Sodara-sodara,
Walau Turki kalah dalam semifinal Euro 2008 beberapa jam yang lalu, tetapi tim “pinggiran” ini telah menampilkan permainan yang mengesankan, jauh lebih baik ketimbang saat mereka melawan Kroasia. Jerman bermain hebat, dan layak menang.

Tetapi, hal yang menarik perhatian saya adalah semboyan dalam pertandingan semifinal itu: UNITE AGAINST RACISM (Bersatulah Melawan Rasisme).

Saya terharu dengan tema pertandingan yang dipilih oleh panitia. Sebelum pertandingan dimulai, kapten kedua tim juga membacakan semacam pernyataan tentang komitmen untuk melawan rasisme (tentu dan terutama di bumi Eropa). Baliho besar dengan semboyan itu dipajang di kiri-kanan dua kesebelasan saat mereka ber-pose untuk foto bersama menjelang pertandingan dimulai.

Sementara itu, di pinggir lapangan, dipasang sejumlah poster dengan tulisan yang sama. Walhasil, pertandingan itu didedikasikan untuk untuk melawan rasisme.

Di Jerman, kita tahu, rasisme dan perasaan benci terhadap para imigran pendatang (xenofobia), terutama orang-orang Turki, marak pada beberapa tahun terakhir ini. Dengan cerdik sekali, panitia Euro 2008 memilih pertandingan semifinal yang bersejarah itu untuk kampanye melawan rasisme.

Rasisme masih bertebaran di sekitar kita, kerapkali tanpa kita sadari. Kadang masuk-menyusup ke bawah selimut kita, menyelundup ke dalam mimpi kita, serta membentuk ketidaksadaran kita.

Salut untuk Euro!
Salut untuk Turki!
Salut untuk Jerman!

6 Responses to “Turki, German: Unite against racism”

  1. Lucu says:

    Assalamu’alaikum wr wb.. Mas Ulil Yang Cakep…

    gimana kalo bunyi pernyataan Mas Ulil:
    “Iman yang kuat tak akan takut pada keraguan. Iman yang dangkal dan dogmatis selalu was-was pada pertanyaan dan keragu-raguan”

    diganti dengan;
    “Iman yang lemah tak akan takut pada keraguan. Iman yang kuat selalu was-was pada pertanyaan dan keragu-raguan”

    gimana???

  2. Vara Jambak says:

    Ah pak Ulil. Jangan sebelah pihak begitu dong. Kenapa yang dibahas cuma racism orang-orang Jermna terhadap orang Turki? Bagaimana dengan racism orang-orang Turki terhadap orang-orang Jerman. Bagaimana perilaku orang-orang Turki di Jerman, dengan kesombongan Islam-nya? Bagaimana komentar-komentar orang-orang Turki sok suci yang menghujat perempuan-perempuan Jerman sebagai “murahan”, padahal mereka banyak hidup dari belas kasihan orang-orang Jerman. Itu juga perlu dibahas.

    Orang-orang Arab (Islam) itu tidak hanya seksis tapi juga rasis. Mereka memandang rendah orang Afrika karena berkulit hitam (sama dengan orang kulit putih yang rasis), memandang rendah orang Indonesia karena perempuan-perempuan Indonesia mereka perkosai, siksa seenaknya dan seringkali juga dibunuh.

    Kare itulah tidak aneh kalau kebanyakan orang Arab memilih McCain karena McCain tidak mewakili “orang kulit hitam” (rais) dan “bukan perempuan”, Hillary Clinton…

    saya masih bingung bagaiman orang-orang Inodnesia pingin jadi seperti orang Arab yang jelas-jelas memandang rendah orang Indonesia…

    salam dari Berlin

  3. Saya sepakat soal ketertarikan Anda pada slogan UEFA “Unite Against Racism” sepanjang Euro 2008 lalu, khususnya pada laga semifinal Jerman versus Turki itu. Tetapi, saya perlu menambahkan, tidak semua pertandingan di turnamen itu bersih dari rasisme.

    Dari 31 partai yang tergelar selama Euro 2008, saya hadir langsung pada pada 11 pertandingan. Pada laga perempat final Kroasia versus Turki di Vienna yang saya lihat langsung, suporter Kroasia berbuat rasis lewat banner dan yel-yel mereka. Yang patut dipuji dari UEFA, sebelum Euro 2008 berakhir, mereka telah menjatuhkan sanksi pada tim Kroasia.

    Pada partai itu pula, saya lihat dan mendengar suporter Kroasia bersiul-siul saat lagu kebangsaan Turki berkumandang. Ulah itu dibalas suporter Turki saat giliran lagu kebangsaan Kroasia dikumandangkan. Hal-hal seperti itu sebenarnya juga tabu, apalagi slogan UEFA lainnya pada turnamen tersebut adalah “Respect”.

    Di Zurich (Swiss), setelah menyaksikan partai Romania versus Perancis, saya bertemu dengan anak muda suporter Perancis asal Lyon di Stasiun Zurich. Dia juga baru menonton laga itu. Dia bercerita, dia mendapat kursi di tribun suporter Romania dan mendengar para suporter Romania berteriak sambil menirukan suara monyet saat pemain-pemain Perancis berkulit gelap membawa bola.

    Jika ceritanya benar, itu jelas praktek-praktek rasisme yang selama ini tidak ditoleransi UEFA. Namun, mungkin karena kejadian itu tidak menyolok, UEFA tidak mengetahuinya.

    Kembali ke semifinal Jerman versus Turki. Saya tidak menonton langsung laga di Basel (Swiss) itu, karena sejak babak perempat final saya berada di Vienna (Austria). Namun, rekan saya yang menyaksikan langsung partai itu bercerita sambil terheran-heran bahwa tribun untuk suporter Turki dipecah di beberapa tempat. Ini berbeda dengan suporter Jerman yang disatukan sehingga dukungan mereka terasa menggelegar.

    Selama Euro 2008, memang jarang suporter sebuah tim ditempatkan pada tempat yang terpisah-pisah di tribun. Mereka biasanya dilokalisasi agar juga mudah di-handle jika rusuh misalnya. Suporter tim itu umumnya membeli tiket lewat federasi sepak bola negara masing-masing yang sudah dialokasikan UEFA.

    Dalam obrolan, rekan saya itu percaya bahwa pada turnamen-turnamen sebesar semifinal Euro 2008 ada semacam “grand design” dari negara-negara mapan yang punya posisi tawar kuat di Eropa untuk mengondisikan situasi pertandingan agar “menguntungkan” tim tertentu. Benar atau tidak, wallahu a’lam bis shawab.

    Demikian Bung Ulil, moga-moga menambah komentar Anda soal Euro 2008 dan laga semifinal Jerman versus Turki. Btw… saya excited banget saat melihat tim Jerman dipecundangi Kroasia pada babak penyisihan di Klagenfurt (Austria). Bukannya saya anti-Jerman, he…he…he….

    Salam dari Palmerah

  4. Winaryo says:

    saya sangat setuju pada pemberantaran sikap sikap rasis,kadang saya berpikiran lha wong amerika saja yang begitu demokratis kadang masih rasis juga,gimana ya kalau hukum internasional menghukum tokoh rasis dengan cara,misalnya: orang orang yang menghina para kulit hitam,kulitnya dicat hitam dengan cat yang ilangnya susah,biar tau rasa..he he.piss

  5. Winaryo says:

    saya sangat setuju pada pemberantasan sikap sikap rasis,kadang saya berpikiran lha wong amerika saja yang begitu demokratis kadang masih rasis juga,gimana ya kalau hukum internasional menghukum tokoh rasis dengan cara,misalnya: orang orang yang menghina para kulit hitam,kulitnya dicat hitam dengan cat yang ilangnya susah,biar tau rasa..he he.piss

  6. arip molotov cocktail kemayoran says:

    woi vara jambak bego, lo ga ngerti aja pake komen2 segala, nih gw jelasin kenapa di jerman ada rasis terhadap pendatang, terutama turki, kalau anda tahu skinheads, yang dimana mereka mempunyai kepercayaan bahwa orang jerman merupakan ras terbaik dari semua ras yang ada, mereka tak sudi bila bangsa lain mengambil alih otoritas dari negara mereka baik dari segi ekonomi atau segi politik, atau istilahnya mengambil periuk nasi mereka, dan relitanya di jerman saat ini imigran turki sangat banyak disana, dan kerap kali dipukuli, dihina, dilecehkan oleh para skinhead yg mirip dengan ideologi nazi tersebut disana! lalu akhirnya banyak juga orang2 jerman yang pada akhirnya berprilaku seperti itu,sehingga meresahkan kaum pendatang yang berada disana, ngerti!

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>