Apa yang saya tulis ini adalah “muraja’ah” atau oto-kritik bagi umat Islam, atau tepatnya bagi sebagian kalangan Islam yang watak-wataknya akan saya sebutkan nanti.
Selama ini, ada sebagian kalangan Islam yang marah besar jika agama mereka “dihina” atau diejek. Kalau ada umat agama lain yang mengkritik sebagian ajaran atau pandangan yang berkembang dalam agama Islam, maka yang bersangkutan bisa terkena tuduhan “menghina agama Islam”.
Tetapi, lihatlah apa yang diperbuat oleh umat Islam terhadap umat agama lain. Mereka dengan seeanknya melakukan penghinaan, ejekan, kritikan, dan serangan pada doktrin dan ajaran agama lain, terutama Kristen.
Kalau anda pernah melakukan salat Jum’at di sejumlah masjid di Jakarta, maka usai salat anda akan berjumpa dengan “pasar tiban” di depan masjid. Para pedagang kaki lima berdesak-desak di depan masjid, antara lain menjajakan buku-buku, pamflet, dan VCD/DVD yang isinya adalah serangan atas doktrin Kristen.
Misalnya, rekaman ceramah Irena Handono, seorang perempuan yang konon mantan biarawati yang kemudian masuk Islam, dijual secara bebas di “pasar-tiban” pada hari Jumat itu. Setelah masuk Islam, Irena Handono berkeliling dari satu majlis taklim satu ke yang lain, dan berceramah yang isinya menyerang doktrin agama Kristen.
Jika umat Islam disuguhi dan disuapi setiap saat dengan ceramah-ceramah “kebencian” semacam itu, maka tak mustahil akan muncul sikap curiga dan benci terhadap umat agama lain.
Pertanyaan saya adalah: jika ada pengkhotbah dan pendeta Kristen yang melakukan hal serupa seperti dilakukan oleh Iren Handono, berceramah keliling menyerang doktrin agama Islam, membongkar kesalahan ajaran Islam dalam kaca-mata Kristen, apakah umat Islam bisa menerima hal itu? Apakah pengkhotbah itu tidak akan “dikeroyok” oleh massa Islam, dituduh menghina agama Islam?
Hidup dalam masyarakat sudah selayaknya mengikuti etika “bebrayan” yang intinya adalah saling hormat-menghormati. Anda boleh tak setuju dengan agama, sekte, paham, atau aliran tertentu. Tetapi anda tak berhak mengejek, menyerang, apalagi minta pemerintah membubarkan keyakinan itu.
Tampaknya umat Islam, atau tapatnya sebagian kalangan Islam, suka sekali menghina agama lain, tetapi marah besar saat agama mereka dihina.
Apakah tindakan semacam ini sesuai dengan adab, tata-krama, etika, dan akhlaq yang diajarkan oleh Islam?
Salam Saudara Ulil.
Dari semua tulisan saudara Ulil, bagi saya sangat menarik . Ide penulisannya-pun disampaikan dengan lugas dan disisipi pesan moral yang baik.
Saudara Ulil, biarkan saya memberi sedikit ulasan tentang sejarah Gereja.
Gereja itu sendiri yang mempunyai arti ” Tubuh Kristus, Persekutuan dengan Kristus ” ( 1 Korintus 12:12, Efesus 4:15, Kolose 1 :18). Dan dilihat dari sejarah perkembanganya,gereja bisa mencapai beberapa aliran dari awal gereja mainstream.
Dan dari beberapa aliran-aliran gereja yang muncul tersebut, dianggap kelompok Kristen arus utama sudah keluar dari inti ajaran Kristen yang sejati.
Hal tersebut dilihat, ditelaah dari:
- Pokok-pokok ajarannya yang jelas berbeda.
- Adanya kitab tambahan selain Alkitab.
- Pengakuan imannya.
Dari beberapa aliran-aliran Gereja itupun sampai saat ini ada, eksis dan mempunyai izin resmi ibadah di Tanah Air Indonesia.
Contohnya adalah:
1. Gereja Yesus Kristus dari orang-orang Suci Zaman Akhir ,dikenal dengan Gereja Mormon.
2. Kelompok agama yang terlihat Kristen, seperti Perkumpulan Siswa-Siswi Alkitab, kelompok ini dikenal dengan Saksi Jehova.
Saya mencoba mengkaitkan tulisan saudara Ulil yang berjudul Bahaya SKB Ahmadiyah.
Dipoint pertama isi SKB tersebut :
“Memberi peringatan dan memerintahkan untuk semua warga negara untuk tidak menceritakan, menafsirkan suatu agama di Indonesia yang menyimpang sesuai UU No 1 PNPS 2005 tentang pencegahan penodaan agama.â€
Sampai saat ini, belum pernah saya mendengar atau temui adanya teror, kekerasan terhadap golongan “kristen” dari kelompok2 Kristen yang mainstream di Indonesia.
Yang perlu kita kuatirkan adalah:
” Kejadian dimana kelompok mayoritas melakukan intimidasi, teror atau bentuk kekerasan fisik / mental, terhadap Kelompok Minoritas, dengan dasar penodaan Agama kelompok Mayoritas ”
Bila begitu maka Indonesia tidak akan pernah tidur nyenyak dan mimpi Indah.
Salam Kasih , dari tanah Japan.
Alfend Elias.
Sepakat Mas Ulil…..!! Umat Islam sekarang ini sedang menggali kuburannya sendiri kalau terus menghina dan menutup diri terhadap luasnya sudut pandang kebenaran…Yang ada Nanti hanya Institusi agamanya saja ….sedangkan nilai nilai islamnya terkikis habis…lalu umat islam dari golongan yang hanya dapat menghina ini bagai buih yang banyak dilaut tapi ga ada gunanya….Saya sering melihat tulisan tulisan cerdas mas ulil…salut untuk pemikirannya dan keresahannya terhadap situasi ini..
Assalamu’alaikum wr. wb.
Salam kenal kang Ulil, pencerahan yang jelas dan gamblang dan apa adanya seperti tulisan njenengan memang menjadi komoditi siapa saja. Tapi jangan heran, bagi kalangan Islam yang membela label, tulisan model sampean pasti dicap “ah itu JIL!”
Rupanya mereka membalik istilah ungkapan Imam Ali kw. : “Lihatlah apa yang dibicarakan jangan lihat orangnya” mereka ubah menjadi sebaliknya.
Salut sama mas Ulil…Kalau saya melihat permasalahannya ada d kualitas dari orang2 muslim sendiri. Saya tidak tau klo diluar, tp d Indonesia sering saya melihat ustd2 yg berkhotbah menjelek-jelekan umat non-muslim keras2 hingga terdengar keluar masjid. Dan lbh parahnya lg byk umat muslim yg mendengarnya menyakininya 100%.
Andai saja ustd2 di Indonesia mempunyai pemikiran spt mas Ulil.
Assalamu’alaikum wr. wb.
salam kerakyatan
buat bang ulil salut atas artikel-artikel pancerahan islam bahwa islam itu sebenarnya rohmatan lil alamin; kalau tdk salah saya kutip dari syeh siti jenar hammayu bannyuning bawana
ajaran islam turun ke bumi untuk keselamtan di bumi bukan untuk jadi perusak, penghancur,penindas tapi memberikan rasa keadilan,kemanusiaan.
terus mas, gimana dengan orang-orang seperti Ayaan Hirsi Ali? saya kadang ketar-ketir soal agama ini. disisi lain kita harus berhadapan dengan ektrimist islam, dan disisi lain kita juga dihadapkan pada ekstrimist sekuler yang argumen-2nya tak tanggung-tanggung cukup menusuk seperti Hirsi Ali itu. orang2 seperti Hirsi Ali sudah tidak bisa percaya lagi dengan istilah reformasi islam atau liberal islam. dan dia juga meragukan peranan kaum liberal dalam membendung arus fundamentalisme. bisa diulas mas tentang fenomena Ayaan Hirsi Ali? (sekarang dia di Amrik kan?) atau mas kasih sedikit ulasan tentang bukunya “Infidel”
istilah neng boso jowone iku pinter ning keblinger…. koyone iku cocok banget buat sampeyan mas… istighfarlah selagi anda bisa… orang-orang terkesima dengan tulisan-tulisan anda, tetapi tidak buat saya..jangan munafik lah mas.. saya pernah mengikuti seminar yang sampeyan isi… satu hal yang saya catat… anda pernah membaca sebuah hadits yang menyatakan bahwa yang membedakan muslim dengan kafir itu “sholat” kan? artinya yang nggak sholat = kafir kan?
saat itu seminar telah melewati waktu dhuhur… dan Anda tidak sholat…. itu yang saya catat… semoga yang lain tahu ini apakah sebenarnya anda itu muslim atau bukan…
sontoloyo tenan sampeyan lil…. koe kok saiki dadi ra nggenah ngono kui kepriye? aku iki adhine mbahmu… koe nek pinter yo dinggo mulyaake agomo. ojo malah ngece ngono kui… wah jan kelakuakmu kui wes dudu wong islam maneh… komentarku iki ditampilke nek koe ki cen nganggep awakmu bener…BANGSAT, BAJINGAN ASU koe
Bung Andri,
Meskipun ada banyak hal yang bisa saya pelajari dari orang-orang seperti Ayaan Hirshi Ali, saya tak setuju bahkan menentang posisi yang dia ambil saat ini. Kalau seseorang menyatakan diri keluar dari Islam karena kecewa atas agama itu, tentu dia akan kehilangan kredibilitas untuk ikut melakukan “reformasi” dalam agama tersebut.
Kalau Hirshi Ali ingin memperbaiki kerusakan-kerusakan dalam umat Islam, ya dia sebaiknya, sekali lagi sebaiknya (bukan seharusnya), dia berada dalam tubuh umat itu. Begitu dia keluar dari Islam, maka orang-orang akan sinis pada dia saat dia ingin melakukan perbaikan atas Islam dan umat Islam.
Saya lebih menaruh hormat pada orang-orang yang terus berjuang dalam tubuh umat Islam dan melakukan kritik atas Islam dari dalam seperti Prof. Abdullahi Annaim, Prof. Khaled Abou El Fadl, Prof. Abdul Aziz Sachedina dll, meskipun mereka “dikafir-kafirkan” oleh umat Islam sendiri.
Tambahan pula, Ayaan Hirshi Ali bukanlah seorang ahli Islam yang belajar dengan baik mengenai agama itu. Tetapi, itu bukan poin utama. Kalau saja dia tetap berada dalam Islam, dan menceritakan pengalaman buruk yang ia hadapi sebagai umat Islam, tentu banyak orang yang menaruh simpati pada dia. Orang seperti Irshad Manji, menurut saya, jauh lebih baik ketimbang Hirshi Ali. Tidak seperti yang terakhir ini, Manji tidak kehilangan iman dan kepercayaan pada Islam. Dia tetap berada dalam Islam, dan mencoba menggali dan menguakkan nilai-nilai terbaik dalam Islam untuk ditunjukkan kepada umat Islam sendiri dan dunia luar yang selama ini memiliki citra buruk mengenai Islam.
Ala kulli hal, terima kasih atas komentar anda.
Ulil
Mas Ulil, sikap mau menangnya sendiri itu kan selaras dengan demokrasi dan liberalisme. Coba kita tanya pada jagoan demokrasi = amerika.
apa yg mereka pertontonkan kepada dunia? mau menang sendiri, maunya ngritik orang lain, maunya nyerbu negara lain, tanpa mau dikritik, semau gue, demokratis, dan liberal.
Wis, cocok to?
Ala kulli hal, para kuli memang selalu mbebek pada tuannya..
mas ulil tau forum (religion&spirituality) di yahoo groups tidak? saya kira apa yang mas ulil katakan akan mendapat banyak tantangan disana? karena mayoritas yang mengikuti forum itu adalah non muslim yang begitu membenci umat islam. ikuti aja forum itu, dan apa yang diseut toleransi antar agama cuma ada dipikiran mas ulil aja. saya termasuk moderat, nenek saya dan banyak saudara saya ahmadiyah, yang lain NU dan macam2. jadi perbedaan dan toleransi saya tau. tapi penghinaan adalah hal lain.
thanks
SALAM KENAl,
SALAM KENAl,
Ulil,gue mau nanya :
1. menurut ente di dunia ini ada ngga sih kebenaran dan kesalahan? jika ada benar itu bagaimana n salah itu bagaimana?
2. Hukum itu perlu ngga sih?
3. Menurut ente sebaiknya Al Quran menyesuaikan dengan zaman atau zaman menyesuaikan dengan Al Quran?
4. Saya pernah membaca pernyataan ente bahwa semua penganut agama bisa masuk sorga dengan catatan……….. , nah yang gue tanyakan kenepa adanya agama islam n kenapa ente memilih islam?
5. Sebenernya agama itu perlu ngga sih n orientasi agama itu apa atau siapa atau bagaimana?
wis disik yho..
Tolong jawab.
Dear Ulil,
Gue mau nanya :
1. Di dunia ini ada ga sih konsep kebenaran dan kesalahan? Jika ada, yang benar itu yang bagaimana dan yang salah itu yang bagaimana?
2. Apa batasan kebenaran dan kesalahan itu?
3. Benar dan salah itu dianggap berdasarkan apa, acuanya apa/mana? yang menbuat acuan itu siapa/apa?
4. Agama itu perlu ngga sih?
5. Agama itu berorientasi pada apa,siapa atau bagaimana?
6. Dalam menjalani hidup yang kompleks ini sebaiknya kita “menyesuaikan zaman dengan Al Quran” atau “Al Quran yang menyesuaikan dengan zaman”?
7. Saya pernah membaca pernyataan anda bahwa semua penganut agama bisa masuk sorga dengan catatan………………, Nah, yang saya tanyakan kenapa adanya agama? lalu kenapa anda memilih islam?
sekian,
Tolong jawab. Terimakasih.
Dear Ulil,
Sudah dua kali saya bertanya kok gak pernah di tanggapi malah di delete. Napa, ga bisa jawab? kalo gak bisa bilang gak bisa tapi pertanyaan saya jangan didelete. Okelah anggap aja saya belum bertanya.
Sekarang tolong jawab pertanyaan saya:
1. Tuhan itu ada ga sih?
2. Agama itu perlu ga sih?
3. Kenapa harus ada agama?
4. Perlukah kita beragama?
5. Apa yang terkandung dalam agama itu?
6. Dari kapan agama itu ada dan sampai kapan agama itu akan tiada?
7. Dalam kehidupan yang kompleks ini yang harus terjadi apakah “Al Quran (agama) harus menyesuaikan dengan zaman” atau “Zaman yang harus menyesuaikan dengan Al Quran (agama)” sehingga kehidupan yang “stabil” akan tercipta?
8. Saya pernah membaca pernyataan anda bahwa semua penganut agam pasti masuk sorga dengan catatan beramal baik tidak melakukan keburukan atau (bla bla bla), kalo demikian berarti mengikuti agama lain dengan menyembah tuhan yang mereka yakini sah – sah sajakan,dengan catatan kita tetap beramal baik tidak melakukan perbuatan yang merugikan?
9. Menyambung poin 8. Berarti kita tidak perlu (wajib)dong memilih agama? Tapi kenapa anda memilih islam?
10. Berdasarkan judul di atas anda beranggapan bahwa islam lebih banyak menghina dari agama lain (kristen). Anda mengatakan demikian sumbernya dari mana? apakah anda melihat pula palestina yang disakiti israel habis-habisan? Denmark yang warga negaranya menghina Rosulillah? dan penghinaan lainya? Kalo anda merasa cerdas coba dong objektif terhadap hal itu jangan semta-mata anda sebagai kritikus islam selalu memojokan islam? Apa keuntungan anda?
tolong jawab dan jangan di delete. kalo anda tidak menjawab saya anggap anda pengecut besar?
Sekian. Terima ksih.
(Anggota JIL yang merasa mampu menjawab dipersilahkan).
A’udzubillaahiminasysyaithonirrojiim
Bismillaahirrohmaanirrohiim
Menarik sekaligus menyesatkan juga opini yang dibangun oleh beliau ini.
Beliau mengambil soal dan contoh perihal “Gemar Menghina, Tetapi Tak Mau Dihina” dari VCD2 atau DVD2 yang dijual di berbagai tempat.
Yang kemudian dari beliau mengambil kesimpulan yang maknanya kurang lebih sebagai berikut :
1. VCD/DVD tersebut berisi hinaan terhadap ajaran agama lain.
2. Umat Islam gemar menghina tapi tak mau dihina.
Saya pribadi menilai tulisan2 diatas sebagai sesuatu yang lucu dan cendrung memfitnah.
Sedikit introspeksi atas penyampain beliau diatas atas pernyataan-pernyataannya :
Sudahkah anda melihat VCD2/DVD2 tersebut ? Dan sudahkah melihat sebab dari munculnya VCD2/DVD2 tersebut ?
Ok sekarang kita saya ambil contoh seperti yang beliau misalkan yaitu Irene Handono. Didalam VCD2/DVD2 tersebut beliau berusaha untuk meresponse hina2-an yang dilakukan orang2 kafir atas Islam.
Ini yang kemudian menjadi lucu, karena anda memutarbalikkan situasi yang ada.
Dimana anda menuduh bahwa umat Islam menyerang agama lain tapi pada saat dihina tidak mau. Padahal umat Islam dan ajaran Islam lah yang pertama kali dihina, lantas kemudian umat Islam bereaksi. Dan lucunya melalui orang2 seperti anda-anda inilah justuru saya merasa heran.
Harusnya anda memberi judul tersebut bukan ditujukan kepada umat Islam, tetapi agama lain yang anda bangga2-kan tersebut.
Na’udzubillah ‘alaykum.
Wallaahu a’lam.
Mas Ulil,
Terus saja buat tesis, untuk tambah cakrawala islam indonesia, yang berani dan konsisten.
Saya sangat setuju tesis anda, yang saya alami, kalau umat islam di Indonesia itu telah menilai agama nomor satu sedangkan budaya tidak perlu.
Dilingkungan saya sendiri coba menyampaikan tentang kebudayaan Indonesia yang beraneka-ragam sudah banyak dilupakan.
Salam,
msabir
Senang mencubit tapi tak mau di cubit. Maunya menang sendiri. Lihat aza rumah ibadah dituduh dan difitnah dihancurkan akhirnya bangun kembali bukan saza sulit tapi di persulit dengan alasan mengganggu ketentraman