Ulil Abshar-Abdalla

Iman yang kuat tak akan takut pada keraguan. Iman yang dangkal dan dogmatis selalu was-was pada pertanyaan dan keragu-raguan.

Ulil Abshar-Abdalla header image 2

Rizal Mallarangeng for President — You have my vote!

July 13th, 2008 · 45 Comments

BEBERAPA waktu lalu, beberapa tokoh muda di Jakarta mendeklarasikan suatu gerakan dengan tema “Saatnya Kaum Muda Memimpin”. Deklarasi itu, menurut saya, bagus sekali. Memang, harus terjadi peremajaan dalam kepemimpinan politik di negeri kita. Kalau tidak, maka kita akan terjerembab kedalam “gerontokrasi”, yakni kepemimpinan orang-orang tua yang, memang, umumnya bijaksana tetapi, terus terang, sudah kekurangan “sentuhan” dengan perkembangan dan gerak nadi sejarah; “out of touch with history”.

Dengan seluruh apresiasi saya pada gerakan yang sangat baik itu, ada beberapa kelemahan pokok dalam gerakan tersebut.

Pertama, anak-anak muda yang mengusung ide itu tidak menyadari bahwa telah terjadi arus “peremajaan” dalam kepemimpinan politik kita, minimal seperti terjadi dalam partai-partai politik sekarang, terutama setelah era keterbukaan partai. Banyak anak muda yang dengan mengesankan menjadi tokoh-tokoh politik yang cukup baik. Hal ini bisa kita lihat dalam sejumlah partai, seperti PKB, PPP, PDIP, PAN, dll.

Kalau yang dimaksud “kaum muda memimpin” adalah anak-anak muda yang menggerakkan ide tersebut, ya itu urusan lain. Saya kira, yang dimaksudkan dengan istilah itu adalah bukan sekedar “kaum muda” yang membuat gerakan tersebut, tetapi kaum muda secara umum. Oleh karena itu, siapa saja yang masuk dalam definisi kaum muda bisa maju dan mempersiapkan diri menjadi pemimpin.

Kedua, istilah “kaum muda memimpin” masih sangat kabur dan bisa ditafsirkan macam-macam. Memang ada segi positifnya pengertian frasa itu dibiarkan seperti apa adanya, kabur dan ambigu. Tetapi, menurut saya haruslah diberilah semacam “isyarat” apa yang dimaksudkan dengan “memimpin” di sana. Menurut saya, tanpa harus dikatakan, sebetulnya apa yang dimaksud dengan “memimpin” adalah menduduki jabatan politik tertinggi dalam negeri kita, yaitu RI-1 atau presiden.

Saya menduga, pengertian inilah yang tampaknya dimaksudkan oleh para penggerak ide di atas. Sebab, jika yang dimaksudkan dengan “memimpin” adalah pengertiannya yang umum, sebetulnya sudah banyak kaum muda yang masuk dalam sektor-sektor kepemimpinan dalam masyarakat, baik dalam ranah politik atau non-politik.

Ketiga, anak-anak muda yang mengusung ide tersebut sama sekali tak menyebut siapa anak-anak muda yang mereka anggap layak menjadi “pemimpin”, i.e. presiden. Mereka tak mencoba membangun “mesin politik” untuk mewujudkan cita-cita politik itu.

Salah satu fakta yang jarang disadari oleh kalangan muda sendiri sekarang adalah bahwa tak ada seorang tokoh muda pun saat ini yang cukup “standing out“, cukup menonjol, cemlorot, di atas rata-rata, dan semua orang memberikan pengakuan yang memadai sehingga kalau yang bersangkutan maju sebagai calon pemimpin (baca: presiden), maka semua orang akan “marching” atau “siap-satu-barisan” (istilah ini metaforis saja, jangan dimengerti secara harafiah) untuk mendukungnya.

Saat ini memang ada beberapa anak muda yang lumayan menonjol. Tetapi, kita harus jujur saja, tokoh-tokoh yang ada itu tidak kelihatan “spesial” sekali. Dengan kata lain, di satu pihak ada kehendak kuat di kalangan anak-anak muda untuk memimpin negeri ini, tetapi di pihak lain tidak tersedia “materi” atau bahan mentah yang cukup di kalangan mereka untuk menjadi pemimpin.

Itulah sebabnya gerakan kemaren itu tampaknya, mohon maaf, seperti semacam “wishful thinking” saja, alias berharap-harap yang hanya sebatas “keinginan” tanpa didukung oleh kondisi objektif.

Tak heran jika gerakan kemaren itu mendapat tanggapan yang “lukewarm” atau hangat-hangat tahi ayam saja dari kalangan partai politik. Bahkan Wapres Jusuf Kalla dan beberapa tokoh politik lain saat itu mengemukakan tanggapan yang agak kurang antusias, untuk tak mengatakan sinis.

Bermain dalam dunia politik harus “strike the balance” atau menempuh keseimbangan antara cita-cita –dan yang namanya cita-cita, tentu boleh muluk-muluk– dan kenyataan objektif. Orang-orang yang bijaksana sering berpetuah bahwa yang disebut “berpolitik” adalah memainkan semacam seni untuk mencapai “yang mungkin”.

“Mencapai yang mungkin” terjadi karena tokoh politik bersangkutan mengerti dengan baik titik-titik di mana terjadi pertemuan antara kondisi ideal yang dicita-citakan dengan kenyataan objektif. Hal ini mudah dikatakan, tetapi sulit dilaksanakan dalam kenyataan kongkrit. Yang kerapkali terjadi adalah, dan ini sering saya lihat di kalangan anak-anak muda, “kemauan besar, tenaga kurang,” untuk meminjam istilah yang agak berbau-bau (maaf) “viagra” yang sering dipakai masyarakat saat ini.

SEJAK dideklarasikannya gerakan “kaum muda memimpin” itu, saya sudah menunggu-nunggu dengan sedikit resah, siapa “cah nom” atau anak muda yang dengan sigap, niat-kuat-bulat, penuh determinasi, dan kompeten yang berani mengajukan diri sebagai calon presiden. Hingga detik-detik terakhir, saya tak mendengar satupun anak-muda, terutama dari kalangan yang mencetuskan ide di atas, yang berani tampil ke muka.

Hingga akhirnya, beberapa waktu lalu, di luar dugaan, saya mendapat kabar dari teman-teman di Jakarta bahwa Rizal Mallarangeng — yang kerap kami panggil Celli itu– berniat untuk maju dari barisan anak-muda untuk menjadi kandidat presiden. Sungguh saya tak siap menerima kabar ini.

Selama ini, Rizal sudah akrab dengan dunia politik, meskipun selalu bermain dari balik layar. Tetapi Rizal belum pernah secara terbuka masuk ke dalam gelanggang politik di barisan kursi depan.

Rizal, sepanjang pengalaman saya bergaul selama ini, adalah pekerja gigih, mempunyai determinasi tinggi, memiliki bacaan tentang teori-teori politik yang kuat, tetapi juga mengerti dengan baik betapa rumitnya gelanggang politik kongkret dalam dunia sehari-hari. Di mata saya, dialah orang yang mengerti dengan baik apa makna politik sebagai “seni bermain dengan yang mungkin” itu.

Kualitas pada Rizal yang menurut saya layak disebut adalah kemampuan bahasa Inggrisnya yang baik (kualitas yang dibutuhkan untuk pergaulan politik internasional saat ini), juga kemampuannya untuk memainkan diplomasi yang elegan. Rizal adalah seorang “lobbyist” yang setahu saya sangat pandai.

Dia mempunyai “warna suara” yang dibutuhkan oleh seorang orator yang baik. Kemampuannya untuk menyampaikan pidato yang baik, di mata saya, sangat mengesankan. Saat Rizal menyampaikan sebuah pidato, seseorang merasa “dilibatkan”. Inilah salah satu syarat penting dari seorang orator yang baik.

Menyaksikan dari dekat (jangan salah: maksudnya lewat televisi) proses pemilu untuk presiden 2008 di Amerika Serikat saat ini, saya sadar pentingnya sebuah orasi atau pidato dalam dunia politik. Memang orasi bukanlah segala-segalanya. Tetapi orasi adalah piranti penting dalam sebuah proses politik di masyarakat yang demokratis, sebab politik juga adalah sebuah seni untuk membujuk publik. Hanya dalam masyarakat yang otoriter dan tertutup saja, seni orasi dibenci, sebab segalanya-galanya ditentukan melalui sebuah komando. Publik tak perlu dibujuk, tetapi dipaksa.

Menurut saya, politik kita di Indonesia saat ini kering dari orasi yang baik, cerdas, dan menggugah, orasi sebagaimana pernah saya saksikan saat Barack H. Obama memberikan pidato yang mengulas soal ras berjudul “A More Perfect Union” yang ia sampaikan pada 18 Maret 2008 di Constitution Centre, Philadelphia.

Demi Tuhan, saya menangis saat mendengarkan pidato itu. Inilah pidato yang menggabungkan semua elemen yang dibutuhkan untuk sebuah orasi yang akan terus diingat oleh publik, orasi seorang “virtuoso“: seni berkata-kata yang tinggi, kecerdasan, keluasan wawasan, menggugah, akting panggung/podium yang lihai, permainan dengan intonasi, dan kecerdasan bermain dengan kalimat-kalimat yang “quotable” atau layak dikutip dan karena itu diingat.

Usai mendengar pidato Obama itu, saya langsung berpikir: ini bukan sekedar pidato, tetapi pendidikan politik bagi publik. Saya bertemu dengan banyak kawan di Amerika, dan mereka selalu ingat pidato itu. Pidato Obama itu mengingatkan publik di Amerika akan orasi legendaris yang pernah disampaikan oleh (saat itu kandidat) Presiden John F. Kennedy pada 12 September 1960 di Greater Houston Ministerial Association. Saat itu, Kennedy dengan jantan dan cerdas menghadapi isu kontroversial mengenai kepercayaan dia sebagai seorang Katolik.

Kutipan pidato Kennedy yang selalu dikenang publik Amerika hingga sekarang adalah berikut ini: “I am not the Catholic candidate for President. I am the Democratic Party’s candidate for President who also happens to be a Catholic. I do not speak for my Church on public matters — and the Church does not speak for me.”

Saya memandang, Rizal mempunyai kualitas-kualitas yang membuatnya bisa mengetengahkan pidato politik yang cerdas dan menggugah publik seperti itu–sesuatu yang dibutuhkan untuk pendidikan politik bagi publik kita.

Seorang tokoh politik yang baik adalah ia yang tidak semata-mata taat dan menurut saja pada kemauan publik, walaupun kemauan atau opini publik itu berlawanan dengan sesuatu yang ia anggap benar. Tentu seorang tokoh politik tidak boleh mengabaikan opini publik, tetapi tokoh yang baik adalah ia yang berani melawan opini itu seandainya memang opini tersebut justru membahayakan kepentingan bangsa dan kemanusiaan.

Mendayung dengan melawan arah opini publik sangat tidak mudah. Kita lihat saat ini para tokoh politik kita membuat terlalu banyak kompromi di berbagai bidang, terutama dalam wilayah yang menyangkut dasar-dasar pokok dari konstitusi kita. Kompromi itu dibuat karena khawatir akan kehilangan dukungan dari “konstituen agama” terbesar di negeri kita.

Kita perlu seorang tokoh politik yang bisa memainkan keseimbangan antara “mendengarkan” opini publik, dan keberanian mengatakan “tidak” jika opini itu melawan kepentingan bangsa.

Saya melihat potensi itu pada Rizal.

Dengan kualitas-kualitas seperti itu, saya cukup heran kenapa Rizal selama ini tidak mengambil keputusan untuk maju ke depan dari barisan anak-anak muda, mencalonkan diri sebagai pemimpin bangsa ini. Dengan kebiasaan Rizal selama ini untuk selalu bermain “di balik layar”, saya menduga, jangan-jangan ia memang memilih peran seperti itu.

Tetapi dugaan saya itu salah. Rizal ternyata sekarang telah mengambil keputusan lain, dan saya anggap itu adalah keputusan yang baik dan tepat pada waktunya. Ia telah dengan berani mencalonkan dirinya menjadi kandidat presiden.

Rizal yang alumni UGM Yogyakarta ini meraih gelar doktor ilmu politik dari Ohio State University (OSU), Columbus, Amerika Serikat. Ia lahir pada 29 Oktober 1964. Dengan demikian, ia sekarang berumur 44 tahun. Saat ini, Barack Obama yang sudah definitif menjadi calon presiden AS dari Partai Demokrat, berumur 47 tahun (ia lahir 4 Agustus 1961). Pada saat John F. Kennedy terpilih menjadi presiden Amerika Serikat pada 1960, mengalahkan calon dari Partai Republik, Richard Nixon, ia berumur 43 tahun. Rentang umur antara 40 dan 50 tahun adalah usia yang sangat ideal untuk menjadi tokoh politik, termasuk menjadi presiden.

Rizal memenuhi kondisi ideal itu. Jika Rizal mampu meyakinkan publik bahwa dialah kandidat yang tepat untuk memimpin negeri ini, dan benar-benar terpilih menjadi presiden pada pemilu 2009 mendatang, maka dia akan menjadi presiden termuda dalam sejarah Indonesia, sebagaimana John F. Kennedy adalah presiden termuda dalam sejarah Amerika Serikat.

Tantangan terbesar yang harus dihadapi Rizal adalah partai politik mana yang akan mencalonkan dirinya. Rizal secara teknis saat ini bukanlah bagian dari partai manapun. Sementara itu, partai-partai besar saat ini sudah tampak memiliki calonnya masing-masing, mungkin kecuali Golkar.

Ini tantangan berat yang tentu tidak mustahil bisa ditaklukkan oleh Rizal. Tantangan berikutnya adalah meyakinkan publik bahwa dia adalah kandidat paling tepat untuk menjadi presiden mendatang. Saya sudah mengemukakan alasan-alasan kenapa Rizal adalah pilihan yang tepat untuk Indonesia mendatang. Selebihnya, Rizal akan diuji untuk mengeluarkan seluruh energi dan jurus-jurusnya untuk meyakinkan publik.

Rizal, go ahead, you have my vote!

Tags: Komentar

45 responses so far ↓

  • 1 arahman ali // Jul 13, 2008 at 3:15 am

    Rizal Mallarangeng untuk presiden? Gak lah. Belum terlihat pengalamannya memimpin. Kalo menguasai teori politik bolehlah, tapi untuk pengalaman memimpin ya belum.

  • 2 Ulil Abshar-Abdalla // Jul 13, 2008 at 4:09 am

    Mas Rahman,
    Argumen yang anda sampaikan itu berkali-kali dikatakan juga oleh Hillary Clinton untuk menyerang Obama pada kampanye “primary” kemaren di Amerika. Obama belum berpengalaman, sementara Hillary sudah bertahun-tahun menjadi anggota senat.

    Hasilnya? Kita sudah tahu sendiri.

  • 3 Arman // Jul 13, 2008 at 5:04 am

    Rizal presiden?
    Rizal disamain ama Obama?
    wah gila aja!

    ini bukan cuma masalah muda…
    tapi cerdas dunk!
    rizal gitu loh!!!!

  • 4 heru // Jul 13, 2008 at 6:40 am

    rizal? aduh, jangan deh. saya hanya kenal lewat media dan “kata orang”. semuanya tidak ada yang bisa meyakinkan saya bahwa orang ini pilihan yang tepat untuk jadi presiden. justru sebaliknya, saya cemas kalau orang ini jadi presiden. setidaknya sampai sekarang, saya sama sekali tidak tertarik dengan orang ini.

  • 5 ariss_ // Jul 13, 2008 at 5:29 pm

    Lha misalnya kalau Rizal–ini misalnya lho–suatu waktu emoh mencalonkan diri lagi, siapa lagi yang di mata sampeyan yg kira2 punya kapabilitas untuk itu, Mas?
    .
    Apa nggak sampeyan aja yg maju? Sure, if you go ahead, you have my vote! :mrgreen:

  • 6 Iwan // Jul 14, 2008 at 3:44 pm

    Tapi bener, kalau mas Ulil mendukung Rizal Malareng mas Ulil tuh orang yang wise banget, dan konsisten, saya masih ingat kala membaca “Membakar Rumah Tuhan”, disitu mas Ulil menyampaikan sesuatu yang memang seharusnya diketahui banyak orang tentang (ide) Amien Rais yang boleh jadi baik daripada larut dalam hiruk pikuk media….. Salut mas Ulil…. NB : Bersedia nggak mas Ulil kirim email ke alamat saya, saya pengen mengenalkan diri tapi masih malu dibaca banyak orang, he he he…..

  • 7 Panjaitan // Jul 14, 2008 at 5:17 pm

    daripada Rizal, mendingan Andy Noya sekalian. Pasti lebih banyak yang setuju.

    M. Fadroel Rahman - You have our vote

  • 8 Faqih // Jul 15, 2008 at 8:44 pm

    Yang kelihatan baru sekedar gagasan-gagasannya aja bung Ulil. Tapi soal fightingnya untuk pembelaan terhadap wong cilik, no comment dah. MEMIMPIN… tidak sekedar punya gagasan brilian. Tapi kalau mau maju…, maju aja.

  • 9 Rustan Abbas // Jul 18, 2008 at 2:36 pm

    Go a Head !!!
    We’ll support maximality

    Rustan Abbas
    The Anatta’ Institute
    Makassar Sul - Sel

  • 10 Saidiman // Jul 19, 2008 at 1:43 pm

    Keren kali tulisan ini Mas Ulil. Kita memang perlu “seorang tokoh politik yang bisa memainkan keseimbangan antara “mendengarkan” opini publik, dan keberanian mengatakan “tidak” jika opini itu melawan kepentingan bangsa.”

  • 11 Kolonel Inf. Daryatmo // Jul 20, 2008 at 12:11 am

    Saya kira Rizal belum punya cukup bukti yang kuat bahwa dia layak jadi pemimpin nasional. Contoh kecil saja, ketika RM memandu acara Save Our Nation di Metro TV, saya sering mengamati bahwa sebagai host, RM terlalu dominan mewarnai acara dengan komentarnya yang jauh lebih banyak ketimbang orang-orang yang diwawancarainya.

    Satu lagi, apakah bekal PhD Political Science dari Ohio (apalagi bukan dari Harvard or Northwestern, misalnya) cukup buat memimpin bangsa ini? Saya kira RM mesti berkaca kepada kakaknya yang sekarang jadi Jubir ketika terjun ke dunia politik. Teori boleh pintar, tapi partainya malah gurem. Lalu, jadi Jubir…kalau jadi menteri mungkin menurut saya okelah, PhD = Jubir gitu loh…

    Kalau pun RM ingin meniru langkah Obama, apa yang telah dilakukan RM secara nyata selain iklan politik mirip SB dari PAN? Bangsa ini nggak cukup hanya dipimpin oleh orang yang gemar beriklan tanpa bukti nyata. Dengan menghambur-hamburkan uang untuk beriklan saja sudah terbukti bukan tanda yang baik.

    Obama selain cerdas jebolan Harvard, dia mulai dari bawah dan ikut sistem. Mulai dari aktivis dalam membina orang miskin di salah satu bilangan di Chicago. Mencalonkan diri jadi senator dengan dua kali kegagalan tetapi dengan bukti keberpihakan yang nyata kepada si miskin.

    Saya bukan meragukan, tetapi biar pun katanya zaman demokrasi, orang juga harus didukung oleh kapabilitas dan track record yang nyata. Lha, seorang taruna Akmil saja harus melalui berbagai jenjang pendidikan pembekalan mulai dari Dikma Akmil untuk kemudian setelah Letda mengikuti Pasis Sussarcab, Selapa, Susdayon, Seskoad, Susdanrem, Sesko TNI (baik di dalam maupun di LN), Lemhanas dan diuji untuk memimpin mulai dari komandan peleton hingga jadi panglima berbintang. Nah, meskipun mungkin di jalur yang berbeda, RM mestinya punya track record apakah dia pernah berhasil memimpin mulai dari tingkat RT misalnya, atau Gubernur Sulsel? Dunia riset dan akademik sangat jauh berbeda dengan dunia nyata Bung…so for me, RM do not necessarily have my vote.

  • 12 ervanca // Jul 21, 2008 at 7:38 am

    saya setuju dengan pendapat anda, tapi kita harus melihat dulu bagaimana program mereka terhadap negara ini, saya berkeyakinan pemimpin seperti Rizal Mallarangeng dan Fadjroel Rachman bisa membawa perubahan, dengan karakter mereka, sebenarnya yang dibutuhkan negara ini adalah pemimpin yang berani membongkar segala kebusukan yang sudah menjadi bangkai dinegara ini seperti kasus Soeharto, Tragedi HAM, Munir, kalau itu semua bangkai itu bisa ditemukan dan dibuang pada tempatnya, niscaya negara ini bisa lebih maju dan terpandang secara positif bukan negatif seperti saat ini betul tidak ?

    bung, boleh tidak saya minta transkrip pidato dari Obama yang membuat anda terhanyut.

    salam dari Mahasiswa di Jakarta

  • 13 ekakurniawan // Jul 22, 2008 at 10:26 am

    saya justru akan memilih calon yang tidak “berpengalaman”! Go ahead, Young Man! Termasuk Ulil kalo mau :)

  • 14 Under 50 for President! // Jul 22, 2008 at 10:49 am

    […] Rachman dan Rizal Mallarangeng menyatakan kesiapannya menjadi calon presiden. Saya catat di sini karena mereka berdua masih di […]

  • 15 Jazy // Jul 22, 2008 at 11:17 am

    Rizal.. jadi presiden ? nggak lah….! masih banyak yang lain yang lebih brilian

  • 16 Elfarid // Jul 23, 2008 at 10:46 am

    Pernah seasrama dengan Mas Rizal sewaktu di Yogya. Paling terkesan dengan hobinya main sepak bola.
    Kalau untuk jadi Presiden belum saatnya, harus banyak berguru pada masternya di Sospol UGM (AR).
    Tapi dari sinyalemen yang ada dia sudah dipinang Megawati untuk mendampinginya. (Megawati mencari sosok laki-laki, muda, energi, pandai. Juga dari iklan politiknya di televisi hampir semua narasi adalah kutipan kata-kata Bung Karno). Kalau jadi Cawapres bolehlah karena faktor Makasarnya masih menjadi pertimbangan para rakyat pemilih.

    Salam,

  • 17 RM 09, Save Our Nation « panggil aku ricoh, sanusi bukan nama keluarga // Jul 23, 2008 at 4:42 pm

    […] 09, udah lihat iklannya di Tv kan? Ini nih klo mau lihat pro-kontranya bisa dibaca disini dan disini Profil Rizal Mallarangeng bisa dilihat disini [r/s]. Blogged with the Flock […]

  • 18 Misfreud // Jul 23, 2008 at 5:19 pm

    Awalnya saya gak respect dengan Rizal Mallarangeng. Tapi sekarang justru malah jadi kasihan. Ambisi berkuasa bisa membuat mata jadi rabun. Ditambah dorongan dari teman-teman terdekatnya. Ibarat perang, RM dilemparkan dalam pertempuran yang pasti menghancurkannya. Pertempuran yang bahkan dia sendiri tak tahu siapa kawan dan lawan. Sementara dari jauh teman-teman dekatnya hanya berkata you have my vote.

  • 19 Isradi zainal // Jul 24, 2008 at 2:18 pm

    Salut untuk RM.Saya rasa dia pantas untuk memimpinl Dia punya kemampuan dan kepercayaan diri yang tidak lebih buruk dari pemimpin yang pernah ada.

  • 20 Isradi zainal // Jul 24, 2008 at 2:18 pm

    Salut untuk RM.Saya rasa dia pantas untuk memimpinl Dia punya kemampuan dan kepercayaan diri yang tidak lebih buruk dari pemimpin nasional kita yang pernah ada.

  • 21 agus salim ujung // Jul 24, 2008 at 3:58 pm

    Rizal for President, why not

  • 22 scut // Jul 25, 2008 at 1:10 pm

    Rizal? apa kata dunia?!

  • 23 Agus Nizami // Jul 25, 2008 at 3:28 pm

    Track Record Rizal Mallarangeng: Calon Presiden Save Our Nation?

    Rizal Mallarangeng mencalonkan diri jadi Capres? Iklannya Save our Nation sering muncul di Metro TV dengan nada simpatik seolah-olah peduli pada rakyat. Padahal dari berbagai berita di media massa, Rizal Mallarangeng jadi tim perunding rebutan blok Migas Cepu antara Pertamina dengan Exxon Mobil yang berakhir dengan penyerahan Blok Cepu ke Exxon.

    Kemudian Rizal Mallarangeng turut dalam iklan mendukung kenaikan harga BBM tahun 2005 yang mencapai 125%. Itukah cara Rizal untuk mensejahterakan rakyat Indonesia? Menyelamatkan bangsa Indonesia? Save our Nation?

    Baca selengkapnya berikut berita dari media massa di:
    http://capresindonesia.wordpress.com/2008/07/24/track-record-rizal-mallarangeng-calon-presiden-save-our-nation/

  • 24 anti rizal // Jul 26, 2008 at 5:53 am

    mbok ya ngaca to zal, ente tu siapa, koar-koar sok jadi pahlawan kesiangan, kata-kata aja ndonpleng sukarno, emang mo lu bawa kemana negara ini…?, muak+mo muntah klo liat wajah dan iklanmu di tv. hah…….!!!

  • 25 Ben Efraim // Jul 28, 2008 at 10:50 am

    Bung Rizal, Bung Rachman, Bung… siapa aja di republik ini, kalau sudah memenuhi kriteria (sesuai dengan konstitusi, tentunya) untuk bisa mencaonkan diri, silakan!! Kita tak punya hak melarang. Kita-kita yang ngasi komentar di sini juga kalau merasa cocok, why not? Persoalan menilai layak atau tidak layak? Oke. Itu pendapat kita secara pribadi, bebas2 aja. Namanya juga demokrasi.
    Satu yang pasti, menilai layak atau tidaknya sesorang memimpin hanya karena “belum terbukti dan berpengalaman” ini sering menghentikan eksplorasi kita terhadap kader kepeimimpinan. Dasar fikir seperti ini juga yang melhirkan pemimpin otoriter tak tergantikan selama puluhan tahun. Bagaimana orang bisa punya pengalaman kalau belum pernah dikasi kesempatan? Bagaimana bisa terbukti kalau orang tidak diberi ruang untuk membuktikannya? Jangan samakan kaderisasi seprti jenjang kepangkatan dan karier di militer. Ingat! seorang kolonel marinir (Alm.) Ali Sadikin bisa memimpin Jakarta dan tak ada yang meragukan keberhasilannya?! Coba kalau beliau terus di dinas militer? Siapa yang menjamin bahwa beliau bisa Panglima TNI??? Sekali lagi; kesempatan, peluang! Jangan tutup dan halangi itu untuk semua insan di republik yang demokratis ini kalau situasi dan kondisi berpihak pada sesorang. Selanjutnya, yang memang mesti tahu diri adalah kalau sudah pernah memimpin dan gagal, itu yang pantas introspeksi walaupun juga jangan ditutup peluangnya. Toch rakyat yang akan menilai.
    Ayo, yang mau jadi presiden ngacung! Kalo merasa pantas, tampil. Jangan ngaco kalau orang lain tampil. peluang itu ada pada semua kita! Salam demokrasi!

  • 26 Hesti W. // Jul 28, 2008 at 12:15 pm

    saya agak pesimis dengan kans RM memenangkan pemilu 2009, karena tidak ada parpol yang mengusungnya.

    sementara kita tahu sendiri, banyak parpol yang telah memiliki persiapan matang (terutama dana) untuk memenangkan calonnya.

    RM yang maju dalam pemilu 2009 mungkin hanya diketahuio oleh publik Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia.

    sementara untuk darerah-dareah pelosok, belum tentu.

    berbeda dengan parpol (terutama parpol-parpol besar), yang memiliki jaringan luas ke berbagai penjuru tanah air.

    namun dari segala keterbatasan itu, saya mendukung RM.

    indonesia butuh wajah baru.

  • 27 Amar // Jul 28, 2008 at 7:42 pm

    Suara Celli kalau baca Teks Proklamasi 17 Agustus
    cocok gaungnya dengan rekaman Bung Karno tahun 1949.

  • 28 Fakhruddin Halim // Jul 29, 2008 at 11:09 am

    Dalam konteks demokrasi, walau saya bukan penganutnya, hal itu sangat wajar artinya siapapun punya kesempatan untuk menjadi presiden termasuk Rizal atau Andi. Toh terpilih dan tidaknya tergantung yang memilihnya.
    Tapi persoalannya, menurut saya bukan muda atau tuanya? Tapi terletak pada i9de yang dibawanya. Saya kira kita harus belajar dari pengalaman sebelumnya. Soekarno, Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati dan SBY saat ini.
    Kalu kita mencoba untuk mengkaji sedikit menukik saja, akan terlihat dengan jelas bahwa yang mereka tawarkan dalam rangka penyelesaian persoalan bangsa ini relatif sama. Yang sedikit agak berbeda hanya Soekarno yang cenderung agak ke-Sosialisan.
    Lalu penerus Soekarno? sama! sama-sama antek kapitalisme. Jadi presiden yang lalu-lalu itu sama saja. Sama-sama kapitalisme. Menjadi tak ada bedanya antara ubi kayu dan telo.
    Nah Rizal pun demikian termasuk calon-calon lainnya yang saat ini telah mendeklarasikan dirinya akan maju dalam pilpres mendatang.
    Semuanya sama-sama kapitalisme.
    lalu menjadi tak ada bedanya dan tak berarti apakah nantinya yang terpilaih adalah kaum mudanya atau pun kaum tuanya. Semua akan berpulang pada kapitalisme!
    lalu masihkah kita berharap pada para pengusung kapitalisme?
    Kembali jawabnya pada pilihan rakyat!

  • 29 wied // Jul 29, 2008 at 1:09 pm

    Rizal Mallarangeng? Kyk gak ada orang lain aja di republik ini…., dari cara dia jd moderator, cara dia berbicara, gak ada enaknya didenger & dilihat, kelihatan sombong & gemar mendikte

  • 30 jayengbaya // Jul 29, 2008 at 2:27 pm

    Rizal Mallarangeng seorang Kapitalis tak pantas jadi President Indonesia, bolehlah lulusan luar negri, tapi tak membumi, tak mengerti makna kultur Indonesia……… Go Hell Rizal

  • 31 Garys // Jul 30, 2008 at 3:28 pm

    Mengutip kata Bung Misfreud, Ambisi berkuasa memang bisa membuat mata menjadi rabun. Itu tergambar dari beberapa tokoh - tokoh lama Capres kita. Disaat kondisi indonesia sekarang yang semakin terpuruk ada seorang RM yang berani mengambil langkah maju kedepan. Ibarat perang, RM berani mencabut pedangnya dan menyerukan dirinya untuk bergerak di barisan depan pertempuran’ menurut saya itu masi lebih baik daripada terus menunggu sosok superhero atau penyelamat yang tidak dapat dipastikan kapan kemunculannya.

  • 32 Ricky // Jul 31, 2008 at 9:21 am

    Benar Misfreud.. kita harus kasian sama RM..karena ambisinya, RM tidak sadar siapa lawan dan siapa kawan..

    Rizal Mallarangeng..bicaralah dengan hati nurani Anda.. apakah Anda pantas mencalonkan diri dengan kondisi Anda saat ini? dengan kebiasaan hidup Anda dan cara berpolitik Anda yg sangat KKN??.. Anda sendiri bilang, selama kita hidup di Indonesia..apa sih yg tidak bisa di atur?? kesimpulannya..Anda ingin mengatur Indonesia sesuai seleramu..??
    Saudara2ku, Kita kan hanya melihat RM dari TV, media dan tulisan2 temen2 RM yg oportunis…tp mulai sekarang lihat juga kehidupan pribadinya ..dan tolong Media bantu bangsa ini melihat dengan baik siapa calon2 pemimpinnya.. jangan anda dibayar RM untuk menulis yang baik2 saja (itu kebiasaan RM) , contohnya..segala sesuatu yg dia buat, dia bayar media utk men”capture”nya..agar orang lihat bagaimana baiknya dia.. padahal secara realita..maaf ya..tidak sesuai dengan kenyataan..

    Ini bukan fitnah tp nyata..So..hati2 memilih calon pemimpin bangsa ini…

  • 33 Mas Kopdang // Jul 31, 2008 at 2:01 pm

    Saya dukung RM09 untuk mencalonkan diri. Ini adalah bagian dari pengejawantahan demokrasi di Indonesia.
    Masalah banyak penentang dan pencemooh, adalah satu paket dari konsekuensi pencalonan.

    Tapi untuk memilih RM09, saya masih berpikir dua-tiga hingga berpuluh-puluh kali.
    ;)

  • 34 Boim Mallaronggeng // Aug 1, 2008 at 2:24 pm

    Rizal for president?
    Ini serius atawa becanda seh??!!! Tapi kalo mas ulil ngedukung sih saya gak heran lah… wong beda-beda tipis modelnya. Hahaha…

  • 35 lalu // Aug 1, 2008 at 4:04 pm

    jangan kita terlalu banyak berkomentar orang muda pemikiran muda identik dengan idealisme cita cita mari kita dukung seperti RM semuanya harus dipermuda bukan memihak kepada usia dan pemikiran usang

  • 36 mesterjon // Aug 2, 2008 at 9:08 pm

    pada perinsifnya pememinpin muda lebih pada pola yang terstruktur dan berani ini di karenakan pengalam dan klnowledge potensi ini dimili RM dan Pajrol

  • 37 iman // Aug 3, 2008 at 10:12 pm

    saya sih mau aja RM09

    Tp.. kayaknya lom jd presiden lah.. kalo wapres.. saia stuju banget

    presiden msh SBY lah.. d best one for 09

  • 38 lukmono // Aug 3, 2008 at 10:30 pm

    maju terus, pantang mundur

  • 39 john f e suoth // Aug 5, 2008 at 7:30 pm

    Selamat dan sukses buat bung Rizal, saya juga mohon dukungan untuk maju sebaga calon wakil presiden RI.

  • 40 Siagian // Aug 5, 2008 at 11:45 pm

    Rizal disamain Obama? Ampun deh! Sebelum menjadi senator saja Obama sudah menjalani jalan yang berliku-liku dan terjal. Kegiatan di komunitas masarakyat juga sudah dilakukan dari sononya.

    Rizal? Dia sibuk jadi pengamat politik dan presenter yang suka pamer kemampuan dibandingkan menanya nara sumber.

    Ok, untuk tampil beda, bolehlah, calon generasi muda. Tapi janganlah jadi presiden, nanti sibuk pamer di TV.

  • 41 dayan // Aug 8, 2008 at 3:55 pm

    Rizal maju terus,ini saatnya anda membuktikan yg muda juga bisa.Kalau ditunggu yg muda punya pengalaman di Indonesia ini gak bakalan ada karena memang belum ada yg berani maju atau tidak diberikesempatan.Kepada yang lain yang merasa dirinya muda dan mampu silahkan maju jangan hanya bisa sinis melihat orang lain berani maju.Sudah saat nya kita memperbaharui generasi yg memimpin negara ini,jangan hanya yg itu ke itu saja kalau bukan pemuda siapa lagi yg harus maju.

  • 42 Assadullah // Aug 18, 2008 at 2:43 am

    Kepada seluruh saudara2ku sebangsa dan setanah air berhati2lah dalam memilih pemimpin bangsa, jgn karena tertipu retorika dan penampilan di tv melupakan logika dan terutama kata hati kita, periksalah selalu track record tokoh yg bersangkutan. RM09 for president!!???. Saya setuju dengan pendapat Boim Mallaronggeng, rizal m dan ulil ’sebelas dua belas = sama saja’ adanya…..

  • 43 didijambak // Aug 20, 2008 at 10:52 am

    Beda RM dg Obama, dia di Indonesia dan tidak punya partai, itu saja. ini yang kemudian membedakan mereka di setiap analisis apapun selanjutnya…….
    RM sedang melakukan test case (menerapkan teori ) dg biaya hampir tak terhingga bagaimana memenangkan pemilu dengan teknik kampanye modern, tanpa partai, di Indonesia dengan modal teori-teori. Sungguh keberanian yang luar biasa untuk sekedar membuktikan teori yang diyakini.
    SB minta tolong RM untuk membuat iklannya, sungguh indah kedengarannya gitu loch!

  • 44 Dennis Vargas // Aug 21, 2008 at 10:07 am

    Sebagai orang luar yg sudah lama tinggal di Indonesia, I could only wish that I could be allowed to cast my vote - and for sure, I will vote for Pa’Rizal.

    Why? Why not!

    So what kalau tidak ata partai yg mendukung dia? So what kalau dia belum teruji? Kalau kita terus mendukung yg di “dukung” oleh partai2 atau yg sudah punya pengalaman, bagaimana kita bisa bedain diri kita sendiri dengan anak kecil yg sudah berkali2 diingatin bahwa api ini panas supaya jangan disentuh tetapi tetap aja disentuh.

    Let’s talk about track record. Can anyone, please explain the achievements of Messrs Gus Dur, Megawati and SBY? Anyone? Kalau Bang Yos? Pa’Wiranto? So, why keep on voting for someone who we all know will just be the same?

    So - my message to RM, go ahead. Even if I cannot vote - I will campaign for you!

  • 45 abu salamah // Aug 25, 2008 at 8:37 pm

    Saya setuju Kalau bung Rizal dikatakan seorang yang cerdas tapi untuk menjadi seorang Presiden dari sebuah negara yang besar mungkin bung Rizal harus membangun dulu sebuah jaringan yang lebih besar lagi saat ini pak HIDAYAT yang juga tokoh muda dengan jaringan partainya dan punya cukup kontribusi bagi bangsa ini mestinya yang paling pantas saat ini. Kursi menteri saya kira sudah sangat tepat bagi bung Rizal jika memang merasa mampu. Maaf jika penilaian saya salah.

Leave a Comment