering other faiths or religions as spurious or less capable of guiding people to the salvation.

Divine truth, as one mystic aptly describes it, is like a broken mirror with its pieces spread here and there. Each religion is like one piece that mirrors small part of the Truth. He or she who is out to seek the Whole Truth has to put hold on all pieces—an undertaking that is hardly capable of being accomplished by a single person. Divine Truth is beyond the reach of us the mortal human beings.

To think that one piece of broken mirror is the whole mirror is tantamount to arrogance, or takabbur.

Spong can no longer uphold such arrogant belief. He describes himself as a man who is strolling along the path of quest, seeking the truth. All believers, irrespective of their faith, are fellow seekers. Seeking is a process with no foreseeable end. I share Spong this vision of religion as a process of seeking truth without end.

Spong also describes himself as a “believer in exile”.

In the journey toward the truth, people tend to take the easy tack. The easiest way is to treat religion as an heirloom inherited from our ancient predecessors; to treat religion as a set of doctrines that have clear-cut boundaries or, more precisely, boundary (in a singular form). The easiest way to be in the way of being “religionist” is to follow the well-trodden path of the predecessors without daring to ask or challenge. To question what has been laid down as doctrines by our pious predecessors is tantamount to an act of heresy.

People like Spong is of different breed. He refutes to believe the way ordinary people who are content with well-defined doctrines believe. He chooses the harder way: to embark on an un-ending process of quest.

That is why he describes himself as a believer in exile. He breaks the rank with his fellow Christians who prefer the easiest way of being Christian. He is still a believing man, yet he is exiled and banished from his home of “birth”.

This is what I would like to call “liberal faith”, a faith that liberates us from the shackle of inherited set of doctrines believed to be a lasting truth for every time and place. The truth that many religionists try to bury deep beneath the carpet is that there is a wide hiatus between what is claimed to be a religious doctrine and teaching and the real and ever-changing situation lived by its believers.

All thinking person would understand by the simplest common sense that many claimed to be divine teaching is closely correlated with a concrete situation lived by people of the yore.

Take for instance the ruling claimed by many Muslims to be an eternal truth because it is revealed by All-Knowing God, i.e. the teaching related to how women should dress in front of men. This is what is called hijab or jilbab in popular Muslim parlance.

According to many Muslim scholars, women are obliged to cover their whole body except their face and arm. Some other scholars even go further as to say that the face of women is also un-exposable; therefore it has to be entirely covered. Hence the practice called burqa, a woman’s outfit that covers her entire body including her face such as we see practiced widely in Afghanistan.

It is true that in Quran, there are verses that indicate toward that effect. Or precisely speaking, women are required by Quran to let their dress hanging loosely as to cover their bosom (or cleavage?) so that they are not subject to harassment—a practice that Quran indicated to have been rampant among Arab society during the life of the Prophet.

I do not believe that covering the entire women’s body is a rule Muslim has to adhere to in all situations, and in all times. First of all, the divine rule that exhorts women to have their bosom covered is correlated with the context in which women are subject to men’s harassment in the Arab society of Prophet’s time. Secondly, the essence of Islamic teaching on dress is not how women practically should cover their body, but rather how they dress themselves decently so that they are not subject to social harassment.

Hijab or jilbab is just a practical example of how women during the life of Prophet should dress in a way that is commensurate with their dignity as human being. Dressing is a cultural practice that is always changing over time along the development of human civilization. The concept of decency is not a monolithic and fixed notion that applies in all societies.

Therefore, I do not believe that Islamic rule on jilbab is meant to be an eternal rule that is applicable permanently. There are many other things in religion, including Islam, which needs to be refreshed and read with a “new eye”.

To lock religion up in an antique vessel and shield it away from change and revisiting is, to me, an act of suicide. There are only two options for any religion as Spong rightly asserts: either to change, or die!

Let me end by quoting some lines from Spong as follow:

Institutional Christianity seems fearful of inquiry, fearful of freedom, fearful of knowledge—indeed, fearful of anything except its own repetitious propaganda, which has its own origins in a world that none of us any longer inhabits.

Please, don’t be misled by the word “Christianity” in the above citation. You can put “Islam” in its place, and yet the whole sentence still makes a full sense.[]