<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Menyantap Masakan Indonesia &#8212; Sambil &#8220;Ngaji&#8221;</title>
	<atom:link href="http://ulil.net/2008/06/22/menyantap-masakan-indonesia-sambil-ngaji/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ulil.net/2008/06/22/menyantap-masakan-indonesia-sambil-ngaji/</link>
	<description>Iman yang kuat tak akan takut pada keraguan. Iman yang dangkal dan dogmatis selalu was-was pada pertanyaan dan keragu-raguan.</description>
	<lastBuildDate>Mon, 20 Jun 2011 12:51:59 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
	<item>
		<title>By: Ahmad Sahidah</title>
		<link>http://ulil.net/2008/06/22/menyantap-masakan-indonesia-sambil-ngaji/comment-page-1/#comment-326</link>
		<dc:creator>Ahmad Sahidah</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 10 Jul 2008 03:40:25 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ulil.net/2008/06/22/menyantap-masakan-indonesia-sambil-ngaji/#comment-326</guid>
		<description>Nasionalisme nasi, istilah baru bagi saya, namun mampu menerangkan kerumitan mencintai bangsa. 

Di Malaysia, kami pelajar Indonesia tidak menemui masalah dengan makanan, karena di sana banyak tersedia &#039;warung&#039; Indonesia, seperti Padang, Aceh dan Jawa. 

Belum lagi, di setiap sudut negara tetangga ini, kita banyak menemukan warga Indonesia yang mencari nafkah. Demikian pula, radio lokal banyak memutar lagu band Indonesia. Sepertinya, saya menemukan sudut lain dari Indonesia. Malah, saya begitu dekat dengan kawan Melayu yang tentu saja mereka merasakan hal yang sama. 

Kohesi sosial antara Indonesia dan Malaysia sangat mudah tercipta karena akar yang sama, meskipun justeru kadang rentan untuk menimbulkan huru hara. Lagi-lagi, ini kadang ulah politisi dan peneriak slogan (slogan shooter).</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Nasionalisme nasi, istilah baru bagi saya, namun mampu menerangkan kerumitan mencintai bangsa. </p>
<p>Di Malaysia, kami pelajar Indonesia tidak menemui masalah dengan makanan, karena di sana banyak tersedia &#8216;warung&#8217; Indonesia, seperti Padang, Aceh dan Jawa. </p>
<p>Belum lagi, di setiap sudut negara tetangga ini, kita banyak menemukan warga Indonesia yang mencari nafkah. Demikian pula, radio lokal banyak memutar lagu band Indonesia. Sepertinya, saya menemukan sudut lain dari Indonesia. Malah, saya begitu dekat dengan kawan Melayu yang tentu saja mereka merasakan hal yang sama. </p>
<p>Kohesi sosial antara Indonesia dan Malaysia sangat mudah tercipta karena akar yang sama, meskipun justeru kadang rentan untuk menimbulkan huru hara. Lagi-lagi, ini kadang ulah politisi dan peneriak slogan (slogan shooter).</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

