Anak-Anak Bahagia di Alam Terbuka

Malam Sabtu kemaren (14/6/08), dua anak saya, Ben dan Billy, berkemah kecil-kecilan di halaman rumput yang luas di depan apartemen saya.

Bersama anak-anak lain satu apartemen, mereka berkemah, tidur semalaman dalam tenda kecil yang dibuat oleh tetangga kami di halaman depan apartemen. Cuaca sangat bagus, tak terlalu panas, tak terlalu dingin, tepat untuk berkemah sederhana seperti itu.

Esok harinya, saat mereka bangun tidur, Ben dan Billy tampak bahagia sekali. Mereka menikmati sekali pengalaman berkemah yang mungkin di mata kita, orang-orang dewasa, sebagai hal yang sederhana dan “sepele” itu.

Take a note: banyak hal yang tampaknya sederhana bagi orang-orang dewasa, tetapi merupakan pengalaman berharga yang sangat mendalam pengaruhnya bagi pertumbuhan jiwa anak. Orang dewasa kerapkali mengabaikan hal-hal kecil yang bagi anak justru sangat penting maknanya. Small things do matter to children. Saya jadi teringat novelnya Arundhati Roy, The God of Small Things.

Ini adalah kemah pertama yang dialami oleh anak-anak saya. Waktu di Jakarta dulu, kami tak pernah punya kesempatan untuk melakukan hal seperti itu. Entah karena tak ada waktu, atau tak ada halaman yang memadai untuk “camping” seperti itu, atau karena lingkungan sosial di Jakarta yang kurang mendorong untuk melakukan aktivitas tersebut.

Anak-anak, tampaknya, sangat bahagia berada di ruang terbuka, menyatu dengan alam. Berada di alam terbuka adalah pendidikan alamiah yang sangat baik bagi anak-anak.

Dalam pelajaran sains, Ben, anak saya yang pertama yang sekarang duduk di kelas empat di Bowen School di kawasan Newton Centre, pernah diajarkan untuk mengeksplorasi dan “menginvestigasi” jenis-jenis binatang dan tetumbuhan yang ada di kawasan negara bagian Massachussets.

Melalui internet, mereka, Ben dan teman-temannya sekelas, diajari untuk melakukan riset kecil-kecilan. Mereka diberikan bahan bacaan yang menyenangkan buat anak-anak. Mereka diajak berkunjung ke sebuah “kebun” untuk melihat jenis-jenis tumbuhan. Dengan kata lain, mereka diajak untuk “mengunjungi alam” dengan cara yang sistematis, tanpa kehilangan watak “fun”.

Saya sungguh iri melihat pengalaman “kembali ke alam” yang dinikmati oleh anak-anak saya itu. Rasanya saya ingin kembali menjadi kecil lagi dan menikmati pengalaman serupa.

Anak-anak akan bahagia berada di alam terbuka. Merawat alam dan lingkungan bukan saja perlu untuk menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga menjaga wahana di mana anak-anak kita bisa belajar dari alam terbuka, mengembangkan kecintaan pada sains dan pengetahuan.

About Ulil Abshar-Abdalla

Iman yang kuat tak akan takut pada keraguan. Iman yang dangkal dan dogmatis selalu was-was pada pertanyaan dan keragu-raguan.
This entry was posted in Cerita Ringan. Bookmark the permalink.

One Response to Anak-Anak Bahagia di Alam Terbuka

  1. M says:

    it’s very nice to read your post here and on Mukjizat is everywhere. i have the impression that, you are just any one of us; human, parent, part of society..

    keep on writing life, Mas. Religion is only small bit of it.

    :)

Leave a Reply