Kaum Fundamentalis Lebih Merajalela di Dunia Maya

Saya bukan seorang penggila internet. Tetapi saya cukup banyak berselancar dan mengunjungi berbagai macam situs, blog di internet, baik yang berbahasa Inggris, Arab dan Indonesia.

Kesan saya, kaum konservatif dan fundamentalis lebih gigih dan pandai sekali memanfaatkan teknologi ini untuk menyebarkan ide-ide Islam yang konservatif. Sementara kelompok Islam yang pluralis kurang kelihatan aktif memakai sarana virtual yang sangat penting ini.

Zaman internet mengubah pola penyebaran ide, temasuk ide yang berkaitan dengan agama. Internet juga mengubah karakter otoritas dalam agama. Sekarang ini, masyarakat Islam bisa meminta fatwa atau nasehat dari para “otoritas Islam baru” yang muncul di internet. Mereka tak perlu repot-repot lagi datang ke kiai, ustaz, atau ulama tertentu, apalagi membawa oleh-oleh dan amplop segala sebagaimana praktek yang lazim dalam komunitas Islam “pra-internet”.

Internet juga telah mendemokratisir secara radikal struktur otoritas dalam Islam. Para ustaz yang selama ini tak pernah kita kenal kiprahnya di masyarakat, tetapi karena aktif “cuap-cuap” di internet, mendadak menjadi “rujukan baru” dalam masalah Islam. Sementara kiai dan ulama yang selama ini bekerja di masyarakat tetapi tak memiliki akses ke internet, karena satu dan lain hal, sama sekali tak memiliki pengaruh yang luas dibanding “kiai internet”.

Sudah saatnya kaum Muslim pluralis melakukan kampanye gagasan yang serius dan sistematis di internet. Setiap saya meng-google dengan kata kunci “Islam” atau sejumlah kata lain yang terkait, yang muncul di layar komputer saya adalah situs-situs Islam konsevatif, fundamentalis, dan radikal.

Saat saya meng-google berita soal Ahmadiyah, misalnya, item-item yang sangat “overwhelming” dan membanjiri dunia maya adalah berita dan komentar yang sifatnya sangat sinis, negatif, esklusif.

Di sini saya melihat paradoks: kaum pluralis, liberal, progresif yang memeluk ide kemajuan dan keterbukaan justru tak memanfaatkan internet. Sementara kaum fundamentalis yang watak gagasannya adalah tertutup justru dengan penuh semangat malah memakai internet.

About Ulil Abshar-Abdalla

Iman yang kuat tak akan takut pada keraguan. Iman yang dangkal dan dogmatis selalu was-was pada pertanyaan dan keragu-raguan.
This entry was posted in Komentar. Bookmark the permalink.

2 Responses to Kaum Fundamentalis Lebih Merajalela di Dunia Maya

  1. iya benar, banyak sekali web site seperti itu. dan isinya, kadang sangat serampangan. seperti yang saya temukan di eramuslim.com rubrik ustadz menjawab masalah “ternyata dasar negara kita bukan pancasila, tapi allah”.

    lantas saya koreksi seperti di situs seorang kader tarbiyah, mujahidallah.wordpress.com. saya tunjukan bahwa jelas-jelas dasar negara kita pancasila. itupun menurut UUD 1945.

    masih di situs itu, seorang kader yang mereka-reka jawaban imajiner atas lontaran imajinernya terkait Immanuel Kant dan Descartes. saya rasa kader itu belum belajar filsafat, mungkin sudah antipati terlebih dulu.

    saya miris melihat situs-situs seperti itu. selain jauh dari nalar pencerahan, beberapa isinya juga secara ilmiah tidak bisa dipertanggungjawabkan.

    benar bung ulil, harusnya teman-teman juga memanfaatkan jaringan maya secara optimal. juga tentunya bung, rubrik tanya jawab agama (syariah-fiqh) harus ada. sedangkan kita biasanya hanya bekerja di level ihsan (etika publik).

    saya punya satu tulisan tentang kecenderungan kerja di level etis itu dan akhirnya kurang menggarap yang syariah. di situs saya dengan judul “mengapa justifikasi teks?”.

    masalahnya umat membutuhkan jawaban di tiga ruang sekaligus–trilogi islam–iman, islam, dan ihsan.

    mohon komentranya.

  2. Krishna says:

    saya kira sudah saatnya kita kaum pluralis melakukan cuci otak a la NII. Sasarannya adalah kaum muda dan mahasiswa. Kita tanamkan nilai2 pluralisme dan multikulturalisme ke dalam alam bawah sadar mereka. Terutama bagi mereka yang sedang labil dan membutuhkan sandaran, kita isi hati mereka dengan apa yang mereka inginkan, selanjutnya baru kita isi kepala mereka dengan apa yang kita inginkan. itu di level mikro. di level makro, kita bisa lakukan kampanye lewat internet dan media2 lain, kita hancurkan citra fundamentalisme di mata masyarakat. kita ciptakan suatu budaya baru, bahwa pluralism itu gaul, fundie itu kampungan. kita berkarya lewat seni, kita bombardir blantika musik dengan nuansa pluralisme dan multikulturalisme. kita susupkan muatan pluralisme dan multikulturalisme ke dalam kurikulum sekolah2. untuk itu, kita memerlukan orang2 yang bisa masuk ke jajaran pemerintahan dan pengambil kebijakan. jika perlu, kita lakukan penyusupan. halalkan segala cara demi tercapainya masyarakat indonesia yang lebih baik. allahu akbar..! hare krishna, hare ram..! halleluyah..!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>