Karate, keluarga, dan relativisme budaya

Setiap Sabtu pagi, saya selalu mengantar anak saya yang pertama, Ben, untuk ikut kelas karate. Kelas ini diadakan oleh Trinity High School, sebuah sekolah Katolik yang ada di kawasan Newton, daerah tempat saya tinggal. Kelas berlangsung antara pukul 10 hingga 11 pagi.

Sambil menunggu anak saya ber-haik-haik-karate, biasanya saya membaca apa saja. Seringkali bahan-bahan kuliah. Pagi ini, ada suatu koinsidensi yang menarik. Karena sudah selesai semester musim gugur, tak ada kuliah lagi, saya membawa buku bacaan biasa. Saya baca buku karangan Philip Jenkins, God’s Continent: Christianity, Islam, and Europe’s Religious Crisis. Saya pinjam buku itu dari perpustakaan kota Newton, Newton Free Library. Saya tertarik meminjam buku itu karena judulnya yang “merangsang”.

Buku itu secara umum bercerita tentang kontras dua gejala: sementara Eropa yang semula merupakan “benua Kristen” pelan-pelan merosot perannya sebagai pusat kekristenan, tanah pencerahan itu dilanda oleh gelombang “baru” dari tanah seberang. Anda tentu sudah bisa menduga, apa yang dimaksud gelombang baru itu oleh Jenkins. Tak lain adalah gelombang imigran Muslim dari dunia ketiga. Jenkins mengutip sejumlah ramalan “murung” dari para ahli yang intinya adalah bahwa benua ini, cepat atau lambat, akan mengalami Islamisasi.

Ada beberapa sebab yang disebut oleh Jenkins. Yang relevan saya sebut di sini dua: depopulasi Eropa dan relativisme budaya yang menyebabkan munculnya gejala multikultualisme.

Saya mulai dengan sebab yang kedua: relativisme budaya. Saat ini, hampir semua negeri Barat, terutama Eropa, dilanda oleh gejala ini. Gejala serupa juga melanda Amerika. Relativisme budaya adalah paham bahwa semua budaya adalah baik; tak ada budaya yang dianggap superior, sementara yang lain inferior; budaya adalah hasil dari kesepakatan sosial (social construction, ini istilah yang sering dipakai). Budaya tak mengandung esensi tertentu yang membuatnya “baik” atau “buruk”. Dengan demikian, tak ada budaya yang pada dirinya baik dan unggul; atau budaya yang pada dirinya jahat dan jelek.

Paham ini melahirkan suatu akibat yang sangat positif, tetapi sekaligus negatif.

Positif bagi kaum imigran, termasuk imigran Muslim yang datang dari seluruh kawasan di dunia. Karena relativisme budaya inilah masyarakat Islam dapat menikmati perlakuan yang kurang lebih fair sebagai sebuah entitas budaya. Meskipun sisa-sisa prasangka buruk Barat terhadap Islam masih tersisa, masyarakat Islam di Eropa menikmati kebebasan yang cukup untuk melaksanakan ibadah dan merawat identitas mereka sebagai masyarakat yang secara budaya unik.

Saya sering menulis, seandainya Eropa saat ini tidak dilanda relativisme budaya, sebaliknya masih berpegang pada superioritas Kristen, sudah tentu umat Islam akan dipersulit untuk melaksanakan ibadah mereka, dan tak akan menikmati kebebasan agama seperti sekarang. Mereka juga akan dipaksa untuk melakukan “asimiliasi” atau lebur-paksa ke dalam budaya “tuan rumah”. Relativisme budaya telah meruntuhkan superioritas Kristen dan Eurosentrisme, dan memungkinkan sejumlah budaya-budaya komunitas yang berasal dari luar tanah Eropa bisa berkecambah dengan leluasa di sana. Ini yang menjelaskan kenapa Islam berkembang dengan cepat di sana.

Tetapi, relativisme budaya juga membawa dampak negatif, terutama buat Eropa sendiri. Relativisme budaya membuat Eropa tak bisa memaksakan lagi nilai-nilai pencerahan kepada masyarakat imigran yang datang dari luar Eropa. Akibatnya, kita melihat para imigran mendirikan komunitas masing-masing yang terpisah dari budaya “tuan rumah”yang berasal dari tradisi pencerahan. Ini yang menjelaskan kenapa sejumlah praktek budaya dari dunia ketiga tetap bertahan di kalangan komunitas imigran. Kita membaca berita tentang praktek “bunuh-kehormatan” (honor killing) di beberapa komunitas Muslim Eropa. Kita juga masih melihat praktek-praktek misoginis yang menempatkan perempuan lebih rendah ketimbang laki-laki. Dengan kata lain, walau secara fisik masyarakat imigran Muslim tinggal di Eropa, secara budaya sebetulnya mereka masih membawa sisa-sisa kebiasaan dari “kampung”, persis seperti gejala yang kita lihat di Jakarta saat ini. Tradisi pencerahan sama sekali tak bisa menerobos komunitas itu. Ini antara lain dimungkinkan karena relativitas budaya.

Sementara itu, sekularisasi telah membuat masyarakat Eropa sinis pada agama. Gejala turunnya tingkat kehadiran di gereja yang melanda seluruh Eropa sudah sering kita dengar. Sementara Eropa makin “enggan” beragama, kaum imigran yang datang dari luar Eropa dengan penuh semangat justru ingin menghidupkan “demam” agama di tanah baru itu. Dengan kata lain: Eropa pelan-pelan mengalami De-kristenisasi dan satu pihak, dan Islamisasi di pihak lain. Inilah gejala yang meresahkan orang-orang semacam Jenkins. Bagaimana masa depan Eropa dengan lanskap baru semacam ini? Apakah warisan pencerahan akan pudar? Apakah “teokrasi” akan tegak di Eropa kelak? Apakah Eropa akan menjadi “Eurobia”, istilah yang muncul belakangan untuk menggambarkan betapa pesatnya perkembangan Islam di benua itu?

Faktor kedua yang disebut oleh Jenkins adalah depopulasi atau merosotnya jumlah penduduk. Hal yang meresahkan orang-orang semacam Jenkins adalah sementara Eropa mengalami de-kristenisasi, masyarakat kulit putih Eropa sendiri enggan membuat anak. Depopulasi merupakan gejala yang umum di Eropa. Rata-rata tingkat pertumbuhan penduduk di Eropa adalah 1,2 persen. Ini sebetulnya bukan angka riil, sebab angka itu bukan angka murni pertumbuhan penduduk orang Eropa sendiri, tetapi gabungan antara penduduk kulit putih dan penduduk imigran. Jika dilihat angka murni pertumbuhan penduduk berkulit putih (yang diandaikan menjadi pewaris “nilai-nilai Eropa”), angkanya lebih kecil lagi (Jenkins tak memberikan data).

Akibat dari rendahnya tingkat kelahiran, maka struktur demografis masyarakat Eropa menyerupai piramida terbalik. Jumlah orang tua jauh lebih banyak ketimbang penduduk berusia muda yang diandaikan sebagai kekuatan produktif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Menurut prediksi, pada 2050, 40% penduduk Itali berumur di atas 60 tahun. Umur tengah (median age) penduduk Eropa juga diperkirakan akan makin naik. Dalam periode yang sama, umur tengah penduduk Eropa akan naik dari 37 tahun saat ini menjadi 52.3 tahun. Dengan kata lain, pada 2050, rata-rata penduduk Eropa akan berumur 52.3. Angkatan kerja produktif makin kurang, karena faktor rendahnya angka kelahiran.

Sebabnya tentu macam-macam: revolusi seks yang membuat seks bukan lagi dianggap sebagai sarana untuk membina keluarga tetapi sebagai “kenikmatan” pada dirinya sendiri (pleasure), preferensi nilai yang berubah (orang lebih mementingkan karir ketimbang membangun keluarga), kebebasan individu yang eksesif, makin baiknya fasilitas publik (terutama kesehatan) yang membuat hidup lebih nyaman, dst.

Apapun sebabnya, akibat dari depopulasi itu jelas: angkatan kerja berkurang, dan ekonomi kehilangan “otak-otak produktif” untuk mendukung pertumbuhan. Solusi yang mudah: datangkan tenaga kerja dari dunia ketiga yang kelebihan penduduk. Dengan kata lain, imigrasi yang direncanakan. Tetapi, selain itu, ada juga imigrasi alamiah yang berlangsung karena inisiatif pribadi. Dengan banyaknya lowongan kerja yang lebih menggiurkan di Eropa, membanjirlah tenaga kerja dari dunia ketiga. Dari sinilah awal mula masalah budaya: tenaga kerja itu tentu bukan sekedar membawa ketrampilan, tetapi juga tradisi, adat-istiadar, agama, dan nilai-nilai yang kesemuanya jelas berbeda dengan nilai-nilai pendecerahan yang berlaku di Eropa.

Inilah yang menjelaskan kenapa nilai-nilai keluarga menjadi perdebatan hangat di Eropa saat ini. Buku Jenkins sebetulnya semacam peringatan bagi Amerika agar tak mengulang pengalaman Eropa. Nada buku Jenkins memang agak “murung” dan “koservatif”. Eropa kian “Godless” atau tak bertuhan, sementara penduduk imigran yang datang ke sana, terutama dari negeri-negeri Islam, justru dengan penuh gairah melaksanakan agama.

*****

Saat menunggu anak saya latihan karate itulah, saya keliling melihat ruangan kelas sekolah Katolik itu. Di sebuah ruangan, saya melihat kertas karton yang ditempel di tembok. Isinya menarik: perbandingan antara pandangan seks menurut Kristen dan masyarakat “sekuler” di Barat. Lengkap disertai dengan gambar. Di bagian atas, ditempel gambar, berikut keterangan dan komentar, tentang keluarga yang harmonis, dengan jumlah anak yang banyak (saya lihat empat orang anak). Pada bagian ujung dikemukakan sebuah kesimpulan: seks dalam pandangan Kristen adalah bukan semata-mata untuk tujuan kenikmatan (pleasure), tetapi anugerah Tuhan untuk membangun “unitive marriage” (ini istilah yang dipakai dalam gambar itu), yakni perkawinan-menyatu (maksudnya mungkin perkawinan monogami dan langgeng sebagaimana dipercayai oleh Kristen secara umum).

Di bagian bawah, terdapat gambar kepala kelinci besar, simbol majalah Playboy, ikon kebebasan seks di Amerika. Tujuan seks menurut Playboy, kata pesan dalam gambar itu, adalah kenikmatan dan kenikmatan semata. Itu bukan tujuan seks yang sesuai dengan agama Kristen. Gambar itu jelas maksudnya: keluarga amat penting dalam menjaga kelangsungan masyarakat.

Kalau saat ini di Jakarta kita menghadapi masalah “tabrakan nilai” antara nilai-nilai yang dibawa para imigran luar kota dengan nilai-nilai urban, termasuk tabrakan antara konservatisme Islam dengan preferensi nilai urban yang lebih menekankan pluralisme, masalah yang sama, dalam skala lebih besar sedang dihadapi oleh Eropa saat ini. Masalah jilbab di Perancis, subsidi negara untuk sekolah Muslim di Inggris, pembangunan masjid di Jerman, kontroversi kartun di Denmark hanyalah contoh-contoh kecil dari masalah besar yang lebih serius: bagaimana Islam beradaptasi dengan Eropa, dan bagaimana Eropa beradaptasi dengan Islam.

Di masa-masa mendatang, masalah ini akan makin banyak dan makin bercecabang.

Komentar Bassam Tibi, seorang pemikir Muslim liberal dari Irak yang sekarang menjadi warga negara dan mengajar di Jerman, mungkin menarik dikutip di sini. Buat Tibi, yang menjadi soal bukan maraknya Islam di Eropa. Tetapi Islam yang bagaimana? Islam yang siap beradaptasi dengan lingkungan baru atau resisten?

Selamat berakhir minggu!

About Ulil Abshar-Abdalla

Iman yang kuat tak akan takut pada keraguan. Iman yang dangkal dan dogmatis selalu was-was pada pertanyaan dan keragu-raguan.
This entry was posted in Refleksi Mingguan. Bookmark the permalink.

23 Responses to Karate, keluarga, dan relativisme budaya

  1. sahlul says:

    Perjalanan yang menarik, mas. Satu komentar untuk penggunaan istilah “resisten”. Beberapa bulan yang lalu saya coba mencari konsep “Power and Resistance”. Celakanya, penggunaan istilah “resistance” atau dalam bahasa Indonesia lebih dikenal “resisten” itu menyesatkan saya.

    Karena konsep resisten seperti dalam kajian kekuasaan yang dikemukakan Foucault dalam History of Sexuality, James C Scott dalam Weapon of the Weak, dan Lila Abu-Lughod dalam Romance and Resistance ketika berbicara tentang resistensi tidak sesederhana yang kita pakai. salam.

  2. Aris Susanto says:

    Aha, ternyata sudah ada perubahan tampilan web sekarang (sejak saya mampir ke sini 4 bulan lalu). Cuma sayang, orang se-kontroversial Ulil Abshar Abdalla kok postingan tulisannya sedikit–sangat-sangat-sangat sedikit malah. But, no problem lah, mengingat saya tahu siapa Anda.

    Salam liberal…
    Salam inklusif…!

  3. Lusi Lindri says:

    Syukurlah jikalau kesetaraan perempuan menjadi bagian penting dari perjuangan itu. Perlu menjaga diri dari berkawan dengan penganut poligami. Sebab, akan melunturkan cita agung itu.

  4. Kekhawatiran “Eurobia” memang suah kian menggejala. Wajar.

    Yang menakutkan adalah ketika wajahIslam semakin menyeramkan bagi dunia barat. Karena dunai mengenal Islam melalui bom bunuh diri, Pakistan yang menyeramkan membunuh Bhuto, Sudan yang mengusir seorang guru karena boneka bernama beruang Muhammad, Seorang Ayah tega membunuh anak perempuannya karena menolak hijab, jilbab diwajahnya, para relawan yang mati membabi buta setiap hari dalam ledakan di Iran dan Afghanistan.

    Sudah menjadi tugas Islam untuk merubah wajah diri menjadi lebih manusiawi, cinta kasih, tidak menyeramkan bagi dunia barat dan Eropa.

    Mungkinkah?

  5. hendi kristiantoro says:

    Mas Ulil, selamat sore. Bagaimana kabar ngamerika?

    Ada sedikit yang menggajal dalam hati saya membaca tulisan mas Ulil. Kesan yang saya tangkap, mas Ulil mendikotomikan islam dan barat dengan batasan pencerahan. Bahwa baratlah pemilik “kecerahan”. Islam kebagian gelap atau mungkin “remeng-remeng” saja.

    Pertanyaan saya sederhana saja, pertama apa itu yang Mas Ulil maksud dengan “pencerahan”?

    Kedua, apakah benar islam atau “tradisi” islam atau kecenderungan sifat, perilaku dan pilihan-pilihan hidup islam itu tidak cerah? Saya tidak akan ngambil contoh jauh-jauh, Mas Ulil sendiri kiranya bisa sebagai contoh. Kurang “cerah” apanya Mas Ulil ini?

    Ok, matur suwun sanget…

  6. Salam Islam

    Walau saya bukan pengagum liberalitas yang mas Ulil usung, saya melihat tak ada yang istimewa dari tulisan mutakhir mas Ulil ini berkaitan liberalisme. Malah saya melihatnya hanya seperti cerita baru dari orang yang baru bersentuhan dengan budaya baru. Karena ulasan yang ada sudah menjadi fenomena lama.
    Saran saya, sebaiknya mas Ulil belajar banyak melongok ke beberapa negara muslim timur tengah yang “moderat”. Jangan antipati dulu mas, tolong bandingkan keterbukaan negara dan masyarakatnya terhadap warga pendatang non-Muslim yang lebih arogan menolak untuk membuka diri kepada budaya lokal. Saya pernah di sana dan saya melihat dan merasakannya.
    Sebuah pertanyaan hati yang tersisa setelah membaca tulisan mas Ulil: Andai Indonesia se”sekuler” Barat, lalu kalangan non-muslim (migran maupun penduduk asli) “resisten” menolak melebur dalam budaya Indonesia yang “muslim”, apakah non-muslimphobia bisa Indonesia lewati? Mau Ulil khawatir gak kalo Indonesia diserbu “makhluk asing” non-muslim dan kaum muslim menjadi minoritas kelak?

    Makasih, sukses belajar mas di negeri orang.
    Allah yatawalla jami’a uruinal-khair.

    Ahmad Taufiq

  7. Fransiskus Nadeak says:

    Wah, terima kasih atas pemikiran yang terbuka. Sepertinya saya membaca karya Bertrand Russell lagi.

  8. Ed aFief says:

    Halo Bung Uli. Slm knl sblumy. Gmn kbr studinya di Amerika? Trus brkarnya Bung Indonesia butuh ide-ide “bebas” (dan “membebaskan” dari Anda. Semoga manusia Indonesia tetap teguh menjadi “ulil abshar” (ini bukan orang, atau lebih tepatnya bukan sembarang orang). Salam Damai dari Jogjakarta buat arek-arek Indonesia yang ada di Amerika!

  9. abdullah says:

    alhamdulillah islam tumbuh berkembang di eropa.

    alhamdulillah yang tumbuh berkembang di eropa bukan “islam” liberal, melainkan islam.

    penyebaran islam di sana tidak dengan menjajah eropa yah mas ulil! bener ga nih?

    saya melihat orang eropa yang menjadi muslim, bagus-bagus islamnya, rendah hati dan biasanya pengetahuan islamnya lebih baik.

    mari kita doakan terus perkembangan baik ini. amiiin.

  10. M. Aribowo says:

    Mendekatkan Islam dengan peradaban Barat adalah suatu usaha mulia, namun de-facto terdapat perbedaan yang mendalam di antaranya. Islam adalah berserah diri dan tunduk pada Rabb……..sementara Christianity …dibangun di atas kokohnya pondasi filosofis Hellenistic-paganistic Greco-Roman civilisation . Tidak mengherankan kalau pada masa sekarang….Eropa..menjadi kian Godless alias tiada ber-Tuhan………….sementara Islam sedang maraknya di Dunia kini.

  11. Ariel B S says:

    Tulisan yg sangat bagus mas, coba nanti saya juga mau beli bukunya klo ada. Menurut saya byk yg bisa kt pelajari dari tulisan mas tadi. Apapun penyebab yg terjadi d Eropa sebenarnya mereka sedang mengalami masalah yg harus dipecahkan

    Mengenai masalah sekuler, saya mrpkn seorang pendukung sekuler. Namun apakah benar jika apa yg terjadi d Eropa merupakan murni buah hasil dari sekularisme yg terjadi di sana? Lalu apakah itu akan terjadi d setiap negara (termasuk Indonesia) jika sekularisme menjadi sebuah sistem yg berlaku?

  12. farikh ponorogo says:

    mas ulil mbenjing yen pulang ke indonesia, putrane dianjurkan juga latihan di LPSNU Pagar Nusa nggih!!!!!!. Biar ada sentuhan liberal di Lembaga self defense milik NU!!!

  13. M. Aziz says:

    ^ jangan mau nyekolahkan anak di LPSNU Paga Nusa, Mas.. Nanti diajari ilmu kebal lagi.
    Masak Mas Ulil yang sudah tercerahkan mau berurusan dengan hal-hal yang nggak masuk akal?
    (b’canda mas Farikh. Jangan kirim rombongan jinnya, ya? :D )

    BTW, Mas Ulil sendiri di Amerika termasuk ‘gelombang penyerbuan para imigran Muslim’?

  14. farikh ponorogo says:

    justru itu, biar ilmu-ilmu kebal di Pagar Nusa diganti sama ilmu kebal terhadap paham fundamentalis, skriptualis diganti dengan hidayah liberal yang rindang dan menyejukkan

  15. farikh ponorogo says:

    hahaha………masalah ilmu kebal, masalah jin kok dibilang gak masuk akal. kayaknya hanya gak masuk akal insan yang belum tercerahkan aja!!!
    bukan warga nahdiyin ya…..!!! gak semua pagar nusa berbau kekebalan dan jin kaleeeee!!!
    gak nate nonton atlet pagar nusa jatim (surabaya) di arena porda ya!!! ????
    memang rasul gak pake kebal-kebalan, gak pakai jimat2an ……….tapi apa kalo gak sama zaman nabi jadi gak bagus islamnya………
    apa kalo sama plek sama zaman nabi jadinya islam murni???? bukankah itu malah jadi islam mundur (kama qolahu Kang Ulil)!

  16. farikh ponorogo says:

    tenang aja Mas Aziz, pada prinsipnya warga pagar nusa ma nahdiyin umumnya itu lebih suka roko’an sama genduren (NU kan Nutul Upo), asalkan tidak diusik ya mari berbagi lintingan sama berkat!!!!!!!!!
    lak nggih ngoten to Kang Ulil?!
    arju minkum al-’afwa, bila kata-kata saya kurang berkenan………..

  17. Gay says:

    Kenapa harus monogami apakah manusia bisa poligami????????????????????????????????
    menurut saya poligami lebih banyak diminati dari pada monogami..
    saya mau tanya bagaimana caranya kita dapat menjadi orang yang melakukan mpnpgami…….
    thx for you give me a answer page

  18. bendoh says:

    kalu ada pencerahan berarti ada yang dicerahkan. siapa yang memberi pencerahan dan siapa yang dicerahkan. siapa yang memberi dan siap yang menerima. klu menurut bang ulil bahwa bangsa eropa adalah yang memberi pencerahan, dan belahan dunia islam sedang diberi pencerahan, itu adalah betul menurut bang Ulil karena dia sekarang sedang di beri pencerahan geratis di dunia barat. dan salah menurut orang islam yang yang lain yang telah melihat sejarah jaman dahulu bahwa bangsa eropa untuk belajar pakai sabun saja dari bangsa2 islam. ini juga adalah bentuk dari perbedaan bang, yang sebenarnya bang ulil ini yang tidak bisa menerima perbedaan karena sudah 2 komentar saya di blog nya abang ini di hapus, salam pncerahaan di Boston, semoga penilainnya tentang islam bukan hanya diteliti di lingkungan sekitar keluarganya bang Ulil yang katanya saudara perempuannya tidak di izinkan untuk sekolah, klu saya malah terbalik bang saya cuma sampai sma sedangkan adik saya sekarang sedang menylesaikan s2nya. dan dia tidak pernah untuk dipaksa untuk pakai kerudung tapi merupakan kebutuhan rohaninya sebgai umat islam, seperti ketika para pejabat kalu pergi rapat pakai jas, bukan pakai pakaian olah raga.

  19. rihab S.A says:

    haknya pak ulil untuk menghapus comment,,.,wong blog ini punya dia,,..gitu aja ko di bahas !

  20. Bramantyo Prijosusilo says:

    Walah Gus, mesakno putra sampeyan niku, wayahe Kiai Cebolek kok hiat-hiat karate.
    Mbok pencak silat mawon, dhateng Boston wonten Silat Bangau Putih ingkang sae. http://www.bostonwhitecrane.com/
    Menika satunggaling ngilmu silat ingkang misuwur, Gus. Langkung dibya tinimbang karate, ingkang asalipun inggih saking Bangau Putih Cina.

    Kula,
    Bram

  21. yuyun says:

    sy bau buka ini blog n baca. lumayan utk nambah wawasan. cm ulil ini kayaknya over confidance. pinter tp t’lalu merendahkan umat islam

  22. Adriati Wiryawan says:

    Wah kalau menghapus pendapat yang kontra ini malah bertolak belakang dengan paham kebebasan yang diusung mas Ulil dong, dimana letak kebebasan berpendapat kalau begitu standard ganda juga dong, …gitu juga kok dibikin refooot lagi

  23. Ayah Hanief says:

    Jujur jika membaca tulisan mas ulil, pro baratnya kental sekali. Padahal masyarakat di sana menurut kawan yang tinggal di NY, sudah muak dengan gaya Barat yang serba nihil itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>